Friday, May 25, 2012

Conducting a Workshop


Aloha! Datang dengan kabar terbaru. Dua minggu belakangan, saya, dosen statistik dan beberapa teman sedang mempersiapkan sebuah acara di awal semester ganjil. Acara ini adalah sebuah workshop mengenai penggunaan program komputer SPSS yang digunakan untuk entri dan analisis data penelitian di bidang kesehatan dan social sciences.

Sebenarnya acara ini bukan acara yang sudah direncanakan sebelumnya, berawal dari keinginan saya dan beberapa teman untuk menguasai kemampuan SPSS sebelum lulus kuliah dan sekolah lanjut, kami menghubungi dosen statistik kami yang keren, namanya Pak Agung. Hehehehe.. Awalnya hanya basa-basi dan tanya kapan Pak Agung mengadakan seminar lagi (rencananya kami mau ikutan jadi peserta gitu kalo diadakan seminar statistik). Tapi ternyata, Pak Agung malah meminta bantuan kami untuk membuat seminar/workshop. Selain jadi event organizer-nya kami juga jadi trainer assistant-nya. Huaaaaa.. Berasa dapat durian runtuh. Hwhwhwwhwhhw.. So, doakan ya semoga persiapan dan acaranya berlangsung dengan lancar. Oya, untuk yang berminat mengikuti workshop ini, tunggu info selanjutnya yaaaa.. :)

best regards
puji wijaya, SPSS new learner

Sunday, May 20, 2012

He Said

God said
Let me ask you something.
If someone prays for patience, you think God gives them patience?
Or does he give them the opportunity to be patient?
If he prayed for courage,
does God give him courage, or does he give him opportunities to be courageous?
If someone prayed for the family to be closer,
do you think God zaps them with warm fuzzy feelings,
or does he give them opportunities to love each other? 


Evan Almighty (2007)

Friday, May 18, 2012

See You Later, Ryu!

Namanya Ryu. Ryu anaknya ceria sekali, walaupun menjadi yang paling muda di kelas, Ryu tidak jauh beda dengan teman-temannya, aktif dan dapat mengikuti pelajaran dengan sama baiknya. Ryu suka sekali memimpin lagu ketika kita memulai kelas dan mengakhiri kelas, suaranya keras dan bagus, ".. See you next time.. See you next time.. See you next time in our class.." sampai ketemu lagi Ryu, di lain kesempatan. :)

foto atas : Ryu, kaget waktu di foto
foto bawah : Ryu yang paling pojok kiri bareng Ms. Iing & teman2 yang lain

Hari Selasa kemarin saya mendapat berita mengejutkan, salah satu murid saya dipanggil Tuhan. Sebelum pergi, Ryu sakit demam-berdarah. Kata Bu Wira, sakitnya tidak lama. Terakhir saya bertemu Ryu 2 minggu yang lalu, tidak menyangka itu akan menjadi pertemuan yang terakhir. Ya, kita memang tidak pernah tau  batas waktu hidup kita.
Ryu, tetap belajar bahasa Inggris ya di sana. Ryu anak yang pintar, kami semua bangga dengan Ryu. Ms. Iing & Ms. Puji mendoakan Ryu bahagia di sana. *hugs*

Monday, May 7, 2012

Words for LLC


Heiho! Selamat sore. Heuuuu.. Sudah lama sekali blog ini terbengkalai, janji untuk bikin posting blog seminggu sekali terlanggar, minta maaf terhadap diri sendiri. Sori sori sori sori (*lho jadi SuJu). Oke lah, 2 minggu terakhir ini saya menjadi Mahasiswa Angkatan 69, berangkat jam 6 pagi, pulang jam 9 malam. Pre-test, intervensi dan post-test riset ‘Math Learning’ Ms. Diane telah dimulai. Dicky, tmn2 helpers (angkatan 2008, 2010 & 2011, terimakasih atas kontribusi kalian di proyek ini) dan (pastinya) saya harus rela bangun pagi setidak2nya jam setengah 6 pagi, jadi bisa standby di sekolah jam setengah 7 pagi. Setelah berlangsung 2 minggu, saya sudah bisa lebih mengontrol tidur saya, awalnya kacau beud. Ahahahaha.. Lalu, setelah ke sekolah untuk riset ini, saya ke sekolah yang lain lagi untuk mengajar seperti biasa, pulang Paingan saya kuliah dan bantu2 di perpustakaan. Tau2 udah malam saja, saya langsung ngerjain tugas, do something with skripsi dan nyempet2in belajar gitar di kos, setelah itu, tepar, tidur. Wow. Saya hanya bisa bilang thanks God karena saya masih diberikan kesehatan.

