Monday, January 21, 2013

Kesan Mengenai Bali Dwipa

Tidak menyangka, nonstop sekitar 1 minggu, mengejar ketinggalan menulis posting mengenai Bali, akhirnya selesai juga. Bak menulis skripsi, nulis posting perjalanan butuh banyak waktu dan energi ternyata. Ngurek-ngurek lagi memori mengenai Bali, bukan persoalan yang mudah. Karena ternyata ada beberapa detail yang saya lupa catat sehingga saya harus browsing lagi. Heheheeheheee.. Sudah menjadi kebiasaan saya si, kalo habis pergi jauh, saya suka cerita di blog. Menurut saya, kenapa tidak saya menceritakan ulang dan menyimpannya dalam bentuk teks. Trus, orang-orang juga jadi bisa membacanya kembali. Taun2 berikutnya juga saya sendiri bisa membacanya kembali. :D

Kesan setelah belasan tahun, akhirnya ke Bali lagi, Bali rupanya banyak berubah. Yang paling tidak berubah adalah Pura Tanah Lot. Heheheheheh.. Ya iya lha ya. Kuta sendiri, yang dahulu masih adem ayem, sekarang ramai nya luar biasa dan bangunan tingginya tiba-tiba jadi banyak. Hehehehe.. Populasi turis di Bali sama saja, dulu sama sekarang sama2 banyak beud. Dan turis asing terlihat sangat happy sekali liburan di pulau dewata ini. Yang saya amati di beberapa tempat pusat keramaian, Bali tidak seperti Bali yang kesannya suci, sakral, agak mistis, dan misterius. Terlalu terbuka dan terlalu western, kadang saya jadinya merasa bagai hujan batu di negeri sendiri saking tidak bisa mengikuti gaya hidup dan menggapai tingginya biaya hidup di sini. Sedangkan, turis asing yang didominasi oleh orang berkulit putih, bagai hujan emas di negeri orang, karena mereka enak bersenang-senang di sini, tanpa memikirkan uangnya akan habis, murah gitu lho bagi mereka. (perumpamaan ini saya terinspirasi dari Komik Beny and Mice, Lost in Bali 1).

Selain itu hebohnya industri pariwisata di Bali juga berdampak pada perilaku sosial masyarakat Bali. Pertama, saya sebagai turis domestik, dalam beberapa kejadian merasa kurang dihargai. Kelihatan sekali kalo masyarakat lebih respek dengan turis asing dibandingkan turis domestik. Heheheheh.. Kasusnya mirip seperti di Singapura, ketika orang Singapura merasa kalo orang Indonesia kaya-kaya jadi mereka well-act agar jualannya dibeli, sedangkan mereka cuek bebek sama orang negeri sendiri. Kedua, di beberapa tempat kehidupannya sangat bebas. Di gang tempat saya menginap, jual diri itu sudah seperti jual kerupuk. Dimana-mana, mudah sekali didapatkan dan murah. Ga tau juga apakah gaya hidup seks bebas di sini jadi bikin orang-orangnya agak lemot, tapi yaaaaa kalo memang ada korelasi positif akan dua hal ini, sangat disayangkan juga kan, masa generasi muda kita jadi lemot2. Sudah gitu di sini juga banyak anak kecil, tiap hari lihat yang seperti ini, gak heran jadi dewasa sebelum waktunya. Namun, yaaa.. Hal ini mungkin akan terus ada entah sampai kapan, kalo dilihat dari perspektif ekonomi, dengan menjadi seperti inilah mereka bisa makan, bisa hidup. Ironis si memang.

Bali, memang punya magnet yang kuat untuk mendatangkan pundi-pundi keuntungan negara lewat pariwisata. Bisa dibilang paket wisatanya lengkap. Contoh saja, bagi yang tidak menyukai dunia sosialita, bisa juga menikmati Bali dari sisi budaya, seni, sejarah, olahraga, ekologi, geografis dll. Tiap pelosoknya ada tempat wisatanya. Gilimanuk punya tempat wisata sejarah manusia purba dan hutan berstarus taman nasional di sisi seberangnya Kubu, terkenal dengan lokasi diving keren. Di tengah, Ubud, kita bisa melihat sawah berhektar-hektar luasnya, agak ke timur ada Desa Trunyan yang menyimpan sejuta misteri dan megahnya Gunung Agung. Melipir ke selatan, Bali punya wisata kelas atas di Tanjung Benoa lengkap dengan fasilitas kapal pesiarnya, geser dikit sudah ke pantai-pantainya yang terkenal ke seluruh dunia. Belum lagi dengan tersebarnya pura-pura cantik di seluruh Bali, aaaaaaaaa.. Wisata di Bali tidak bisa hanya sehari-dua hari dan sekali-dua kali. Sepertinya perlu waktu yang banyak untuk menjelajahi semuanya.

Well, sekian kesan saya mengenai Bali. Senang bisa membaginya.. Yang pasti, di taun2 ke depan, saya pingin ke Bali lagi. Hahahahahahaaaa..

best regards,
puji wijaya, the explorado.

heboh di Tanah Lot

Esc Day 6 ; Bali Bye Bye

20 November 2012
Hari terakhir kami di Bali, besok pagi jam 6 pagi, kami sudah caw ke Jogja by maskapai penerbangan low-cost yang warna pesawatnya merah *you know lha. Hehehehe.. Dan nanti malam kami menginap di bandara, menunggu pagi, agak sengsara si, tapi demi menghemat uang kawan. Hari terakhir ini kami manfaatkan untuk berbelanja oleh-oleh. Namun, sebelum itu, kami mengunjungi Monumen Bom Bali terlebih dahulu di Jalan Legian. *hening sejenak*

 Monumen Bom Bali

 Dari situ kami ke Joger di Jalan Raya Tuban. Barangnya unik-unik. Saya tidak beli banyak barang, hanya tas tissue dan gantungan kunci saja, untuk oleh-oleh kerabat. Ada beberapa barang di Joger yang persis dijual di Mirota Batik Yogyakarta, saya geli juga liatnya, tiap ada barang yang sama, saya nyeletuk “ini kayak di Mirota..”. Lanjut perjalanan, kami kembali ke Pasar Sukawati (lagi). Cari-cari oleh-oleh lagi. Tawar-menawar kembali. Terakhir destinasi belanja kami  di Krisna Bali toko oleh-oleh terbesar di Bali, kami ke pusatnya yang di Jalan Raya Tuban, kenapa terakhir? Karena toko ini 24 jam, sedangkan Pasar Sukawati tutup jam setengah enam, tips datanglah agak sore pas mau tutup, harga lebih murah, Joger sendiri juga tidak tutup sampai malam. Belanja makanan kemasan khas Bali paling lengkap di sini, pie susu, kacang Bali (dengan berbagai macam rasa), dodol buah, brem, ada semua, mulai dari yang murah meriah samapi yang mahal. Selain itu di sini juga dijual kaos, kerajinan tangan, keramik, lulur Bali, dengan harga yang terjangkau. Highly recommended!

Cape belanja, kami makan dan habis itu pulang ke penginapan untuk mengambil barang yang dititipkan ke empunya penginapan. Heheheheh.. Habis itu berpamitan deh kami dengan Mbok Tamy, Ge’ Tamy (kami gatau namanya siapa jadi manggilnya itu, berhubung nama penginapannya ‘Tamy’ hehehhe..), Made (anak Mbok Tamy yg masih kecil), Pak Wayan (Bapak rental motor) dan si anjing pompom peliharaan Mbok Tamy. Terima kasih atas kerjasama selama beberapa hari ini hehehehehe.. Kadang pas kami pulang ato sebelum pergi jalan2, Mbok Tamy menjadi sarana curhat mengenai Bali. Oyaaa.. nanti saya post mengenai penginapan ini, karena recommended juga. :)

Big Fam of Tamy Homestay

Terima kasih semuaaaaa nyaaa.. Kami pulang dulu ya, kapan-kapan pasti ke Bali lagi..

