Friday, October 23, 2015

Yang Namanya Ramalan

Ada beberapa orang yang memang punya kelebihan untuk dapat memprediksi kehidupan, bisa dibilang feeling dan insting nya sangat amat kuat sehingga dia bisa menangkap gelombang-gelombang tak kasat mata wuedihhh berat banget yah. Nah tetapi ada juga yang bisa memprediksi karena lihai menganalisis dan mengobservasi kejadian-kejadian sebelumnya, maka itu dia bisa ‘melihat’ kejadian yang akan datang, tipe ini lebih bisa diterima oleh akal sehat sih. Tapi yang mana pun tipenya, saya pribadi percaya ada hal yang begini-begini, hanya kadang tidak ingin dibawa atau dipikirkan secara berlebihan aja. Ibaratnya kalau dapat goodnews ya saya senang dengarnya tapi tidak lalu jadi terlena, dan kalau dapat badnews diterima aja gak usah dibawa pusing.

Keluarga saya bukan keluarga klenik, yang percaya hal-hal berbau supranatural. Tapi belakangan Mama saya kadang suka berlebihan juga menanggapi sebuah ramalan, saya jadi bingung nanggepin kalau topiknya sudah ‘kata si X nanti kamu akan bla.. bla.. dan bla..’. Di lingkungan keluarga saya, ada salah satu Om yang jago sekali soal beginian, yang sampai sekarang saya terkadang merasa geli sendiri kalau sudah dengar ramalan-ramalan beliau. Mama Papa saya sudah sejak lama sering ditebak-tebak berhadiah oleh si Om, dan herannya dalam kurun waktu tertentu memang hal-hal yang dia prediksi tepat adanya. Sugoi, hebat bener kan. Saya gak tau juga sih apakah ini sugesti atau gimana, tapi hal-hal yang ditebaknya adalah kejadian yang cukup spesifik.

Keheranan saya makin menjadi, ketika saya bertemu dengan si Om lalu biasa lah dia akan membaca-baca saya secara kepribadian dan apa yang akan terjadi di masa depan, termasuk soal karir dan jodoh. Saya sih sangat curiga, awalnya Mama Papa saya sudah pernah cerita briefly tentang saya, jadi si Om ini akan menyimpulkan fakta-fakta yang telah dia terima. Sayang aja kali ini prediksinya soal ‘me as a person’ meleset, apalagi setelah menebak saya adalah anak yang rajin belajar dan teratur. Well, saya gak tau juga liatnya dari mana, kalaupun ada sesuatu yang bisikin, kayaknya tu salah info deh Om. Aslinya, saya itu laid back banget dan punya sifat menggampangkan sesuatu yang sering membuat hidup saya sulit sendiri, ditambah dengan kebiasaan prokrastinasi yang sama besarnya. Lalu sehabis tebak-tebak tentang kepribadian, saya dicoba dibaca, katanya masa depan saya akan mandiri dan punya pekerjaan yang baik. Well, mendapatkan informasi seperti ini di kala saya sedang galau-galaunya dengan masa depan terasa mendapatkan penguatan juga. Makasih banyak lho Om.

Mama saya yang kayaknya keasyikkan ‘diramal’ lalu nanya macam-macam soal kampung halaman kami, apakah prospeknya bagus, bisnis apakah yang nanti akan berkembang, apa yang terjadi di kampung bertahun-tahun yang akan datang. Lalu sampailah pada pertanyaan ‘Adakah dari antara anak Mama Papa saya yang akan meneruskan usaha keluarga?’ waktu itu saya dan Adek saya juga lagi ikut nimbrung, pengen tau banget jawabannya. Seolah-olah si Om mengetahui isi otak kami berdua, Om bilang ‘Tidak ada. Semua akan keluar dari kampung. Mama Papa tetap berdua jadi penunggu toko’ saya dan Ndut langsung ngakak dan berkomentar ‘Wah lega yah..’ well, stay di rumah dan meneruskan usaha keluarga adalah nightmare buat kami semua. Saya sendiri selalu sedih ketika Mama saya selalu menyuruh pulang dan ketika pulang ‘memprospek’ saya untuk mau meneruskan usaha keluarga. Saya jadi bertanya-tanya, apakah Mama tidak mau anaknya jauh lebih berkembang? Apakah ekspetasinya terhadap anak-anak hanya segitu saja?

