Friday, April 26, 2013

Visa Amerika Serikat

Halo! Sesuai dengan janji yang telah diutarakan posting2 sebelumnya, saya akan menceritakan proses pembuatan visa Amerika. Hehehehe.. Btw, note ya, mungkin informasi yang saya ceritakan ini sangat umum, so, memang, teman-teman yang ingin jauh lebih detail bisa membuka website www.usembassy.gov , lalu bisa dipilih tempat kedutaan terdekat. Di Indonesia sendiri, ada 3 kantor, yang pertama tentu saja di Jakarta (kedutaan besar), kedua di Surabaya (disebut konsulat jenderal a.k.a konjen) dan yang ketiga di Medan, namun yang di Medan ini hanya kantor representasi saja jadi tidak melayani urusan visa-pervisaan. Hehehehe..

Nah.. Sudah tau tempatnya kan. Kantor ini nantinya akan kita kunjungi untuk interview. Interview? Wawancara? Ribet amat? Hehehehe.. Iya sih memang, visa US memang banyak kewajibannya. Interview dibutuhkan agar jelas juga siapa sih yang mau ke sana, maklum US sebagai negara adidaya XD, kadang jadi sasaran serangan macem-macem (dan aneh-aneh), jadi ya begitulah mereka memproteksi keamanan negara nya dengan sangat membatasi kunjungan orang asing ke negara nya. Lalu, buat kita-kita yang muda belia, masih dalam usia aktif, ketika alasan kepergian tidak terlalu kuat, sangat besar kemungkinan terjadinya penolakan visa. Justru, buat yang usia lanjut, visa justru lebih mudah didapatkan. Saya dengar juga, ketika salah satu anggota keluarga inti (orangtua atau kakak adik kandung) kita ada yang pernah mendapatkan visa US, maka kemungkinan anggota keluarga inti yang lain untuk mendapatkannya juga lebih mudah. US semacam punya database yang canggih gitu deh, makanya bisa melacak.

Lalu, untuk lebih sederhananya pengajuan visa itu mekanisme nya seperti ini:
Apply sendiri
1. Bayar ke bank
2. Isi formulir online
3. Pilih jadwal interview
4. Interview (ditolak/disuruh melengkapi berkas/diterima)
5. Pengambilan visa dalam kurun max. 7 hari aktif
Lewat agen tour & travel (bisa juga lho hehehehhe..)
1. Isi form data diri (biasanya agen punya gitu formatnya) & pengumpulan berkas ke agen. Pembayaran & isi formulir online (dikerjakan oleh agen)
2. Pengecekan berkas oleh agen (lengkap/belum) + pengecekan data diri oleh pengaju (bener apa belum)
3. Kalo udah lengkap penentuan jadwal interview
4. Interview (ditolak/disuruh melengkapi berkas/diterima) - biasanya kalo dengan agen, biasanya berkas pasti lengkap karena udah dicek sebelumnya 
5. Pengambilan visa dalam kurun max. 7 hari aktif (diambilkan oleh agen)

Di Yogyakarta, setau saya tour & travel agen yang melayani applying visa US adalah Nusantara Travel (depan persis Bioskop Empire XXI) dan Bhakti Putera Travel (Jalan magelang KM.5,5). Saya sendiri memakai bantuan agen, karena waktunya sempit dan Dicky-saya mengerjakan banyak hal, jadi biarlah si visa ini dipegang oleh agen. Biaya nya tergantung tiap agen beda2, ratenya sekitar 150 – 400 ribu untuk jasa bantuan aplikasi ini. Untuk biaya visanya sendiri, tergantung apply visa apa, untuk yang paling standar visa B1/B2 (kunjungan singkat, bisnis, ada urusan) adalah 160 USD (dipatok 1 USD 10.000 = 1,6jt IDR). Ada juga yang harganya 120 USD (info lebih lengkapnya bisa lihat di web embassy).