*habis pamitan kami naik taksi ke Bandara Internasional Ngurah Rai, ternyata di bandara tidak ada tempat menunggu yang layak, untung ada Indomaret 24 jam, jadi nongkrong di sana sampai agak pagi (jam 4) pintu masuk ruang tunggu baru dibuka. Bandara Ngurah Rai tidak terlalu bagus, malah teman saya bilang lebih mirip rumah sakit daripada bandara. Hehehehehe.. Tapi, sebentar lagi juga jadi keren koq, karena sedang ada renovasi besar-besaran. Sampai Jogja jam 6 pagi (juga, karena beda waktu 1 jam). Sampai kos, tepar bener deh badan ini.

Fin.

pesawat kami sudah menunggu

Sunday, January 20, 2013

Esc Day 5 ; Relaxing Ubud

19 November 2012
 Ubud, kota yang berada agak di tengah pulau Bali ini sudah selayaknya jadi tujuan wajib wisatawan. Kalo bosan mainan air di pantai atau jengah dengan crowdednya Kuta boleh lah sedikit melipir ke Ubud dulu. Melihat sawah yang hijau-hijau dengan udara adem khas pegunungan. Wehehehehe.. Jarak antara Kuta dengan Ubud lumayan jauh, naik kendaraan bermotor kira-kira 1,5 – 2 jam. Jalanan Ubud juga bagus, jalan beraspal yang mulus. Tips kalo berkendara mending isi bensin full, karena di Ubud dan sekitarnya jarang ada pom bensin. Hehehehe..

Tujuan kedatangan kami ke Ubud sebenarnya ada dua, yang pertama berhubungan dengan skripsi Tinna dan yang kedua tentu saja jalan-jalan. Hehehehehehe.. Skripsi Tinna tentang living values, jadi dy mengunjungi sebuah sekolah di Tjampuhan, Ubud, yang dalam kurikulumnya memuat living values. Sekolah itu bernama Tjampuhan College yang dikelola oleh Yayasan Karuna Bali. Di sini, Tinna juga sempat mewawancarai Bro Skolas yang merupakan pengajar, serunya karena dulu Bro Skolas sekolah di Yogyakarta, berasa bertemu dengan kakak angkatan sendiri, baru bertemu bisa langsung akrab. Hahahahahaha.. Btw, saya tertarik mendengar cerita tentang Tjampuhan College yang tiap tahunnya memberikan pendidikan gratis 1 tahun kursus kepada beberapa teman2 lulusan SMA yang tidak mampu, lingkupnya se-Bali. ^^

 entrance Tjampuhan College, ga kayak sekolahan

Nah, ketika kami punya waktu untuk putar-putar dan lihat-lihat Ubud, sempat bingung juga kan mau kemana gitu ya. So, kami memutuskan untuk ke Antonio Blanco Renaissance Museum. Saya sendiri sebenarnya bukan seorang penikmat lukisan, sumpah deh, saya kadang ga ngerti maksud lukisan itu apa, saya lebih bisa memahami seni rupa berupa ekshibisi atau patung. Kadang lukisan itu abstrak banget hehehehehe.. Tapi ya saya seneng-seneng saja mampir ke sini, secara kalo museum pasti kan unik dan banyak barang lucu, saya suka aja liatnya.

Tiket masuk Antonio Blanco Renaissance Museum 30.000 dan kita dapat welcome drink dan cemilan kacang Bali. Oya, kita juga dikasih bunga kamboja putih lho, hwhwhwhwhw. Welcome drink & snack disajikan di Ni Rontji Restaurant, nama resto ini diambil dari nama istri Blanco yang merupakan orang Bali asli. Setalah saya baca brosurnya, ternyata Antonio Blanco ini pelukis Eropa yang sangat mencintai Bali dan wanita Bali. Gaya lukisannya erotic painting gitu, jadi hmmm.. agak BB 17++ hehehehehe.. Kebanyakan inspirasinya adalah wanita Bali (istrinya.red). Lalu, dy juga pandai dalam membuat bingkai lukisan, unik-unik gitu. Irit banget ya, melukis sendiri, membingkai sendiri. Nah, sekarang lukisan dan semua peninggalannya dirawat oleh keluarganya. Fyi, museum ini pernah mendapatkan penghargaan museum terbaik Bali lho, dan standar museum ini sudah internasional juga. Lalu, buat para pelancong yang narsis, hanya bisa foto-foto di luar museum karena di dalam tidak diperbolehkan memotret. Oya, ternyata putra Blanco beternak burung kakaktua, pengunjung bisa berinteraksi  dengan burung2 kakaktuanya. Hwhwhwhhwhw..


Setelah Antonio Blanco Renaissance Museum, kami beranjak ke Art Zoo. Tempat ini sebuah galeri, kami hanya liat-liat saja si hehehehe.. Trus ngobrol-ngobrol sama Bli2nya yang kece punya. Habis itu, sempat ke Neka Museum tapi, tau tiket masuknya 50.000, ga jadi deh, cuma foto-foto di depannya doank, malunya, sampe diliatin satpam pula. Ahhhh.. Bodo ahhh.. Namanya juga tempat baru, boleh kan ya diabadikan. *ngeles banget. Habis itu kami ke Puri Saren Agung sebuah pura yang berada di pusat kota. Pura nya rameeeeeee bangeeeetttt. Rame sama turis si, yang kebanyakan dari Asia Timur.

Numpang foto doank :p

Ni Made Agustina Asokawati (nama Bali Nina hehhehehe..) 

Ubud sangat cocok buat temen-temen yang suka seni, suka museum dan suka tempat yang rame tapi tidak sangat crowded seperti Kuta, Legian atau Seminyak. Dengan suasana yang tenang, berasanya waktu berjalan agak lambat saja. Ditambah udaranya yang gak panas, homy banget deh. Btw, kami juga sempat tanya-tanya penginapan di sini, ternyata harganya tidak terlalu mahal juga, masih ada penginapan yang 200 ribu/malam. Aaaaahhh.. Kapan2 harus datang lagi ke Ubud dan menghabiskan waktu di sini. Tentram.

… to be continued

Friday, January 18, 2013

Esc Day 4 ; Piknik Keluarga Baswedan

18 November 2012
Kepanasan. Hadoh.. Beginilah keadaan udara kamar di penginapan baru kami. Padahal kipas angin sudah yang paling kencang putarannya, tapi tetap aja panas. Sejak hari sebelumnya, kami sudah resmi pindah ke penginapan baru yang lebih murah meriah (150.000/tigaorang) dan kamar mandinya tidak seram (di penginapan sebelumnya, kamar mandinya agak horror). Penginapan kami namanya Tamy Homestay. Letaknya masih di Gang Poppies II namun lebih masuk ke dalam. Agak jauh dari ujung gang yang tembusnya Pantai Kuta tapi itu bukan masalah besar si. Nah, ga betahnya kami tidur dengan udara panas kayak gini, maka kami mau upgrade ke kamar AC saja (namun masih di penginapan yang sama). Nambah 50ribu. Gpp deh daripada tidur tidak tenang. Hehehehe..

Hari Minggu ini kami sudah janjian pergi dengan keluarga petualang, Bapak-Ibu-Rafi-Devo. Sebenarnya hal ini di luar rencana kami. Kemarin, pas kami mau pindahan penginapan dan berpamitan dengan mereka, tiba-tiba Ibu menanyakan nama kami bertiga (jadi selama ini, kami tidak memperkenalkan nama) dan dy bilang: “Besok kalian mau kemana? Kami mau ke Tanah Lot. Kalian ikut aja. Bapak sudah pesan mobil rental.” Dapet ajakan itu, Tinna-Nina-saya senang sekali dan mengiyakan. Alhasil hari Minggu ni, jadilah kami pergi dengan Rafi sekeluarga.