Ramalan biarlah menjadi ramalan. Dan harus bijak juga ditanggapinya. Selain pengalaman ramal-meramal oleh si Om, saya juga pernah dengar ramalan via kartu Tarot, dan juga oleh dukun. Kalo cerita yang tentang kartu Tarot ini ga terlalu berkesan, karena waktu itu hanya iseng bayar 10ribu untuk minta dibuka satu kartu dan si pembaca Tarot mendeskripsikannya dengan sangat diplomatis sekali – nothing personal. Nah kalau dengan dukun ini kocak juga karena bukan saya yang nanya, tapi ada seseorang yang membenci saya lalu dia datang ke orang pintar untuk bertanya soal diri saya (saya taunya ini juga karena tidak sengaja). Sang orang pintar ini membaca bahwa saya adalah orang yang dominan lalu kalau dekat-dekat dengan saya terlalu lama (misal menjadi pasangan hidup) orang ini akan mengalami sakit penyakit – lalu dijembrengin lha sakit itu darah tinggi lha, diabetes mellitus, sakit jantung, gagal ginjal.

Pas saya tau cerita ini, saya mangap. Gilak sakti banget saya sampe bisa nyebarin penyakit-penyakit kayak gituan. Lagipula soal saya itu dominan, salah besar abis. Pada kenyataannya saya bukanlah orang yang dominan, saya jadi dominan hanya pada saat tertentu ketika tidak ada orang lain yang dominan, dan kemudian saya berperan dominan. Tetapi secara umum, saya tu submissive karena saya cari aman, saya tidak memaksakan kehendak saya kalau memang tidak fit in, kesannya dari ramalan itu saya nih saking dominannya sampai bikin orang lain rugi. Pusing deh difitnah sama dukun. Ya kocaknya, si klien dukun percaya mentah-mentah dengan perkataan dukun (mungkin sudah langganan kali ya). Saya gak bisa ngapa-ngapain kalau kayak gini, dukun udah bertindak, untungnya aja saya ga dikirim penyakit macam-macam. Susah juga kalau terlampau percaya dengan ramalan, maka saya suka ngomong juga ke Mama saya supaya tidak menanggapi ramalan terlalu berlebihan, jangan sampai hidup kita tuh bertumpu pada hal-hal seperti itu.

Bagaimanapun yang menciptakan masa depan kita, adalah kita sendiri bukan? Jika ada yang bilang Tuhan sudah menggariskan dan sudah mentakdirkan, tetapi apakah berarti apa yang kita lakukan itu tidak berpengaruh? Kok pasrah banget kesannya. We all make our own fate. Pendapat saya sih gitu, kalau orang lain punya pemikiran berbeda juga boleh. Hehehe.. Bye!

Monday, October 19, 2015

Manusia Sedang-Sedang Saja

Saya itu orangnya rata-rata banget. Saya belum pernah jadi expert, tapi bukan berarti juga apa yang saya kuasai terlalu dasar, pokoknya di tengah-tengah. Kemampuan kognitif saya juga rata-rata, meski tidak pernah tau IQ saya berapa, tapi saya jamin IQ saya tidak lebih dari 110, seperti 90% manusia lainnya. Gak tau, bawaan anak tengah atau gimana. Sekian puluh tahun hidup, saya belum pernah sih being expertise, kayaknya skill saya itu moderate banget. Sedang-sedang saja. Contohnya, saya bisa main gitar tapi gak terus jadi gitaris yang menang lomba berturut-turut atau manggung sana-sini, saya bisa kendo tapi saya juga tidak jadi yang paling keren di dojo, saya bisa gambar tapi gambar saya standar aja loh, banyak yang bilang lucu, tapi lebih banyak yang lebih lucu. Nah lho! Jadi sebenarnya saya ini gimana sih?

Begitu tengah-tengahnya kemampuan saya juga terlihat dari nilai saya selama mengecap bangku sekolah. Dari TK sampai dengan kuliah, saya bukanlah anak yang paling pintar di kelas, tapi saya juga ga ketinggalan banget. Ranking saya waktu jaman sekolah juga gitu-gitu aja, masuk 10 besar tapi mentok gak bisa top 5. Pernah sekali ranking 2 waktu SMP kelas 3, tapi tidak terlalu istimewa karena nilai saya dengan yang ranking 1 jaraknya jauh banget. SMA gak ada ranking2an, tapi ada kejadian lucu ketika kenaikan kelas 2 SMA dan penjurusan. Karena nilai rapot saya kebanyakan nilai 7, guru saya nanya ke Papa, Puji mau masuk IPA atau IPS, saya bingung dan memilih opsi mudah saja lah. Saya pilih masuk IPS karena di IPA malas bertemu Fisika. Ternyata di IPS saya babak belur dengan ekonomi dan akuntansi hahahahaha.. Saya bingung sebenarnya saya ini bisa apa. Masuk kuliah, kebanyakan nilai saya B, iya nilai B, menyebalkan, mana di kampus saya tidak ada nilai B plus atau B minus, jadi ya sudah lah makan itu B bulat, bikin transkrip nilai saya juga ‘rata-rata’.

