Sunday, July 13, 2014

FAQ About Dieng

Kapan waktu terbaik untuk mengunjungi Dieng?

Akhir musim kemarau is the best, seperti bulan Juli dan Agustus. Hujan masih jarang turun, tetapi tumbuhan tetap segar karena cuaca Dieng yang dingin dan berembun pada pagi dan sore hari. Kalau musim hujan agak berabe, bisa kurang puas eksploring lokasi wisata. Lalu apabila musim hujan, jalanan ke Dieng agak berbahaya, berhubung jalan sangat curam sebelah bukit, sebelah lagi jurang, jadi ketika curah hujan tinggi ada kemungkinan longsor dan jalan lebih licin.

Waktu terbaik lainnya adalah ketika ada festival rakyat seperti Dieng Culture Festival, di acara ini kita akan melihat Dieng secara lebih dengan terlebih mengenal masyarakat lokal yang unik, ramah, dan masih menjunjung kebudayaan setempat. Selain itu acara lain yang keren adalah Jazz Atas Awan, dimana para musisi Jazz Indonesia manggung di Dieng, wah dingin-dingin dengar lagu jazz di tengah keindahan alam yang luar biasa. Sugoi!

Lama waktu ideal untuk liburan ke Dieng?

2-3 hari. Satu hari terlalu singkat, karena tidak bisa ekploring lebih banyak dan terasa terburu-buru waktu. Cobalah 2-3 hari jadi bisa spare waktu lebih banyak di satu spot tempat wisata, dan yang pasti jika nginap di Dieng, bisa berkesempatan untuk menikmati golden sunrise di Bukit Sikunir. Dengar-dengar bagus banget, gak kalah dengan sunrise di Bromo.

Adakah lokasi wisata lain, selain Kompleks Wisata Telaga Warna, Kompleks Candi Hindu Dieng, Kawah Sikidang, dan Kebun Teh Tambi?

Bukit Sikunir untuk melihat sunrise, Sumur Jalatunda buat yang suka trekking dan area wisata yang menantang, Telaga Cebong mirip dengan Telaga Warna dengan pemandangan persawahan. Tersebar telaga, kawah, dan gua lain di Dieng yang mungkin belum santer terdengar dan masih perlu eksplorasi lebih lanjut, bisa jadi lokasi wisata menarik yang juga bisa dikunjungi.

Apa yang perlu dipersiapkan untuk berlibur ke Dieng?

Pakaian hangat. Sebenarnya memakai jaket saja cukup tidak harus heboh sekali dengan kupluk, sarung tangan, dan syal. Baju tertutup untuk menghargai warga setempat, jangan pakai yang terbuka-buka bisa masuk angin juga hahah.. Sedia payung, barangkali hujan, di musim kemarau sekalipun Dieng katanya suka hujan. Sendal/sepatu yang nyaman untuk jalan. Mayoritas tempat wisata memerlukan beberapa menit jalan kaki di medan tanah yang tidak rata, kalau pake sandal jepit atau sepatu cantik siap-siap saja rusak. Tidak apa, penjual sandal di warung dekat lokasi wisata banyak hahahaha..

Kisaran harga makanan?

Makan di warung pun enak, 6000 bisa dapat Indomie. Kalau mau makan nasi 10000 sudah enak. Dijamin halal dan bersih. Untuk harga cemilan, air minum, dll masih wajar. Tidak juga digetok mahal.

Kisaran harga penginapan?

Saya tidak menginap jadi tidak tau persis. Tapi menurut banyak sumber, penginapan di Dieng tidak terlalu mahal, karena dikelola sendiri oleh warga setempat. Tempat nginapnya pun asik karena seperti live in.

Oleh-oleh khas Dieng?


Cabe Gendot ato biasa dikenal Cabe Dieng. Sesuai dengan namanya, berbentuk agak bullet mirip tomat, cabenya gemuk dan pedas. Lainnya adalah Carica, carica ini sodaraan dengan papaya, pohonnya pun persis papaya. Tapi bentuknya lebih kecil dan warnanya kuning. Buahnya manis, dan sudah banyak diolah menjadi berbagai bentuk panganan.

Cabe gendot dan Carica

Saturday, July 12, 2014

Dieng, Kemana Aja?