Kami b7 berangkat dari penginapan jam 9 pagi telat-telat. Kami ni sudah kayak se-keluarga piknik, di jalan kami heboh-heboh ga jelas, apalagi Rafi-Devo yang suka berulah dan bikin gemas. Tujuan pertama kami adalah Pura Tanah Lot, destinasi wisata favorit di Bali sejak dahulu kala. Hahahaha.. Kadang orang merasa belum ke Bali kalo belum mengunjungi Pura besar yang satu ini. Di sini saya sedikit main-main air. Nina, ga berani main air karena dy pakai celana panjang, Tips bawa baju dan celana ganti pas di Tanah Lot. Hwaaaaa.. Pas kami di sini, lagi banyak juga turis dari China, boleh ni saya ikutan menyelusup di antara mereka wkwkkwkwkw.. Lalu, mereka heboh sekali lho pas bermain dengan ombak. Si Oom2 dan Tante2 Chinese ini entah kenapa terlihat seneng banget, kayak belum pernah main sama ombak. Wkwkwkkwkwkw.. Trs, buat yang suka kulineran, di sini ada yang jual rujak khas Bali, lumayan enak lho, tidak jauh beda komposisi buahnya dengan rujak di Jawa, tapi bumbunya agak berbeda.

 Bapak-Ibu-Rafi-Devo :D

Lokasi piknik keluarga kedua kami adalah Alas Kedaton. Di sini kami lihat monyet, tadinya kami mau ke Sangeh, tapi kata Ibu di Sangeh monyetnya nakal2, berhubung kami bawa anak kecil, kan serem juga kalo mereka diapa2in sama monyet. Nah, Devo rupanya ga terlalu suka monyet, dy jerit2 mulu pas monyet deketin dy, padahal tu monyet ga ngapa2in. Wkwkwkwkwkkw..  Rafi sendiri, dy penasaran sama monyet2nya, pinjem tongkat Mbok Guide, Rafi sudah cocok sekali sebagai sang pawang. Hehehehe..

gerbang masuk Alas Kedaton

Tips rombongan ke sini, untuk tiket bisa fleksibel, karena pendapatan tiket masuk langsung masuk ke kas pengelola tempat, jadi tidak ada laporan keuangan merinci ke Pemda. Misal begini kita 7 orang ni, bayar saja tiketnya untuk 3 orang, mereka tidak akan protes koq. Begitu juga pas kami di Tanah Lot. Jadi lebih murah kan? Hal ini berlaku ketika kita masuk ke tempat wisata yang dikelola pemerintah (bukan swasta). Oya, ingat lagi, di Alas Kedaton, setelah selesai muter-muter taman monyet nya kita akan diantar Mbok Guide ke tokonya, dan dy akan menawarkan barang dagangannya. Saran dari kami belilah barangnya, karena kalo ga beli kita kasih uang tip ke dy sekitar 35.000, daripada kasih mentah mending sekalian beli barang gitu.

Yap. Saya kira jalan-jalan ini akan berakhir setelah kunjungan ke Alas Kedaton, tapi ternyata belum selesai. Destinasi berikutnya adalah Pasar Sukawati, lokasi wisata favorit Ibu2 hahahhaha.. saya sendiri membeli beberapa souvenir di sini, tapi tidak banyak, makin lama di sini rasanya jadi kalap belanja. Hahahahahh.. Barangnya habis lucu-lucu dan yang pasti tidak dijual di Jogja. Tips, untuk belanja di sini lebih baik tawar sampai dengan 1/4 harga, misal harga nya 50.000, tawarlah jadi 15.000, kalo tidak bisa naikan sedikit demi sedikit harganya. Kalo beli dalam jumlah banyak, jangan takut buat minta potongan harga tambahan.

lilin beraroma bunga, bentuknya lucu

Tujuan terakhir kami adalah Pantai Sanur. Yang spesial adalah karena kami lihatnya dari Inna Beach Hotel. Ha??? Gimana bisa? Bisa ternyata. Saya juga kaget ketika Bapak tiba-tiba masuk ke hotel. Di pos satpam, terjadilah perbincangan:
Satpam : Selamat sore Pak. Ada acara apa di dalam?
Bapak : Yaa.. Ada acara..
Satpam : Boleh tau acara apa Pak?
Bapak : Yaaa.. Saya menginap di sini..
Satapam : Oke Pak, terima kasih.
Daaannn.. Kami lolos masuk. Tralaaaaaaa.. Nikmatnya beristirahat di Pantai Sanur VIP di Hotel Inna Beach. Hwaaaaaa… Bapak memang top-cer deh..

Di Pantai Sanur sore ini, banyak penduduk lokal yang bawa anjingnya main. Lalu, sepertinya ada perkumpulan anjing pitbull gitu, jadi anjing pitbull dimana-mana. Hahahahahaaaa.. Pasir di Sanur besar-besar butirannya, berasa pijat refleksi ketika napak. Pantai Sanur juga tidak dalam, kita bisa lho jalan sampai ke tengah-tengah, karena tinggi air hanya se-betis orang dewasa. Rafi-Tinna-saya mencoba jalan ke sana, tapi jauh juga ya ternyata hehhehehehe.. Habis main2 air di Sanur, kami makan di warung soto di Jalan Tuban, sotonya enak, murah lagi. Dan saatnya berpamitan dengan keluarga petualang. Agak sedih di sini. Oya, fyi, ternyata biaya piknik kami sehari ini ditanggung Bapak-Ibu, ketika kami mau ganti, mereka menolak. Daaann.. Yang buat terharunya lagi ketika berpamitan, Bapak bilang: “Maaf ya kalo rencana hari ini kurang asik, kapan-kapan liburan bareng lagi. Kita ada rencana pengen ke Lombok taun depan, ayok ikut aja ke Lombok bareng Rafi-Devo.” Trs Ibu bilang: “kontak terus ya, kabar-kabari kalo sudah kerja, kalo ke Jakarta SMS, mungkin bisa ketemu. Nanti kalo kami ke Jogja, dikabari deh. Makasih banget sudah bareng-bareng dari Banyuwangi”. Yaaa.. Ampuunnn.. Bapak Ibu.. Harusnya kami yang minta maaf ngerepotin & makasih banyak buat hari ini, luar biasa.

Sedikit penampakan pantai Sanur dari Inna Beach Hotel

Dan malam hari ini kami tidur dengan nyenyak karena kamar sudah berAC heheheheh.. Sebelum tidur saya sempat flashback perkenalan Tinna-Nina-saya dengan Bapak-Ibu-Rafi-Devo. Rasanya ajaib saja menemukan teman perjalanan. Dan tidak terduga respon mereka sangat baik dan memberi banyak pelajaran serta inspirasi buat kami. Actually, sampai saya mengetik posting ini, saya tidak tahu siapa nama Ibu dan Bapak. Kalo latar belakang mereka saya bisa sedikit meraba dari cerita mereka, yang pasti mereka bukan orang biasa.

Ternyata Bapak bekerja di sekretariat MPR. Kerjaannya keliling Indonesia menghadiri pelantikan kepala daerah dan mengurusi acara-acara yang menyangkut kepala daerah, terakhir dy tugas di Atambua, perbatasan Indonesia-TimorTimur. Kelihatannya si Bapak kerjaannya banyak dan sibuk, pas di mobil sebelum berangkat Bapak masih saja ditelepon-telepon oleh staf nya yang menanyakan tentang acara rapat bupati se-Indonesia. Karena kesal sedang liburan diganggu, dan dy merasa sudah mendelegasikan tugas ke staf, Bapak ganti nomor, gyahahahahahha.. Kalo Ibu seorang pegawai swasta. Rumah mereka di Jakarta, di daerah Bintaro. Cerita mengenai Bapak yang pernah sekolah di luar negeri dan beberapa kali pindah negara ketika masih remaja juga membuat saya semakin yakin kalo mereka ni orang penting deh. Hmmm.. Muka si Bapak sekilas mirip Anies Baswedan, tokoh pendidikan idola saya, wkwkwkwk.. Tapi bukan si.. Cuma mirip saja, ato mungkin sodaranya kali ya. Hahhahaha.. Entah lha. Yang saya kagumi, kalo lihat tampilan luar, no one guess deh kalo si Bapak ato Ibu ni ternyata ‘orang penting dan berada’. Mereka rendah hati dan tidak sombong.

