Saturday, June 29, 2013

Dear Haters

Haters, atau dalam bahasa Indonesia-nya subjek yang membenci (pembenci). Kalau boleh saya tebak, semua orang pastinya punya haters. Sebaik-baiknya orang mesti ada lha ya yang pro dan kontra. Ingat, hidup ini ada hitam dan putih. Ada baik dan buruk. Ada positif dan negatif. Tidak ada yang buruk semua dan tidak ada yang baik semua. Penjahat sekalipun, contohnya para koruptor-koruptor itu, mereka korupsi pun ada tujuannya, mereka punya keluarga (istri dan anak) yang harus dipenuhi kehidupannya. Begitu juga para preman, dibalik tampang sangar dan perilaku mengancamnya, mereka insecure, karena hidup di tengah ketidakpastian.

Bagi saya sendiri, pengalaman dibenci orang lain sudah pernah banyak kali saya alami, dan begitu sebaliknya saya juga pernah membenci orang lain. Waktu dulu, jaman SD saya pernah dimusuhin kakak kelas karena saya nge-fans dengan teman satu kelas dia yang ganteng, setelah diselidik-selidiki, kakak kelas itu suka sama si Koko itu jadi semacam dia ingin melindungi Koko ganteng dari serbuan cewe-cewe lain apalagi cewe adik kelas ingusan macam saya. Hahhahahaaaa.. Lain hal lagi, pas jaman SMP, saya yang sering musuhin teman-teman. Gak tau kenapa pas jaman SMP ini saya ngerasa jagoan banget gitu, sampe beraninya benci-bencian sama anak-anak cowo yang suka norak ngeledekin kami-kami murid perempuan. Pas di SMA, pengalaman dibenci itu datang oleh orang yang satu kos dengan saya, yang sampai sekarang pun saya masih heran napa ya ni orang benci banget sama saya, padahal kenal dekat juga nggak. Di masa yang masih sama, saya juga pernah dibenci salah satu teman se-kelas karena miss-communication, tapi pada akhirnya kami baikan juga dan malah berteman baik sampai dengan sekarang. Perihal benci-bencian, saya juga alami di masa perkuliahan. Tapi di masa kuliah ini lebih ke benci karena sirik sih. Hwhwhwhhwhw.. Kalo saya ada melakukan hal apa dan itu baik, kadang ya diomong-omongin dan di-bete-in, dan begitu sebaliknya kadang saya juga suka gitu, kalo ada teman saya yang tiba-tiba jadi keren, saya suka ngutuk-ngutukin (kalo dipikir-pikir lagi ini sumpe super gak penting).

Semakin saya besar, soal-soal seperti ini sebenarnya saya tidak terlalu menanggapi, maksudnya not a very big deal lha ya nanggepin orang-orang yang benci dengan saya. Rasa benci itu saya pikir wajar. Semua orang pasti punya. Saya juga punya. Tapi yang bikin tidak wajar itu adalah output perilakunya. Contoh nya saja pas kejadian jaman SMA, ketika saya dibenci oleh teman kos saya sendiri, dia tiba-tiba membuang sepatu saya. Ini baru sepatu lho ya, belum yang lain yang lebih berharga. Keluaran perilakunya bisa destruktif, tidak masuk akal dan kadang ya frontal banget gitu. Contoh lain, waktu saya membenci teman-teman SMP saya, saya bisa lho ancem-anceman sampe adu argumen (a.k.a marah-marah) di depan kelas tanpa ngerasa malu, yang kalo dipikir-pikir lagi koq ya waktu itu saya gak malu ya dan tau gak sih kalo perilaku itu ganggu anak-anak lain yang lagi enak-enaknya baca buku ato belajar. Okay, that's my bad. Lalu, kalo mau ditarik ke kasus yang lebih luas, mungkin kita bisa liat pengalaman kelam negara kita di tahun '98  dimana rasa benci itu bisa memporakporandakan kehidupan ke-bhinneka-an kita. Atau kasus-kasus teror yang terjadi hampir tiap taun yang bukan hanya merusak fasilitas umum tapi juga rasa percaya kita terhadap kelompok individu tertentu.

Sangat saya sayangkan juga, terkadang alasan kebencian itu juga suka tidak jelas dan kurang make sense. Kasus yang paling sederhana yang pernah saya alami di perkuliahan, ketika si A dapat nilai ujian paling bagus di kelas, tiba-tiba si X benci A, alasannya : karena A dapet nilai paling bagus, lha kan ini gak masuk akal yah, A dapet nilai bagus lalu si X bete berujung benci gitu. Kecuali alasannya adalah : karena A dapet nilai paling bagus dan nilai itu dapet nyontek dari teman lain. Itu baru kebencian yang bisa diterima keberadaannya. Ingat lho kita bukan lagi anak kecil yang berpikir sependek itu, seperti anak-anak yang benci sama seseorang/banyak orang/sesuatu oleh sebab-musabab yang tidak berdasar.

Yap. Akhir kata, saya hanya ingin bilang, bahwa perasaan benci itu boleh koq dan it's a normal feeling. Ini nih sama dengan perasaan senang, perasaan bangga atau perasaan sedih. Namun, mulai berhati-hati ketika rasa benci itu tidak memiliki dasar yang jelas dan punya output destruktif. Come on, jangan sampai rasa benci kita itu membingungkan objek yang kita benci. Lebih enak kan kalo si objek yang kita benci itu tau salahnya dia dimana, apa alasan dia dibenci, justru dengan itu rasa benci jadi punya manfaat positif, bisa bikin  si objek jadi berkembang kepribadiannya. :)

Oya, sebagai pesan sponsor. Untuk para haters di luar sana, jika mau dan sempat, temui objek yang anda benci, sit and explain. Jangan buat mereka bingung dengan perilaku kebencian anda. Apalagi kalo ternyata si objek gak pernah buat salah apa-apa, kenal dan ketemu saja tidak pernah koq main benci saja, hehehhehe.. kan objek jadi tambah bingung *curhat* . ^^

best regards,
puji wijaya, punya haters yang perhatian

picture taken from : http://www.tumblr.com/tagged/rainbow%20flower

Friday, June 21, 2013

Terima Kasih Indomie


Selamat hari Jumat !
Pada hari ini, saya bermain-main dengan kamera baru saya, woooo.. Kamera baru? Hmmm.. Maksudnya Gie? Bukan-bukan.. Yang ini baru lagi.. Baru saja kemarin, saya mengambil kamera Canon Powershot SX500 IS di kantor marketing Indomie di daerah Ngaglik, Yogyakarta. Eh, dalam rangka apa ya?

Jadi teman-teman posting blog saya tentang Indomie (link di sini) berhasil menjadi pemenang kompetisi blog Kejar Asli Cabe Ijo. Waaaaaa.. Selamat! *tepuk_tangan* Cukup mengagetkan juga sih kalo saya ternyata yang menjadi pemenangnya, karena pada saat pengumuman di hari Jumat, saya tidak menemukan nama saya di event page Kejar Asli Cabe Ijo. Namun, ketika hari Senin, saya tiba-tiba ditelepon oleh pihak Indomie pusat dan dinyatakan bahwa saya adalah pemenang kompetisi blog ini, menggantikan pemenang dari Yogyakarta yang sebelumnya (soal hal ini akan saya jelaskan di posting selanjutnya). Saya sendiri merasa senang, ya iya lha ya, siapa yang tidak senang dapet hadiah sebuah kamera digital middle-up gitu kaaann.. Hahahahhaha.. Walaupun sebelumnya saya sudah memiliki kamera, tapi dapet rejeki seperti ini tetap saja membahagiakan.

numpang terkenal di event page Indomie hehehe..

Kemarin, hadiah diserahkan oleh pimpinan Marketing Indomie cabang Yogyakarta, Mz Rio, yang gaul dan oke beud. Lalu, waktu sesi pemotretan saya berfoto dengan salah satu karyawan yang memakai kaos Cabe Ijo. Thanks banget juga untuk segenap staff marketing Indomie Yogyakarta, Mb Ira, Mz Giring, dll yang membantu penyerahan hadiah ini lancar, aman, dan terkendali. Hehehehehhehe.. Akan saya ingat deh momen indah ini *cieeeee.. Oya, tidak lupa juga ucapan makasih berat untuk warung Suka Mampir yang menjadi bagian dari perjuangan saya serta warung Telap 12 yang berjasa dalam membuatkan Indomie cabe ijo dengan sensasi unik. Maaciiii juga buat teman-teman dan handai taulan sekalian yang udah bantu dalam hal ini. (berasa menang pemilu hahahahha..)

jadi cover photos page Indomie, lumayan

Terima kasih juga untuk para staff marketing pusat (Jakarta), terlebih admin page Kejar Asli Cabe Ijo, yang telah mempercayakan tulisan saya sebagai pemenang dalam event ini. Saya terkejut juga ketika mengetahui dari Mz Rio bahwa jumlah peserta yang mengirimkan posting untuk diikutkan dalam lomba ini mencapai angka 2200-an orang. Wow. It's a big number ! Hehehehe.. Bikin saya senyum-senyum sendiri. Di sisi lain, saya juga bangga sebagai seorang blogger (sok) senior yang sudah 6 tahun ini suka iseng ikut lomba blog dan  berkomitmen rutin menulis di media blog, ternyata saya bisa juga menang kompetisis blog. Akhirnya setelah sekian lamaaaa.. Hahahhaha.. Mungkin ada benarnya juga, berlatih menulis di blog selama 6 tahun ini  finally berbuah manis. Dengan kemenangan ini, saya jadi lebih termotivasi untuk mengikuti lomba-lomba yang lain dan jadi lebih serius yaaa dalam mengelola media ini sebagai sarana untuk mendidik dan memberikan manfaat baik bagi seluruh lapisan masyarakat. *tulisan_calon_politisi* wkwkkwkkwkwkw..