Hmm.. Yap itulah kira2 gambaran hidup saya belakangan ini, jadi ya gimana ya, susah buat curi2 waktu untuk membuat sebuah posting blog. :) nah, akhirnya sampailah pada hari ini, akhirnya saya punya waktu selo untuk bikin posting blog! *tangisbahagia. Oke.. Oke.. Ga usah panjang lebar, hari ini saya mau cerita tentang tempat saya bekerja, Kanisius Language and Learning Centre. Koq tiba2 cerita ini? Tadi siang saya ke kantor untuk mengambil gaji saya. Lalu, berhubung waktunya jg mepet2 dengan jam kepulangan kantor, jadi saya menemani Ms. Ayun, admin LLC yang terkenal baik dan periang, biar pulang bareng gitu ceritanya. Jadilah setengah jam kami cerita2 tentang proses kami di LLC. 30 menit yang ternyata berarti untuk saya, karena obrolan itu justru menjadi refleksi saya ketika mengendarai motor dan sampai saat saya mengetik posting ini.

Saya ingat, setahun yang lalu, kira2 itu bulan Mei, saya masih semester 6 dan menjadi mahasiswa kupu2 untuk pertama kalinya. Saya iseng2 mendaftar menjadi English teacher di lembaga bahasa ini. Alasan saya mendaftar, jujur, alasan finansial. Uang jajan yang diberikan orangtua saya sudah tidak mencukupi kebutuhan saya, mepet dan ga bisa nabung, jadi saya kerja aja, supaya punya tabungan. Saya tidak pernah menyangka bahwa keterlibatan saya di sini bukan hanya saja mendapatkan uang, tapi pengalaman yang benar2 tidak ternilai harganya. Gaji 300rb per bulan + love from children + care from the team = priceless. Gara2 LLC ini, saya yang tadinya bencinya setengah mati sama anak-anak, sekarang saya kira mereka bukan makhluk menyebalkan seperti dulu. Walaupun unpredictable, saya senang karena perilaku mereka memang bawaan alamiah, beda sama orang dewasa yang menurut saya koq terlalu banyak intrik.

Di tengah ketakutan saya dengan proses beranjak dewasa, saya menemukan ketenangan ketika berinteraksi dengan anak-anak. Dari mereka saya belajar bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan, menjadi dewasa tidak sepenuhnya menyeramkan. Mereka dengan percaya diri ingin dianggap mandiri, bisa semuanya, tidak perlu bantuan, mereka juga mengungkapkan bahwa mereka ingin cepat besar, lalu saya berpikir, dulu juga saya seperti ini, dulu saya juga pengen cepet jadi tinggi, besar, sekolah ke jenjang yang lebih atas, jadi kenapa sekarang saya takut untuk jadi dewasa? Bukankah cita-cita itu justru sekarang sudah tercapai. Ahahahahah.. Dalam hal ini, menurut saya, ajaib bisa mengenal anak-anak. Melihat tingkah laku mereka, saya bisa flashback ke masa kecil, merasakan kembali ‘kebahagiaan tanpa syarat’. Eudai!

