Sunday, January 31, 2016

Perihal Ngomongin Orang

Makhluk di muka bumi belahan mana yang gak pernah ngomongin orang? Kalau ada yang tidak pernah ngomongin orang, saya kasih trofi deh. Dalam kehidupan sehari-hari tentu kita tidak heran dengan kebiasaan yang satu ini. Pagi, siang, malam, sepuasa-puasanya kita ngomongin orang, mesti aja ada satu kondisi yang membuat kita membicarakan orang lain. Orang lainnya bisa random banget, bisa tetangga, teman sekantor, teman sekuliahan atau sekolah, orangtua sendiri, bahkan artis atau idola yang tidak kita kenal sebelumnya. Ya gimana kita bisa sehari tanpa membicarakan orang lain, toh hidup kita sehari-hari juga dikelilingi oleh manusia-manusia - para Homo Sapiens. Emangnya tinggal di hutan, sendirian, hanya ada pasir berbisik dan rumput bergoyang #heleh

Membicarakan orang lain tidak sama dengan ngegosip. Nah, ini nih yang suka jadi salah kaprah. Ketentuan aktifitas ini berubah jadi ngegosip adalah apabila dalam cerita sudah ada bumbu-bumbu yang ditambahkan atau dikurangi. Semisal, ada kabar kalau si A putus dengan tunangannya, bisa jadi gosip kalau si A putus dengan tunangannya karena orang ketiga, padahal yang sebenarnya terjadi karena si A mau jadi TKW di Arab misalnya. Nah, sudah ada spin-spin cerita tertentu yang tidak benar. Jadilah itu gosip. Kenapa membicarakan orang lain identik dengan ngegosip? Emang dasar ya yang namanya manusia (apalagi manusia di negara kita tercinta), kalau beritanya kurang wah atau heboh kayaknya jadi ga seru jadi kudu ada plot-plot tertentu yang bikin menarik. Dan sudah seperti tertanam di alam bawah sadar, kalau ada berita entah gimana prosesnya ada aja pernak-perniknya. Dan karena itu suka simpang siur beritanya, ada versi A, B, C, dan D. Sudah gak tau mana yang benar, kalau bukan tanya ke sumber utamanya. Karena kebiasaan bikin-bikin cerita baru ala sutradara, ngomongin orang ini malah terasa gak ada bedanya ngegosip.

Berhubung ngomongin orang dekat dengan ngegosip, jadilah aktifitas ini dipandang negatif. Padahal ngomongin orang yang tepat (ceritanya fakta, berasal dari sumber-sumber terpercaya, berita konsisten) bisa jadi sarana refleksi, dan pelajaran buat kita sendiri. Kalau beritanya berita kurang baik, ya buat jaga-jaga kita juga. Kalau beritanya bagus, ya boleh lah jadi referensi perilaku kita. Apalagi di jaman dengan arus informasi yang cepat sekali seperti sekarang ini, kita sebagai pelaku, ya kudu pinter-pinter lihat info mana yang bener - layak untuk disebarkan, dan mana yang hanya gosip semata. Saya sendiri kadang kejebak juga dengan hal ini, saya kira beritanya bener ternyata hoax dan gosip, niat hati cerita ke teman-teman buat sekedar sharing malah jadi ngegosip. Hedeh, saya terjerumus ke dalam lembah kelam pergosipan deh jadinya.

Membicarakan orang lain itu perlu tapi tidak terlalu penting sebenarnya. Sama dengan kebiasaan lainnya, kalau dilakukan berlebihan hanya akan merugikan diri kita sendiri saja. Masyarakat Indonesia dengan budaya-nya yang timur banget, masyarakatnya yang komunal, dan kepentingan antar-golongannya masih kuat membuat acara ‘membicarakan orang lain’ jadi bagian dari budaya. Di negara barat hal ini tidak terlalu terasa, karena topik pembicaraan di sana kebanyakan soal diri sendiri, berita umum yang terjadi di sekitar, atau ya ilmu pengetahuan tertentu. Jarang banget ada orang yang mau ngurusin urusan orang lain kayak kita di sini. Hahaha.. Aduh padahal kalau dipikir-pikir ngurusin diri sendiri aja sudah bikin pusing, apalagi ngurus orang lain yah..

