Saturday, June 25, 2011

Thanks God It’s Birthday

25 Juni 2011

Tidak terasa ya, usia 20 tahun saya berakhir. Kini, saya berumur 21 tahun. Wow. Usia yang tidak lagi muda.. Berkurang lagi jatah hidup saya.. Ahahhahahaaaa..


Hmmmm.. Pagi hari ini saya senang, saya bisa bangun pagi, lalu have a meeting with You-Know-Who (bukan Voldemort lhaaaa pastinya). Selanjutnya, saya bisa makan pagi dengan sangat puas karena saya makan ayam. Trus pergi ke kampus dengan gembira. Hari ini, rutinitas saya biasa saja, sama seperti hari-hari sebelumnya. Dan hari ini pula menjadi hari yang diberkati sama seperti hari-hari yang telah saya lewati.

Saya memiliki memori khusus mengenai masa-masa ulang tahun saya. Dulu ketika masih sekolah terutama TK-SD saya sempat iri sekali dengan teman-teman saya yang bisa merayakan ulang tahun di sekolah. Senang ya bisa ulang tahun sama teman-teman, orangtua, dan guru. Saya ingat sekali ketika TK, saya memaksa orangtua saya untuk membuatkan ulang tahun untuk saya, padahal waktu itu saya belum ulang tahun (kayaknya bulan April gitu..) hahahhaha.. Lalu Mama saya akhirnya membuat acara ulang tahun dadakan karena saya nangis-nangis pengen ulang tahun. Yang diundang waktu itu tetangga-tetangga saja. Haahhahaaaa..

Beranjak remaja, saya bisa lebih menerima mengenai tanggal ulang tahun saya yang selalu pas dengan hari libur sekolah. Jaman SMP – SMA saya doyan banget ngadain surprise2 buat teman-teman yang berulang tahun, tapi saya sendiri, belum pernah tu mengalami hal seperti itu. Kadang ya merasa iri-iri gimana gitu, tapi yaaaa sudahlah.. Sweet-seventeen a.k.a ultah 17 tahun, saya juga merasa biasa-biasa saja, padahal teman-teman yang lain merayakan ulang tahun mewah dengan dana wah.

Masa-masa kuliah, ultah saya lumayan berwarna. Yang saya ingat, ultah ke 19 tahun, saya dimarahin sama Papa saya gara-gara saya gabisa jagain si Poni yang bandel (posting ini), ultah ke 19 dan 20 ini yaaaa lumayan lha.. Berhubung orangtua saya bikin acara doa di rumah, jadi ultah saya lebih ramai daripada biasanya ahhahahah.. Dan di ulang tahun ke 20 saya amaze karena saya mendapatkan hadiah yang luar biasa yaitu PASPOR dan kesempatan mengikuti ACUCA Student Camp. It was such an amazing thing in my life.

Ulang tahun 21 ini saya merasa tidak kalah special, karena akhirnya saya bisa traktir teman-teman. Dulu ketika saya ulang tahun 17 tahun, saya pernah bilang ke diri saya sendiri, “Ntar kalo ultah ke 21, gw mau traktir tmn2 pake uang gw sendiri” Sekarang berhubung di usia 21 saya belum juga mendapat fee, jadi saya pinjem uang deh ke Mama saya, demi idealisme diri. Aahhahahahaaaa.. Kacau juga ne.. Ntar saya balikin Maaa.. Janji deh.. Hahahaha.. Kesempatan traktir teman-teman ini menurut saya juga hadiah yang sama indah nya dengan hadiah-hadiah yang sebelumnya saya terima.

Hmmmmm.. Yaaaaa..
Terima kasih Tuhan..

Regards
puji wijaya, getting older

Tuesday, June 21, 2011

Patient

Patient? Sabar?

Yaaaaa.. Bersyukur karena Tuhan memberikan manusia kemampuan bersabar.

Baiklah, ini adalah kelanjutan posting saya pada hari Senin lalu. Ahahahhaaaa.. Akhirnya saya bertemu dengan Mas Vendor X dan saya (beserta dua partner luar biasa saya) mengobrol banyak dengannya. Saya tadinya mau marah-marah apalagi setelah dia bilang dia memundurkan waktu pertemuan kami (tadinya jam 4 sore, jadi jam 6 sore) padahal saya masih punya kewajiban belajar 2 mata kuliah yang esok harinya ujian dan 1 buah tugas yang harus kudu dikerjakan, malam pun saya masih harus ke kos teman untuk mem-fix-kan tugas kuliah saya untuk hari berikutnya. Oh-em-ge.. Lagi2 karena saya tidak tega-an jadi gajadi marah-marah. Apalagi melihat keadaan Mas X dengan mata sayu2 kurang tidur, sepertinya dia cape sekali.. Saya dan kedua teman saya bersabar dan mendengarkan cerita Mas X.