Suatu hari, saya pengen juga nih punya keluarga yang kompak dan bisa diajak pergi susah-susahan plus seru-seruan bareng kayak keluarga mereka. Saya juga pengen  bisa menolong mahasiswa backpacking yang berkantong tipis persis seperti yang saya alami. Thanks Keluarga Baswedan.

… to be continued

Wednesday, January 16, 2013

Esc Day 3 ; The Bali Bikers

17 November 2012
“Naik motor di Bali? Jalannya mudah ya Pak Wayan?”
Tinna nanya ke Pak Wayan, pria paruh baya orang Bali aseli yang pekerjaannya menyewakan motor bagi para pelancong. Setelah nego-nego harga sewa motor untuk empat hari ke depan, kami dapat harga yang katanya ‘spesial’ – 40.000/motor/hari. Kata Pak Wayan sih, jarang-jarang dy kasih harga segitu. Karena kita pinjamnya lama & dua motor sekaligus saja, jadinya dikasih harga segitu. Menurut beliau, kalau mau jalan-jalan di Bali paling enak pakai motor, berhubung sekarang jalan-jalan di Bali suka macet apalagi daerah sekitaran Kuta, Legian, Seminyak, Denpasar, jadi kan bisa nyelip-nyelip. Kalau pake mobil enaknya kalau mau keluar yang jauh kayak ke Singaraja ato Bedugul. Bisa juga pake mini-bus, Perama Tours, hanya harganya agak mahal. Jalannya juga mudah, banyak papan petunjuk, jadi tidak mungkin nyasar. Dan apa yang dikatakan Pak Wayan soal jalan, memang benar.

Hari Ketiga di Bali ini kami mau menjelajah daerah Jimbaran. Berbekal peta dari internet dan peta gratisan (dapet ambil di tempat penginapan). Kami siap deh buat menuju Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park dan Pura Uluwatu. Jimbaran itu letaknya di peta Bali yang bentuknya kayak ayam itu, di sebelah selatan alias tepat di kaki ayamnya. Perjalanan ke Jimbaran pun lancar, meski pake acara tanya-tanya orang juga, dan tips ya teman-teman, ketika tanya jalan ke orang Bali tolong sejelas-jelasnya dan tegaskan jawaban mereka dua sampai tiga kali. Pengalaman kami, kadang menyesatkan juga petunjuknya, pertigaan dibilang perempatan, kiri dibilang kanan, dll.  Hawhawhawhaw..

Setelah melewati jalan besar bypass dan jalan raya yang kalo diliat-liat mirip jalan ke arah Kaliurang di Yogyakarta, lalu pake acara digodain tentara muda di jalan, kami sampai di GWK yang luasnya bujubuneng deh. Enaknya ke sini dari pagi-sore. Biar bisa menikmati banyak pertunjukkan budayanya di amphitheatre dan puas jalan-jalannya antar situs. Masuk GWK bayar 35.000 (weekend bo!) mahal juga ya. Di GWK, kita bisa liat patung segede-gede gaban. Patung wisnu, patung Garuda, lalu pemandangan barisan bukit kapur (yang ternyata itu dibuat sedemikian rupa, saya ketipu kirain dari sononya) keren & asik buat photo-spot. Namun agak malesnya, ketika di patung, kita mesti rebutan foto sama orang lain, jadi emang ni patung ga ada sepinya deh. Hehehehehe.. Oya, pakai sunblock & bawa topi, matahari terik lho di sini.

 Nina & Tinna di GWK, heyho!

 Sebaca saya di museumnya, GWK itu katanya mau dibuat setinggi 75 m, mau ngalahin Patung Liberty. Dan digadang-gadang jadi ikon pariwisata Pulau Bali. Dan.. Katanya, bisa dilihat dari angkasa lho ni patung saking gedenya. Tapi.. Sampe kemarin saya mengunjunginya pun (Nov2012.red) belum jadi patungnya, masih bagian per bagian. Yaaa.. Semoga cepat kelar ya ni proyeknya ehehehehehe.. Blm lagi, bukit kapurnya pun mau diukir relief tentang cerita Mahabarata yang terkenal itu. Weleh.. Weleh kita tunggu saja ya kabar berita jadinya nanti.

Bukit Kapur GWK, berasa time traveler

Karena hari ini Tinna-Nina-saya agak kejar2an dengan waktu untuk ke Gereja sore di daerah Kuta, maka di GWK kami ga lama, langsung capcus ke Pura Uluwatu. Jalannya untungnya mudah, jadi sekitar 15 menit kami udah nyampe. Nah, di jalan mau ke Pura Uluwatu ini banyak resort2 mahal yang sering dijadikan private party pernikahan artis2 baik Indonesia maupun manca negara. Di Pura Uluwatu, kita bayar 15.000. Dan kita wajib mengenakan kain Bali, bagi yang bercelana pendek pakai kain yang panjang (ungu), kalo yang udah pake celana panjang cukup pakai yang selendang saja (kuning). Sebelum masuk kita disambut oleh monyet-monyet (agak liar si) di tamannya yang disebut Alas Kekeran. Hati2 jangan pakai anything yang bling-bling, soalnya bisa diambil sama monyetnya. Pemandangan dari Pura Uluwatu ini bagus, karena menghadap langsung ke Samudera Hindia. Lautnyaaaaa.. Seakan-akan memanggil-manggil deh, jadi pengen nyelup. Hwhwhwhwhw..

Segarnya lihat laut di Pura Uluwatu

Nah, teduh menikmati Pura, kami capcus langsung ke Jalan Kartika Plaza di Kuta. Kami berencana untuk ikut misa Sabtu sore jam 5 di Gereja St. Fransiskus Xaverius Kuta (disingkat FX Kuta). Perjalanan Jimbaran-Kuta sekitar 30 menit. Kami sempat agak nyasar juga, maklum bekal kami cuma peta bo. Belok sana belok sini, feeling2an jg si cari jalannya hahahahah.. Keliatan jg tu atap dari Gereja FX Kuta.

Gereja FX Kuta tampak luar, megah ya

Gereja FX Kuta mengingatkan saya dengan Gereja Santo Yosef Cirebon. Mrip kah? Gak jg si, hanya karena sama-sama ber-AC Gerejanya. Hehehehehe.. Bangunan FX Kuta kelihatan sekali kalo Gereja ini habis renovasi, kelihatan barunya. Di depan Gereja, ada dua patung besar di kiri dan kanan, yaitu patung Bunda Maria dan St. Petrus, di atas tengah ada patung Yesus dan malaikat yang kayak lagi terbang sambil memberkati kami umatnya yang mau masuk ke ‘rumahnya’. Bangunan luar berwarna putih bersih, interiornya juga bertema putih dan cokelat. Furniturnya sebagian besar memakai kayu, begitu pula dengan mediator jalan salibnya, berupa kayu yang diukir gambar peristiwa penyaliban Yesus. Daaannn.. Gerejanya harum teman-teman.