4 July 2014
Location : Telaga Warna, Kompleks Candi Hindu Dieng, Kawah Sikidang, Perkebunan Teh Tambi

Hati ini berbunga-bunga sudah sampai Dieng. Bapak Supir berhubung sudah pernah beberapa kali ke Dieng, untuk lokasi wisata kami serahkan ke beliau, kami hanya bilang kisi-kisinya saja mau ke sini sini sini, nah Pak Supir mengurutkan agar ga muter-muter atau bolak-balik jalannya. Ohya, karena kami datang kepagian jam 8 sudah sampai, jadi kami ga kena penjualan tiket terusan (ada penjaganya di pinggir jalan) yang harganya 20 ribu/orang - kalau tidak salah untuk 4 tempat wisata. Menurut Pak Supir lebih murah justru kalau beli tiket satu-satu, saya sempet ga percaya juga sih hahahhaha.. Tapi ternyata memang bener loh lebih murah beli satu per-satu, mari kita lihat deh sama-sama, yuk mari bahas lokasi wisata Dieng:

#1 Telaga Warna
Telaga destinasi pertama kita. Wahahah.. Hayo belum pada mandi, buruan sekalian nyemplung wkakaka.. Tiket masuk Telaga Warna ini 2000 rupiah saja (per-orang), uwoowww murahnya ya. Telaga Warna ini kompleks tempat wisata, di dalamnya bukan hanya Telaga Warna saja, tetapi ada Telaga Pengilon (saudara kembar tapi tak sama),  Batu Pandang (tempat melihat kompleks Telaga Warna dari atas), Pesanggrahan (rumah kecil untuk berdoa dan cari wangsit), dan beberapa gua yang katanya punya kekuatan mistis hehehhe.. Sebenernya sih kami ke sini hanya untuk liat-liat telaganya saja, tapi sehabis itu masa cuma segini aja, jadilah kami mencoba untuk eksplor Telaga Warna dengan lebih dalam *halahapaan.

Masuk kompleks nanti kita akan disambut oleh Bapak-Bapak yang membriefing apa saja yang ada di dalam dan peraturan apa saja yang perlu ditaati seperti tidak boleh buang sampah, cabut tanaman, ambil batu, teriak-teriak, dan berbicara kotor.  Selain si Bapak Briefing, kami juga disambut oleh tanaman bebungaan yang cantik, bunga hortensia. Warna-warni bunganya, ada kuning, biru, ungu, agak merah, bagus banget deh pokoknya. Baru dateng saja itu bunga-bunga sudah diajak foto narsis oleh kami-kami ini. Masuk ke dalam sudah kelihatan Telaga Warna nya, hari ini sedang hijau muda. Kadang warnanya turquoise tajam, kadang jadi hijau, kadang jadi pelangi, koq bisa warna-warni? Karena ada kandungan sulfur, intensitas pencahayaan matahari yang membuat danau vulkanik ini terlihat berwarna-warni.

Lokasi yang cocok untuk syuting video clip

Di dekat-dekat Telaga Warna ada beberapa dekorasi alami yang asik banget untuk jadi spot foto, seperti sebuah sampan bambu dan pepohonan rindang. Yang belum mandi sekalipun, di sini kalau foto terlihat cantik, ya gimana pemandangan mendukung banget hahahha.. Lalu lanjut jalan ke arah kanan, lurus saja, nanti kita menemui pana petunjuk - mau naik ke Batu Pandang atau lanjut ke Telaga Pengilon. Karena kami waktu itu ga ngerti Batu Pandang apaan (dikiranya susunan bebatuan aja gitu, ternyata bukit kecil untuk lihat kompleks dari atas, sayang kan ga ke sini) jadi kami memutuskan jalan terus ke Telaga Pengilon. Awalnya sih jalan masih bagus ya, setapak. Lama-lama koq jalan jadi kecil. Gak jauh, sampailah kami di Telaga Pengilon yang unik karena biarpun satu sumber air, air Telaga Pengilon dan Telaga Warna selalu beda warna, aneh tapi nyata. Telaga Pengilon berwarna bening atau kecoklatan seperti air tanpa sulfur.