Selain proses intrapersonal, saya juga mendapatkan relasi interpersonal yang supportive dari teman2 sesama guru. Dulu, saya yang selalu bingung kalo mengajar, sekarang, seperti sudah luar kepala, pertama ini, kedua itu, kalo ada yang gini dibeginikan, kalo begitu dibegitukan. Atasan saya, Ms. Flo dan Ms. Ayun itu galak-galak. Tapi, ternyata galaknya itu baik juga untuk saya. Kalo dulu ga digalakin mungkin saya juga ga mungkin seperti sekarang. Teman-teman senior dan yang sepantaran juga menyenangkan, memang tidak semuanya si, ada saja yang ga jelas, tapi overall, atmosfer teamnya lumayan buat saya kerasan di sini.

Dari sini juga, saya juga belajar tentang menghargai uang, sudah setahun juga gara2 saya punya penghasilan, saya jadi telaten bikin jurnal keuangan, saya tau bulan ini saya mengeluarkan uang untuk apa saja dan berapa jumlahnya. Yang mengharukan, saya bisa membeli barang-barang pribadi dan membayar keperluan pribadi dengan uang sendiri. Biaya KKN saya bayar sendiri, beli baju sendiri, beli BUKU sendiri, the latest, patungan dengan orangtua untuk ganti kacamata baru (yang ternyata tidak murah harganya). Waaaah, saya merasa keren pokoknya. Wkwkwkwkwwk. Bulan Mei & Juni ini adalah bulan terakhir saya mengajar, tadi siang ketika mengambil gaji, ga tau napa, koq rasanya berkesan ya. Ternyata gaji bulan-bulan terakhir rasanya lebih berkesan daripada gaji pertama. Ahahahahaaa..

Hal yang terakhir, sebelum saya menutup posting blog ini, mengenai passion saya untuk mengajar. Yap, selama hampir satu tahun ini saya semakin yakin bahwa saya suka dunia pendidikan, hal ini juga memperkuat saya untuk, ayo puji wijaya, cepat lulus kuliah, ikut program Indonesia Mengajar (come on..), get your Ph.D dan  segera pulang ke tanah air untuk mengajar. Okay.  I will.

Sekian cerita saya mengenai LLC, tidak terasa sudah mau berakhir, setahun yaaa.. I’ll miss it so much. Oya, satu hal lagi yang penting, dari LLC, saya juga belajar, bagaimana menyenangkannya ketika kita bekerja dengan hati. Bye.

best regards,
puji wijaya, still being learner

Sunday, May 6, 2012

Kisah Kakek Penjual Amplop ITB

I found a nice thread in KASKUS, 


Kisah Kakek Penjual Amplop di ITB. Kisah nyata ini ditulis oleh seorang dosen ITB bernama Rinaldi Munir mengenai seorang kakek yang tidak gentar berjuang untuk hidup dengan mencari nafkah dari hasil berjualan amplop di Masjid Salman ITB. Jaman sekarang amplop bukanlah sesuatu yang sangat dibutuhkan, tidak jarang kakek ini tidak laku jualannya dan pulang dengan tangan hampa. Mari kita simak kisah Kakek Penjual Amplop di ITB.

Kakek Penjual Amplop di ITBSetiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang Kakek tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun Kakek itu tetap menjual amplop. Mungkin Kakek itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

Kehadiran Kakek tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran Kakek tua itu.

Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat Kakek tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu Kakek itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri Kakek tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkus plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi Kakek tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.

Kakek itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.

Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Kakek itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Kakek cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si Kakek tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, Kakek tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.

Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat Kakek tua itu untuk membeli makan siang. Si Kakek tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di fesbuk yang bunyinya begini: “Kakek-Kakek tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”.

Si Kakek tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.

Dalam pandangan saya Kakek tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si Kakek tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.

Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si Kakek tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si Kakek tua.

Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si Kakek tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.

Mari kita bersyukur telah diberikan kemampuan dan nikmat yang lebih daripada kakek ini. Tentu saja syukur ini akan jadi sekedar basa-basi bila tanpa tindakan nyata. Mari kita bersedekah lebih banyak kepada orang-orang yang diberikan kemampuan ekonomi lemah. Allah akan membalas setiap sedekah kita, amiin.

thx to 'Night.Stalkers' KASKUS who share this precious story