Baiklah teman-teman.. Sampai ketemu di posting selanjutnya..
Sekali lagi, terima kasih Indomie.

best regards,
puji wijaya, big fan of Indomie Instant Noodles

foto bareng hadiah dan Mz Giring, salah satu pegawai
kayak penyerahan hadiah 17 Agustusan yaaa.. >.<

Sunday, June 16, 2013

The Value of Visiting Seattle

Terima kasih untuk teman-teman yang sudah mau membaca rangkaian postingan ngebut mengenai perjalanan singkat saya di benua seberang. Tanpa bermaksud pongah, sombong, ato pamer saya buat posting khusus ini. Sekali lagi saya mendeklarasikan bahwa postingan ini adalah ujud konkrit dari penyimpanan memori otak saya yang tidak kuat nyimpen sesuatu yang detail dalam jangka waktu yang lama. Hahahhaha.. Berhubung saya masih ingat dan bisa dinarasikan ya kenapa tidak ya. Kan jadi lengkap juga, folder foto ada, folder cerita juga ada. Heheheheheheee..

Selain dari tujuan tersebut, memang ada keinginan dari dalam hati saya (yang paling dalam, hueeeex..) untuk berbagi cerita, informasi, dan kali-kali aja ada yang terinspirasi gitu (terinspirasi apa Ji? Terinspirasi buat melakukan kebodohan di negara orang? Hahahah..). Oya, saya juga sangat berterimakasih untuk pihak kampus dan fakultas yang telah memberikan kesempatan (dan dana tentu saja, tidak mampu saya pergi ke sana dengan doku pribadi). It’s an honor. Pada awalnya Dicky-saya ragu-ragu untuk menyambut kebaikan ini, berhubung kami pikir, apakah tidak lebih baik, dana ini disumbang saja untuk civitas akademika yang lain – yang lebih membutuhkan. Habisnya kalau melihat angka nol dalam proposal kami itu koq banyak sekali ya, sebagai anak dari orangtua wiraswasta pastinya ngeh kalo untuk mendapat uang sejumlah itu rasanya ngos-ngosan, jadi sempatlah saya merasa sayang.

Namun, atas pengertian dari beberapa pihak yakni dosen, beberapa teman, kerabat serta keluarga, akhirnya saya terima kesempatan baik ini. Pinginnya sih setelah pulang jadi membawa pencerahan untuk universitas. Mungkin memang tidak secara langsung mencerahkan universitas sih, pencerahan itu memang datang untuk diri sendiri terlebih dahulu. Lalu, apa sajakah pencerahan yang didapatkan? Yak, ini dia yang ingin saya bahas di posting yang satu ini.

First of all, yang pasti adalah pencerahan akademik. Berasa Siddharta Gautama yang semedi di bawah pohon Bodhi, mungkin itu dia gambaran mahasiswa yang ikutan konferensi. Konferensi sendiri sebenarnya bukan barang baru dalam kehidupan kemahasiswaan saya, sering lah ya saya mendengar ada konferensi ini, itu dan anu. Dosen-dosen pun kadang memakai alasan sedang mengikuti konferensi ketika tidak bisa masuk kuliah dan memberikan pekerjaan rumah kepada mahasiswa-mahasiswanya. Beberapa kali juga univ dan fakultas mengadakan konferensi, banyak teman-teman yang menjadi panitianya, bahkan ada juga yang menjadi peserta. Intinya, saya sudah sering dengar tentang konferensi tapi belum pernah mengikutinya secara langsung.

Setelah saya mengikuti konferensi, baru saya ketahui kalau ternyata hasil riset itu membanggakan ketika bisa masuk ke konferensi, kan terpublikasi dengan ilmiah gitu loh. Dan saya baru ngeh juga kalo dosen mengajak mahasiswa ke konferensi itu sesuatu yang common. Mahasiswa yang menjadi asisten riset, sang dosen membawa mahasiswa didikannya tersebut ke podium presentasi di konferensi (baik poster maupun oral presentation). Memang sih common nya ini di luar negeri sana, kalau di Indonesia, belum terjadi sepenuhnya, karena masih banyak dosen yang menganggap mahasiswa nya sapi perah untuk kerja macem-macem tanpa apresiasi.

Terpublikasinya hasil riset ini bukan semata-mata untuk koar-koar ke seluruh dunia bahwa lu udah bikin penelitian yang baik dan keren. Bukan itu. Tetapi, publikasi ini lebih bertujuan untuk meng-encourage baik untuk si peneliti maupun si audience, jadi memberikan efek rantai. Contohnya saja ni ketika ada peneliti yang memiliki kesamaan topik melihat penelitian kita, pastinya dia penasaran, tanya-tanya, dan memunculkan pertanyaan baru untuk meneliti hal yang selanjutnya (untuk keduanya). Jadi semangat kan. Ilmu pengetahuan pun jadi berkembang terus, maka penting diadakannya konferensi.

Di balik itu semua mungkin ada beberapa orang yang menganggap konferensi sebagai acara buang-buang uang dan hanya untuk jalan-jalan. Fine. Memang benar, kita mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk ini, lalu karena tempatnya pindah-pindah sesuai dengan pilihan host nya, kalo niat mengikuti ya jadi mau gak mau travelling. Perihal jadi jalan-jalan sih sepertinya bonus saja, maksudnya bukan hal utama yang dikejar. Saya sendiri tidak menampik, bahwa kadangkala lokasi konferensi menjadi salah satu daya tarik tersendiri, contohnya saja sering banget konferensi internasional memakai tempat di Yogyakarta atau di Bali. Kenapa gak di Bandung? Kenapa gak di Medan? Kenapa gak di Semarang?

Pencerahan akademik bukan berhenti sampai di situ. Saya juga jadi memahami bahwa untuk menjadi akademisi yang wahid juga memerlukan jaringan yang luas. Seluas sinyal provider telepon genggam. Maksud saya, dengan punya kenalan banyak, makin banyak juga ilmu yang dapat kita serap dari mereka dan makin banyak pula informasi yang kita dapatkan di ranah yang kita geluti. Nah, dari konferensi, kita bisa mendapatkan banyak jaringan, coba, siapa sangka saya jadi kenal dengan Tat - mahasiswa Armenia, Ms. Chris yang lulusan Harvard, kolega Ms. D yang bekerja di Nickelodeon, ato jadi akrab dengan Ed yang sekarang posisinya cukup penting di kepemerintahan. Di sini pula kita jadi belajar yang namanya public speaking dan berkomunikasi antar mahasiswa/peneliti, kuncinya bukan sok pintar atau sok tau, tetapi dengan menghargai pekerjaan mereka. Menjadi sok kritis tanpa dasar yang jelas malah bikin diri ini dicap gak bonafit dan ‘gak banget deh’. Seriously. Semua orang di konferensi ingin mempelajari sesuatu bukan malah memamerkan.

Selanjutnya mengenai kesadaran pentingnya kemampuan berbahasa internasional, dalam hal ini bahasa Inggris. Lagi-lagi, saya ditampar oleh kenyataan bahwa kemampuan berbahasa Inggris saya ini masih di bawah rata-rata. Untuk memperkenalkan diri dan berbicara sesuatu yang ringan. Check. Untuk ngomongin sesuatu yang digemari. Check. Agak naik dikit, membicarakan situasi atau fenomena sosial. Setengah check. Ngomongin hal yang scientific dikit. Bleh! Mandet! Tutup buku deh ya. Hahahahaha.. Kamu harus belajar lagi dalam hal ini, puji.