Dunia Hortensia

Sesudah puas foto-foto, ada dua pilihan mau balik lagi atau lanjut muter telaga. Karena kesotoyan kami semua (plis, ini keputusan musyawarah) kami setuju untuk terus jalan, merasa kalau, ah kalau jalan terus kan sama dengan muterin lebih deket dong. Jalan-jalan terus kami menemukan Pesanggrahan yang dikelilingi kebun bunga hortensia, banyaaakkk banget bunganya lebih variatif daripada yang tadi di depan. Kami kesenengan foto-foto, selfie, macem-macem deh, norak banget ya kami kayak ga pernah liat bunga. Sudah agak lama di situ, lanjut jalan. Perjalanan yang kami kira udah deket, ternyata tidak Gaes.. Jalan setapak menghilang kemudian muncul kubangan-kubangan. Tadinya kecil lama-lama itu kubangan melunjak. Koq berlumpur dan parah gini. Teman-teman yang rata-rata pake sandal jepit udah deh ampun-ampunan kotornya, Adek saja juga udah heboh banget karena alas kakinya kotor. Terus kami mulai desperado, sampai kapan kita ini bakal jalan kayak gini, mana ga ada rombongan lain hahahha..

Kemudian sampailah kami di sebuah selokan kecil, kayaknya sih gak dalem, tapi agak lebar ya mau gak mau lompat. Nah di sini lah kehebohan kami semua, gimana caranya supaya lompat dari itu selokan. Ga terlalu lebar, pasti bisa dilompatin, tapi kami kan udah ga pernah ya lompat-lompat kayak gini, jadi kaku deh. Pertama Je2 duluan. lancar berhasil , saya berhasil, lalu lanjut Luci – Luci heboh takut sempet gak jadi, jadi, gak jadi, akhirnya lompat, Nina lancar, nah pas Adek saya mulailah berdrama. Adek saja padahal kakinya panjang banget, dia harusnya ngelangkah aja pasti nyampe, tapi gak tau nih takut banget. Pas dy mw lompat, eh malah nginjek kayu yang di tengah selokan (dia berasanya seberat kapas aja), ya itu kayu patah dan kaki Ndut kejeblos selokan untung udah dipegangin jadi dia bisa langsung naek lagi. Dan yang lebih bersyukurnya lagi kaki dia kaga kenapa-kenapa hanya kotor parah aja memang.. Hahahaha.. Adohhhh.. Bisa digorok Mama saya kalo Adek saya kenapa-napa.

Insiden Selokan

Di barisan belakang, Cha2 yang preman abis, katanya dia sengaja di belakang buat keamanan. Babah lompat duluan, pasti bisa lha ya, secara cowok, terus Vina lepas sandal hahahhaa.. mantaf lompatnya. Baru deh si Cha2. Ya ampunn padahal yaaa selokan kecil aja kita-kita pada heboh semua. Nah setelah melalui selokan itu eh ternyata kami sudah sampai di ujung lagi. Sudah menemukan orang-orang berkeliaran kembali, astagaaaa.. Terima kasih Tuhan nggak nyasar kita. Habis ini liat-liat gua sebentar, cuci kaki bersih-bersih, dan kami langsung caw ke lokasi lain. Untung ya tadi sudah sempet makan di warteg dekat parkiran mobil. Enak dan murah, yang penting kenyang boooo.. tau jalan segini jauhnya.. Tidak terasa 2 jam berlalu begitu saja di Telaga Warna.

#2 Kompleks Candi Hindu Dieng
Pulau Jawa memang surganya candi ya, dimana-mana ada candi, termasuk di Dieng, yang di atas gunung begini. Orang jaman dulu demen banget bikin tempat ibadah di tempat yang susah ditempuh. Jujur aja nih, saya sih ga ada bayangin ni kompleks candi kayak apaan, kiranya mirip-mirip Borobudur aja gitu, candinya di tengah dengan kompleks taman seablak-ablak. Eh ternyata, saya salah besar. Kompleks Candi Hindu Dieng itu keren banget. Candinya bagus, pemandangannya dapet, dan gak tau ya, di sini tu damai dan tenang banget. Seriously. Masuk ke sini gratis hanya bayar parkir mobil saja, ada sih sumbangan sukarela, jadi boleh kasih boleh nggak.