Saya, percaya, pada suatu masalah pasti ada sebab tertentu, mirip seperti perilaku manusia pasti ada maksud tertentu dibalik perilakunya.

Setelah mendengar cerita Mas X yang ternyata kontrakan tempat dia tinggal dulu tiba2 digusur sama juragan kontrakan (sebutan mafia lebih cocok deh kayaknya), dengan maksud dijadikan pancingan agar kontrakan lain yang berada di depan segera pindah juga, si mafia katanya mau menjual tanah tersebut untuk beli mobil mewah baru (non-sense, gilak ya ne orang). Dan ini bukan cerita mengada-ngada, buktinya tepat di depan kami duduk-duduk, biasanya ramai dengan motor berjejeran, parkir dengan asal-asalan karena pemiliknya ingin cepat-cepat main game online di warnet di depannya. Sekarang, pemandangan yang kami lihat, sunyi senyap.

Jadi posisi Mas X sekarang: baru pulang dari Semarang, malam2 di-SMS suruh pindah, cape angkut-angkut barang, dan belum punya tempat tinggal tetap akhirnya numpang di tempat temennya lalu masih harus berurusan dengan kami – tiga anak ingusan di dunia bisnis konveksi. Di tengah keadaannya yang geje begitu, Mas X masih bisa bercerita tentang runtutan masalah kaos kami yang macet di penjahit dan cerita-cerita lain mengenai bisnis konveksi dan he still gives us smile.

Dari Mas X, saya semakin menyadari bahwa menjalani sesuatu itu pasti ada saja penghalangnya. Tapi kalo kita kalah dengan masalah, apakah kita bisa maju? Jawabannya tidak. Kita memang harus facing that problem. Selama kita tidak bersalah, janganlah takut untuk menghadapi itu. Lalu, dari kedua partner luar biasa saya, Dicky dan Nino, saya belajar bahwa memiliki iman itu adalah hal yang penting dan membuat kita lebih kuat.

Hal-hal inilah yang saya bawa pada saat bertemu dengan panitia yang memesan kaos kami, dua hari setelah pertemuan tersebut (kemarin tepatnya). Awalnya nervous, tapi mengingat pertemuan saya dengan Mas X dan melihat teman-teman, saya seperti mendapatkan semangat. Pada akhirnya, semua berakhir dengan damai dan lancar, panitia juga setuju dengan kompensasi keterlambatan yang kami berikan dan tawaran bantuan dalam pendistribusian barang kepada pembeli. Thanks God juga, karena mereka masih bisa bersabar kepada kami, dan begitu juga pembeli, mereka juga bersabar kepada panitia.


Malam ini.
I feel.. LEGA.. Thanks God.

Karena kami semua masih diberikan kesabaran.

Kalo mengingat-ngingat yang kemarin rasanya sulit sekali. Sekarang keadaan saya jauh lebih baik dan saya jadi lebih bersemangat. Bersemangat untuk proyek-proyek dan step-step membahagiakan selanjutnya. Ahahahaha.. Saya juga merasa didewasakan dengan masalah ini, tepat seperti yang saya minta kepada Tuhan ketika saya berdoa. I know, pray is about opportunity  seperti yang sudah saya tulis di posting sebelumnya.

Oya, dari masalah ini juga saya belajar mengenai:
Belajar entrepreneurship itu seperti belajar berenang dan pengalaman bermasalah itu seperti pelampungnya. Agar bisa berenang kita harus terjun ke kolam renang, tapi sebelum terjun, jangan lupa dengan pelampung. Nah, now, kami memiliki pelampung, tidak akan tenggelam lagi.

Regards
puji wijaya, in a long road to be ‘someone’

Friday, June 17, 2011

About Opportunity

Hi Folks !!
Akhir-akhir ini, bisa dibilang 3 minggu belakangan ini, saya sedang dilanda sebuah masalah. Wow. Masalah apakah itu? Eheheeh..