Karena kerata-rataan saya ini, saya sejujurnya bingung menghadapi kehidupan selanjutnya. Pertanyaan ‘mau apa?’ ‘mau dibawa kemana?’ itu seperti nightmare tersendiri. Senang untuk teman-teman yang mengetahui kemanakah hidupnya ini akan berlabuh (happ ciehhhhh..), punya target di depan mata yang kelap-kelip dan terang. Lha saya? Hmmmm.. Untuk memilih mau ngapain aja, jadi dilematis. Seperti contohnya begini yang paling gampang, mau bekerja dimana? Pilihan saya banyak, toh jadi apa saja saya bisa-bisa aja, karena prinsipnya belajar, dibilang suka yang mana, banyak juga yang saya sukai, jadi mau jadi HRD, mau jadi social worker, mau jadi anak marketing, atau apapun – saya pasti excited belajarnya. Saya itu orang nya bosenan, jadi kalau terlalu lama dalam suatu pekerjaan kayaknya ga banget juga deh, saya kadang mikir apa saya itu kutu loncat ya, tipe yang anget-anget tai ayam, tapi gak juga buktinya kata ‘bosan’ tidak serta merta membuat saya tidak fokus, saya hanya butuh selingan laen aja supaya bisa keep on the track. Saya termasuk yang komit mengerjakan sesuatu yang saya geluti.

Orangtua saya juga kadang bingung sendiri dengan saya. Karena mereka juga bukan yang tipe menggiring masa depan anak, mereka sangat liberal, hmmm.. mungkin lebih tepatnya tidak terbiasa memperhatikan anak jadi ya diserahkan ke anaknya saja mau bagaimana. Nah, dari kira-kira sebulan yang lalu, orangtua saya mulailah pedekate, dan mulai mengutarakan ide-ide mereka mengenai masa depan saya. Dimulai dari Mama saya, beliau cerita tentang toko dan berbagai hal tentang menyenangkannya berdagang, di tengah pembicaraan disisipi pesan-pesan sponsor agar saya mau untuk meneruskan usaha keluarga. Mengenai ide berdagang – it is not a bad idea actually, saya tertarik juga dengan bisnis tapi melihat segala macam permasalahan yang Mama Papa alami, ditambah kalau saya meneruskan usaha ini lalu saya akan terkungkung di kampung halaman dengan rutinitas yang begitu-begitu saja, saya hopeless menjadi orang yang berguna untuk masyarakat. Ditambah trauma masa lalu, toko yang meski menjadi topangan hidup kami tetapi juga membuat orangtua saya jadi kurang perhatian. Apakah lalu saya harus mengulang ritme keluarga yang sama? Apalagi saya juga kurang kompak dengan Mama Papa, bisa-bisa setiap hari bertengkar.

Sehabis Mama, datanglah Papa saya punya ide bagaimana kalau saya menulis untuk surat kabar. Berhubung menurut dia saya memiliki kemampuan merangkai kata-kata yang cukup baik. Dibalik alasan ini, perlu diketahui, Papa saya itu Bapak-Bapak pembaca koran sejati, dia juga memiliki interest pada dunia sosial politik yang sangat besar, maklum dulu kuliahnya di fakultas hukum. Mendukung saya untuk menjadi penulis berita, wartawan, atau orang yang berkecimpung di dunia politik itu cukup keren sebenarnya. Tapi apalah dayaku dengan otak pas-pasan begini, baca beritapun pilih-pilih dan cenderung cuek dengan apa yang terjadi di negara ini, tidak cukup membuat niat untuk menjadi penulis berita itu muncul. Papa memang benar bahwa saya suka menulis, tapi apakah saya sanggup menulis untuk berita, fakta, opini kritis, resensi, atau apa saja lah itu yang ada di koran. Malah pikir saya, saya cocoknya menulis untuk tabloid gosip atu majalah anak-anak. Hehehe.. Atau ya sudahlah menulis blog saja. Opsi menulis ini baik, walaupun obyek tulisannya kurang tepat. Saya lebih mempertimbangkan hal ini dibandingkan ide Mama saya untuk berdagang.

Ya, masih bingung juga si mau apa. Ngobrol dengan teman-teman sebaya, mereka mendukung saya untuk tetap lanjut menulis dimanapun itu. Mereka juga percaya jika saya menjalankan bisnis, pasti akan jalan melihat saya juga tidak buta-buta amat di dunia dagang dan marketing. Hahahaaa coba gimanaaa.. Saking rata-ratanya saya, orang-orang di sekitar pun jadi bingung. Masih mikir nih ya. Satu-satunya yang saya ingini sih mau jadi turis saja lah, hahahaha.. Kalau yang ini semua orang juga pasti mau.