Bunga-bunga everywhere

Kompleks candi ini biasa disebut Kompleks Percandian Arjuna. Candi Arjuna merupakan candi utama, selain itu ada juga candi lain yaitu Candi Srikandi, Candi Puntadewa, Candi Sembadra, dan Candi Semar. Memasuki kompleks ini, yang pertama ditemui adalah Candi Semar. Ada petunjuk ke lokasi utama percandian, tinggal kita ikuti saja. Nah di sini lah yang amazing, mungkin karena bawaan pegunungan ya, di bulan Juli yang katanya musim kemarau aja, di sini dimana-mana banyak bunga. Dan saya yakin banget, ini tumbuh alami bukan yang memang sengaja ditanem dan dirawat kayak di Prambanan atau Borobudur. Pemandangan bukan hanya hijau, tapi berwarna-warni, lalu jalan paving bloknya rapih menyatu dengan alam, dan yang pasti gak ada sampah. Ya ampun bagus banget. Di sini juga ada danau vulkanik loh tapi memang tidak sebagus Telaga Warna dan ukurannya juga kecil.

Komples utama candi plus anak-anak lokal yang seru

Jalan kaki kalau lancar 10 menit juga sampai, tapi berhubung kami nyangkut-nyangkut buat motret-motret semua-muanya. Jadilah jalan jadi 30 menit sendiri. Memasuki kompleks utama candi, kami dibuat lebih emehzing lagi, ahhh segernya, pengen guling-guliing di rumput. Candi pun gagah banget berdiri di atas lahan hijau dengan background pepohonan pinus. God must be crazy! Ini bagus banget. Liat-liat candi, baca-baca sejarahnya, lalu kami sempat bermain dengan anak-anak kecil setempat. Mereka lucu banget, ada satu yang pipinya merah kayak boneka (padahal anak laki-laki). Mereka asik juga diajak ngobrol. Sudah puas banget moto-moto, kami balik ke mobil dengan langkah gontai, andai bisa nginep di sini, guling-guling di rumput tiap hari. Hahahah.. Selain rombongan kami, ada juga rombongan dari mancanegara, ada yang dari Korea, lalu ada jug bule-bule. Great! Harus banget ke sini!

#3 Kawah Sikidang
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, aktifitas vulkanik di tanah Dieng memunculkan kawah-kawah, kawah yang paling heboh semburan uap dan belerangnya adalah Kawah Sikidang. Dia ini adalah kawah yang heboh sendiri. Karena memang heboh banget ni kawah, sampai kita ga bisa liat bentukan kawahnya saking ketutupan uapnya sendiri hahahhaha.. Nah, lagi-lagi ke tempat wisata ini gratis hanya bayar parkir (nasib datang kepagian, untung ya jadinya ga beli tiket terusan itu hahahaha..). Luci ga ikutan karena pusing kena bau belerang. Ya udah jadi kami ber7 aja muter-muter liat kawah. Lumayan jalanannya berbatu, agak licin juga dibagian yang agak basah, lalu ati-ati ada ranjau, jadi ada kawah kecil-kecil hanya segede jari tangan di jalan menuju Kawah Sikidang si Raja Kawah. Banyak wisatawan yang nyoba rebus telor dan nyeplok telor di sini. Hahaha.. Airnya mendidih banget book..

Susahny foto-foto di Sikidang hahaha

Kami berjalan sambil memakai masker, bau belerangnya kuat banget, tapi anehnya makin kita mendekat ke arah Sikidang, baunya menghilang perlahan-lahan. Sesampainya kami di Kawah Sikidang, kami baru sadar, susah ya foto-foto di sini, uap semua soalnya. Di sekitaran kompleks banyak pipa-pipa raksasa yang dipergunakan untuk mendistribusi uap kawah menjadi listrik, keren lho. Di kawah utama sendiri kami gak bisa lama-lama karena suhu agak panas, dan rambut mendadak basah-basah kena uap juga. Ya sudah capcus kita ke lokasi selanjutnya.