Kedua adalah pencerahan kehidupan. Whaatt?? Apaan ya ni.. Hahahaha.. Mungkin sebutannya memang agak berlebihan. Tapi ya, sungguh deh, saya mendapat pencerahan mengenai kehidupan. Gini, dulu ketika saya melamar menjadi asisten penelitian Ms. D apakah saya kepikiran bahwa hal ini akan membawa saya ke Amerika Serikat? Yang saya harapkan waktu itu si, karena Ms. D ini dosen dari luar, saya bisa mengenal dy dengan baik, dan kali aja dy bisa menuliskan surat rekomendasi untuk saya kalo-kalo saya jadi sekolah lanjut, kan meyakinkan tu. Udah. Itu aja. Selanjutnya, ya saya berusaha sebaik dan semampu (saya) ngerjain tugas sebagai asisten. Dari pengalaman ini lalu saya jadi paham, bahwa ketika kamu serius, bekerja dengan hati, jujur, berdedikasi, hasilnya juga mantep. Outputnya baik.

Pelajaran hidup selanjutnya, saya mendapatkan rolemodel2 hebat di sana. Kalau di masa depan, saya kesampean jadi pengajar, lalu saya punya murid, saya ingin bisa memperlakukan murid-murid saya seperti saya diperlakukan oleh guru saya yang terdahulu. Ini juga berlaku, apabila di masa depan saya tidak jadi pengajar, mungkin saya menjadi Cici2 kantoran atau bos toko peninggalan orangtua saya, saya ingin melakukan hal yang sama, saya akan menghargai dan menghormati orang-orang yang bekerja dengan saya, meskipun mereka posisinya adalah bawahan atau helper. Saya ingin bisa mengapresiasi pekerjaan mereka. Karena tanpa kehadiran mereka, saya nothing. Manusia itu bisa-bisa saja hidup soliter, tapi akankah bertahan lama?

Poin penting yang ketiga adalah pencerahan budaya. Well, dibilang saya mengalami culture lag pas di Amerika Serikat, itu memang benar. Ada beberapa hal yang bikin kaget dan karena ‘baru pertama kali’ ato ‘tidak biasa’ jadi serba jadi weird gitu. Hahahahaha.. Output tingkah lakunya malah jadi norak, bodoh, tidak terkendali. Semisal saja seperti ketika (yang paling simpel) pesan submarine sandwich di Subway, saya bingung lha ya mau pesen apa, sudah gitu disuruh pilih-pilih sendiri pula, sayurnya mau apa, dagingnya apa, sausnya apa. Saya asal-asalan aja milihnya, jadinya malah rasanya gak karuan hahahahhaha.. Atau pas kejadian jalan kaki, secara kalo di sini jalan bisa santai-santai aja, pas di sana orang semua jalannya buru-buru (tidak secepat orang Singapura sih, tapi ya lumayan cepat) awal-awal jalan saya ditegur ‘excuse me’ karena jalan sudah lambat bikin macet orang yang di belakang, makanya saya didahului orang-orang. Habis itu jalan saya jadi ikutan ngebut.

Pemahaman-pemahaman kayak gini nih, kalo gak disadari sendiri, kita malah jadi su’udzon sama orang luar. Bisa saja saya jadi gosip, eh tau gak sih, di Amerika tuh ribet, makan ajah kebanyakan cincong terus makannya juga gak enak (kasus Subway), atau, ih nyebelin tauk orang Amrik tu pada gak sabaran (kasus jalan kaki). Saya inget tuh pernah ada temen yang cerita kalo orang Singapur itu galak-galak, soalnya dy dimarahin. Dulu sih saya telen mentah-mentah cerita itu, tapi sekarang dipikir deh, mungkin orang itu ngomel itu bukan karena dy suka ngomel, tapi karena dirimu gak adaptif jadi bikin dia ngomel. Intinya, dengan pengalaman di Amerika ini saya menghimbau para pelancong, menjadi adaptif di negara persinggahan itu penting, jangan pake kacamata kuda, dan nelen segala-galanya tanpa proses pengunyahan terlebih dahulu. Catat ya.

Ya. Itulah yang sekiranya yang bisa saya refleksinya mengenai kepergian saya ke Seattle. Saya sangat bersyukur, saya bisa mengunjungi tempat yang berada nun jauh di sisi bumi yang lain ketika usia saya masih muda belia gegap gempita cetar membahana (berlebihan ya..). Jadi kan, saya jadi bisa cerita-cerita ke anak-cucu kelak, ‘Cu, Nenek itu dulu ngebolang sampe ke Amrik, gak bayar lho Cu, ayo kamu pasti bisa Cu, makanya belajar yang benar dari kecil’ kayak gitu kali ya dialognya. Hahahahaha.. Hmmm.. Ya usah deh, saatnya saya kembali ke meja cokelat untuk mengerjakan si pra-syarat kelulusan. Sampai jumpa di posting yang selanjutnya. ^^

best regards
puji wijaya, kejar posting jari jadi keriting


bonus foto :
saya dan Seattle Great Wheel
hahahahahhaa..

Saturday, June 15, 2013

Hectic Bandara

21, 22, 23 April 2013
Location : Tacoma Intl. Airport, Taoyuan Intl. Airport, Soekarno Hatta Intl. Airport, Adi Sutjipto Intl. Airport

Tikkk.. Tikkk.. Tikkk..
Jarum jam terus berdetak.

‘lama amat si tu Bapaknya, Ci Pujo’ Dicky senewen dengan penjaga counter check-in - Oom2 Taiwan sudah agak berumur yang lama banget.
‘Iya Dick, ngapain si tu, udah tau ngantri panjang bukannya cepetan. Itu lagi si Ibunya bawa barang banyak banget ya. Mau jualan apa ya di Filipina’ saya lebih senewen ke si Ibu penumpang.

Sudah hampir 1 jam, Dicky-saya mengantri  untuk check in pesawat dan bagasi. Perasaan tadi pas awal lancar-lancar aja, sampe pada seorang Ibu-Ibu yang bawa barangnya banyak sekali, dus-dus an gitu deh, di kardusnya ada alamatnya, Filipina. Hmmmm.. Ni orang Pilipin heuuuuu.. Nengok ke counter sebelah, ada Ibu2 muka China/Taiwan lagi heboh ngepack blender nya dy, berusaha dimasukin ke koper. Dy keliatan panik, lalu salah satu staf EVA Air datang bantuin dy, ini lagi Ibu2, memang beli blender di Amerika lebih murah ya daripada di Taiwan. Usilnya otak saya ngomentarin orang-orang se-bandara.

Malam ini kami pulang ke Indonesia, dengan negara transit Taiwan. Dengan pesawat yang sama tentunya EVA Air. Hehehehhe.. Naik pesawat subuh-subuh itu seru juga, bandara Tacoma tidak sunyi senyap, ramai bo. Kayaknya ada beberapa penerbangan subuh di sini. Urusan dokumen dll kami baik-baik saja dan lancar. Yang bikin agak horor itu pas kami periksa lewat metal detector. Namanya juga Amerika, kalau tidak heboh bukan Amerika namanya. Kami semua, penumpang pesawat, harus melepas jaket, jam tangan, ikat pinggang, dan sepatu. Rempong kan. Dicky sampe bete-bete gitu karena ternyata pemeriksaan kayak gini gak hanya sekali, tapi 2 kali. Dua kali kami harus melepas sepatu, untung sepatu saya gak ada talinya, gak makan waktu make sepatunya lagi. Lalu, seperti biasa penerbangan kali ini juga agak telat. Lalu, Dicky sempet ganti boarding pass juga karena kursi yang sebelumnya ternyata rusak. Hmmm.. Dengan demikian kursi yang kami punya ini (3 seat) hanya akan ditempati oleh kami saja. Horeeeeee.. Lega dan nyaman!

Selama menunggu di bandara tidak banyak yang kami lakukan, kami hanya usil beli makanan di vending machine seperti biasa, lalu ke WC dan liat-liat toko souvenir habis itu duduk2 kepoin orang lain, seperti contohnya saya kepo ke Mbak2 Thailand sebelah saya yang mainan handphone terus, saya lirik-lirik ternyata dari tadi dy lagi liat-liat online fashion shop hwhwhhwhwhw.. Terus, ada kejadian agak kacrut juga pas Dicky-saya membeli makanan di vending machine, mesinnya entah rusak ato gimana, pas kami masukin uang 1 dollar ternyata mesinnya gak bisa nyala, jadi kami tekan tombol untuk mengeluarkan uang, malah dapet 2 dollar. Wkwkwkkwkw.. Tadinya mau isenk lagi masukin, barangkali dapet lagi uang tambahan.

nyobain ciki Jalapenos, saingan Ma Icih

Penerbangan Seattle-Taoyuan lebih lama 2 jam, hal ini diakibatkan oleh pesawat melawan arah angin, jadi lebih lambat. Jadilah saya akan 12 jam berada di dalam pesawat.. Errrr.. Di dalam pesawat, seperti biasa saya tidur dan bolak-balik ke WC buat cu-muk & buang air (baik kecil maupun besar). Ketika kedua kali nya saya mau buang air, WC nya memang rame banget, jadi ngantri. Awalnya di depan saya adalah Tante2 cantik gitu, lalu dy masuk lah ke lavatory. Sudah menunggu agak lamaan, tapi koq gak keluar-keluar. Lalu, datanglah seorang Nenek2 gitu, dy keliatannya kebelet pipis banget. Lalu, saya mempersilahkan dy untuk duluan. Nah, berhubung si Tante ini lama banget. Dan si Nenek gak tahan, gedor2lah dy ke pintu lavatory tapi gak ada respon.