Thursday, October 15, 2015

Ngobrol Agama

Beberapa hari yang lalu publik dikejutkan dengan insiden pembakaran sebuah rumah ibadah di ujung barat NKRI. Saya kaget? Kalau melihat tema insidennya, sebenarnya tidak terlalu kaget karena tidak dapat dipungkiri negara kita memang masih rawan dengan issue berbau SARA, tidak lama sebelum itu, beberapa bulan lalu ada kejadian serupa. Tahun lalu juga ada kejadian yang mirip, mendengar berita ini seperti menjadi kebal, mungkin saya kedengerannya bak manusia tidak punya hati ya menganggap kejadian ini bagai kejadian yang ‘biasa’, tapi itulah realitanya. Masyarakat kita belum mampu mengontrol diri untuk tidak mencampuradukan segala permasalahan dengan sebuah kata bernama ‘agama’.

Agama yang sejatinya membimbing manusia untuk menjadi lebih baik, nyatanya menghancurkan manusianya itu sendiri. Kerusuhan, pembakaran, pengeboman, penculikan, dan segala tindakan yang merugikan umat manusia lainnya dilakukan dengan bawa-bawa nama agama. Lho, katanya mau memuliakan Tuhan tapi koq caranya justru memberikan penderitaan pada makhluk yang diciptakan Tuhan? Ironis memang. Saya setuju dengan pendapat bahwa tidak seharusnya agama dibuntuti oleh kepentingan-kepentingan yang lain, semisal politik berbasis agama, ilmu pengetahuan yang sesuai kitab suci, dll. It is messed up. Saya senang bagaimana orang barat mengganggap agama adalah urusan yang personal dan tidak usah disinggung-singgung dalam pergaulan sosial. It is good to know you as a Christian, Muslim, Buddhist or whatever, tapi ya gak juga lalu agama jadi dasar utama bagaimana kita memperlakukan orang lain, apalagi sampai menimbulkan suudzon.

Obrolan mengenai agama sering tercetus ketika berkumpul dengan teman-teman dekat. Gak lama, saya juga membahas ini bersama teman-teman. Waktu itu temanya adalah berdoa dan perbuatan baik. Menurut teman saya yang satu, sebut saja si A, perbuatan baik itu lebih penting daripada manusia selalu berdoa tapi kelakuan minus, memang sih banyak contoh (termasuk di lingkungan terdekat saya) bagaimana seseorang yang katanya mempunyai iman besar ternyata masih bisa-bisa nya jahatin orang lain. Lalu, teman B berpendapat bahwa doa itu juga penting, idealnya dua2nya jalan bersamaan, doa jalan perbuatan baik juga jalan. Menurutnya, beribadah itu seperti recharge dengan Tuhan, Tuhan itu tidak butuh manusia menyembahNya, tetapi yang sebetulnya butuh adalah manusianya itu sendiri. Manusia butuh pegangan, manusia butuh kendali.

Setelah itu, giliran saya yang berpendapat, jujur saya sendiri lebih sependapat dengan Teman A. Saya itu bukan orang yang religius, doa saya bolong-bolong, dan ketika saya tidak ingin pergi ke tempat ibadah kenapa juga saya harus pergi ke sana. Doa di rumah dengan khusyuk itu jauh lebih meaning daripada doa di tempat ibadah tapi pikiran kemana-mana dan gak konsen. Doa dan ibadah itu urusan personal antara saya dengan Tuhan, sedangkan perbuatan baik itu urusan antara saya dengan manusia lain (yang dipercayai ciptaan Tuhan). Maka saya menganggap ketika saya berbuat baik kepada orang lain, saya juga menghargai Tuhan. So, saya mengedepankan untuk mengamalkan iman dalam bentuk perbuatan dibanding doa.

Tetapi, pendapat B juga tidak salah, di sini tidak ada yang mana yang benar mana yang salah. Mengutip kata dosen pembimbing, agama itu based on personality. Coba pikir, koq bisa manusia itu terkelompok ke dalam agama ini dan itu, kalau ditanya kenapa menganut agama X? Mungkin kebanyakan akan menjawab ya karena keluarga saya agamanya ini, tapi akan ada yang menjawab karena saya merasa nyaman. Kenapa merasa nyaman? Karena kepercayaan ini cocok dengan personality nya. Kalau Teman B merasa inilah yang terbaik untuk saya untuk rajin beribadah dan berbuat baik, itu baik untuk dia. Lalu ketika Teman A dan saya lebih pas untuk mengedepankan amal perbuatan dibandingkan koar-koar berdoa, kan ini juga yang terbaik buat kami. So, tidak ada yang lebih benar dan lebih salah dalam hal ini. Sah-sah saja kalau manusia punya manifestasi iman yang berbeda. Gak usah terlalu chauvinis.