Masalah yang menurut saya agak aneh. Mengganggu kehidupan saya selama hampir 1 bulan dan tidak selesai-selesai sampai saya menulis blog ini, masalahnya pun tidak belum selesai. Saya akan ceritakan.. :)

Pernah saya bercerita di blog, bahwa saya dan dua orang teman saya sedang memiliki proyek, dan sejak 10 bulan yang lalu kami mencari dana untuk realisasi proyek tersebut. Sampai akhirnya kami menjual jasa clothing, siapa yang mau buat kaos ato baju, bisa pesan ke kami, dengan harga yang murah, karena kami hanya ambil untung sedikit dan cepat prosesnya. Sampai-sampai clothing provider kami punya jargon Walk the Talk. Prinsipnya ya apa yang kami katakan ya itu yang kami laksanakan.

Pada suatu hari kami mendapat kerjaan mengurusi 132 kaos dari suatu kepanitiaan di kampus. Acara ini memerlukan dana, maka mereka juga ingin cari uang dengan menjual kaos dan minta tolong diurusi ke kami. Akhirnya kami menyanggupi, deal terjadi pada minggu pertama bulan Mei. Dan kami berjanji tgl 20 Mei semua beres.

Kaos oblong dengan jumlah 92 buah kami selesaikan dalam waktu 9 hari. Konsumen puas. Kami juga senang, karena semuanya beres dengan cepat dan lancar-lancar saja. Akan tetapi masalah terjadi pada kaos berkerah berjumlah 40 buah.

Dalam membuat kaos berkerah ini kami bekerja sama dengan sebuah vendor yang katanya lumayan karena dia pernah mengurusi baju universitas. Kami liat baju universitas juga bagus koq secara kualitas maka kami mau pake vendor “X” ini. Gatau napa yah, mungkin kami dan vendor X kurang cocok ato tidak jodoh, dalam pembuatan kaos ini ada saja masalahnya.
1. Ternyata harga kain naik, lalu vendor minta tambah uang DP. Oke kami beri!
2. Penjahit lagi penuh. Oke kami tunggu!
3. Penjahit ga bisa, pindah tukang jahit. Oke kami masih sabar!
4. Kain kurang, beli lagi. Oke kami cuma bisa kasih semangat!
5. Kain banyak yang rusak, bolong2. Oke, koq agak aneh ya kenapa ga dicek dulu!
6. Janji tanggal 17 Juni jadi ternyata salah info. Oke, saya ga bisa ngomong apa2!

Sebagai manusia, narsis dikit ya, saya adalah orang yang sabar dan saya tu termasuk manusia yang malas marah. Tapi jujur kejadian ini membuat saya marah di jam setengah 1 pagi tadi dan membuat tubuh saya berespon siaga, saya jadi ga bisa tidur sampe sekarang. Dan siang ini saya akan ke tempat vendor X untuk lebih jelasnya, sebenarnya apa yang terjadi????

Keterlambatan ini membuat teman-teman panitia jenuh juga dan kami (terlebih saya) makin merasa ga enak sama mereka karena menunggu lama. Apalagi ujian udah mau selesai, kalo ga selesai, gimana dunk????

Saya sempat berpikir negatif pada pemilik vendor X. Tapi dua orang teman saya selalu meyakinkan saya bahwa semua ini baik-baik saja. Ya semua terkesan baik-baik, tapi saya sendiri merasa tidak nyaman dengan apa yang saya alami. Saya ingin marah ga bisa marah, ingin nangis ga bisa nangis, ingin boker ya tinggal boker lha yaaaa.. ahhahahhaa..

Perasaan seperti ini saya pernah rasakan juga si beberapa kali, tepat tahun lalu, saya mengalami perasaan yang sama, waktu itu saya sedang rempong ngurus paspor dan stressful nya ya seperti ini karena banyak masalah. Sampe ga bisa tidur, ga tau harus menyalahkan siapa. Sekarang ya sama, saya cuma bisa nahan nafas sampe sesek. Di satu sisi saya cemas, tapi di sisi lain juga saya harus dewasa. Dan mencoba menghadapi masalah ini dengan open-mind, saya bukan anak kecil lagi yang kalo punya masalah lalu ngamuk-ngamuk ga jelas trus semuanya clear, ga gitu caranya, saya mau kalo semua bisa dibicarakan dengan baik, dan saya berharap siang ini saya bisa ketemu dengan Mas vendor X dan ngobrol dengan dia.