Lalu, sebenarnya apa saja sih yang diperlukan untuk mengajukan permintaan visa? Berikut rangkumannya:
(harus) ASLI
- Paspor (jelas lha yaaa..)
- Foto 5 x 5 cm background putih – beda dari yang lain deh, bukan kayak biasanya
- Surat sponsor
ketika kepergian ke Amerika ini dengan tujuan tertentu semisal bisnis, menghadiri konferensi, pertukaran budaya, dll, disertakan surat dari kantor, organisasi, atau kampus/sekolah yang bersangkutan
FOTOKOPI
- Kartu keluarga (C1)
- Akte lahir
- KTP
- Bukti keuangan 3 bulan terakhir – rekening koran / bank statement
bagi yang perginya urusan kampus/sekolah/kantor/organisasi, yang disertakan adalah bukti keuangan kampus/sekolah/kantor/organisasi bukan bukti keuangan pribadi
- Letter of Acceptance*
- Letter of Invitation*
*semisal : keterima summer camp - disertakan bukti penerimaannya. Atau keterima konferensi – disertakan bukti penerimaan dan undangan dari pihak penyelenggaranya.
Mungkin perlu ditambahkan juga, copy bukti booking pesawat (non-official). Sangat disarankan, sebelum visa keterima, jangan beli tiket pesawat dulu. Pait-paitnya, kalau visa gak keterima, uang pesawat kan juga gak ilang.

Omong-omong soal interview. Untuk interview saya sendiri waktu kemarin memilih di konjen Surabaya, kenapa? Hehehehe.. Kalo dibilang dekat dari Jogja, yaaa tidak juga sih, sama jauhnya dengan Jakarta. Tapi, karena saya belum pernah menginjakan kaki di kota Surabaya, jadilah ke sana saja, sekalian lihat-lihat plus cuci mata Koko2 ganteng wkwkwkwkw.. Lagipula kalo ke Jakarta, saya tidak kuat deh dengan macetnya itu. Konjen Amerika Serikat di Surabaya terletak di pinggir kota Surabaya, lebih tepatnya di kota satelit Ciputra Land. Kalo dari arah kota yang banyak mall nya itu, perjalanan ke sana sekitar 1-2 jam (kalo naik kendaraan umum bisa sampe 3 jam malah). Jauh ya. He-eh si, apalagi waktu itu saya dan teman-teman dalam posisi gak tau jalan dan ga punya peta layak, hahahaha.. Kebayangkan ribeud nya.

Waktu itu, kami survey jalan dulu ke Ciputra Land malam-malam dengan tujuan paginya gak pusing cari jalannya. Ternyata, petunjuk jalan ke arah kantor konjen cukup jelas. Sangat jelas malahan, karena tiap perempatan gitu dikasih petunjuk. Letak si kantor ini emang mojok (pake banget!), malah udah deket ke lapangan golf milik perumahan elit ini. Dari luar kami awalnya ragu, bener gak ya ini kantornya, habisnya pagar nya tinggi gitu. Pintunya kecil pula. Untung ada polisi (yang lumayan, kata Bertha ;p) di situ, kami tanya, dan ternyata memang benar itu kantornya. Hahhahahaa.. Jangan kaget ya, kalo kantor kedutaan yang satu ini memang heboh deh. Penjagaannya sangat ketat, dengan pintu yang berlapis.