Pembicaraan lain yang menggelitik adalah soal surga dan neraka. Teman B percaya bahwa setiap orang itu harus percaya dengan satu Tuhan – sebut saja namanya Tuhan X, empunya agama X. Karena dengan percaya dengan Tuhan yang satu ini maka kita semua akan masuk surga. Teman A waktu itu tidak terlalu banyak berpendapat, jadi topik ini bahasan saya dengan Teman B. Lalu, saya bilang, saya percaya dengan kehidupan lain setelah kita semua mati, tapi untuk membagi manusia mana masuk surga dan mana masuk neraka itu terlalu distinctive. Faktanya tidak ada manusia yang benar-benar baik, dan tidak ada manusia yang benar-benar jahat. Dan kalau ada yang bilang untuk masuk surga, khayangan, lahir baru, apapun itu sebutannya harus melalui jalan tertentu semisal harus menganut agama X, munafik banget menurut saya, secara tidak langsung menyalahkan agama atau kepercayaan yang lain. Dan ini sih yang membuat gawat, orang jadi menyalahkan satu sama lain hanya karena kepercayaan dia beda dengan kita, Tuhan dia beda dengan Tuhan kita.

Tema masuk surga ini juga ternyata muncul di sebuah buku yang kemarin saya baca, judulnya Titik Nol by Agustinus Wibowo. Di situ dimunculkan pergolakan batin Ibu penulis ketika hendak meninggal dunia. Orang sekitarnya saling memaksakan agama mereka masing-masing untuk dianut si Ibu sebelum ajal menjemput, bikin geleng-geleng kepala kan, di saat yang genting masih ya mikirin agama apa, tidak bisa ya merelakan dia pergi dengan tenang dengan kepercayaannya sendiri. Perihal upacara kematian, sebenarnya kalau tidak ada request tertentu dari yang meninggal, mau jadi upacara agama apapun juga tidak kenapa-napa karena esensinya sama yaitu penghormatan terakhir bagi yang meninggal dunia.

Dulu ketika Nenek saya meninggal, seumur hidupnya Nenek saya itu berdoa dengan cara Konghucu. Karena meninggalnya dadakan, jadi beliau tidak request mau diupacarakan dengan cara apa. Jadilah karena kebanyakan dari anak-anaknya beragama kristiani Nenek dikuburkan dengan cara kristiani. Apakah lalu Nenek masih bergentayangan menyalahkan keturunan-keturunannya sambil berbicara ‘kenapa kalian membuat acara pemakaman kristiani, saya kan Konghucu?’ Kan nggak gitu. Kadang yang bikin ribet adalah orang-orang yang ditinggalkan, takut apakah sanak saudara atau teman kita itu akan masuk surga apa tidak.

Hehehe.. Posting hari ini kayaknya rada kontroversial yah. Terkadang berbicara soal agama di republik ini bisa menjadi sangat berbahaya, orang-orang rupanya punya fanatisme berlebihan terhadap Tuhannya sampai lupa bahwa agama itu adalah cabang-cabang jalan menuju keselamatan dan perdamaian. Yesus, Muhammad, Buddha Maitreya, Sang Hyang Widhi, Yahwe, dan Tuhan-Tuhan yang lain tidak pernah mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang jahat. Kecuali kalau iman kita ternyata sudah berbagi dengan Tuhan yang satu lagi bernama Uang, wah ini akan menjadi pembahasan yang lain hehehehe.. Bye!

Thursday, October 8, 2015

The Story of a Family

Harta yang paling berharga adalah keluarga. Salah satu barisan lirik lagu sinetron Keluarga Cemara. Sinetron yang berkisah sebuah keluarga yang terdiri dari Abah yang bekerja sebagai pengayuh becak, istrinya yang penjual opak keliling, serta tiga anak perempuannya yang masih kecil-kecil adalah memori yang tidak bisa dilupakan oleh anak-anak yang mengaku angkatan 90-an, termasuk saya. Untuk ide cerita dan pesan moral yang terkandung, menurut saya sinetron sekarang belum ada yang bisa mengalahkan. Saya menonton drama seri ini mulai dari ini diputar sore hari, jadi pagi hari, dan jadi tengah hari. Bertahun-tahun, mungkin saking gak ada drama seri laen yang layak disiarkan, cerita Keluarga Cemara mengerak sudah di ingatan saya. Ajaibnya bertahun-tahun nonton episode yang kadang diulang-ulang, saya selalu terharu nontonnya.