#4 Perkebunan Teh Tambi
Baru tiga lokasi tapi waktu sudah menujunjukkan pukul 3 sore, sudah waktunya kami pulang agar nyampe Jogja ga kemaleman. Perjalanan pulang harus melewati jalan meliuk-liuk itu lagi, lalu sebelum sampai Wonosobo ada satu lagi tempat yang ingin kami kunjungi. Namanya Perkebunan Teh Tambi, saya kira modelnya kayak di Bandung gitu ternyata agak tertipu internet. Untuk foto-foto biasa sih ga bayar, karena kebun teh nya di pinggir jalan, jadi mobil melipir saja parkir di pinggir jalan lalu kami foto-foto 10 menit selesai. Menariknya sebenarnya ada loh paket wisata yang ditawarkan oleh pengelola kebun teh ini, jadi 2 hari menginap semalam lalu kita dijamu seperti tamu penting, liat-liat perkebunan, pabrik, dan menyeduh teh sendiri. Hehehe.. Harganya agak mahal 450ribu/pax sudah termasuk penginapan di rumah kayu dengan pemandangan kebun teh. Mau coba?

Kebun Teh Tambi berkabut

Selesai juga ya liburan singkat bin dadakan ini. Pulang ke Jogja, sempat makan mampir di Wonosobo, tadinya mau coba Mie Ongklok Wonosobo, eh malahan tutup tempatnya. Belum jodoh. Sampai Jogja sudah jam setengah 8 malam. Makasih ya teman-teman yang juga mau ikutan trip ini. Keren banget Dieng, buat teman-teman pembaca kudu banget deh mampir sini. It’s totally beautiful place!



Friday, July 11, 2014

Nge-Trip Dadakan

4 July 2014
Location : on the road to Dieng Plateau

Adek saya, Ndut berkunjung lagi ke Jogja untuk liburan semesteran. Semenjak saya di Jogja, setahun sekali Ndut suka datang ke sini untuk main (dan hedon-hedon). Liburannya memang panjang banget, jadi doi suka bosan di rumah kerjaan tiap hari hanya makan jaga toko tidur saja. Ya sudah demi suasana baru, kabur dia ke Jogja. Nah, karena sudah beberapa kali ke Jogja, kadang saya jadi bingung mau bawa adik saya kemana lagi. Karena berasanya sudah dikunjungi semua hahaha.. Kalau saya mau ajak dia ke pantai gitu, dia ga terlalu suka karena panas banget. Dan berhubung kendaraan saya hanya motor di sini, jadi kalo mau ngajakin jauh-jauh kadang kesian dia nya juga. Monty (nama motor saya), motor egois hahaha.. Tempat duduknya sempit dan bagaikan kaleng kerupuk – ringkih kurang stamina. Nah, Juli ini, selain kami berdua muter-muter Jogja nyicipin makanan yang lucu-lucu (dan enak-enak). Saya berencana membuat trip singkat (satu hari full) ke dataran tinggi Dieng (Dieng Plateau).

Kenapa pilih Dieng?
Pertama sih karena kami berdua belum pernah ke Dieng, kedua jarak dari Jogja ke Dieng tidaklah jauh hanya 3-3,5 jam perjalanan saja melalui rute Magelang-Temanggung jadi bisa ditempuh dalam waktu sehari tanpa harus menginap, ketiga secara budget tidak terlalu mahal alias affordable dengar-dengar juga lokasi wisatanya tidak mahal koq gaes. Ketiga alasan utama ini yang membuat Ndut & saya pingin ke Dieng. Alasan lainnya sih ya karena lagi butuh suasana yang segar-segar hahaha.. Asik nih ya kalo liat yang ijo-ijo gitu.

Agenda nge-trip ini dadakan banget, jadi tidak banyak persiapan, baru kepikirannya pun beberapa hari sebelum Adek saya datang. Lalu, saya menghubungi beberapa teman yang (kayaknya) mau ikutan. Kontak sana sini dapat personil, yaitu Ninul, Luci, Babah, Vina, Je2, Cha2, plus Ndut & saya, jadilah kami ber8 lets go ke Dieng. Hahahaha, nah dengan kami ber8 ini jadi biaya sewa mobil bisa barengan dan biaya tidak terlalu mencekik *trik liburan murah. Mobil sewaan menjemput jam setengah 4 pagi, lalu sehabis itu penjemputan dimulai, untung sudah pada nginap-nginapan jadi jemput ke lokasi tidak terlalu banyak ya. Bener-bener cus ke Dieng itu jam setengah 5.