Aaaaa.. Bagus ni kalo buat pemberkatan pernikahan di sini

Kebetulan koor misa ini merupakan koor tamu, mereka adalah Ibu2 dan Bapak2 yang berasal dari salah satu paroki Jakarta. Biar usia mereka sudah tidak muda, tapiii suaranya menggelegar sekali lho. Selesai misa kami standing applause deh. Lagu-lagu yang dipilih catchy, sebagian besar berbahasa Inggris (tepat sasaran, karena banyak bule yang misa di sini) serta penampilan mereka enak dilihat. Pakai baju batik kembaran gitu. Hwaaaaaaa.. Keren! Namun, sayangnya, homili yang dibawakan Romo kurang nanclep di hati karena Romo nya homili berdasarkan teks. Oya, yang mengagumkan lagi, lektornya, ajib ganteng banget *gagal fokus saya* ahhahahahha..

Misa pun selesai dan kami mau cari makan, sehabis itu langsung pulang ke penginapan. Saya suka sekali dengan Jalan Kartika Plaza karena jalannya ramai, ramainya karena banyak yang jualan makanan. Biar kata, untuk kali ini saya tidak bisa beli itu makanan (mahal2..) tapi liatnya saja, saya sudah senang koq. Hahahahaha.. Di sini juga ada Discovery Mall yang bikin penasaran, tapi sayangnya kami ga masuk ke dalamnya. Lalu, karena kami bingung mau makan apa, berhentilah kami di salah satu pusat keramaian di jalan yang udah dekat dengan pantai Kuta. Nah di sinilah saya makan telur penyet termahal sepanjang hidup saya, 10.000/porsi. Ingat ini hanya telur penyet lho! Lalu, di sini juga saya sudah mulai-mulai merasa ada keganjilan pelayanan antara turis domestik dan turis asing. Habis koq waiternya kayaknya gimana gitu ya sama kami, tapi bisa sangat loyal dengan turis asing.

Malam hari ketiga akhirnya habis, kami kembali ke penginapan (pake acara nyasar), lalu Nina dengan polosnya ga inget gang penginapan kami, bablas deh. Huahahhahaha.. Lalu, kami mau ga mau muter lagi kan karena Jalan di Kuta itu one way. Yang ngeselin, muternya, kami harus lewat Jalan Legian yang, ehem.. Ramenya setengah mampus, dengan kanan-kiri diskotik, jadi kebayang kan gimana satu club dengan club yang lainnya sengaja memperkeras musiknya untuk mendapatkan pengunjung. Menarik si, warna-warni, lampu dimana-mana, full musik, banyak orang (banyak bule ganteng seliweran). So, Puji, you wanna join us? Gyahahhahahaaaaaa.. Sekali lagi, selamat datang deh di kehidupan malam Bali. *buru-buru mempercepat laju motor*

… to be continued

Monday, January 14, 2013

Esc Day 2 part. 2 ; Kuta Dulu Tak Begini

16 November 2012
Tercengang akan kenyataan bahwa Pak Arya yang disebut-sebut pada pertengkaran antara si Bapak dan  Supir angkot preman di Terminal Mengwi bikin hati saya melengos. Dalam hati, saya bilang, bused, Bapak ni doyan bercanda ya. Sepanjang perjalanan kami ngobrol banyak dengan Bapak dan Ibu, Rafi duduk di bangku paling depan bercengkrama dengan Pak Supir angkot baik hati. Devo sendiri, masih rewel karena kecapean, beberapa kali manja2 minta diperhatiin orangtuanya. Hehehehehe.. Gemas juga saya liat si Devo.

Bapak-Ibu ternyata orangtua yang doyan jalan-jalan ‘normal’ dan backpacking. Rafi dan Devo sudah sering diajak pergi jauh2 sejak kecil, sejak masih bayi. Mereka sudah sering kemana-mana, puter-puter Indonesia, dan mereka sangat excited dan menyarankan bahwa destinasi wisata yang harus dikunjungi selanjutnya adalah Bromo dan Bunaken. Saya pernah ke Bromo, dan memang wonderful banget deh. Pengen suatu hari saya ajak Ma2-Pa2 ke Bromo. Melihat Bapak dan Ibu tipe orangtua yang kompak, dan entah kenapa saya seperti melihat keluarga ideal. Secara tidak sengaja di pembicaraan kami terselip pesan-pesan parenting. Senang bisa mengenal mereka.

Akhirnya setelah satu jam di angkot dengan pemandangan jalan-jalan besar Denpasar yang tidak beda jauh dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Sampai juga kami di Kuta, Tinna-Nina-saya rencana menginap di gang fenomenal depan pantai Kuta bernama Gang Poppies. Keluarga petualang ikut dengan kami nginap juga di Gang Poppies. Lalu, kami cari hotel di Poppies II, dan kami b7 memutuskan menginap di Hotel Intan yang jaraknya tidak jauh dari pintu terluar gang yang langsung tembus ke Jalan Raya Kuta dan yang pasti pantainya. Sudah tidak punya energi untuk cari hotel lain dan hotel yang ini juga sudah cukup murah si (150.000 untuk dua orang). Selepas istirahat di kamar masing2 dan mandi2 (akhirnya setelah sehari penuh, mandi juga..) keluarga petualang ke Kuta main-main sendiri, Tinna-Nina-saya juga main-main sendiri. Kami bertiga lapar dan agenda nya kami mau cari makan.

Sebelum cari makan, sebagai cewe dewasa awal yang doyan liat barang bagus, kami jalan-jalan dulu ke mall sebelah Gang Poppies II bernama Beach Walk. Ini mall nya termasuk masih baru, belum genap setahun. Secara arsitektur, saya kasih bintang lima deh. Keren sekali. Kalo isinya jangan ditanya, kalo yang doyan belanja barang branded ori, no KW, import, datanglah kemari. Surga sekali. Berhubung kami wisatawan domestik kere, hanya bisa liat-liat sambil berharap “One day, I’ll go here again and able to buy this capitalist stuffs” hahahhahaha.. Habis itu kami duduk2 bentar seat-area di Beach Walk dan ngobrol2 soal pengeluaran kita. Daaaannn.. tanpa disadari, sodara-sodara, keuangan kita sepertinya kurang matang, jadi memang untuk beberapa hari ke depan kita harus hemat bener-bener hemat. Lalu, di sini pula lah kita sadar, beberapa rencana perjalanan yang kami sudah print di kos Nina ketinggalan dan tidak terbawa ke Bali, wth! Aihhhh.. Sudahlah cari makan yuuuukkk..


 Beach Walk, mall hijau, adem dilihat

Perihal cari makan, yang seharusnya sudah sangat kami kuasai karena kami anak kos ternyata tidak berlaku apabila makan di daerah yang berbeda. Seliweran, jalan kaki sambil liat-liat pantai Kuta dan jalan-jalan sekitar Kuta. Yang terlihat sejauh mata memandang adalah satu – bar, dua – cafĂ©, tiga – toko baju, aksesoris, dll, empat – minimarket, lima – restoran mahal. Lalu, kemanakah warteg atau warung Islami/Jawa yang menyediakan makanan murah ala anak kos??? Jawabannya, ada tapi kita belum nemu aja. Hehehehehe.. Sampai.. Jalan agak jauhan sampailah kita di warung nasi Bu Ayu. Akhirnyaaaa.. Di sini saya makan nasi campur Bali yang asli dibuat di tanah airnya hehehehehe..

Suka-suka nasi campur Bali

Selesai makan, seingat kami, rencana nya itu menikmati Pantai Kuta yang sangat terkenal itu. Jadilah kami ke Pantai, pingin leha-leha berjemur, liat bule ganteng, sukur-sukur bisa ngecengin. Dibayangkan tidur di atas pasir, mendengar desiran ombak, kalo nyewa Mbok2 Pijet kayaknya enak banget ni. Kenyataannya, sesampainya di Kuta, kita mati kutu. Boro-boro mau tidur di atas pasir, yang ada kepanasan. Mendengar desiran ombak? Jangan harap deh, rame nya Pantai Kuta hampir ngalahin Malioboro. Nyewa Mbok2 Pijet? Harganya selangit. Akhirnya ya inilah kita bertiga duduk di pinggir pantai ngegosipin Bli-Bli hitam manis sang beach boy Bali yang ngegodain bule-bule cantik berbikini. Gyaaaaaaaaaaaaa.. Agak ga penting si memang. Habis itu, kami susur jalan kaki dari Pantai Kuta ke Pantai Legian yang lumayan jaraknya buat olahraga.