Ini Jepang lho! 

Saya juga jadi bingung ni orang ngapain, dandan apa ya. Si Nenek jadi pindah ke lavatory yang satunya. Saya masih sabar tu nunggu di situ, sampe si Nenek keluar, saya masih aja nunggu. Mungkin si Nenek kasian sama saya, dy narik saya ke lavatory yang satunya, lalu bilang dengan orang yang mau masuk, saya gak tau dy ngomong apa, pake Mandarin, terus si orang yang tadinya mau masuk lavatory mempersilahkan saya untuk duluan pake lavatorynya. Eh, ajaib ya. Lalu, saya ngucapin tengkyu2 deh si Nenek sambil membungkukan badan kayak orang Jepang, habis barangkali dy gak ngerti kalo saya cuma ngomong tengkyu doank. Si Nenek senyum2 puas lalu dy pergi. Kocak ya.. Ada saja ya orang baik itu, sekalipun itu di pesawat terbang.

Sesampai di Taoyuan Int. Airport sudah pagi di tanggal 23 April. Lucu kan ya, pas berangkat kita kehilangan setengah hari, pas pulang mendapatkan tambahan setengah hari. Bisa dibilang saya tidak terlalu merasakan tanggal 22 April, kayak hilang gitu. Nah, 3 jam menunggu penerbangan berikutnya dari Taipei-Jakarta kami pergunakan untuk beli makanan dan wine, pesanan dari Pak Siswo dan Mba Haksi. Tips dan trik membeli wine : 1. Belilah wine di bandara di negara transit terakhir sebelum tanah air kita, supaya tidak jadi masalah bayar pajak macem2 lagi ; 2. Wine di US lebih mahal ketimbang di Taiwan. Oya, tempat transit kami ini berbeda dengan tempat ketika kami datang kemarin, beda bagian bandara. Tiap-tiap gate dan toko2nya juga berbeda dari yang kemarin. Hahhahaha.. Tapi tetap saja cuteness level 3000 deh.

Lagi-lagi bandara Taiwan >.<

Oya, lagi-lagi ni pesawat delay, delay setengah jam. Hmmm.. Biasa deh ya.. Jadi kami juga punya banyak waktu untuk ngobrol2 dengan penumpang yang lainnya. Kan ini pesawat ke Jakarta, jadi banyak orang Indonesia yang begitu mudahnya kami kenali. Pertama, adalah seorang Popo (Emak/Nenek) yang mau pulang ke Jakarta sendirian lho dy, dy semacam habis liburan gitu di rumah anaknya di San Diego, Amerika Serikat. Karena udah tua, maka hobinya ngobrol mulu, obrolannya seputar keluarganya di Amerika dan kesuksesan anak-anaknya. Di sebelahnya ada seorang Cici2 orang Indonesia kayaknya seumuran saya gitu deh yang sepertinya datang dari keluarga kurang mampu karena dy di Taiwan itu jadi TKW, kerja jadi buruh pabrik. Di depan kami semua ada Cici2 orang Bandung eksekutif muda yang sedang dalam perjalanan bisnis, dy ternyata yang mengimpor motor Harley Davidson dari Amerika ke Indonesia. Jadi inilah formasi ngobrol kami, geng Indonesia dadakan. Sesuatu yang jarang terjadi kan. Hahahhaha.. Memang kalo pas di negara orang, dengan mengindetifikasikan diri ‘saya orang Indonesia’, semua pasti mau nyatu. Tapi kalo pas di negara sendiri, mungkin jatohnya gengsi ya.

Kekocakkan yang terjadi ketika kami ngobrol itu adalah ketika saya bertanya ke Cici TKW, sebenarnya sih saya hanya mau kepo doank. Saya pengen tanya kalo jadi TKW di Taiwan itu serem gak, lalu koq dy penampilannya biasa ajah, soalnya yang saya tau yang namanya TKW itu mesti heboh tingkat dewa, kayak yang saya liat di tipi-tipi deh. Lalu, si Cici TKW ini jawab:
‘kalo di Taiwan aman, gak macem-macem, majikannya baik-baik, yang serem itu di Arab Saudi Ci..’ jawab si Cici TKW
‘Oooooo..’ saya menimpali singkat
‘Terus, saya kan kerja di pabrik jadi ga bisa macem-macem, kayak dandan, banyak beli baju, yang kayak gitu itu pembantu rumah tangga..’ belum juga melanjutkan penjelasan tiba2 si Cici TKW dipanggil temannya..
‘Heeee.. XXX’ XXX – nama Cici TKW
Cici TKW melihat saya dan bilang ‘Nah, ini kayak temen saya’

Saya melihat ke arah suara berada, saya kaget, eeee bused daaaahhhhh.. Temen si Cici TKW ini adalah TKW yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga. And you know, gaya pakaian mereka mau ngalahin Mulan Jameela deh. Rok mini jeans (okay, di penerbangan selama 6 jam mereka pake rok mini? Gak salah ni?), baju cantik berupa kemeja kotak-kotak merah yang ketat, sepatu agak boots potongan rendah warna hitam dengan aksesoris rantai, tangan penuh gelang, rambut curly, wajah full make-up. Hmmm.. Mungkin ditambah topi lebar, dy cocok jadi penyanyi musik country.

Kekagetan saya menjadi-jadi ternyata teman-teman yang di belakangnya juga gak jauh beda gaya pakaiannya, setipe lha ya. O my.. Pemandangan apa ini yang saya lihat. Saya jadi baru ngeh, kalo penampakan TKW yang di tipi-tipi itu memang sungguh benar kenyataannya. Tapi ingat, yang pembantu rumah tangga. *tepok jidat* tanya punya tanya ternyata mereka ini mau pada pulang kampung, jadi sudah selesai kontraknya di Taiwan. Kehebohan para TKW ini tidak sampai di situ saja. Pas di pesawat juga rame mereka. Jadi lucu banget di pesawat ini sudah bukan bahasa Mandarin dan bahasa Inggris yang mendominasi, tetapi ada bahasa Sunda dan Jawa di pesawat. Mereka juga suka pake minyak angin. Oya, ada satu lagi fakta mengenai TKW, mereka jago bahasa Inggris lho, dan menurut saya bahasa Inggris mereka gak jelek, pas di pesawat saya sempat dengar mereka ngobrol sama bule (sksd). Waaaahhh.. Para pahlawan devisa kita..

Bubyeeee..

6 jam kemudian, pesawat kami sampai di Jakarta. Senangnya sudah nyampe Indonesia. Btw, ni pake jaket malah jadi kepanasan sekarang hahahaha.. Lanjut deh 1 pesawat lagi. Hmmm.. Dicky dan saya melihat jam, eh, koq udah jam segini yaaaa.. Yuk buru2.. Di counter imigrasi ya owoh ngantrinya maaaannnn panjang amat. Lalu pas di sini juga, tiba2 ada satu TKW yang minta tolong saya mengaktifkan nomor Indonesia nya, hadeuhh nih si Mbaaaaa.. Jam lagi-lagi berdetak cepat, eh koq sudah hampir setengah empat, ngekkk.. Closing check-in pesawat Jogja-Jkt kan jam 15:45. Panik donk saya sama Dicky. Habis dari counter imigrasi lalu kami ngabur cepet2 mengejar penerbangan selanjutnya. Sampe-sampe keringetan. Pokoknya panik setengah mati deh, habis tanya ke security dimana gate penerbangan lokal Jakarta-Jogja Garuda, langsung deh kita buru-buru gak pake mikir. Sampe di pemeriksaan barang, di sini lah kehebohan makin menjadi-jadi, karena panik masukin barang ke metal detector, troli tas kami, saya dorong dan main buang aja entah kemana, dan gak sengaja kena Ibu-ibu, mateee gueee.. Tu Ibu2 tampangnya udah gak enak gitu. Berlagak pura-pura gak ngeh dan buru-buru saya langsung deh masuk walk-in metal detector dan ngambilin barang2 sambil lari ke counter check-in. Hadohhhhhh..