Melihat dari susunan keluarga, Keluarga Cemara ini mirip dengan keluarga saya. Terdiri dari Bapak, Ibu, beserta 3 anaknya yang semuanya perempuan. Kalau tidak salah urutan usia tiga anak Abah (Euis, Ara, dan Agil) juga tidak beda jauh dengan saya dan saudara-saudara kandung saya. Dan ketika jaman itu, entah kenapa saya juga kadang merasa saya mirip dengan si Ara, mirip mukanya, kurus, rambutnya bob gitu. Hahahaha.. Tapi beruntunglah keluarga saya tidak sedramatis kisah Abah and family, yang dari awal episode sampai tamat kayaknya ada aja masalahnya. But, every family has their own story. Mungkin keluarga saya cukup beruntung memiliki kemampuan finansial di atas Keluarga Cemara, tapi di sisi yang lain keluarga saya tidak sehangat Keluarga Cemara alias interaksi antar anggota keluarganya tidak bisa se-akrab mereka. Oleh karena itu ketika saya SD menonton Keluarga Cemara itu ada perasaan iri dengan si Ara yang walaupun miskin tapi keluarganya kompak.

This is my family’s story. Keluarga saya adalah keluarga keturunan Tionghoa pesisir daerah perbatasan Jawa Barat dengan Jawa Tengah. Ekonomi keluarg kami bertumpu pada sebuah toko yang tidak besar dan tidak kecil juga. Toko ini telah ada sejak Nenek Buyut, Papa saya adalah keturunan ketiga yang ‘mewarisi’ usaha keluarga ini. Meski secara de jure Papa saya yang punya ni toko, tapi secara de facto Mama saya yang lebih mengelola usaha ini. Papa saya berbeda usia 7 tahun lebih tua dari Mama. Mereka berdua sebenarnya masih saudara jauh, bertemunya pun unik, awal pertemuan dari sebuah pintu sambung rumah-toko salah satu kerabat. Ketika itu Papa saya sedang main ke rumah sodaranya, sedangkan Mama bantu kerja jaga toko di rumah sodaranya (nah sodara nya ini satu keluarga yang sama ya). Tidak lama setelah pertemuan tersebut kira-kira hanya satu tahun saja, Papa saya menikahi Mama saya yang ketika itu berusia 20 tahun.

Saya sih tidak kebayang kalau jaman sekarang pacaran kilat seperti itu ya. Ya namanya juga beda generasi hahahaha.. Wanita usia 20 tahun menikah juga bisa dibilang nekad kalau sekarang, waktu dulu lazim-lazim aja. Nah lanjut, tidak lama setelah menikah di penghunjung tahun 1986, Mama saya melahirkan Kakak saya. 3,5 tahun kemudian saya si sotoy lahir, dan 5,5 tahun berselang Adek saya yang ndut lucu lahir. Kalau melihat foto-foto lama, saya rasa masa keluarga saya ketika Kakak saya lahir lebih berwarna ketimbang tahun-tahun berikutnya. Smile everywhere, penuh dengan liburan dan jalan-jalan sekeluarga, pesta ulang tahun, kumpul dengan keluarga besar. Sedangkan setelah 3 tahun berselang, pas saya lahir, dokumentasi mendadak jadi sedikit sekali, foto saya pas bayi dikit banget, ada sih tapi sekelibet-sekelibet bukan saya fokus utamanya. Saya sendiri faktanya pernah sampai dititipkan waktu bayi karena ketika itu situasi keluarga saya sedang gonjang-ganjing. Mama Papa tidak lagi seakur dulu. Mungkin bunga-bunga masa awal pernikahan sudah banyak berkurang ya. Hehehe..

Beranjak usia sekolah, masa saya sudah bisa ingat dengan apa yang terjadi. Saya tumbuh sebagai anak yang suka ngambek dan kurang perhatian. Yang saya ingat waktu itu Mama Papa saya sering bertengkar sampai ada adegan kabur-kaburan dan rebutan anak segala. Satu-satunya sumber kasih sayang ketika itu adalah Nenek Buyut dan Nenek saya. Keduanya memang satu rumah dengan kami, maklum kami kan memang tinggal di ‘rumah keluarga’. Situasi keluarga ini dingin, kaku, cuek, intinya bukan suasana ideal untuk membesarkan anak. Melihat Papa sering marah-marah, lalu kami juga anak-anaknya sering kena semprot padahal ga salah apa-apa, melihat Mama sering menangis dan juga marah-marah, membuat saya trauma dan tidak betah di rumah. Saya keluyuran maen ke sekolah dan ke rumah teman, karena berada di rumah membuat saya tertekan, sampai dengan sekarang, saya tidak suka pulang ke rumah. Saya berkembang punya dunia bermain sendiri, saya berbicara dengan boneka, saya mengarang-ngarang cerita pendek untuk ditulis di buku, dan membuat berseri-seri komik yang saya gambar sendiri. Saya jadi anak yang sangat tidak peduli dengan keadaan sekitar, saya asik dengan diri sendiri.