Pantai Kuta, waktu SD saya ke sini, seingat saya kayaknya tidak begini. Entah kenapa ketika sudah dewasa dan kembali kemari koq rasanya tidak sebagus dulu ya. Entah, karena memang keindahannya yang berkurang, atau saya nya yang tidak terlalu tertarik dengan wisata pantai. Heheheheh.. Menurut saya si terlalu ramai, di sepanjang pesisir pantai ada yang jualan, tenda-tenda bercap merk bir tertentu pun sebenarnya agak ganggu pemandangan. Honestly, saya tidak terlalu sreg di Pantai Kuta. Di Pantai Legian pun demikian, malah lebih rame. Hwhwhwhwhhw.. Yang membuat saya amaze yaitu sunset di pantai yang sudah lama tidak saya lihat. Keren yaaa.. Sang matahari tenggelam perlahan-lahan dengan anggunnya. Kami b3 jadi gila foto deh pas momen sunset ini. Hahahhahaha..

Sunset ooooo ga nahann..

Sore menjelang malam, jam 6 sorean, kami jalan dari Legian ke Kuta. Di sepanjang perjalanan, kami menemui beach-lounge yang dipenuhi bule-bule. Mereka lagi fine-dining gitu kayaknya. Mostly tu pengunjungnya bule, turis domestik??? Ga keliatan batang hidungnya. Saya menikmati bentuk dan konsep yang ditawarkan dari masing-masing beach-lounge sambil tebak-tebak buah manggis mmmm.. Kira-kira kalo masuk sini habis duit berapa ya? Hehehhhehehehe.. Unik lagi, ada salah satu hotel yang kolam renangnya ada di depan, dekat jalan raya, dihias juga dengan sound-system canggih dan panggung kecil namun gemerlap. Setelah saya mikir, astaga ni kolam berenang untuk pool-party toh..

Dunia malam di Bali memang sangat mencengangkan, terutama bagi saya, yang ehem.. Naek motor di jalan depan diskotik aja saya takut, apalagi masuk ke dalamnya. Hahahaahaha.. Jadi, dunia gemerlap alias dugem2 gitu, bukan tongkrongan atau tempat main saya. Pas datang ke Bali ini yaaaa.. Setidaknya saya agak membuka mata dengan dunia luar. Oh ternyata gini toh, oh ternyata gitu ya. Faktanya sungguh di depan mata. Pulang ke hotel tempat saya menginap pun jadi agak was-was sendiri. Tapi, saya yakin si, ketika kita ga lempar kail, orang lain pun segan dan ga ‘mancing’ yang tidak diharapkan. Kami pulang dari pantai itu jam setengah 10 malam (sebelum pulang nongkrong dulu di Beach Walk ada pentas budaya gitu dari ISI Denpasar & UI). Ketika kami pulang, orang-orang lain itu baru keluar hotel buat menikmati dunia malam. Terkesan cupu si kita. Tapi ya ini soal pilihan gaya hidup, jadi ya, tidak ada mana yang benar dan salah juga.

Capek juga hari ini, kaki rasanya mau rontok, aihhhh.. Mandi lagi dan tidur. Besok mari kita berpetualang kembali di Pulau Dewata ini. Hehehehehe..

… to be continued

Sunday, January 13, 2013

Esc Day 2 part. 1 ; Bertemu Keluarga Petualang

15 November 2012, malam menjelang subuh
Kereta Api Sri Tanjung, agak sepian setelah masuk perhentian terakhir. Jadi, dengan jelas, saya tau siapa saja orang yang memang berencana mau menyebrang ke Bali. Salah satunya, ada satu keluarga yang se-gerbong dengan kami. Bapak-Ibu dan dua orang anaknya (cowo semua) yang masih kecil-kecil. Nah, ternyataaaa.. Anak kecil gendut yang sering bolak-balik lavatory dan menarik perhatian saya ketika perjalanan kereta dari Yogya ke Banyuwangi adalah anak dari keluarga ini. Berhubung mereka heboh sekali, Bapaknya cari info ke orang-orang, Ibunya sibuk diemin anak bungsunya yang nangis jejeritan, lalu si anak sulung gemuk itu bawel berpendapat tentang stasiun Banyuwangi, jadilah mereka sangat mencolok. Nina, Tinna, dan saya, langsung saja tau kalo mereka kebingungan ke untuk menyebrang ke Bali dan kondisinya.. Sama dengan kami.

Lalu, kami merapat dan mengajak ngobrol mereka. Tinna, sebagai public speaker kami bertiga, pedekate dan kami mendapat sinyal baik dari keluarga ini. OK! Mari kita menjadi satu tim untuk sampai dengan selamat di Bali. Lalu, bermula dari stasiun Banyuwangi inilah perjalanan kami bukan hanya bertiga tetapi menjadi bertujuh. Saya juga jadi kenalan dengan anak-anak kecil Bapak-Ibu, si sulung bernama Rafi (10 tahun) dan si bungsu yang bernama Devo (5 tahun). Mereka ini tingkahnya lucu. Sekilas saya menilai si Rafi ini orangnya cuek, bossy dan santai beud sedangkan Devo pencemas dan manja. Bapak-Ibu nya cukup ramah, mengajak ngobrol kami bertiga sepanjang perjalanan jalan kaki dari stasiun ke pelabuhan (yang hanya berjalan 200m, bisa jalan kaki deh pokoknya, jangan tergiur naik beca ato ojek).

Pelabuhan Ketapang akhirnyaaaa..

Sampai di Pelabuhan Ketapang, kami tidak menemukan kesulitan untuk masuk ke dalam dan membeli tiket kapal feri sebesar 6.000 rupiah untuk orang dewasa. Murah ya. Can’t wait ni saya naik kapal feri, maklum belum pernah, hehehhehehe.. Pelabuhan pada saat malam hari cantik, karena lampu remang-remang 5 watt dengan latar belakang kapal-kapal serta alunan desiran ombak *apaan si ni berasa lagu. Tapi, anginnya ga tahan deh, bikin masuk angin. Jalan di pelabuhan bersama dengan Rafi dan Devo pun menjadi penghiburan tersendiri. Anak-anak kan tidak jaim, jadi mereka loncat-loncat dan lari-lari saking senangnya lihat kapal dan pelabuhan yang sesungguhnya. Andai kata, saya se-umur mereka, ikutan deh saya putar-putar ala India di tengah pelabuhan yang sepi sunyi senyap ini (ialah, subuh gitu lho!).

 Ada mesin tapping ala MRT gitu deeeee..

Sampai di kapal feri, saya duduk kecapean, Nina-Tinna foto2 di dek kapal. Saya sempat foto2 juga si, tapi bentar doank. Ga kuat juga ni angin selat, gede jugeehhh.. Akhirnya, saya di dalam duduk dan ngobrol dengan si Ibu. Dari obrolan ini, saya tau kalo mereka se-keluarga ini dari Jakarta tidak dapat tiket pesawat jadi ke Bali naik kereta tapi salah strategi. Hwhwhhwhwhw.. Ibu cerita liburan ini dibuat jauh karena jarang-jarang Ibu & Bapak liburan bareng anak, kalau hari biasa yaaaa sibuk bekerja. So, liburan ini semacam kompensasi gitu. Terharu juga saya dengar cerita Ibu nya, jadi ingat orangtua di rumah.