Ya sudah, kita mendingan seperlunya saja ngomongin orang. Kalau yang lain membahas ya kita ikut dengan memperhatikan aturan (gak usah nambah atau ngurangin cerita), kalau sudah mepet-mepet gosip ya kita gak usah ikut-ikutan – memilih mundur teratur, dan yang terakhir.. Berdoa saja kalau diri kita ini tidak jadi bahan omongan orang lain, hahaha.. Ok, take care.


pic taken from here

Saturday, January 23, 2016

Update Wisata Cirebon

Lama sekali tidak pulang ke kampung halaman. Jadi kuper mengenai apa aja sih yang lagi hype di Kota Udang alias Kota Cirebon. Informasi yang saya dapat dari TV, kini anak muda Cirebon sedang menggandrungi kegiatan-kegiatan yang berbau alam seperti naik ke Gunung Ciremai, atau hanya kemping-kemping santai di kaki gunungnya. Lalu, kini di Cirebon banyak bangunan baru berfungsi sebagai pusat perbelanjaan - ada Cirebon Junction (ala-ala Riau Junction di Kota Bandung, atau Cibubur Junction di Bogor), Grage City Mall, dan bahkan sekarang Toko Buku Gramedia aja punya bangunan sendiri. Wahhh.. Nah, yang tidak kalah kecenya, kemarin saya sempat mengunjungi Cirebon Waterland. Hedehhh.. Tempat macam apa pula ini yaaa..

Cirebon Waterland. Namanya ceria sekali yah, dari namanya saja sudah ketebak kalo tempat ini adalah waterpark alias tempat berenang-berenang dan bermain air. Waterpark ini letaknya di atas lahan Taman Ade Irma Suryani – semacam amusement park kecil yang pernah jaya di jamannya, jujur aja belasan taun tinggal di Cirebon saya gak pernah ke tempat ini. Sekilas tentang Taman Ade Irma Suryani, jadi tempat bermain keluarga ini jaman tahun 1990-an sangat nge-hits di kalangan masyarakat menengah Cirebon karena salah satu pelopor permainan bombomcar di daerah (kota kecil), yang waktu jaman itu baru ada di Dufan Jakarta. Semua anak mendadak gahul tingkat dewa kalau sudah coba bombomcar di Ade Irma. Pas saya lahir dan agak gedean, eh Taman Ade Irma sudah tidak booming lagi, semua orang lupa, dan akhirnya tempat ini terbengkalai sangat lama.

itu ada tulisan We Love Cirebon???

Btw, Taman Ade Irma Suryani letaknya persis di pinggir pantai. Pantai Utara memang tidak terlalu bagus untuk pariwisata ya sepertinya, jadi ya pantai ini lebih banyak dipergunakan untuk kegiatan berdagang hasil laut dan tempat persinggahan kapal-kapal, entah dari Tanjung Priuk atau dari Tanjung Perak dan Tanjung Emas. Kadang juga disinggahi oleh kapal-kapal militer yang kadang jadi background foto-foto narsis saya ketika jaman SMA hahaha.. Lama tidak ada kabarnya, beberapa kali sempat re-launching agar menarik pengunjung kembali nampaknya tidak berhasil. Sampai kira-kira pertengahan tahun 2015, saya dikirimi foto-foto keren Taman Ade Irma yang kini berganti nama menjadi Cirebon Waterland. Bikin saya mangap!

coba kalau matahari sembunyi dikit, nyemplung deh 

Gimana gak mangap, ohmen.. Coba deh teman-teman googling Cirebon Waterland, jadi tiba-tiba di lahan tersebut sekarang berdiri jejeran penginapan dengan model cottage plus pencahayaan keren, cubit pipi kiri kanan, okeh, ini Cirebon bukan Maldives. Penginapan ini bernama Seaview. Sebenarnya si namanya ini cocok untuk beberapa kamar saja ya yang benar-benar ngadep laut, yang lain ngadep ke waterparknya. Oh ya, waterpark sendiri cukup menarik dan emang keliatan niat ngebangunnya bukan hanya asal jadi saja. Temanya dunia laut. Kemarin lihat harga tiket 60ribu/orang. Hanya saja saya emang niatnya hanya liat-liat, jadi ga berenang, ga berani juga sih berenang siang-siang di Cirebon, itu kulit terbakarnya bagaimana yah hahaha..