Paginya, Dicky-saya ke konjen dengan lancar tentram. Di sana bertemu dengan Pak X, Bapak agen yang membantu kami. Dy membawakan berkas-berkas kami, jadi pas mau masuk. Di luar dicek berkasnya, sama polisi. Lalu, kami juga disuruh mematikan handphone. Sampe di dalam. Kami cek metal detector dulu, semua yang besi2 (kunci, sabuk, flashdisk, dll) dititipkan. Begitu juga makanan-minuman harus dititipkan. Keluar dari ruangan periksa barang tersebut, jalan bentar, lalu masuk ke ruang tunggu interview. Di sini, lagi-lagi saya melewati metal detector, ambil kartu antrian dan nunggu dipanggil. Panggilan pertama untuk kelengkapan berkas, yang melayani, orang Indonesia, agak galak. Terus duduk, nunggu lagi, nanti dipanggil lagi untuk diwawancara. Wawancaranya tidak seperti yang saya bayangkan kita masuk ke dalam ruangan gitu, nggak gitu, tapi di loket. Nah, loketnya itu ya di sebelah ruang tunggu persis. Saya waktu itu, duduk di sebelah persis loket interview, jadilah saya mendengar semua pertanyaan & jawaban interview orang-orang sebelum saya hadooohhh.. Kocak-kocak deh.

Pertanyaan ketika interview standar saja sih, berkisan mengenai tujuan dan pembiayaan. Misal : Ada perlu apa pergi ke US? Berapa lama? Siapa yang membiayai? Di sana ada saudara? Punya usaha apa? Gitu2 aja.. Kebanyakan sih yang saya dengar, orang apply visa itu karena mau mengunjungi anak, mau liburan dan urusan bisnis. Oya, interviewernya orang bule, tapi dia bisa bahasa Indonesia. Jadi, pas wawancara yang udah tua-tua gitu, dy pake bahasa Indonesia, tapi pas interview yang muda-muda, dy pake bahasa Inggris. Hehehhehe.. Jiper juga sih, pas ke sana, kebanyakan keren-keren gitu. Saya sempat liat juga ada yang se-keluarga gitu yang mau liburan, pas ditanyain ‘Bapak kerja apa, punya pegawai berapa?’ jawabnya ‘Perusahaan plastik, pegawai saya sekitar 1600’ w.o.w juragan2 deh yang ada di situ. Waaaaa.. Terus saya juga dengar ada yang pebisnis Harley Davidson Surabaya, pemilik usaha trading pupuk, dll deh, heboh-heboh yaaaa..

Senang rasanya, ketika mengetahui visa Dicky-saya keterima. Kami mengetahui kabar tersebut langsung ketika hari itu juga. Nah, selang beberapa hari, kami diberitahu lewat e-mail kalau visa sudah jadi dan bisa diambil. Daaannn.. Ketika paspor dengan stiker visa datang… Surprise kedua, saya mendapatkan visa dengan masa berlaku 5 tahun. Waaaaa.. Senangnya bukan main deh. Thanks US embassy, sudah mempercayai saya.

best regards,
puji wijaya, ayoo memanfaatkan visa 5 tahun ini

Thursday, April 11, 2013

Let us Go Then


Aloha!
Sebelum bercerita tentang visa Amerika Serikat, mungkin ada baiknya apabila saya menceritakan terlebih dahulu mengapa saya bisa ada rencana untuk pergi ke Amerika Serikat. Jadi, teman-temin, saya pergi ke sana dalam rangka menghadiri sebuah konferensi. Koq bisa menghadiri konferensi? Flashback dulu yaaa.. 

Bulan Februari - Juni 2012 lalu, fakultas saya kedatangan tamu seorang dosen dari Holy Cross College, Amerika Serikat. Kami memanggilnya Ms. D. Ms. D ini adalah seorang developmental psychologist, Prof. dari sekolah tersebut. Tujuan beliau kemari adalah untuk mengajar 1 semester dan mengadakan penelitian, ada dua penelitiannya mengenai role-gender serta math learning. Saya dan teman seperjuangan saya, Dicky, mengajukan diri menjadi asisten penelitian Ms.D dan kami memilih mengerjakan proyek math learning. Kami diterima dan jadilah kami seksi rempong sejagad raya, ngerjain ini-itu, mulai dari brainstrorming konsep sampe ke pelaksanaan. Setiap pagi harus koordinasi dengan para experimenter dan ke sekolah. Kejar-kejaran dengan waktu dan membagi porsi dengan tugas perkuliahan lainnya.