16 November 2012, subuh sampai pagi
Setengah jam berlalu, sampai juga di Gilimanuk. Waaaaa.. Bali-Bali!!! Pengen hore-hore, tapi koq ga terlalu berasa ya ‘Bali’-nya. Trus, pas naik feri tadi koq kurang asik ya, saya sih merasa, naik feri kayak cuma duduk diem doank ni, ga kerasa jalannya, lagipula ternyata memang Banyuwangi & Pulau Bali itu nyebrangnya seiprit banget, saya ngebayangin, kayaknya ni kalo berenang juga bisa deh. Zona waktu pun berubah, lebih cepat 1 jam. Jadi sudah jam setengah 1 subuh tanggal 16 November. Turun dari feri kami baru cari bus, kenapa tidak naik bus ketika tadi di Banyuwangi? Karena desus punya desus, kadang tarifnya jadi mahal dan kita suka dioper-oper gitu deh. Jadi mendingan naik feri sendiri, bus sendiri gitu.

Berhubung kami tu rombongan bertujuh (borongan) banyak bus yang nawarin kami buat naik. Nego punya nego, akhirnya kami dapat bus dengan tariff 25rb/orang. Bapak hebat juga ni nego nya. Senang sih dapat murah, tapi tak disangka, ternyataaaa.. Ada harga ada barang, you know, tempat duduk kami di bus sangat amat mengherankan kondisinya. Ibu, Bapak dan Devo duduk di depan, lalu Nina, Tinna, Rafi dan saya kedapetan duduk di paling belakang. Sebenarnya hanya untuk 3 orang, tapi dipaksa untuk 4 orang. Untung, saya dan Tinna badannya kecil jadi bisa nyempil. Tepat di samping Tinna duduklah seorang Bapak2 yang badannya agak sumo. Makin kejempet lha kita. Mana di depan saya dan Tinna persis tempat barang-barang ditumpuk-puk ga jelas. Di atas kepala kami juga ada tas-tas. Bused deh..

Devo di sini lagi-lagi rewel, lalu tiap rewel, Ibu pasti bilang “Devo ga boleh gitu ah, kan sudah janji ke Mami-Papi liburan ini petualangan”, “kalo petualangan harus panas, sempit, capek, jadi ga boleh rewel”. Dan di sini lah, saya tertegun, jarang-jarang lho ada orangtua yang ngajarin ‘hidup susah’ ke anak kayak gini. Hwhwhwhhwhw.. Bused.. Anaknya yang masih kecil-kecil diajari supaya menjadi tangguh. Daaannn.. Perjalanan kami berlanjut deh menaiki bus acakadut dari Gilimanuk ke Denpasar. Horeeeeeeeeee..

Perjalanan tidak seindah perkiraan. Lagi-lagi realitas berbeda jauh dengan ekspetasi. Niat hati ingin tidur cantik bak Cinderella, di dalam bus, kami harus bergulat dengan tas yang berjatuhan, 5 kali deh kepala saya ketimpa tas, kaki kesemutan, AC bus yang dinginnya kelewatan, sampai pada acara bus mandet di jalan, gara-gara di depan ada truk yang ngeguling (kontur jalannya memang bergelombang, naik-turun bukit gitu). Alhasil ada kayaknya kami nunggu sekitar 1 jam. Orang paling santai se-dunia di antara kami memang hanya Rafi, dy duduk di pojokkan dan kerjaannya hanya tidur, ganyem2 mulut, ngomel2 bentar, tidur lagi deh. Astagaaa ni anak.. Enak banget. Lalu, dy jg duduk di sebelah Nina, jadilah mantap empuknya tu si Nina jadi senderan tidur, Nina jg nyender2 ke Rafi. Mereka berdua cocok sudah deh jadi Ibu-anak. Sementara saya dan Tinna masih banyak gangguan dimana-mana hwhwhhwhwhw..

Nina-Rafi duet maut, surganyaaaa..

Akhirnya sang mentari pun bersinar. Tandanya sudah pagi. Masih dengan kepala agak lieur2 gara2 ketindihan tas berkali-kali hahahahha.. Saya bangun dan tidak berapa lama kemudian sang kenek bus ribut2. Bus pun berhenti. Tinna, Nina, saya, Rafi – bingung. Udah sampe ya di terminal Denpasar. Lalu, dari kejauhan si Bapak, Ibu dan Devo tampak gelisah. Turunlah kami di Terminal Mengwi, bukan Terminal Ubung Denpasar yang dijanjikan di awal. Kata keneknya, dy tidak bisa mengantarkan sampai Terminal Ubung Denpasar, karena kalo diantar nanti angkot di terminal ini tidak laku. Oh God! Jadi2, terminal ini lokasi nya dimana? Masih di daerah Sangeh dekat Ubud sodara-sodara. Masih 1 jam dari Denpasar. Tak punya energi untuk ngomel2, akhirnya kami turun deh dari bus. Devo rewel lagi, karena tadi di bus ga bisa tidur dan capek.

Mau tidak mau kami mengeluarkan biaya transport lagi dari sini. Pilihannya tiga, mau naik angkot atau naik mobil sewaan atau naik taksi. Di terminal ini berjejer deh, tinggal pilih aja. Karena kami konsepnya backpacking, Bapak bilang “kalau mau petualangan, harus petualangan sampai tempat tujuan, jangan setengah-setengah” “Kalo mau enak, udah dari tadi kita ambil enak, pas di Gilimanuk kita sewa mobil aja”. Alhasil kami pun memutuskan ke Kuta menggunakan angkot. Tapi di tengah nego harga dengan supir angkot (yang preman abisss gayanya) ada masalah, karena si supir angkot mempermainkan harga angkot. Pertama bilang harganya untuk carter se-angkot ke Kuta 150.000 tapi pas kami pergi untuk tanya ke rental mobil dan taksi, lalu balik lagi. Tiba2 harganya jadi 250.000 (aje gile ni angkot, ngerampok..). Malas lha kami jadinya, lalu untungnya ada supir angkot yang baik hati, lalu kami pun naik angkot itu dengan harga 150.000. Supir X yang preman tau dan kayak ngelabrak kami. Supir X marah2, Bapak yang ga terima, bales marah2 lagi. Saya dan yang lain bengong.. Eh bused ini ada apa yaaa..

Pertengkaran makin mengerikan. Di otak sudah mikir yang tidak-tidak. Takut si Bapak dihajar sm si supir preman, takut ni angkot dirusak, takut juga si supir yang baik hati malah dikucilkan dari dunia perangkotan, takut kita pada masuk penjara di Bali. Kan ga lucu, niat hati mau liburan tapi urusan sama polisi, di daerah orang pula. Lalu, sinar terang pun seperti datang ketika si Bapak bilang:
“Bapak jangan marah-marah donk, saya tu kenal si Arya, Bapak kenal si Arya??”
Dalam hati saya udah mikir, wow, mungkin Bapak kenal kapolda Bali kali yaaa yang namanya Arya.
“Saya bisa lapor ke Arya kalo kayak gini caranya” ngancem plus mencet-mencet tuts handphone, kayak mau telepon Arya tersebut. Saya masih bengong aja, sambil ancer-ancer pasang kuda-kuda buat kabur pait-paitnya ada apa2. Setelah si Bapak ngomong kayak gitu, si supir preman minta damai dan kami capcus naik angkot ke Kuta. Di jalan si Bapak lalu buka pembicaraan “Arya itu teman saya, sudah lama kenalnya, dia itu ketua pelawak di Bali”. Ehem, okay, ternyata Pak Arya yang disebut-sebut namanya itu bukan kapolda, agen Densus 88, ato mafia kelas kakap, tapi dia adalah ketua perkumpulan pelawak. Fine.