Di counter check-in capek banget kan. Tapi si Mas2 penjaga counter senyum2 dan santai banget. Haduh si Mas nih gak tau sikon deh, orang udah hampir ketinggalan pesawat begini dia malah slow motion. Tenang karena sudah check-in tetap dengan langkah cepat dan giras, Dicky-saya jalan ke arah waiting room. Dan duduk, menarik nafas, haaaduhhh capek bener yaaa.. Tapi koq masih sepi ya waiting room nya, bener koq kata Mbak penjaga nya tadi di sini. Saya melihat jam, ni 15 menit lagi harusnya berangkat ni. Lalu, saya kebelet pipis. Ke WC lah saya.. Nah, di WC ini saya mengeluarkan handphone, si handphone memang secara otomatis ganti jam kalo sudah ganti wilayah waktu. Terus saya bengong sebentar, koq masih jam segini? Masih jam tigaan.. Haaaa.. Bukannya udah jam empat.. Kroscek dengan jam tangan. Terus saya baru nyadar. Bego banget ya gue. Ni jam tangan kan jam Taiwan yang lebih cepet 1 jam. Hyaaaaaaaa..

Sehabis menyadari apa yang terjadi, saya duduk, lalu bilang ke Dicky ‘Dick, tau gak sih, sebenarnya ni masih jam tigaan’ Si Dicky kaget ‘Hah?’ ‘Jam tanganmu jam Taiwan juga ya?’ ibaratnya orang dihipnotis, si Dicky juga baru sadar. ‘Ya ampuunnnnn… Bego nyaaaa..’ iyeeee.. Otak kami ni lagi nyasar ke dengkul gara-gara naek pesawat kelamaan. Hahhahahahhaha.. Dudulnya gueeee.. Habis itu kami ketawa-ketiwi bodoh deh. 1 jam kemudian kita baru naik pesawat pulang ke Jogja, kelaperan, roti isi rendang dari Garuda Indonesia dilahap dengan semangat ’45. Welcoming home Dicky and Puji !

best regards,
puji wijaya, sudah di Endonesa kembali

Turis dan Sepupunya

21 April 2013
Location : Top Pot Doughnuts, around Seattle Downtown, Pike Market (Public Market center), Seattle Aquarium, Seattle Shirt Company, Starbucks near harbor, Argosy Cruises, Red Robin Restaurant near harbor, Starbucks first coffee shop at Pike, Piroshky Russian Cuisine, Wall of Gum at Pike, around University of Washington (UW)

Selamat pagi Seattle!
Matahari.. Akhirnya Seattle cerah kembali, sudah tidak mendung, gloomy, dan gerimis. Huaaaaa.. Hari ini merupakan hari off alias hari menjadi turis, sekaligus hari terakhir kami di Seattle. Yap, perjalanan kami memang singkat-padat-jelas, tidak lama-lama cukup 6 hari saja di sini, segitu saja kami sudah senang bukan main bisa dapat kesempatan untuk mengunjungi Tante Amerika, bisa bertemu dengan Ms. D dan orang-orang luar biasa di konferensi. 3 hari konferensi kemarin betul-betul menginspirasi, kami mendapatkan role model dan bayangan menjadi akademisi yang baik (dan keren) hahahha..

Malam ini kami sudah tidak menginap di hotel, penerbangan kami memang sengaja dibuat subuh sekalian di tanggal 22 April supaya kami gak usah nginep lagi tapi tetep bisa jalan-jalan. Hari ini rencananya kami akan menelusuri wilayah harbor, dan siang hari nya, kami akan bertemu dengan sepupu saya, namanya Hans. Dy sekolah di sini, sekarang masih college di daerah Shoreline (utara Seattle). Tapi berhubung lagi-lagi karena saya gak punya handphone jadi memang saya agak rempong juga ni bikin janjiannya, bergantung pada wi-fi gratisan dan tab pinjaman Mr. TPLP.

Oya, sebelum beranjak ke hari ini, sekilas cerita tentang hari kemarin lagi ya. Hahahha.. Jadi setelah perpisahan dengan Ms. D kemarin itu, Dicky-saya sedih-sedih gitu di hotel. Habis itu karena kami belum beli oleh-oleh buat sodara dan segenap kawan-kawan plus bingung juga sebenarnya oleh-oleh dari Amerika itu apa yaaaa.. Jadilah kami ke supermarket terdekat dan membeli makanan2 yang ‘made in USA’ hahahahah.. Broooo.. Saking udah gak tau deh mau beli apaan. Lainnya? Buat keluarga, tempelan kulkas dan kaos. Sudah mana di sini juga mahal-mahal jadi kita itung2an banget pas beli oleh-oleh hahaha.. Maklum, kita pergi kan pake uang orangtua Jeung.

Sepulang dari Walgreens kami packing barang. Pas ngecek kulkas, Dicky menemukan roti naan kami (beli di resto India) masih ada, lupa dimakan. Berhubung Dicky kelaperan, hore banget kan dy, dan memutuskan untuk mengahangatkan kembali si roti di microwave. Sebelum membaca kelanjutan cerita, tahan nafas dalam-dalam ya. Jadi, dimasukkanlah si roti ke microwave, sambil nunggu bunyi, Dicky nyetrika, saya sendiri masih ngepack2 barang sambil dalam hati bersyukur bawa koper gede, karena semuanya jadi muat di dalam 1 tas hahahahah.. Gak lama kemudian, kami mencium bau-bau roti, tapi koq lama-lama bau gosong. Ajib. Ternyata! Microwave kami berasep. Panik plus parno, si Dicky loncat ngebuka microwave, ternyata tu roti naan kebakar, terus matiin listriknya. Lalu, kamar pun menjadi berasap plus alarm kebakaran bunyi keras banget. Apa yang terjadi selanjutnya?

Saya nyoba buka jendela tapi gak bisa, ternyata jendelanya emang gak bisa dibuka lebar-lebar, terus, di luarnya ada kasa juga. Dicky ngipas2 asep pake koran gratisan dari hotel, saya juga ikut2an ngipasin supaya ni alarm kebakarannya berenti. Amit2 deh kalo sampe sprinkler nya nyala. Ya Tuhaaannn.. Dosa apa kami ini, sudah mau pulang dikasih kejutan. Hahahahhaha.. Setelah keadaan mulai kondusif, saya baru ngeh dari Dicky kalo ternyata tadi itu masukin rotinya plus dengan kertasnya. Hyaaaa.. Ya iya lhaa yaaa kebakaran! Semalaman Dicky merasa bersalah gitu, dy juga takut didenda, karena dendanya 20 dollar.

Pagi ini, ketika kami melunasi pembayaran hotel dan nitip barang untuk diambil nanti malamnya, sudah takut-takut saja dimarahi karena kejadian semalem dan kita didenda, paling parah jadi diblacklist deh gak boleh nginep di situ lagi. Huaaaaaaa.. But, semuanya berjalan baik-baik saja, si receptionist masih senyum2 ramah saja seperti hari-hari kemarin. Whaattt theeee.. Glory to God deh ! Syukurlah tidak jadi masalah. Selesai pembayaran dan penitipan barang, pergilah kami keluar dari hotel dengan hati lega.

Tujuan kami hari ini ialah menikmati downtown, Pike Market dan tempat wisata di dekat2 Pike. Pagi ini, kami kembali mampir ke Top Pot Doughnuts, melipir untuk duduk dan menghabiskan donat sebentar, yang sekarang kami bisa foto2 deh. Lanjut, jalan menyusuri downtown di hari Minggu, menyenangkan juga, biar banyak bangunan tingginya, tapi banyak pohon dan bunga juga di sini. Serasi deh. Lalu kami juga melewati rumah makan Vietnam - Pho, tempat favorit Mr. Ko2 (guru les Inggris kami) untuk makan siang. Huaaaaa.. Kerennya juga, di dekat situ ada instalasi seni (pohon yang batangnya dicat biru) dan segerombol pohon cherry blossoms rimbun di pinggir jalan sedang berbunga. Kawaii!

Top Pot Doughnuts - best in town !

pohon biru-biru gak ngerti juga makna nya apaan

Di Pike Market, kami mampir ke toko souvenir murah (lagi), dan membeli beberapa barang oleh-oleh. Lalu, kami langsung capcus ke arah Seattle Aquarium. Kami kembali memakai tiket CityPass kami asik-asik. Pas menyebrang jalan ke Seattle Aquarium, ada kejadian mengagetkan, jadi pas nyebrang, tiba-tiba ada seagull (burung laut) tiba-tiba jatuh gitu di jalan, gak tau napa, tapi masih hidup. Akhirnya se-jalan heboh semua gitu, nah, orang-orang pada ngebantuin lho mindahin burungnya. Baik ya. Gak ditinggal gitu aja. Wow! Saya takjub juga.