Finally, proyek penelitian itu selesai tepat pada waktunya. Ms. D pulang ke negara asalnya dan kami yaaa menjadi mahasiswa skripsi. Akhir 2012 sekitar di bulan November, Ms. D memberitau kami, bahwa ia akan memasukkan hasil penelitian ini ke sebuah konferensi. Kami sih senang saja hehehehe.. Nothing to lose juga kan, kalo lolos ya senang kalo tidak ya tidak apa-apa gitu. Lamaaa setelah pemberitaan itu. Saya aja hampir lupa deh, di bulan Januari 2013 kami diberitau oleh Ms.D bahwa paper kami keterima konferensi. Bahagianya bukan main. Waktu itu si di otak saya, syukur banget punya publikasi lain selain skripsi, tapi.. tapi.. tapi.. Belakangan, Ms. D dan pihak fakultas menginginkan kami pergi ke konferensi tersebut. Whaaattttt??? Ini berarti.. Yaaa.. Dicky-puji kalian pergi ya ke Amerika Serikat. Oh God!


Restu dari fakultas mengenai kepergian ini berimplikasi ke banyak hal, bisa dibagi ke positif dan negatif. Positifnya, yaaa kapan lagi coba pergi ke sana dengan tujuan 'konferensi', dengan tujuan liburan pun mungkin suatu hal yang agak mustahil mengingat tingginya biaya untuk pergi ke sana. Lalu, ini ni cool banget gitu, mahasiswa belum sarjana, apalagi saya, semester segini belum lulus, eh malah dapet kesempatan mencicipi pengalaman internasional. Kakak dan teman-teman saya bilang, banyak mahasiswa bisa lulus tepat waktu, punya nilai yang baik di kampus, aktif di organisasi, tapi.. Mahasiswa yang pergi ke luar negeri dalam rangka hadir konferensi penelitian internasional bawa nama pribadi dan kampus, itu one in a million.

Negatifnya, hmmm sebenarnya sih tidak negatif-negatif banget sih, negatif untuk ke yang positif juga. Ada banyak hal yang harus diurus, agak rempong. Seperti membuat proposal travel grant, kirim proposal kemana-mana untuk pendanaan, urus visa, tiket pesawat, dan penginapan. Waaahhh.. Heboh bener deh. Sudah mana waktunya sangat sempit. Full di bulan Februari kami mengurus proposal. Di bulan Maret kami mengurusi penerbangan dan visa yang ternyata tidak sesimpel kedengarannya. Capeknya itu setara kayak kuliah 15 SKS kali ya. Hehehehehe.. Tapi yaaa, itu bagian dari perjuangan. Kalo gak mau cape, ya tidak jadi pergi. 

Hmmmm.. Then, sekarang kami tinggal menghitung hari keberangkatan. Nervous?? Yaaa.. Sangat deh. Di sisi lain, saya senang karena bisa menggapai satu lagi impian yang tergantung di langit-langit kamar.

Come on, we rocks you, Seattle!