Ketika Adik saya lahir, sepertinya suka cita keluarga saya kembali tumbuh. Adik saya ini seperti membawa keberuntungan, everybody loves her. Karena lucu, gendut, bule, pada waktu jaman itu jarang ada anak lucu kayak adik saya gitu. Waktu itu Kakak saya sudah besar sudah SD pertengahan dengan prestasi sekolah yang luar biasa, termasuk masuk TVRI karena juara lomba cerdas cermat. Saya yang cuek ini, terhimpit dengan dua orang saudara yang stand-out dengan kemampuannya masing-masing, Kakak saya yang jenius dan Adik saya yang lucu. I developed low self-esteem, bertambah parah ketika Papa saya mulai sering membanggakan prestasi Kakak saya dan membandingkannya dengan saya. I have nothing to be proud of. Saya bukan anak yang pintar, prestasi sekolah saya biasa banget, nilai rata-rata, naik kelas sudah syukur, rangking 5 itu paling maksimal. Saya juga bukan anak yang cantik, kurus kering rambut merah (sering maen) bau badan, dan saya juga bukan anak yang ramah, saya cuek banget, jutek, galak tapi cengeng. Suasana keluarga yang agak hepi ini juga tidak berlangsung lama, lagi-lagi badai awan panas muncul terlebih ketika itu Mama Papa juga secara ekonomi belum mandiri.

Toko di rumah pengelola utama ketika itu adalah Nenek saya (Ibu dari Papa saya), jadi keputusan tertinggi adalah Nenek saya. Mama Papa saya waktu itu posisinya seperti apprentice ato anak magang wkakakka.. Papa saya memang dasar kaga bakat dagang mau diajarin kayak apa aja ga masuk, Mama saya pengalaman dagangnya sudah banyak (sejak lulus SMA sudah bekerja bantu toko sodara) jadi lebih nyambung dan mungkin karena passion juga sih ya jadi lebih mudah meyerap ilmu-ilmu dari Ibu mertuanya. Pada akhirnya Nenek saya lebih percaya dengan Mama, tapi tetap uang dipegang oleh Nenek jadi keluarga kami tidak bisa semena-mena memakai uang. Orang luar melihat keluarga kami sebagai keluarga yang berkecukupan, tapi kenyataannya banyak hal yang membuat kami tidak bisa menikmati hasil jerih payah itu. Papa saya terjerumus dalam lubang perjudian (jeng.. jeng.. jeng.. udah berasa sinetron nih), sembunyi-sembunyi mainnya, ketika ketahuan dan dinasehati Papa membalas lebih marah. Dan hal ini yang membuat hari-hari masa kecil saya makin suram.

Ekonomi keluarga yang sulit membuat saya dan saudara-saudara saya jadi anak yang prihatin. Terlebih Kakak saya, sampai sekarang dia jadi orang yang sangat cermat terhadap uang. Saya sendiri jadi orang yang banyak pertimbangan ketika mau mengeluarkan uang untuk membeli barang, dipikirin sampai bikin pusing sendiri, dan saya jadi suka merawat barang karena tau belinya tidak gampang. Kalau Adik saya, dia doyan sekali menabung. Kami bertiga untungnya dapat dampak yang positif dari kesulitan ekonomi keluarga ini. Saya ingat waktu dulu, jaman SD kelas 5 saya menginginkan sebuah jaket warna cokelat merknya Triset, jaket ini harganya 65 ribu kalau tidak salah. Mahal? Iya mahal. Selama 2 tahun sampai kelas 1 SMP saya masih naksir dengan jaket itu, akhirnya Mama saya bisa membelikan barang idaman ini belinya pas diskon barang-barang lama. Jaketnya masih saya pakai sekarang hahaha.. Kebanyakan barang-barang kami dibelikan oleh Nenek, yang bagus-bagus pasti dari Nenek, dulu rasanya Nenek itu seperti Santa Claus. Makan enakpun sama Nenek, kalau sama Mama Papa makan harus nurut – gak boleh minta aneh-aneh gak ada budget buat itu. Saya jadi bisa makan apa aja sekarang, ga susah makan ato milih-milih, bersyukur ada manfaatnya.