Seattle Aquarium, dari luar bangunannya ala country gitu deh, Kayu-kayu dan terkesan jadul. Dibilang luas juga tidak terlalu, biasa saja. Dalamnya, fasilitasnya sangat mendidik, tiap ekshibisi dijaga oleh staff nya yang kooperatif dan sabar menjawab pertanyaan2 yang diajukan pengunjung (orang Amerika, kritis-kritis, suka nanya). Lalu, di dalam sini juga rame dengan suara kehebohan anak-anak. Saya, yang udah lama banget gak ke tempat kayak gini, liat ikan, hewan laut dll, jadi excited heboh juga. Wkwkwkkwkwkw.. Rasanya marine park itu ageless deh.

lutunya ikan-ikan dan otter

Di Seattle Aquarium saya baru liat secara langsung ada burung bisa nyelam dan berenang namanya Tufted Puffin, terus saya juga baru liat otter (berang-berang), yang ternyata ada otter laut dan otter sungai yang memiliki ciri khas masing-masing. Keduanya lucu plus imut-imut gitu. Oya, otter ini maskot kebanggaan dari Seattle Aquarium. Yang lainnya yang saya suka gitu, ada ekshibisi tentang ikan salmon, ternyata ikan salmon ini vital lho keberadaannya dalam menjaga ekosistem laut (Seattle).

Selesai dengan binatang laut, lalu Dicky-saya muter-muter sekitaran harbor yang pemandangannya juga bagus. Dan selanjutnya kami memutuskan nunggu sepupu saya dulu di Starbucks dekar harbor itu. Tapi ditunggu beberapa lama dy gak dateng-dateng kan ya. Ydh habis itu, kami memutuskan untuk liat-liat toko souvenir (Seattle T-Shirt Company) di sebelah Starbucks (dan saya laper mata deh sungguhan, habisnya barang-barangnya lucu-lucu banget) setelah itu lalu naik Argosy Cruises, makan, dan setelah itu baru ke Starbucks lagi nunggu sepupu saya.

salah satu barang jualan toko :
scrubs Greys Anatomy & baju dengan title film

Argosy Cruises ini semacam tur lihat Seattle dari laut. Kami diangkut pake feri gitu muter-muter teluk sambil mendengar penjelasan seputar kota dari sang kapten kapal. Tur ini memakan waktu 1 jam. Memang agak medayu-dayu kapalnya, tidak cepat, tujuannya agar penumpang bisa menikmati pemandangan. Hohohohoh.. lalu dipertengahan perjalanan, sang kapten mematikan mesin, dan mempersilahkan penumpang untuk naik ke deck kapan untuk berfoto dan menikmati pemandangan secara langsung. Waaaa.. Memang benar lho bagusnya. Sayang, pas naik Argosy, Dicky agak mabuk laut dan pusing, jadi saya muter-muter dan foto2 sendirian deh plus diajakin ngobrol jg sama bule suami-istri gemuk yang berasal dari Kanada. Hahhahahah..

Argosy cruise tur, cocok untuk keluarga

Finally, sudahan juga tur kapalnya, dan kami lapar, kami memutuskan untuk makan di Red Robin, semacam resto fastfood gitu. Restonya oke banget, lucu deh ruangannya seperti sirkus. Lalu, resto ini rame banget, jadi kami harus agak sabaran untuk menunggu antrian tempat duduk. Nah, ada kejadian lucu, sepertinya sang waitress mengira kami di bawah umur deh (berhubung kami ini pendek, plus berpakaian so-high school – jaket, jeans, kets). Dy tidak menawari kami minuman beralkohol, dy menawari kami milkshake dan air putih. Hahhahahahaha.. Oke, mungkin tampang kami juga innocent kali ya.

ini salad lho. Wow! Banyak amat mamen..

Sekitar hampir jam 4 kami selesai makan, lalu, kami lagi-lagi ngecek Starbucks. Apakah sepupu saya ini udah datang apa belum. Daaannn.. Ternyataaaaa.. Sudah datang ! Wkwkwkwkw.. saya sudah agak lama juga gak ketemu Hans, jadi pas ketemu agak heboh gitu deh. Huaaaaa.. Tidak menyangka bisa ketemunya malahan di Seattle. Ternyata sekarang juga dy udah gede dan gaul abiz gitu. Hahahha.. Liat rambutnya berjambul gitu maaannn.. Singkat cerita, untuk beberapa jam ke depan ini Hans menjadi tour guide kita. Hahahhaha..

Ketika ditanya, Dicky-saya mau kemana, sebenarnya bingung juga sih, perasaan soalnya udah kita datengin semua. Hmmm.. Setelah dipikir-pikir, okay, kita masih penasaran dengan kayak apa sih warung Starbucks pertama di dunia itu. Hans mengantar kami ke sana, dy sambil ngutak-ngatik iphone nya hahahah.. Pake GPS biar gak nyasar. Gak berapa lama sampailah kami di sana, tokonya kecil banget, tapi rame nya broooo.. Huaaaaa.. Ngantri sampe keluar toko. Kita geleng-geleng aja. Poto2 bentar lalu pergi deh. Yang penting udah liat dan udah foto deh. Tidak jauh dari situ ada toko roti Rusia Piroshky yang katanya rotinya enak. Hans membelikan Dicky-saya smoked piroshky. Rotinya padat dan pulen, enyak.. enyakk.. Sehabis itu kami jalan menuju ke Wall of Gum yang berada di basement luar Pike Market. Weeee.. Di sini, ada yang foto pre-wed juga, bikin heran juga ni, ngapain ya pre-wed di tempat gross begini. Kan jijik banget tu permen karetnya di seluruh dinding ahahahaa.. Mungkin di situ kali ya art-nya. Di Wall of Gum ini orang-orang biasanya makan permen karet dan nempelin permen karetnya di dinding, pokoknya heboh banget deh dindingnya. Warna-warni kalo di liat dari jauh, pas di deketin hyahayaahahha.. Bekas permen karet dimana-mana. Unik-unik.

bersama Hans, sang sepupu, di Wall of Gum

kiri : toko Starbucks pertama di dunia ; kanan : roti Piroshky yang enak

Sehabis ini tadinya Dicky-saya memang minta diantar ke Chinatown-nya Seattle tapi kata Hans gak ada apa-apa di sana. Alhasil Hans memberi alternatif lain yaitu short-trip ke University of Washington (UW) wow! Sepertinya seru nih. Lalu, kami naik metro untuk ke sana, agak jauh memang dari downtown ke UW. Sekitar 20 menit naik metro untuk sampai ke sana. UW letaknya di University District - utara Seattle. Asik-asik tour de campus..

UW merupakan univ terbaik se-Washington. Kayak UI nya Endonesa gitu. UW itu biasa disebut UDub (yudab – dab dari pronounciation W). Kampusnya luas banget, sampe punya distrik tersendiri gitu. Kalo mau muter-muter kampusnya, butuh waktu seharian. Kampusnya berdiri dari tahun 1800-an jadi gak heran kalo bangunannya jadul dan gothic gitu. Keren si kayak di film Harry Potter hehehehhee.. Salah satu contohnya adalah perpustakaannya ; Suzzallo Library. Bangunan lainnya juga klasik dan keliatan terawat. Di sini banyak taman, ada salah satu taman namanya The Quad, yang dikelilingi pohon cherry blossoms yang besar (kata Hans sampe bisa dipanjat) kalo pas berbunga keren banget, sayang pas kami ke sana, musim bunganya udah selesai. Kami juga sempet duduk-duduk sebentar di kolam nya yang gede banget, kolamnya juga rame dengan burung seagull.

searah jarum jam :
Suzzallo Lib, UW Pond, main hall, The Quad

Petualangan ke kampus orang bikin iri tersendiri hahahhaha.. Malah jadi ngebayangin kalau sekolah di sini seru kali ya. Apalagi saya dengar UW itu univ di Amerika dengan anggaran riset yang paling besar. Waaahhhh.. Bisa nih, jadi salah satu pilihan untuk sekolah lanjut. Btw, sepulang dari muter-muter UW kami makan sebentar di warung ramen deket-deket situ. Hans dan saya juga banyak mengobrol tentang update info keluarga kami, ngomongin sepupu2, sekolah, dan lain-lain. Senang juga bisa mengobrol banyak dengan sepupu sendiri.