best regards,
puji wijaya, .... *hening dan tersenyum*

Sunday, April 7, 2013

Kisah di Kota Ikan Hiu dan Buaya

Judulnya alay ya. Heheheheh.. Kapan lagi bisa mengalay, selain di blog pribadi. Baiklah teman-teman sedikit bercerita mengenai melipirnya saya dan beberapa teman ke kota tetangga. Solo?? Bukaaannn.. Semarang.. Ahh.. Bukan jugaaaa.. *lihatjudul* aha, Surabaya? Yappp.. Surabaya (Sura= Ikan Hiu, Baya=Buaya). Tanggal 2 April siang, kami berangkat dari Jogja menuju Surabaya. Dengan personil Dicky, Tinna & Bertha. Sebenarnya yang berkepentingan ke sana adalah Dicky & saya, karena kami mau interview visa Amerika Serikat (perihal ini akan diceritakan di posting berikutnya). Tapi berhubung, sepi aja nih kalau cuma berdua, so, kami mengajak Tinna. Nah, berhubung kami bertiga ini sedang satu tempat les Inggris bareng Bertha, jadi ngajakin Bertha juga. Hehehehehe.. Jadilah kami ber4, manis manja grup berpetualang ke Surabaya yang notabene dari kami ber4 pun ga ada yang pernah ke sana. Berbekal Evan (mobil Dicky), peta abal-abal Jogja-Surabaya download dari internet, niat yang tulus, serta doa dari orangtua kami. Pergilah kami keee.. Surabaya.

Perjalanan ke Surabaya ini cukup spesial, karena pertama, ini adalah kali pertama Evan dibawa ke luar kota yang jauh banget. Kedua, ini kali pertama juga buat Dicky menyetir nonstop ke luar kota dengan jarak tempuh yang ehem lumayan. Ketiga, bagi Dicky, Tinna, saya, perjalanan ini merupakan the first journey yang dilakukan bersama teman-teman lewat jalan darat dan memakai kendaraan pribadi. Keempat, bagi kami berempat, ini pertama kalinya kami menginjakan kaki ke kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya. So, cukup bersejarah, bukan.

Berhubung kami berangkatnya siang, di tengah matahari telah terbenam kami masih di perjalanan antar kota ini. Fyi, rute Yogyakarta-Surabaya tidaklah sulit. Kami memakai rute yang paling mudah yaitu Yogyakarta  Klaten – Solo – Sragen – (Hutan Mantingan) – Nganjuk – Ngawi – Jombang – Mojokerto – Surabaya. Rute ini adalah rute paling standar. Bisa juga sih ditempuh dengan lewat Magetan atau Wonogiri, tapi Mbah Google berkata rute tersebut cukup heboh, karena jalannya naik turun bukit. Jadi, kami kan masih pemula, jadi ya pake rute yang biasa-biasa saja. Hehehehe.. Toh semua2nya punya tujuan yang sama.

Cerita singkat mengenai rute perjalanan ini, karena kami berangkatnya bukan weekend/hari libur. Jadi jalan lancar-lancar saja. Hanya, dari arah berlawanan (dari Timur menuju ke Barat) memang lebih ramai. Entah kenapa begitu. Lalu, biarpun kami lewat pinggiran kota-kota transit tapi ramai koq. Kalau misal lapar atau capek di jalan, pom bensin, minimarket, dan warung makan tersebar, jadi jangan khawatir bakal pingsan di jalan. Yang menarik adalah ketika kami melewati Hutan Mantingan, asik lhooo. Tempatnya seperti syuting film Twilight, kanan-kiri pohon tinggi-tinggi hijau, suasana agak gloomy apalagi kalau ditambah hujan. Hmmmm.. Dan kalau perginya bareng pacar, sepertinya bakal romantis. Wkwkwkwkwwkwk..

Sampai di tujuan, sekitar jam setengah 12 malam, kami euphoria, heboh banget di dalem mobil tereak-tereak sambil nyanyi ‘Put Your Hands Up’-nya 2PM. Habis, seperti prestasi tersendiri gitu bisa sampe sana, apalagi di tengah keadaan kami yang tidak punya GPS atau peta yang layak. Hehehehhehe.. Puter-puter kota sekitar setengah jam, lalu kami memutuskan untuk pergi ke Ciputra Land tempat si Konsulat Jenderal (KonJen) Amerika Serikat berada. Kalau besok pagi baru ke sana, berabe deh ga tau jalan begini. Dari Surabaya, Ciputra Land agak jauh, pake nyasar-tanya2 kita sampe sana baru sekitar jam 1 malam. Pake acara muter-muter Ciputra Land juga lihat-lihat perumahannya yang elit punya itu. Hehehehehe.. Btw, sebelumnya, kami sudah menghubungi Kakak angkatan kami, Ko Liem, yang sekarang jadi dosen di Universitas Ciputra, jadi lumayan lha dapet gambaran sedikit tentang Ciputra Land. Puter-puter, sudah liat kantor KonJen nya juga, lalu kami sudah pasrah deh tidak bisa tidur di hotel karena sudah agak pagi. Jadilah kami nginep di mobil yang diparkirkan di McDonald setempat. Paginya dengan badan pegal-pegal, kami cuci muka dan gosok gigi di pom bensin. Wehehehehehe..

