Saturday, August 10, 2013

Bataviasche Studenten

Tidak terasa, setelah sekian bulan bersibuk-sibuk ria demi kelanjutan sekolah si Ndut (adik saya.red). Keringat bercucuran, pikiran terbelah, plus tenaga bolak-balik bank, ATM, tukang pulsa, kantor pos, dan kampus lain. Pake tambahan dramatisasi emosi se-keluarga. Akhirnya Ndut menemukan juga ‘jodoh’nya. Berita bahagia ini sebenarnya sudah kami terima sejak akhir Juni lalu. Adik saya akhirnya memutuskan untuk melanjutkan sekolah tingginya di Ibu Kota. *leganya hati ini*

Kalo melihat ke belakang, perjuangan mencari si kampus ini memang agak heboh. Dimulai dari keinginan kedua orang tua dan adik saya sendiri juga untuk bisa mengejar sebuah universitas di Bandung, yang merupakan almamater dari Kakak saya juga. Dua kali mencoba tes, sudah pake acara ikut bimbingan belajar segala (adik saya sempat tinggal di Bandung selama 1 bulan, keren banget kan dy..), tapi tidak diterima. Terlepas dari alasan mengapa adik saya tidak keterima, saya lebih suka menganggap hal ini sebagai ‘bukan jodohnya’.

Ndut sempat down, ya iya lha ya, gimana gak down. Ketika hampir semua teman-teman SMA nya sudah punya pegangan universitas, Ndut belum punya. Saya, yang notabene bukan yang menjalaninya juga panik setengah mati. Kakak dan orangtua saya juga. Demi ketenangan batin kami semua (menurut saya, bukan hanya untuk Ndut saja), kami cari alternatif sekolah lain yang lebih mudah untuk masuk alias slot mahasiswa nya masih banyak dan yang pasti tes nya gak suseh-suseh amat. Jatuhlah pilihan pada salah satu universitas di Yogyakarta. Setelah ikut tes univ X ini dan (syukurnya) diterima, kami legaan. Berasanya itu, kalo kemarin suhunya 40 derajat Celcius, sekarang turun jadi 30 derajat Celcius.


Berhubung adik saya sebenarnya tidak ingin sekolah di Jogja (beda dengan saya waktu dulu yang ngotot sekolah ke Jogja, hehehehhe..), kakak saya dan saya juga tau soal ini. Lalu, kami daftarin dy juga ke dua univ. di kota pilihan terakhir, yaitu Jakarta. Kenapa jadi terakhir? Entah gimana, kami sekeluarga seperti punya mindset kalo Jakarta itu tidak kondusif sebagai tempat bersekolah. Well, bisa sih sekolah dan baik-baik saja, tapi untuk berkembang sepenuhnya (ikut kegiatan, bergaul dengan sehat, eksplorasi kehidupan, dll) rasanya sulit. Hidup mahasiswa bisa jadi hanya kampus-kos-mall. Itu pikiran pesimistis nya lho. Tapi, pemikiran optimis nya, karena Jakarta itu keras, kita bisa belajar life-survival lebih dari kota mana-pun. Hehehehehe..

Ndut memang pada dasarnya lebih milih kuliah di Jakarta daripada di Jogja. Alasan dy katanya biar sekalian tau Jakarta, soalnya nanti pas kerja kan bakalan ke Jakarta juga (yang saya tentang habis-habisan, saya kontra kalo kerjaan baik itu hanya bisa didapatkan di Jakarta). Bisa jadi mungkin ada alasan lain yang saya tidak tau. Seperti ketika saya memutuskan sekolah ke Jogja, karena saya sudah malas dibanding-bandingkan dengan Kakak saya, hahahahhaha.. Kalau harus satu kota, atau satu universitas dengannya, rasaanyyaaaa.. Beraaattt sekaliiii.. *confession*

Great. Di univ. yang di Jakarta itu Ndut diterima, dy senang, dan mau mengambil kesempatan tersebut. Diskusi dengan orangtua soal pendanaan mencapai kata sepakat, meskipun pake episode Mama saya uring-uringan mengingat biaya sekolah di Jakarta itu dahsyat sekali jumlah nol nya. Hehehehe.. Menengok ke biaya kuliah saya 5 tahun ini (iya, 5 tahun, sedih yaaa..) sama dengan total uang pangkal + biaya kuliah semester 1 adik saya. Haaaaaaaa.. Makanya dy sudah diwanti-wanti untuk selesai tepat waktu (lebih cepat lebih baik), jangan kebanyakan main kayak saya di sini. Hahahahahaha..

Senin besok ini (tanggal 12) adik saya mulai memasuki masa perkuliahan regular. Saya agak amaze juga dengar berita ini. Saya selalu menganggap Ndut sebagai si anak kelas 5 SD yang manjanya setengah mati. Eh, sekarang, dy udah kuliah aja. Status nya sekarang sama dengan saya (eh, beda donk, saya kan skripsi, hahahah.. XD). Mahasiswa. Si bungsu ini memulai petualangannya di Ibu Kota. Good Luck, Ndut.

best regards,
puji wijaya, waktu berjalan sangat cepat

Thursday, August 8, 2013

A Posting from The Past

Dear me ..
in the next phase of Life

Hi Puji! Apa kabar?
Di tanggal 8 Agustus 2013 ini (tepatnya di sore hari, pas merasa tidak ada kerjaan saat liburan Lebaran) saya membuat posting khusus untuk kamu, saya – di masa depan. Entah esok hari, bulan depan, tahun depan, atau bahkan puluhan tahun ke depan, kamu akan membaca ini, saya ingin posting ini bisa membantu kamu, menghadapi masa-masa sulit mungkin, ketika tidak ada orang lain yang tidak bisa bantu, selain diri kamu sendiri.