Begitu kira-kira ritme keluarga saya sampai saya SMP. Kelas 3 SMP, Nenek saya meninggal dunia. Bumi gonjang-ganjing, Mama Papa kolaps, perekonomian keluarga makin parah, apalagi posisi Kakak saya waktu itu baru masuk kuliah semester 1 yang lagi membutuhkan biaya banyak sekali. Lalu, Mama Papa juga kena masalah dengan keluarga besar, macam-macam deh. Waktu tahun 2004-2005, tahun yang sangat berat untuk keluarga, mungkin saya tidak terlalu berasa karena gak terlalu ngerti permasalahannya, tapi Mama Papa merasakan langsung hantamannya. Hikmahnya, karena kejadian ini Papa saya menjadi orang yang lebih baik, kebiasaan buruknya mulai ditinggalkan, Mama mulai ke Gereja, lalu Papa ikut Mama ke Gereja. Mendekatkan diri kepada Tuhan jadi hidupnya tertuntun dengan lebih positif. Perlu waktu 3-4 tahun kemudian keluarga kami settle. Kalau dihitung dari awal pernikahan Mama Papa, they needs 23 years of struggling and battling untuk sampai ke titik settle yang sekarang ini sedang kami jalani.

Bagaimana keadaan keluarga sekarang ini? Kami, anak-anak, sudah dewasa, tahun ini Adik saya saja berusia 20 tahun, tidak menyangka kalau secepat ini ya waktu itu berjalan. Mama Papa saya tetap menjadi orangtua yang kurang kompak masih suka adu argument gak jelas, tapi caranya sudah tidak seperti dulu yang harus memakai emosi negatif yang berlebihan. Pengaruh umur juga kali ya, sekarang sudah menginjak kepala 5 semua,  sudah punya cucu, lebih sadar diri. Sekuritas finansial juga salah satu faktor yang penting (wahai pasangan-pasangan muda, ingat, kalau belum mapan-mapan banget jangan gegabah menikah ya), ketika saya kuliah banyak dimudahkan, Mama Papa tidak kesulitan membayar uang kuliah saya dan juga adik saya sekarang. Kalau mau beli macam-macam, masih ditimbang-timbang tapi tidak sesulit waktu dulu. Karena kami pernah sulit, kami jadi lebih menghargai uang, ga pakai sembarangan, yang sewajarnya saja.

Kakak, Adek, dan saya pun akur walau jarak memisahkan kami. Kakak saya tetap menjadi anak paling stand-out dari kami bertiga, dulu saya sebal kenapa Kakak saya ini too good to be true, tapi sekarang saya sadar kalau saya tidak punya Kakak seperti dia mungkin saya tidak akan pernah semangat untuk mencoba jadi sebaik dia. Saya sendiri sudah lebih memaafkan kesalahan Mama Papa yang terdahulu, bertahun-tahun di fakultas psikologi memang mengasah kemampuan refleksi ya, sampai bisa menulis posting ini. Adik saya sedang berkuliah, meski merasa salah masuk jurusan tapi dia punya cita-cita lain yang bright dan on the track yaitu ingin jadi pebisnis kuliner merangkap chef pastry. Masing-masing punya problema nya, seperti saya yang susah lulus kuliah dan kena fitnah-fitnah orang tidak dikenal, tapi lalu keluarga jadi pihak yang selalu mendukung dan menguatkan meski caranya tidak seperti psikolog yang pelan-pelan dan mengajak berbicara secara akrab dan hangat. Keluarga ternyata punya caranya sendiri and it works. Mama Papa meski tidak pernah mengucapkan kata-kata motivasi yang penuh kasih sayang, tapi optimisme mereka terhadap anak-anaknya menembus kecepatan gelombang suara, hahaha biar deh agak lebay sedikit kata-katanya..

Mungkin ini memang bukanlah akhir dari cerita keluarga kami, masih ada episode-episode selanjutnya yang kami sendiri tidak pernah tahu akan seperti apa kisahnya. Tapi dari apa yang kami alami sekeluarga kurang  lebih 20 tahunan ini, kami sadar bahwa tidak pernah ada roda yang selalu di bawah, it keeps moving, up and down, gak jarang lalu roda ini bocor di tengah jalan, melalui jalan yang penuh batuan atau licin berpasir. People change, semua pernah berbuat salah tapi jangan sampai menuduh bahwa orang itu tidak akan pernah berubah. Kami masih berusaha untuk meningkatkan bounding antar satu sama lain anggota keluarga, yang ternyata lebih mudah dilakukan ketika sudah dewasa.

So, untuk paragraf terakhir di posting yang sangat panjang ini, saya lagi-lagi mau mengutip quotes fenomenal sinetron Keluarga Cemara: harta yang paling berharga adalah keluarga. Walaupun keluarga saya tidak sehangat keluarga lain, tidak terlalu perhatian, masih kurang kompak, but they are the best, dari segala hal yang terjadi dalam hidup kami, sampai sekarang kami tetap jadi keluarga, kalau bukan harta yang paling berharga, mungkin relasi ini sudah jadi korban dan tidak dipertahankan sejak dulu. Terima kasih Papa, Mama, Cici, & Ndut. Wo ai ni.