Selesai interview visa, kami menuju ke Kota Surabaya, sekalian pulang Jogja. Mumpung lagi ada di Surabaya, jadi kami sekalian deh main ke Tunjungan Plaza. Di sinilah kehebohan terjadi. Ingatlah teman-temin bahwa pergi ke suatu kota itu yang bikin bingung ketika kita sudah masuk ke kota tersebut. Jalanan ketika tengah malam jelas beda, di siang hari, Surabaya tidak jauh beda dengan kota besar lainnya. Panas dan ramai. Untungnya tidak semacet di Jakarta sih, tapi tetap saja kendaraannya banyak, mepet-mepet bikin emosi. Sudah gitu, kita nyasar-nyasar gitu, cari jalan ke Tunjungan Plaza sampe 1 jam sendiri. Hadeuuhhh.. Untunglah akhirnya bisa ketemu. Sujud syukur deh.

Tunjungan Plaza juga tidak ubahnya mall2 lainnya di kota besar. Bedanya Tunjungan Plaza ini super luas saja, saya dengar dari teman kos, Tunjungan Plaza itu 4 mall yang dijadikan satu. WoW!! Mungkin sehari saja gak cukup deh buat muter-muter, apalagi kami hanya dua jam di sana, kayaknya kami hanya menjelajahi se-iprit doank dari ni mall. Hehehhehehe.. Daaaann yaaakkk habis makan di sana, puter-puter lihat toko lalu capcus pulang deh ke Jogjaaaa..
Hmmmm.. Cukup menyenangkan juga sih.. Ayookkk, menjelajah Surabaya lagi, next time. :D

best regards
puji wijaya, om-nom-nom

Friday, April 5, 2013

Kiddy's Story

Seharusnya posting ini saya post tahun 2012 awal. Ketika Kiddy secara official dinyatakan 'pensiun'.

Kiddy, adalah nama yang saya berikan untuk kamera digital pertama di keluarga saya, yaitu sebuah kamera Kodak C340 easy share. Dulu, Kiddy dibeli oleh Kakak saya. Saya ingat sekali, Juni 2006, Kakak saya mendapatkan kesempatan emas bersama paduan suara kampusnya tampil di Milan, Italia. Pertama kalinya dalam sejarah keluarga saya ada yang ke luar negeri dan langsung jauh banget ke tanah Eropa. Tidak mau menyia-nyiakan momen, butuh donk ya yang namanya kamera. Dulu, Kiddy ini termasuk kamera poket canggih. 5 megapiksel, punya flash, ada view-findernya juga. Pokoknya kamera idaman sekali. Harganya juga lumayan 1,5 juta rupiah tidak terlalu mahal dan juga tidak murahan. :) Pulang dari keliling-keliling Eropa, Kiddy tetap dibawa Kakak saya. Sampai akhirnya saya kuliah, karena saya merasa perlu untuk poto2 jadilah Kakak saya meminjamkan Kiddy kepada saya.