Liat-liat? Emang boleh? Nah, jadi beginilah kocaknya. Setelah misa di Gereja St. Yoseph Cirebon, saya dan Adek saya si Ndut sudah merencanakan pingin ke Cirebon Waterland tujuan utama mau cobain makan di Tomodachi Restaurant yang letaknya di area ini. Tomodachi ini lucu deh bentuk bangunannya kapal mirip dengan venue reality show Ninja Warrior Jepang. Yang saya gak ngerti kenapa namanya Jepang-Jepangan, padahal konsepnya laut-laut gitu dengan menu makanan pasta-pasta dan masakan Indonesia. Sesampainya di Cirebon Waterland, kami berdua agak terkesima dengan penampakan tempat ini. Oh emang sih bagus, kayak bukan di Cirebon. Karena bingung, kami tanya ke satpam, kami mau ke Tomodachi masuknya darimana. Beberapa gosip beredar katanya untuk masuk area Cirebon Waterland ini bayar 25ribu/orang sekalipun hanya untuk lihat-lihat dan foto-foto. Tapi kemarin itu entah kenapa si satpam agak linglung terus kami berdua langsung masuk aja, gak bayar sama sekali. Hahahaha.. Coba deh yang lain coba, kalau ke sana pake alasan mau ke restoran mungkin iya benar jadi gratis.

beberapa jepretan amatir hehehe..

Lolos dari bayar uang tiket 25ribu, kami lalu langsung mengeluarkan jurus foto-foto sembari senang mengamati bangunan yang emang lucu-lucu. Maklum ya kami kan jarang jalan-jalan jadi baru liat yang bentukan begini. Bagus deh. Rapih enak dilihat. Buat waterpark nilainya 7, buat cottage saya kasih nilai 8. Cottage terlihat nyaman dan worth to try, katanya sih semalam 1 juta-an, tergantung kamar yang mana. Jumlah cottage ga banyak hanya 36 aja. Yang menarik di ujung sedang dibangun gedung serbaguna untuk menikah, mirip kapel. Pas saya ke situ masih diberesin sama Mamang Bangunan. Sayang banget, pas ke sana terlalu siang sekitar jam 10 pagi, yak tau kan gimana puanasnya. Dan kami juga ga bawa payung apa topi ato kacamata item, hedehhh panas sekali lhooo gaes. Jadi saya sarankan lain kali kalau mau ke sana lagi sebelum jam 10 atau setelah jam 3.

kapal aja sudah berlabuh, jadi kamu kapan berlabuh di hatiku? #yaelah 

Rencana makan di Tomodachi pada akhirnya gugur, karena ternyata resto baru ready jam 11 siang. Ohya, lucu banget lho waiter waitress dan kokinya berbusana ala-ala sailor gitu. Akhhh lucu deh pokoknya! Jadilah Ndut & saya hanya foto-foto plus liat-liat doang di situ. Sudah masuk ga bayar, gak jadi makan, nyatanya kami makan di Warung Nasi Jamblang Pelabuhan yang letaknya sebelahan dengan Cirebon Waterland. Hahaha.. Ya ampunnnn..

Kesan soal Cirebon Waterland sejauh ini positif, dan sebenarnya tidak bisa komen banyak karena belum nyicip menginap. Agak sayang sih emang bawaan pantai utara Cirebon yang pasirnya hitam dan airnya agak kekuning-kuningan, jadi pastikan pandangan Anda ke depan saja jangan ke bawah hahahaha.. Buat yang pingin lihat sunrise atau menikmati senja cantik, tempat ini cukup recommended lho! Dulu jaman SMA saya pernah beberapa kali pagi-pagi buta ke daerah pelabuhan untuk melihat sunrise dan bagus. Waktu itu menikmatinya duduk di pinggir batu. Coba bayangin kalo nikmatinnya dari atas balkon Seaview Cottage. Mantep kan yah!

