Wednesday, September 23, 2015

What Makes A Man A Man

Judul posting malam hari ini mengutip dari lagu boyband favorit saya jaman SD, Westlife. Malam ini memang agak sedikit bernostalgia, hahaha.. Saya baru nyadar juga kalau Westlife itu so yesterday tapi lagunya tetap ngena sampai dengan sekarang. Posting ini juga hasil dari refleksi saya terhadap topik-topik percintaan yang entah bagaimana ceritanya sedang sering sekali menghinggapi hidup saya belakangan ini, tapi yang herannya kenapa Kokoh-Kokoh idaman itu tidak kunjung datang wkakakkaka.. (mulai curhat deh..) Ketika mengobrol dengan teman-teman dekat saya yang perempuan dan (kebetulan) jomblo, topik yang diangkat adalah pria macam apa sih yang kelak pantas menjadi belahan jiwa kita?

Sebelum menjawab pertanyaan penuh modus ini, mungkin terlebih dahulu bisa kita free-listing - menurut kita pria dalam kategori idaman itu seperti apa? Jawabannya pasti sangat bervariasi, mulai dari yang obvious banget kayak badannya kotak2, ganteng kayak artis Korea, kulitnya putih biar memperbaiki keturunan, sampai ke kriteria standar ala-ala lowongan kerjaan – jujur, berdedikasi, bisa kerja dengan penuh tekanan hahahaha.. Lainnya ya seperti cinta keluarga, pengertian, punya pekerjaan tetap, seiman, satu suku, memegang teguh Pancasila, or whatever. Dari sejuta karakteristik calon suami itu, ada garis tegas yang diperjelas oleh peran gender masyarakat patriarki pada umumnya bahwa pria itu harus mapan dan dominan sehingga bisa menjadi bread winner di keluarga.

Saya sendiri sejujurnya agak bingung jika harus menjabarkan kriteria pria, mungkin ini karena di keluarga saya peran Papa saya rada kurang keliatan gitu, agak bias ketutupan sama Mama. I have no role model and I get no idea. Tapi thanks to teman-teman dan internet, sedikit demi sedikit saya bisa meraba juga, sebaiknya kita mencari ‘the one’ yang seperti apa sih. Dan tidak bisa dipungkiri, kriteria saya juga tidak jauh beda dari teman-teman sesama ciwi lainnya, berharap bahwa Kokoh-Kokoh idaman yang akan datang di kemudian hari itu adalah seseorang yang mapan dan memiliki kepribadian pemimpin sehingga bisa menjadi kepala keluarga / panutan yang baik. Tapi apakah hal ini cukup makes a man a man? Ada tiga hal lagi yang menurut saya penting juga, bahwa saya tidak mau punya suami yang kasar (fisik/verbal), kecentilan (ada kecenderungan berselingkuh), dan memiliki kebiasaan yang merugikan diri sendiri seperti merokok, narkobaan, atau berjudi.

Saya sangat toleran dengan ciri fisik, seorang pria tidak harus memiliki badan yang berotot dan fitness untuk being a real man. Maskulinitas itu bisa kok keliatan dari sikap dan perilaku dia memperlakukan wanita. Ga kudu jago berantem atau menguasai jurus tapak suci juga, cukup dengan dia punya prinsip and bisa membuat keputusan, owwww that’s my man! Ganteng? Relatif banget, kalau gantengnya dari dalam justru makin bagus. Ada penelitian yang bilang kalau ingin punya anak yang pintar maka cari istri yang pintar, kalau ingin punya anak yang cakep/cantik maka carilah suami ganteng, hahaha.. Saya gak tau bener apa gak, tapi saya berprinsip bahwa didikan dan lingkungan sosial itu ngaruh banget pada kepribadian, kecerdasan, dan penampilan seseorang. World actually can deceive genes.

Demikianlah kriteria suami idaman menurut kesotoyan saya saat ini, apakah nanti bisa berubah? Bisa saja, semakin dewasa (baca: tua)  akan semakin menemukan lagi hal-hal baru yang mungkin akan mengubah perspective saya dalam menilai pasangan hidup.  Bisa tambah ribet atau justru makin melunak. Who knows. But, ada satu hal yang penting, apa pun kriterianya perlu diingat bahwa seseorang itu tidak akan datang ketika kita tidak berusaha, jadi kalau ingin menemukan Sang Pangeran Idaman jangan cuma duduk-duduk atu leha-leha aja, lagian mana ada sih pria yang pengen punya calon istri pemalas, mereka juga punya kriteria - what makes a woman a woman.

Tuesday, September 15, 2015

Musim Putus Cinta

Selamat siang menjelang sore! Senang akhirnya bisa menulis blog kembali, setelah berpuluh-puluh hari blog ini terbengkalai, tak terurus tergerus dimakan jaman (mulai lebay). Sore-sore gini mungkin lebih enak ya bercerita tentang apa yang terjadi pada hidup saya akhir-akhir ini, masih nyambung dengan posting blog kemarin-kemarin masih suka sekali membicarakan soal yang namanya cinta. Ada apalagi nih dengan topik ini? Jadi 3 minggu belakangan entah bagaimana ceritanya saya sedang menjadi sasaran curhat beberapa teman yang putus cinta. Saya sendiri bukan orang yang berpengalaman dalam hal kisah-kasih, sehingga saya merasa kalau saya itu hanya bisa mendengarkan tetapi tidak dapat memberikan solusi yang jitu. Syukurnya tujuan ketiga teman yang bercerita untuk didengarkan tapi tidak lantas menuntut penyelesaian yang super solutif.