Bus kami untuk pulang ke downtown datang. Dan saya siap-siap untuk say good bye kembali. Thanks banget untuk Hans sudah menemani Dicky-saya jalan-jalan sebentar di sisi kota Seattle yang lain. Turun dari bis dan berpisah dengan Hans yang juga langsung pulang ke Shoreline, saya jadi sedih. Hmmm.. Waktunya meninggalkan Seattle pun tiba. Dicky-saya melangkahkan kaki ke arah hotel untuk mengambil koper kami, kami pun sudah minta ke receptionist untuk dipesankan taksi ke bandara Tacoma jam 10 malam. Jalan kaki terakhir di kota Seattle. Kalau waktu pertama kali kami datang kami terburu-buru, kali ini langkah kaki jadi melambat, sehingga kami sempat menikmati senja.

pemandangan kota - last capture

‘Your taxi will be here at 10 minutes’
‘Okay, thanks’

Datang lah si taksi putih berbodi bongsor, yap, kalo taksi buat nganter ke airport bukan taksi kecil warna kuning, mobilnya persis kayak mobil yang mengatar Dicky-saya dari bandara ke hotel. Saya mengambil tempat duduk di tengah. Penumpang mobil 4 orang, kami berdua dan dua cowok bule ganteng. Selama perjalanan dari hotel ke airport saya merasa antara senang dan sedih. Senang bisa pulang kembali ke rumah Ibu Pertiwi, tapi juga sedih karena meninggalkan Seattle, rumah Tante Amerika. Mobil kami melewati Seattle Great Ferris Wheel (bianglala Seattle yang terletak di pinggir laut), lampunya terang sekali dan ramai. Saya jadi ingat, saya belum coba naik ferris wheel, yang satu ini kelewatan hahahaha.. Okay, no prob, next time.

best regards,
puji wijaya, hari melancong selesai

Friday, June 14, 2013

The D Day

20 April 2013
Location : Top Pot Doughnuts, WCC, Genki Sushi at Broadway, Blick Art Materials at Broadway, Walgreens at Denny Way

Hampir saja kami melakukan kesalahan yang sama, apa? Bangun kesiangan, haduh kali ini bangun jam setengah 9 pagi. Heboh cepet-cepet mandi dan kami langsung capcus ke Top Pot Doughnuts, Donat yang katanya ter-enak seantero Seattle. Tempat ini direkomendasikan oleh anak Ms. D yang sempat beberapa waktu yang lalu berkunjung ke Seattle. Dari luar memang Top Pot classy sekali, banguna dua tingkat dengan interior seperti perpustakaan. Yup, di salah satu dindingnya berjejer buku-buku sampai menyentuh atap. Keren dan cozy. Tapi, kami gak sempet, foto-foto ato duduk di sana, namanya saja buru-buru, jadi hanya beli donut dan cokelat panas nya saja.

Sesampai di sana, kami datang ke counter registrasi, kami mau mendaftar sebagai anggota SRCD, lagi-lagi karena kami datang dari emerging country, untuk menjadi anggotanya kami hanya perlu membayar 5 dollar saja. Murah kan ya. Selesai itu, di hari ini kami mengikuti paper symposium yang membahas mengenai tidur pada remaja. Hari ini memang berbeda dari hari kemarin, kalau kemarin kami masih senang-senang saja, hari ini kami agak deg-degan, karena pada hari ini kami presentasi poster. Lagi-lagi, ini pertama kalinya lho buat saya untuk presentasiin poster di hadapan publik internasional. Berhubung saya super parno, kemarin malam saya belajar sampe jam 12 malem. Hahhahaha.. Gak pede nya diri ini.

narsis sekilas di SRCD XD

Sebelum presentasi dimulai Dicky-saya masih bisa berjalan-jalan sebentar di taman di luar WCC. Tamannya cantik, lalu lucunya, tamannya ini bisa tembus ke jalan raya. Ternyata struktur jalan Seattle itu kan berbukit naik turun, ada dataran yang tinggi juga yang rendah. Pas kami jalan-jalan di taman dan foto-foto, ada beberapa masyarakat lokal yang juga sedang olahraga, ngajakin anjingnya jalan-jalan dan ada yang motret-motret burung, Huaaaaa.. Keren dehhhh.

bergaya ala cover CD atau video klip

Se-jam sebelum presentasi dimulai Ms. D datang membawa poster kami. Lalu, sepertinya dy melihat Dicky-saya parno gitu, dy bilang ‘jangan takut, orang tidak akan mengkritisi berlebihan atau bilang penelitanmu salah, poster presentation itu media untuk belajar’ hmmmm.. Sedikit membuat saya lebih tenang. Habis itu jam pun bergerak dengan cepatnya, tau-tau kita standby di lokasi presentasi dan pasang-pasang poster. Waktu untuk poster presentasi hanya 60 menit. Sebentar sekali ya. Dan yak lagi-lagi tidak terasa. Poster kami didatangi oleh beberapa orang, tidak banyak si, karena ini sesi terakhir di jam yang terakhir. Fiuhhhhh.. Ada sepertinya sekitar 10 orang-an.. Ada cewe Belanda yang dulu pernah riset di Yogyakarta dengan kampus kami, lalu dy mendatangi kami dan bercerita serta sedikit bernostalgia, padahal posisinya kami gak kenal lho hahahha.. Lalu, ada beberapa anak Asia bermuka China yang ternyata mereka orang Singapur dan Hongkong yang membaca dan mengobrol sebentar dengan kami. Audience yang lainnya termasuk kolega Ms. D dan Ed. Kocak juga ketika Ed datang, dy mendadak akrab dengan Ms. D. Hahhahahahaa.. Bagus, sangat nyambung mereka, karena mereka mengenal orang yang sama di kampus saya. Hahahhaha.. Terus, Ms. D dengan Ed bertukar e-mail dan nomer handphone. Senangnya bisa membangun link. Sepulang dari WCC Ms. D berkata kepada saya ‘kamu mengenal orang yang tepat, Puji, dy pasti bisa membantumu ketika kamu butuh rekomendasi, dy orang hebat’. Saya tersenyum lebar.

full-team

Selesailah hari ketiga ini, dan ini hari terakhir juga Dicky-saya bersama-sama dengan Ms. D. Siapkah saya dengan perpisahan untuk kedua kalinya? Yap, saya siap, dari kejadian yang sudah-sudah saya meyakini bahwa ada waktunya kami akan bisa bertemu lagi, meskipun entah kapan itu terjadi. Lagipula, di jaman sekarang ini, komunikasi sudah bukan barang mahal. Saya tetap bisa berkomunikasi dengan Ms.D.

Hari terakhir ini kami akhiri dengan makan malam di Genki Sushi, kata Ms. D Genki Sushi sangat terkenal di Hawaii (suami Ms.D adalah orang Hawaii) dan dy sangat suka makan sushi, apalagi yang salmon. Kami ke Genki Sushi dengan taksi, supir taksi nya pria muda negro gitu yang menyetirnya berasa Vin Diesel dalam seri film Fast and Furious. Ngebut dan suka nge-rem tiba-tiba, ternyata yang ugal-ugalan bukan hanya di Indonesia ya hahahahha.. Sampe di Genki Sushi yang unik banget, karena dy ini ternyata model resto conveyor belt sushi/ sushi go around. Sushinya ditempatkan di piring-piring yang berputar mengelilingi meja se-resto. Kita tinggal ambil2 gitu sushi nya, dan hitungan berdasarkan warna piring.

Genki Sushi, huaaaaa.. Sushi premium..

Di sini Ms. D banyak cerita tentang kesukaannya dengan travelling, dia bilang kesempatan-kesempatan seperti konferensi ini lah yang membuat seorang akademisi dapat jalan-jalan. Mencari ilmu dan mencoba sesuatu yang baru (tempat baru, daerah baru, budaya baru). Itu salah satu benefitnya. Saya jadi ingat kalau orang jaman dulu jaman alkitab, murid-murid Tuhan kita berkelana menyebarkan kabar gembira ke seluruh negeri, nah, mungkin hasil riset itu bagaikan kabar gembira yang harus disebarkan seluruh dunia jangan dipendam sendiri saja.

Setelah kenyang dengan sushi, Dicky-saya ingin sekali mentraktir Ms. D habisnya koq dy sering banget traktir kita makan. Tapi ketika membicarakan ini ke Ms. D, dy bilang ‘Tidak usah. Kalau mau traktir nanti saja kalau kalian sudah bekerja dan memiliki uang sendiri, baru ketika kita bertemu lagi, traktirlah saya di tempat makan yang paling enak’ lalu dy tertawa. Langit pun sudah senja, kami mampir sebentar ke toko seni dan stationary Blick Art Materials yang lengkap banget, surga para mahasiswa seni, desain dan arsitektur, ternyata Ms. D suka dengan barang yang lucu-lucu, kadang dy iseng beli stationary buat koleksi pribadi, hahahha, karena saya juga gitu, berasa menemukan teman se-hobi. Sehabis itu kami berjalan sambil mengobrol menikmati waktu-waktu yang tersisa. Besok Ms. D pulang naik pesawat di pagi buta.

 toko surgawi pecinta warna

Andai ada award untuk orang terbaik dalam hidupmu, pastinya, saya akan mengajukan Ms. D untuk menjadi salah satu kandidatnya. Terima kasih Ms. D, dan terima kasih Tuhan telah mempertemukan Dicky-saya dengan Ms.D.

best regards
puji wijaya,
if you are brave enough to say goodbye, life will reward you with a new hello

ini kado yang diberikan oleh Ms. D untuk kami berdua, Dicky mendapatkan buku Seligman, saya mendapatkan CD Hapa (Grup akustik asli Hawaii) yang musiknya ya ampun unik sekali..