Saya jadi penasaran pemandangannya kalau malam bagaimana. Apakah bener se-romantis di foto. Mungkin kali-kali pas ada waktu boleh lah ke sana lagi, dan tentu saja jadi makan di Tomodachi. Belum kesampean! Gemeessss.. Akhir kata, saya mau bilang.. Cirebon betul-betul berubah nih. Semoga developer-developer lain juga datang ya untuk mempercantik kota ini. Good.

Friday, January 22, 2016

Gerah dengan Tuntutan

Waktu kita semua kecil, hidup ini sangatlah sederhana. Apalagi jika terlahir di keluarga samawa, yang orangtua nya teredukasi dengan baik dan tidak memiliki kesulitan ekonomi. Sebesar apapun masalahnya, tidak akan jadi complicated seperti hidup teman-teman yang sedari kecil susah makan, orangtua tidak kompak, dan malfungsi keluarga akut. Semakin kita besar, lalu kita perlahan-lahan menjadi entitas pribadi yang utuh (harusnya). Punya karakter kuat dan unik, serta memiliki kebebasan memilih. Namun, ternyata setelah sudah dewasa, kehidupan itu juga kemudian mulai sulit. Permasalahan yang dahulu hanya bisa disaksikan di sinetron ternyata ada juga di kehidupan nyata. Which is membuat saya yang polos (polos???) ini terkaget-kaget bukan main wahahahahaha..

Salah satu permasalahan klasik dalam proses menjadi orang dewasa atau kerennya disebut grown-ups adalah bagaimana pandangan orang lain itu sangat mempengaruhi setiap tindak-tanduk perilaku serta pilihan hidup kita. Padahal idealisnya adalah kita melakukan sesuatu ya karena kita ingin lakukan, bukan karena pengaruh orang lain. Biasanya semakin kita besar lalu semakin seringlah muncul kalimat-kalimat seperti ini:
“… apa kata orang …”
“ah barangkali diomongin begini.. begitu..”
“malu sama …”
“jangan begitu, gak enak dilihat orang lain..”
Selanjutnya, sudah bisa ditebak, apa yang kita lakukan ya itu-itu saja mengikuti pakem orang kebanyakan. Malu, takut, gak enak, kalo beda dari yang lain. Sebenarnya tidak salah juga sih kalau kita menjaga perilaku demi terjaganya moral sosial kehidupan ini (ya Tuhan bahasa guehhh..), tapi seringkali ‘kata orang’ itu kemudian membatasi kita dalam mengekspresikan diri sendiri, pada akhirnya kita gak bisa jadi diri sendiri. Dan ketika ada orang lain yang ‘beda’ dan ternyata berhasil membawa ke kehidupan yang lebih baik, kemudian kita iri hati. Padahal jelas permasalahannya à kenapa selalu ikut hidup yang itu-itu aja.

Karena terlalu sering hidup dalam tuntutan orang lain (social pressure), kita jadi sulit untuk menemukan ide-ide orisinil atau out of the box. Ya kalau menurut saya pribadi sih, sayang banget kalau hidup hanya mengikuti kata orang, hellow emangnya itu orang orangtua kamu, saudara kandung kamu yang memang tau kamu banget. Bisa-bisanya mengatur hidup kamu. Salah satu contoh yang kadang bikin saya geleng-geleng adalah kebiasaan warga kampung di dekat rumah saya, ketika ada satu rumah yang sedang renovasi, tidak ada angin tidak ada hujan tidak lama para tetangga kemudian ikut merenovasi rumah juga. Kalau ditanya memang kenapa koq renovasi juga? Jawabannya adalah ya biar ga diomong warga yang laen (diomongin koq rumahnya ga terawat, atau merenovasi rumah karena agar dilihat kaya raya tidak kalah dengan tetangganya).