Pagi-pagi pergi itu seneng tapi ngantuk. Berasa kurang tidur banget deh, hahaha.. Di mobil yang seru sendiri ngobrol Cha2 & Je2, duo Padang ini luar biasa emang pas ngobrol. Mana langsung logat Padangnya keluar, bahasa-bahasa aneh yang tidak kami mengerti muncul. Cha2 & Je2 bagai siaran RRI Padang, pagi-pagi buta ngobrol ngalor ngidul, kami yang lain bagai pendengar setia cekikikan geli sendiri dengar logat dan bercandaan mereka yang indigenous banget. Setelah capek ngomong mereka berdua, giliranlah Vina & saya ngobrolin macem-macem, grup bangku tengah memang doyan gosip kali yah.. Di bangku belakang ada Ndut, Ninul, & Luci. Dikasih bangku belakang karena badannya besar-besar, jadi biar yang kecil-kecil di tengah berempat. Babah duduk di depan bareng Pak Supir, berharap Pak Supir dapet temen ngobrol, si Babah malah molor, ah dia mah kepala nemplok bentar ngorok.

Suasana pagi jalan ke Magelang asik juga lho, apalagi pas lewat jalan besar Mertoyudan, bagus aja gitu pemandangannya. Jalanan sepi, lampu-lampu jalan masih nyala. Dan saya baru nyadar kalo ternyata Magelang itu kotanya rapih dan resik yah, dan mereka punya mol besar Artos Mall, saya baru liat penampakannya ini, dulu-dulu cuma denger-denger aja dan ngebayanginnya ni mol kecil gitu hahahahha..  Maap ya para warga Magelang. Gomen. Sehabis itu daerah-daerah lainnya - Temanggung dan Wonosobo, biasa-biasa saja khas kota kecil di Indonesia. Gak lama sehabis Wonosobo, lalu jalan jadi agak menanjak, hmmm.. Udara mulai agak mendingin, kanan-kiri sudah muncul tanaman sayur (Vina jago banget pengetahuan botani nya, luar biasa). Terus tetiba si Jeje mengeluarkan perangkat tempur, oh men Je2 bawa syal, kupluk, sarung tangan, pashmina. Jeee.. stop2 emangnya kita mau kemana, all out banget Bu. Tingkah Je2 yang persiapan abis jadi bahan ledekan temen-temen laen. Dia ngeles ‘biar bagus dipoto!’ deuhhh Je2 aya2 wae lah.. Yang laen pun siap-siap jaketan juga.

Bukan asap, tapi embun

Jalan menuju Dieng itu lumayan horror lho teman, meliuk-liuk, jalannya hanya muat dua mobil pas banget, bayangkan harus nyetir kendaran sampai puncak yang tingginya 2000 meter dengan jalan sesempit itu, maknyus deh ini Bapak Supir. Dieng itu sendiri adalah suatu dataran vulkanik, dibilang gunung juga bukan. Bayangan gampangnya, ada sebuah dataran yang lebih tinggi daripada dataran lainnya, nah dataran ini atas bawah ada kehidupan, di atas manusia, hewan, tanaman hidup berdampingan, di bawah tanah hidup aktivitas vulkanik yang luar biasa tingginya. Jadi jangan heran di Dieng ada pembangkit listrik tenaga uap, taman belerang, kawah, pemandian air panas, karena memang dataran ini adalah dataran vulkanik. Unik yah. Berhubung akses jalannya agak susah, Dieng ini terpencil, untunglah sekarang daerah wisatanya dipromosikan besar-besaran sampai ada pagelaran musik jazz juga, jadi maju banget Dieng sekarang.

Setelah deg-degan di jalan apalagi kalo sudah papasan dengan kendaraan lainnya, sampailah kami di Dieng. Lalu foto yang mesti ada itu adalah foto di depan gerbang masuk Dieng. Wahahha.. Foto sejuta umat. Seneng banget, dingin kira-kira mungkin 18-20 derajat aja suhunya, bener-bener bikin males mandi kayaknya. Asik ya, jarang keringetan di suhu sedingin ini hahahha.. Waaa.. Selamat datang di Dieng, yuk mari kita jalan-jalan asik..

Foto sejuta umat