Thursday, June 13, 2013

Rain City

19 April 2013
Location : WCC, Cheesecake Factory near WCC, Sheraton Hotel, Pike Market (Public Market Center), Subway – American Sandwich fastfood resto at 6th Avenue Seattle, Walgreens at Denny way

‘Ci Pujo, kesiangan, bangun’
Tiba-tiba Dicky bangunin saya dengan posisi kayaknya ni badan koq capek banget yaaaaa. Bused deh kami bangun jam 10 pagi, yang bener ajah Jeung. Sudah gitu, tiba-tiba cleaning service juga udah dateng beres2in kamar kita lagi. Bused, parah banget ya kita ini. Alhasil, barulah kita datang ke WCC sekitar jam setengah 12, jam 12 kami ada janjian dengan Ms. D, Ms. Flo plus suami & anaknya. Katanya mau diajak makan bareng di resto Cheesecake Factory yang letaknya persis di depan WCC. Eh, eh, eh, ternyata keluar dari hotel, cuaca hujan gerimis, ma bro, kami gak punya payung.

Ketika sampai di WCC dengan setengah lunglai tapi tetep gak mau mati gaya gara-gara keujanan (padahal saya udah K-Pop-ers banget deh ni fashionnya). Kami mau mencari Ms. D. Di tengah-tengah pencarian Ms. D tiba-tiba saya melihat orang yang saya kenal, OMG, itu kan Ed! Sekilas info, Ed itu adalah kolega dari salah satu dosen saya, dulu kami satu proyek penelitian di Bantul (PBB). Sebelum pergi ke sini, saya memang sudah menghubungi Ed barangkali saja bisa ketemuan. Namun, apa daya, saya gak punya handphone, jadi saya agak berpasrah gitu, gak nyangka ternyata bisa ketemu sendiri. Langsung, pada saat itu juga saya menghampiri Ed. Si Ed malahan kaget setengah mampus gitu, ahahahha.. Langsung deh kami saling say hi dan berpelukkan (kenapa ya di sini kayak Teletubbies, dikit2 berpelukkaaannn..)

Ya ampunnn.. Gak nyangka juga deh bisa ketemu si Ed yang walaupun sudah agak Oom2 tapi tetep ganteng. Hahahahah.. Terus, kita ngobrol agak lama gitu, saling tanya kabar, Ed nanyain Pak Siswo, Mba Haxi, Mba Yayi, Mami (Mba Devi), Mz Krisna. Huaaaaa.. Seneng bener deh, reuni PBB. Hmmm.. Waktu dan jarak itu memang hanya ciptaan manusia, siapa yang menyangka saya akan bertemu lagi dengan Ed padahal kami terpisah ribuan kilometer jauhnya. Habis itu (biasalah) kami foto bareng gitu dan Ed upload fotonya di facebook. Whaatttt.. Jadilah teman-teman jadi pada tau saya sedang ada dimana hahahhahaha.. (Fyi, tidak banyak yang tau saya pergi ke Amerika Serikat).

mendadak reuni

Seusai reunion dengan Ed, lalu saya puter2 hall poster presentasi, ada beberapa juga penelitian yang menarik dan saya bisa minta mereka ngirimin poster mereka ke e-mail saya. Dan tidak lupa, bertukar kartu nama gitu deh. Hahhahaha.. Kocaknya, ketika saya mengatakan saya dari Indonesia mereka selalu bilang ‘Wah, kamu menempuh perjalanan yang sangat jauh untuk datang kemari.’ Heheheheh.. Iya emberrrr.. Saya naik pesawat 17 jam.. >.< senang juga bisa tuker2an ilmu dengan sesama peserta konferensi. Lalu, entah kenapa, saya lebih suka mampir ke poster milik sesama bangsa Asia, lebih pede saja rasanya untuk bertanya. Hahhaha.. Weeehh..

Jam 12an (lebih) kami berkumpul. Dicky, Ms. D, Ms. Flo, anak Ms. Flo dan suami Ms. Flo yang juga ternyata orang psikologi. Waaaa.. Keluarga psikologi ternyata Ms. Flo ini, sama dengan Ms. D, suaminya juga psychologist. Acara makan siang ini, seperti acara bincang-bincang mengenai ‘Perjuangan Mahasiswa Indonesia’ Ms. Flo banyak bercerita tentang bagaimana dulu dia berjuang menjadi satu-satunya mahasiswa Indonesia yang mengambil jurusan psikologi, di Wisconsin pula, yang waktu itu jumlah orang Indonesia di sana itu sedikit banget. Lalu, dy juga bercerita bagaimana dy harus kerja dulu pas kuliah, karena nilai mata uang Indonesia jatohnya pake banget. Jaman tahun 1998-an yang 1 Dollar itu bisa 20ribu. Ya ampunnn.. Saya denger ceritanya saja bisa kerasa deh bagaimana susahnya mahasiswa Indonesia yang waktu itu kuliah di Amerika. Ms. Flo juga cerita banyak waktu itu temen-temennya yang akhirnya pulang ke Indonesia, karena usaha orangtuanya menurun drastis dan mereka gak bisa biayain mereka sekolah lagi.

makan siang Geng Indonesia

Senang bisa mengenal Ms. Flo dan keluarga, apalagi si anaknya lucu juga, pengen saya mainin & unyeng2in, hahahahaha.. Sepulang dari makan siang, Seattle mulai deh ujan gerimis lagi. Untung kita masuk lagi ke WCC yang hangat dan nyaman, hahahahha.. Di hari kedua ini Dicky-saya mengunjungi paper symposium ‘LGBT Youth: ‘Does It Get Better? If So, Why?’ senang juga nih menarik, di sini juga, saya ketemu lagi dengan Ed. Hahhahaha.. Sekalinya ketemu malah ketemu mulu. Puas dengan lagi-lagi presenter yang keren dan sesi pertanyaan sangat hidup, karena baik dari kubu presenter, moderator maupun audience bisa ya saling adu argumen dengan cerdas tanpa merasa hurt-feeling. Ini dia yang namanya sportif. Kalo di Indonesia, mungkin bisa berujung keributan massal.

Menjelang agak sore, kami melanjutkan misi akademik kami di Sheraton Hotel dalam acara Presidential Speech yang dibawakan oleh Ann Masten yang merupakan ketua dari SRCD. Beliau membicarakan tentang resiliensi dan pentingnya hal tersebut bagi dunia. Speechnya berapi-api tapi tetap elegan, Prof. Masten biarpun wanita, tapi keliatan lho power nya pas kasih pidato itu. Huaaaa.. Lagi-lagi menemukan sosok keren. Speech ditutup dengan situasi yang agak emosional karena Prof. Masten agak terharu gitu pas menyebutkan orang-orang yang berjasa untuk dirinya sampai beliau bisa berada di atas panggung memberikan Presidential Speech.

Hari ini kami pulang tidak terlalu larut, maka, Dicky-saya berniat liat-liat Pike Market. Sampai di Pike Market memang agak gerimis, tapi terlihat bersahabat, eh, gak lama jadi ujan agak deres gitu. Ya ampun, udah mana gak punya payung. Ya sudah deh, kami tetep niat muter-muter Pike Market yang katanya legendaris itu. Tapi hanya sebentar di sana, gak terlalu lama berhubung udah hampir malem juga. Lumayan deh menemukan toko souvenir yang super murah cocok buat kantong kita-kita mahasiswa negara dunia ketiga. Habis itu sempat lihat adegan lempar ikan salah satu toko ikan terkenal di Pike Market.

segarnya ikan-ikanan

Pike Market itu pasar tradisional yang sudah ada dari jaman susah dulu. Seattle kan terkenal dengan hasil ikan, buah sayur dan bunga nya, gak heran di dalam pasar banyak yang jualan hasil perikanan dan perkebunan. Selain itu juga, banyak resto yang menghadap ke laut, toko buku, toko alat sulap dan pernak-perniknya, lucu banget deh, di basement lantai dua malah ada toko ramalan. Liat tokonya unik-unik kayak gini jadi ingat Diagon Alley di Harry Potter. Fyi, katanya sih di Pike ini ada outlet Starbucks pertama di dunia, hanya kami belum liat saja dan berniat di hari terakhir di sini kami harus mampir Pike Market lagi.

buah, segarnya ..

Second day selesai. Pulang-pulang dari Pike, kami buru2 deh mandi, cari makan, dan beli payung di supermarket terdekat, Walgreens. Huaaaaa.. Untung gak sakit-sakitan habis ujan-ujanan begini. Oya, terimakasih Subway sudah lagi-lagi mengenyangkan perut kami. :3

komersil dimana-mana, hahaha, directions sampe dijual

best regards
puji wijaya, berkelana di kota hujan