Saya tidak akan tuliskan secara lengkap cerita ketiga teman saya ini, ya pada intinya sih, saya menangkap garis merah dari ketiga kasus tersebut yaitu kebutuhan antar individu di hubungan itu sedang tidak bertemu. Kalau dulu masih ketemu/ada/sama, dan masih bisa disambung-sambungin, sekarang sudah tidak bisa lagi. Contohnya teman saya yang pertama, sebut saja namanya Hanhan, pria berusia seperempat abad ini sudah pacaran kurang lebih 2 tahun dengan pacarnya yang bernama Yaya. Hanhan ini apabila dibandingkan dengan teman-temannya yang seumuran bisa dibilang dia belum cukup mapan secara finansial, sementara pacarnya terdesak oleh keluarga serta lingkungan sosialnya untuk segera melepas masa lajang. Hanhan tidak siap, Yaya pun terhimpit kanan kiri tidak bisa menunggu Hanhan lagi. Ya sudah diputuslah Hanhan. Keliatan kan bahwa ada kebutuhan yang tidak terpenuhi ketika masing-masing bersama?

Cerita lain adalah teman saya yang bernama Nana jadian dengan pacarnya yang berondong lebih muda dua tahun, masih kuliah statusnya di semester akhir dan katanya si pacar akan melanjutkan kuliah master ke Jepang dan kalau mereka masih berpacaran akan membuat sang pacar terbebani. Dua orang yang jadian karena cinlok ini, akhirnya putus. Posisi Nana yang diputus oleh pasangannya, alasan singkatnya tidak bisa LDR. Hmmm.. Nah ga ketemu juga kan kebutuhannya? Si pacar butuh seseorang yang mendampingi secara nyata, tapi Nana gak bisa. Cerita dari teman ketiga, dibumbui drama beda keyakinan dan beda suku, yang kalau ini sudah jelas sekali lha ya kebutuhan apa yang tidak terpenuhi.

Kenapa bisa mereka baru menyadari kebutuhannya tidak terpenuhi setelah sekian lama menjalin relasi romantis? Ada dua hal yang bisa saya tangkap, yang pertama bisa jadi ketika awal memutuskan pacaran belum menyadari sampai sejauh itu. Kedua, bisa jadi muncul kebutuhan baru selama proses kehidupan, yang dahulu tidak ada lalu sekarang menjadi ada. Bagaimana solusinya? Ya memang mudah sekali untuk mengatakan solusinya, yaitu bernegosiasi. Ibarat bisnis saja, maunya kita juga sama-sama menguntungkan simbiosis mutualisme, kalau memang nyatanya masing-masing kebutuhan tetap tidak terpenuhi jalan keluarnya memang hanya satu ‘yuk kita jalan sendiri-sendiri saja’. Mudah memang mengatakan hal ini, namun pada kenyataannya susah dijalani karena urusan pacaran itu bukan seperti urusan bisnis yang memakai logika semata. Karena baper (bawa perasaan) lantas semua jadi serba salah. Di satu sisi ingin tetap bersama, tapi di sisi lain tidak mampu memenuhi kebutuhan si pasangan.

Buat orang seperti saya, yang dalam ini korban curhatan, saya hanya bisa membantu menata pikiran teman-teman saya yang putus cinta karena mereka kalut, meluruskan lagi sebenarnya apa yang terjadi. Saya baru sadar juga karena kasus-kasus ini, bahwa orang putus cinta memang luar biasa acak-acakan jalan pemikirannya. Harapan saya dengan pikiran yang lebih tertata kemudian bisa ditemukan jalan keluar yang terbaik. Satu hal lain yang juga saya lihat, orang putus cinta apalagi sebagai orang yang diputusin menginginkan solusi ‘balikan lagi’, hal ini yang kadang bikin saya jengkel, okay love is blind, padahal sudah jelas-jelas tersakiti eh masih aja menginginkan second chance.

Putus cinta itu memang berat, saya juga pernah putus cinta, awalny pasti tidak terima, itu pasti. Lalu mendadak kita jadi orang yang perhitungan, flashback mengenai hal-hal yang pernah kita berikan ke pasangan, njuk jadi manusia yang tidak ikhlas. Sepertinya tahapan ini memang pasti ada di setiap kasus putus cinta, saya juga tidak bisa langsung menyalahkan sikap tersebut. Untuk menerima suatu hal, memang dibutuhkan masa dimana kita benar-benar menolaknya. Lambat laun, lalu kita sendirilah yang akan menyadari bahwa sikap terbaik sekarang adalah menerima kenyataan dan moving on. Saya mengapresiasi sekali beberapa teman yang memutuskan untuk bercerita ke teman lain, tidak menyimpan kesakitannya sendiri, karena dengan begitu setidaknya beban mereka tidak dipanggul sendiri.

Hihihi.. Menyambung judul dari artikel ini yaitu musim putus cinta, saya gak tau apakah teman-teman yang lain juga jadi korban curhatan apa tidak. Ada baiknya juga loh jadi sasaran curhat, saya sendiri bisa introspeksi dan mengambil hikmah dari setiap masalah teman. Selain itu hitung-hitung belajar menjadi konselor yang baik. Hohoho.. Plis, semoga minggu depan cerita-ceritanya bisa membahagiakan yaaaa..