Fyi, dari kelas 5 SD saya sudah bawa-bawa kamera. Papa saya punya kamera rol film merek Fuji (yang entah sekarang kemanain yaaa..). Dulu, saya gak boleh pegang-pegang kamera itu, tapi entah gimana ceritanya, pada akhirnya saya boleh juga menyentuh kamera itu daaaann membawanya ke sekolah. Saya senangnya bukan main. Bagi saya kamera itu adalah the coolest thing i've ever had (waktu SD). Tiap ada acara Paskahan atau Natalan atau acara pensi dan acara sekolahan, saya pasti bawa tu kamera. Bak fotografer profesional, saya potret sana-sini, dan saya juga selalu menunggu waktu-waktu pencucian film. Melihat foto-foto hasil jepretan sendiri bisa makan waktu berjam-jam. Ada sensasi tersendiri ketika melihat hal tersebut. Namun, rasa senang terhadap kamera itu hanya SD-SMP awal saya. SMP akhir - SMA saya malah blas melupakan hal-hal yang berhubungan dengan kamera, saya doyan hal lain, waktu itu main basket dan les mata pelajaran.

Ketika Kiddy hadir dalam keluarga saya, jadi inget lagi saya dengan kegemaran saya yang satu itu. Ditambah ketika masuk kuliah, sepertinya sedang booming orang-orang punya kamera. Apalagi kamera DSLR. tak mampu beli DSLR yaaa saya pinjem aja tu si Kiddy ke Kakak saya. Beberapa tahun Kiddy bersama-sama dengan saya, Kiddy menemani saya juga di momen-momen penting nan bahagia dalam hidup. Salah satunya ketika saya ikutan student camp ke Korea Selatan di tahun 2010, momen saya doyan-doyannya lihat pagelaran tari dan konser-konser jazz., momen hobi bersepeda saya, momen keterlibatan penelitian pertama saya dan banyaaakk lagiiii. Walaupun dy tidak secanggih kamera DSLR, Kiddy tetap terbaik menurut saya. *jadisedih*.

Kiddy mulai tidak beres ketika hampir akhir tahun 2011, entah kenapa dy selalu mengambil cahaya kebanyakan. Jadi kalo foto di luar ruangan, malah jadi terang banget. Bener-bener konsletnya ketika Kiddy dipinjam oleh teman saya untuk dibawa ke Malaysia. Ternyata sampe di sana Kiddy ngambek dan ga mau nyala. Pulang-pulang saya utak-atik ga bisa, saya bawa ke tempat servisan khusus kamera digital. Ternyata, komponen Kiddy ada yang berjamur dan harus diganti, tapi karena Kiddy kamera lama dan posisi Kodak juga sudah gulung tikar, jadi tidak bisa dibenerin. Saya sedih juga tu.. Hmmm.. Cuma ya, saya juga mikir, mungkin memang sudah umurnya. Jadi dari akhir tahun 2011 sampai dengan awal 2013 ini, saya memang tidak pegang kamera. Lalu, saya nabung mati-matian deh buat beli kamera baru.

Aaaaaanndddd.. Tepat pada tanggal 1 April 2013. Akhirnyaaaa.. Saya membeli kamera. Proses pilih-pilihnya sudah dari bulan Desember 2012 kemarin, hanya ketunda-tunda terus dan baru bisa beli kemarin ini. Senangnya, akhirnya ada penerus Kiddy. Thanks untuk Mama-Papa yang sudah bersedia patungan untuk beli kamera. Heheheheheh.. Setelah pemikiran panjang, saya memilih Canon G15, kamera semi-pro. Saya tidak membeli DSLR karena tidak bisa kompromi dengan body nya yang gede banget dan bikin cape kalo dibawa-bawa. Hehehehe.. Kalo kamera semi-pro ini (atau biasa disebut kamera prosumer) punya kualitas gambar mendekati DSLR, bisa dipakai dengan mode manual, dan fisiknya compact. Tapi memang harganya jadi agak mahal.

Saya menamai adiknya Kiddy ini Gie.
Gie baik-baik yaaa sama si puji. :) mari yuukk Gie kita bersama-sama melihat dunia dan berpetualang.

best regards,
puji wijaya, aktif lagi foto-foto