Hmmm.. Masalah ini sebenarnya tidak sepenuhnya negatif, buktinya saya masih bisa berefleksi dari kejadian ini. Saya selalu ingin menjadi orang yang lebih dewasa ketika umur saya bertambah, dan hal inilah yang saya ucapkan ketika saya berdoa. Saya pernah dengar bahwa doa itu adalah doa sebagaimana fungsinya dimana seorang manusia meminta sesuatu kepada Tuhan. Tapi, Tuhan itu bukan Jin lampu Aladdin, yang ketika kita minta maka langsung ada. Dia mengabulkan doa kita dengan bentuk yang lain, yaitu kesempatan. Kalo saya meminta jadi dewasa secara mental, dia memberikan kesempatan saya untuk menjadi orang yang mature, dan saya rasa kejadian ini adalah jalannya, dimana saya merasa saya ditempa untuk menjadi ‘someone’.

Yaaaa.. Itulah cerita saya siang ini..
Saya merasa lebih lega. Huaaaaaaaa..
Ya sudah, saya harus bersiap dan face this problem. Saya tidak takut, karena God is here, beside me, and we walk together.

Regards
puji wijaya, blessed person.

Wednesday, June 8, 2011

Grandfather’s Clock

6 Juni 2011.
Hari itu saya melupakan suatu hal yang penting, yaitu ulang tahun Kakek saya. Sampai, Kakak saya mengingatkan saya di SMS pada tanggal 7 Juni “Dek, Engkong (Kakek.red) ulang tahun, jangan lupa ucapin” waktu itu hari sudah malam, dan saya memutuskan untuk mengucapkan esok harinya (tanggal 8 Juni).
Telat.
Tapi no prob.
saya senang bisa mengucapkan “selamat ulang tahun”
Walaupun hanya di telepon dan dalam kurun waktu 1 menit.
saya bisa mendengar suara Kakek.
:)


Kakek saya adalah orang yang sangat wise. Beliau juga sangat keren menurut saya, karena saya belum pernah melihat orang lain yang bisa sangat bijaksana, taat beribadah, dan sabar seperti beliau. Kakek adalah salah satu rolemodel saya dalam menjalani hidup. Salah satu pelajaran yang saya pelajari darinya ialah ‘be grateful for what you have and what you are’. Ketika saya mengalami kesulitan atau merasakan iri-cemburu, kata ‘bersyukur’ adalah senjata ampuh untuk menenangkan diri saya, “puji, masa masalah kayak gini ajah kamu desperado, bersyukur donk, karena banyak orang lain yang punya masalah lebih besar dan lebih sulit”
Saya juga sangat bersyukur karena saya dapat mengenal rasa ‘bersyukur’ tersebut dari Kakek saya.

Meskipun saya jarang sekali bisa bertemu dengan Kakek (arena kami tinggal berjauhan, Kakek saya tinggal di ibu kota dan saya di kota udang, keluarga saya juga jarang berpergian, jadi jarang-jarang deh pergi mengunjungi), Kakek saya tetap memiliki tempat yang spesial di hidup saya. Kakek itu tidak kalah dengan artis-artis trendi jaman sekarang atau pejabat-pejabat parpol, beliau juga bisa menjadi idola (bagi saya). Beberapa prinsip hidup saya, seperti bersyukur, kerja keras, punya cita-cita tinggi dan menghargai orang lain, adalah hal-hal yang saya pelajari darinya. Kelak ketika saya tua, saya juga ingin meneruskan nilai-nilai ini kepada anak-anak dan cucu-cucu saya.

Akhir kata pada posting ini, saya ingin mengucapkan : HAPPY BIRTHDAY, Engkong..
Untuk usia yang ke 85 tahun.
Jam terus berdetak, waktu pun terus berjalan, saya ingin, Kakek bisa selalu ada di antara kami semua.

Regards
puji wijaya, has a super-grandfather

Tuesday, June 7, 2011

GW dan SAYA

Folks.
Announcement..

Berhubung, bulan Juni ini puji wijaya berumur 21 tahun.
Mulai sekarang puji wijaya akan mengganti kata ‘gw’ dengan ‘saya’.

Puji Wijaya :

harapannya si saya akan menjadi lebih dewasa dengan sering-sering bicara dengan kata ‘saya’ wkwkwkkw.. (ga nyambung, belum ada penelitian yang bilang penggunaan kata ganti orang pertama mempengaruhi kedewasaan cara berpikir orang’ ahhahahhaa..)
oke deh..
Saya.. saya.. saya.. saya.. gw.. uppsss.. SAYA, puji wijaya will be a mature and ‘good’ person.. Wish me luck!

Regards
saya, puji wijaya