… to be continued

Wednesday, January 9, 2013

Esc Day 1 ; Balada Kereta Ekonomi

14 November 2012
Hujan yang lumayan deras mengguyur Paingan dan sekitarnya, malam hari sekitar jam setengah 9 malam saya dan Tinna otw ke kos Nina untuk menginap di kosnya. Besok pagi kami harus bangun pagi dan sudah standby selambatnya jam 7:15 di Stasiun Lempuyangan. Kereta ekonomi Sri Tanjung yang akan membawa kami menerobos jalan panjang dari Yogyakarta ke Banyuwangi. Tiket kereta ekonomi seharga makan 2 hari di Paingan yaitu 35rb, lama perjalanan sekitar 15 jam. Jadi dapat dipastikan sampai Banyuwangi sekitar jam 11-12an di tanggal 15 November 2012.

Di kamar Nina, kami, seperti biasa sindrom orang yang mau melakukan perjalanan jauh, nervous. Tinna mendadak jadi pelupa, saya berasa lebih parnoan dari biasanya, Nina yang tadinya suka insomn mendadak ngantukan, dsb. Tinna ngecek tiket kereta api sampe 3 kali, takut tiketnya ketinggalan katanya. Hahahahha.. OCD bener deh.

Kalo cewe-cewe, disatuin, ga mungkin deh kalo gak rumpi. Yang tadinya berencana buat tidur cepet, kami malah gosip yang ngga-ngga, si itu lah, si anu lah, wkwkkwkwkw.. Lalu, kami jg sibuk nelponin penginepan di Bali buat kroscek harga hostel/losmen/homestay. Berbekal buku panduan liburan Bali pinjeman Ibu Kos saya, kami dapet nomer2 telepon tu penginepan, tapi ternyata ni buku udah kadaluarsa, harga di buku sama aslinya sudah berbeda jauh, naik 100% dalam kurun waktu 2 tahun. Oh God! Trs, Tinna & Nina packing ulang karena ngerasa tasnya gueeeddeee banget (emang iya sih banyak banget ya bawaannya) hehehhehe.. Saya sendiri bawa 2 tas (ransel yang beroda dan ransel biasa ukuran kecil) plus selongsong sleeping bag. Di akhir waktu tanggal 14 kami pun masih sibuk nge-print peta & rencana perjalanan. Hwhwhhwhw..

15 November 2012
Yap.. Hari nya telah tiba. Tidur empet2an ala ikan bandeng ga ngaruh, habisnya kami udah kecapean semua deh gosip ngalor-ngidul, persiapan ini-itu semalaman hahahhaha.. Jam setengah 6 kami bangun dan gentian mandi pagi. Segarnya. Pesan taksi ke Stasiun Lempuyangan. Sesampainya, kami makan pagi dulu di warung depan stasiun. Tunggu punya tunggu, ternyata kepergian kami dilepas oleh Abang nya Nina, Abang di sini maksudnya pacar. Saya sendiri ga kepikiran nyuruh si TPLP buat nyamperin saya di stasiun wkwkkwkwkw.. Si Abang kasih kami bekal perjalanan (roti2 dan permen, banyak!), saya dan Tinna hanya memandangi mereka berdua bertatapan dan melepas tawa, woooooo.. Ngirinya setengah mampus deh. Tingtong setengah 8, kereta pun tiba. Daagghhh Abang, daaagghhh Jogja.

Kalo boleh sebut, alat transportasi yang paling mengasikkan, boleh lah kereta ekonomi disebutkan. Mungkin cocok, kalau kereta ekonomi punya jargon ‘ekonomis nan humanis’. Kenapa demikian? Karena, dengan harga yang murah, kita menemui banyak orang di dalam kereta. Dan tidak jarang kalau kita malah jadi kenalan dengan mereka dan berbagi cerita. Berbeda sekali bukan, dengan angkutan kelas eksekutif yang individualis. Yang pasti, kita aware saja dengan siapa kita berbicara.

 Tinna nyengir di kereta

Untungnya saja, kereta ekonomi sekarang sudah bernomor duduk, jadi tidak seperti dulu yang harus desek2an tingkat dewa. Semua orang kebagian tempat duduk. Di sepanjang perjalanan, banyak tukang jualan itu pasti. Saya menamakannya ‘throw party’. Berhubung semua barang yang dijual dilempar-lempar se-enak jidat ke penumpang kereta. Apa barang jualannya? Macam-macam. Mulai dari alat rumah tangga seperti sendok, garukan punggung, mesin jait tangan, sampai poster bergambar burung Tukan segede gaban. 

Jam2 pertama, kami lumayan menikmati perjalanan kereta ini, tapi sudah 5 jam berlalu, rasanya bosen juga. Apalagi kami tau perjalanan ini masih 10 jam lagi, hueeeeeeehhh.. Rasanyaaaaa.. Pingin punya pintu kemana saja nya Doraemon deh. Apalagi cuaca di luar kereta sangat labil, panas gerah lalu tiba-tiba hujan deras, sudah mana keretanya bocor2 pula & kipas anginnya kurang berfungsi dengan baik hwhwhwhhww.. Kocak deh. Galau kami dibuatnya, Tinna sampai bilang : “Kereta Sri Tanjung, jendela dibuka banjir, jendela ditutup panas”.

cuaca bikin galau, terdukung dengan koleksi lagu sedih di hape

Kegembiraan saya kembali berkobar ketika melewati Kota Surabaya. Saya belum pernah ke Surabaya, jadi pas lewat ni, waaaa.. Rasanya pengen loncat dari kereta dan turun di Surabaya saja. Oya, taukah anda, kalau di stasiun Surabaya Gubeng itu ada vending machine. Hehehhe.. Saya heboh gitu pas liat, sampe saya foto2 deh. Nah, dari sini kami melanjutkan 6 jam lagi perjalanan ke Banyuwangi. Lalu, kami se-tempat duduk dengan seorang mahasiswa kimia ITS bernama Faisol dan Ibu2 yang berasal dari Banyuwangi. Sepanjang perjalanan, kami ber-5 lalu ngobrol, tentang kuliah tentang Banyuwangi dan tentang Bali. Faisol sendiri, asli Banyuwangi, dy kuliah di ITS Surabaya, 1-2 minggu sekali pasti pulang kampung. Jadi udah biasa banget dy pulang pake kereta Sri Tanjung. Dari Faisol jg kami diajari, cara makan murah di kereta yaitu beli nasi bungkus saja 5000 perak, dijamin kebersihannya koq. Buktinya si Faisol baik2 saja tuh tiap seminggu sekali makan tu nasi bungkus hehehhe..

wth! gueee pengeeennn cobaaaa..

Selain Faisol, banyak orang yang kami temui di kereta, termasuk Mbak2 Perawat yang sedang studi di UMY, Bapak Supir Bus yang kasih tau kami detail tentang lokasi stasiun dan pelabuhan Banyuwangi, keluarga doyan jajan yang jadi ‘tetangga’ kami, para pedagang – pengamen dengan segala tingkah laku uniknya serta ada satu yang menarik perhatian yaitu seorang anak kecil gendut yang sering banget mondar-mandir ke lavatory. Lucu-lucu deh. Sampai akhirnya kami sampai juga di Banyuwangi, disambut dengan pemandangan lampu kota dari atas rel kereta yang berada di bukit (lihatnya pake acara rebutan dengan Nina hahahhaha..). Kata Ibu2 yang duduk di depan kami, kalau pagi/siang pemandangannya bagus sekali, karena seperti lembah, dan rel kereta ini memang tinggi banget. Huaaaaaa.. Malam saja cantik, apalagi siang yaaaaa..

Tepat di pukul 11 malam, kereta pun berhenti di Stasiun Banyuwangi Baru atau kadang disebut juga Stasiun Ketapang. Akhirnya, rasa lelah duduk 15 jam di kereta hilang sudah dengan melihat plang nama stasiun, tak percaya, kami sudah berada di ujung paling Timur Pulau Jawa.

… to be continued