Ingatkah kamu, kamu pernah menghadapi saat-saat dimana kamu merasa se-rendah-rendahnya. Merasa jadi orang paling bodoh. Merasa sendirian. Kamu tetap kuat dan kokoh. Sampe-sampe orang lain gak ngeh, dan malah pas kamu cerita, mereka bisa lho bilang ‘Puj, kamu bisa galau juga ya?’ hahahahahhaa.. Jadi, ketika ada sesuatu yang ternyata bisa membuat kamu jatuh lagi. Jangan lupa untuk bangun kembali. Dan satu hal, ingatlah akan saat-saat kamu yang paling kelam, sebab karena itu lah kamu bisa meraih saat-saat paling gemilang (sedikit mencontek dari hasil wawancara subyek skripsi hehehehe..)

Banyak hal yang sebenarnya tidak perlu disesali, kejadian-kejadian menyebalkan, hari-hari sulit, pengalaman buruk, semua ternyata ada fungsinya di kemudian hari. Hal-hal itu justru yang bikin kamu jadi orang yang lebih baik, lebih keren, hehehehe.. Walaupun hidup kamu itu tidak se-mulus jalanan di Amerika, tidak se-lancar air dari keran baru, ato tidak se-enak nasi Hainan, kamu perlu bersyukur, karena hal itu kamu gak disebut-sebut sebagai orang yang ‘too good to be true’. Semua ada perjuangannya.

Suatu hari kalo misalnya ada orang lain yang ngomongin kamu yang negatif-negatif, jangan diambil hati. Jelas lha mereka ngomongin kamu, orang mereka gak mengenal kamu dengan baik (terus gak baca blog ini juga, makanya gak memahami, hehehehe..). Ditelen aja, ntar kan yang baik terserap dan yang jelek terkeluarkan (ingat prinsip pencernaan makhluk hidup). Lame banget, ketika kamu ngerasa jatuh karena ‘kata orang’. Itu gak banget. Yang tau kamu itu ya diri kamu sendiri - konsep terpercaya, 5 taun belajar psikologi hehehehhe..

Di masa depan, mungkin kamu ada kesulitan juga soal pengambilan keputusan. Decision making itu memang sulit, apalagi kalo pilihannya banyak, yang dua aja susah, apalagi yang banyak. Saya percaya dengan kamu, kamu bisa memilihnya dengan bijak. Saran dari teman, keluarga, kerabat, boleh jadi pertimbangan. Tapi, lagi-lagi kamu juga harus punya pikiran sendiri, jangan asal mengikuti, karena tidak semua orang tau posisi dan keadaan kamu. Good luck pilih-pilih, Puji.

Hal terakhir yang ingin saya sampaikan. Ketika kamu mengerjakan sesuatu, kerjakan hal tersebut dengan hati (bukan hanya dengan pikiran dan tenaga), karena hasilnya akan baik. Masih inget kan, beberapa hal yang kamu kerjakan berbuah baik? Nah, seperti itu deh. Saya yakin kamu masih akan pegang prinsip ini sampai nanti-nanti. Saya yakin.

Liburan Lebaran ini, saya memikirkan beberapa hal mengenai masa depan, mengenai Puji di masa depan. Akan jadi apakah nanti si Puji ini. Mau kemanakah saya nantinya. Apalagi di saat saya sedang susah kayak gini (stress skripsi booo.. Kamu ingeettt kaaannn???), luka batin yang ada kalo gak mengubah distress menjadi eustress. Hehehehehe.. Lalu, tiba-tiba punya ide untuk membuat posting untuk diri ini di masa depan. Kalau-kalau mengalami hal yang seperti ini lagi, bebannya (mudah2an) terkurangi setelah baca posting ini. Hehehehe.. Minimal merasa terhibur deh, karena bisa-bisanya ya ada orang kepikiran kayak gini.

Mungkin posting ini mirip time-capsule, kayak di film-film itu, botol yang ditanem di dalam tanah, berhubung saya belum punya rumah tetap, jadi gak punya tanah. Kalo nanem di kampus juga resiko, dimarahin satpam. Terus sekarang kan udah jaman canggih, jaman internet, bolehlah saya menanam time-capsule nya di blog ini dalam bentuk posting. Hehehehehe...

Akhir kata, jangan menyerah Puji ! Lihat saya, bisa menulis ini, kamu pasti se-kuat saya (malah mungkin lebih kuat seiring bertambahnya umur). Hehehehehe.. God bless you. Ganbatte Kudasai.

(sambil baca baik kalo sembari denger album Sleepless Nights-nya Aimer)

best regards
puji wijaya, your self