Contoh laennya adalah gini - tau kan kalau sehabis kita lulus kuliah dan bekerja, pertanyaan selanjutnya adalah ‘mana pacarnya?’ dan ‘kapan menikah’ *ehem* kalau jawabannya ‘belum ada pacar’ ‘belum memikirkan pernikahan’ atau ‘masih jomblo’ ada aja orang yang mencap aneh. Lho.. Emangnya kenapa ya kalo masih jomblo atau ada pacar tapi belum mau menikah. Lalu, kalau sudah terlalu banyak yang bertanya gitu, lama-lama jadi kepikiran, dan memutuskan untuk cepet-cepet punya pacar tapi dapetnya asal-asalan. Mental belum siap punya keluarga tapi segera menikah agar tidak diomong orang. Fiuhhh.. Rasanya capek sekali yah kalau hidup mesti seperti itu terus.


Manusia memang cenderung berpikir dengan membentuk pola-pola sehingga sangat mengapresiasi sesuatu yang serasi dan seiringan. Terlebih masyarakat Indonesia yang dari sejak jaman dahulu kala hidupnya komunal berdasarkan ‘kesamaan’ tertentu entah itu ras, suku, agama, dan golongan. Jadi gak heran kalau kita kurang terbiasa melihat sesuatu yang beda dan ada usaha untuk menjadi dan membuat segala sesuatu SAMA. Kalau dipikir-pikir apa sih yang salah apabila ada rumah yang tidak ikut renovasi, seseorang menunda menikah atau mencari pacar, kan tidak merugikan orang-orang tersebut juga. Kalaupun ada efek negatif itu juga buat kita sendiri, bukan buat orang itu. Kenapa harus ribet sama kehidupan orang lain sih?

Dan yang sering terjadi juga begini, apa yang dilontarkan orang-orang seringkali hanya basa basi busuk tidak penting – hanya biar ad bahasan pembicaraan saja. Ya maklum ya masyarakat kita kan kayaknya gatel gitu kalo tidak basa-basi. Mending kalau basa-basi lalu habis itu lupa, namun ada aja oknum-oknum nyinyir yang sengaja kepo2 dan menyebarkan berita tentang ‘hal yang tak lazim’ tersebut. Kemudian di masyarakat muncul judgment yang tidak penting, dan sifatnya hanya penghiburan (asik ada gosip baru). Lalu, apa yang terjadi dengan orang yang berbeda tersebut? Karena tertekan jadi berubah dan kemudian mengikuti apa yang dimaui masyarakat. Padahal belum tentu keputusan atas dasar tuntutan orang tersebut baik untuk dirinya. Rest in Peace yang namanya kebebasan berekspresi. Endingnya, ya kita hanya disitu-situ saja, tidak berkembang, dan kayak robot – society bilang apa kita lakukan apa.

Penting buat kita menyadari - yang pertama adalah jangan sampai kita menjadi pribadi yang suka menuntut orang lain. Contoh sederhananya, misal kalau ketemu teman-teman coba cari pertanyaan basa-basi lain ‘hey, gimana lagi sibuk apa sekarang?’ dan menghargai jawaban jujur temanmu dan sambung pertanyaan/pernyataan lain yang sesuai konteks jawaban sebelumnya. Misal, ‘oh ada lagi bisnis, wah asik jadi bisnismen, gue juga pengen tu, kudu belajar dari lu dong ya.’. Penyadaran kedua adalah ketika ada orang yang rese, mempertanyakan keputusanmu yang ganjil dan tidak biasa, mending senyum secantik/seganteng mungkin - habis itu cepat-cepat sudahi bicaraan apalagi kalau orang tersebut makin melunjak.

Kemudian sadari nomor ketiga – tidak perlu masukin hati banget omongan orang tsb yang tidak penting, prinsipnya saring yang penting-penting aja karena ini akan menjaga kesehatan psikologis Anda. Keempat, kalau diajak ngobrol orang yang tidak dekat-dekat amat hindari curhat colongan. Kita kudu pinter-pinter juga membuat tameng, supaya tidak pusing sendiri. Sadari nomor lima (menurut saya paling penting nih) – kita perlu tau kita pingin apa, fokus tujuan, dan cita-cita, kalau kita tau ke depannya mau gimana, omongan orang lain yang tidak penting hanya akan masuk ke folder kritik dan saran.

Hihiiii.. Oke siapkah kita menjadi pribadi yang utuh? Yang secara sadar tau apa yang kita mau dan ingin lakukan, bukan hanya karena takut diomongin orang. Ayo kita kudu siap, Kakak!

pic taken from here