Wednesday, February 17, 2016

Opini Terhadap LGBT

Sebuah stasiun TV yang kebetulan suka sekali caper, mengangkat LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, and Transgender) sebagai topik talkshow andalannya. Saya lihat? Sebentar saja, merasa muak dengan cara mereka membahasnya lalu mending ganti channel lain daripada otak ini mendadak turun IQ. Hmmm.. Saya jadi berpikir, mungkin gini ya keadaan Amerika sekitar 50 tahun yang lalu ketika antar golongan masyarakat berdebat mengenai LGBT. Tak ada ujungnya, seriously, dan tiap golongan saling membenarkan diri. Semua orang ingin dianggap benar, padahal opini ya just opini, boleh semua orang ngomong, tapi soal benar apa salah, mau diikuti ato ga. Ya kan balik lagi ke urusan masing-masing orang. Nah, gak mau kalah dengan Bapak-Bapak Ibu-Ibu di acara tersebut, di posting kali ini, saya mau mengutarakan pendapat pribadi saya mengenai LGBT.

Saya mengetahui term laki-laki yang keperempuanan atau perempuan yang kelaki-lakian sudah sejak SD. Ketika SD saya punya teman dekat yang sering dikata-katai ‘banci’ karena dia lebih nyaman bermain dengan teman perempuan dibanding teman laki-laki. Anaknya rajin banget, lembut, dan tidak terlalu suka pelajaran olahraga. Tapi ketika itu hanya sebatas si X memang lembut seperti perempuan tetapi tidak pernah berpikir sampai apakah dia menyukai pria atau wanita. Namanya juga anak SD masih polos-polos unyu gitu. Di SMP juga tidak ada yang aneh, saya sendiri dari SMP boyish sekali tidak terlalu menyukai hal yang cantik-cantik, dari dulu doyan main basket dan aktifitas outdoor. Tapi saya secara sadar, tau bahwa I have desire to man, meski tampilan macho begini.

Di SMA lha ya, saya menemukan spesies wanita yang bener-bener tomboy. Kayaknya ke-macho-an saya di SMP gak ada apa-apa nya deh. Kakak angkatan saya ini gaya berbicara nya juga sudah kayak anak laki-laki. Potongan rambut juga cowok. Namun, lagi-lagi ketika itu pengetahuan saya hanya terbatas menganggap ‘ah itu hanya penampilan saja sih..’. Lalu, ada satu kejadian di penghujung sekolah menengah atas yang membuat saya menyadari betul kehadiran LGBT di dunia ini, ketika teman dekat saya (perempuan) tiba-tiba menghilang dan dibawa kabur oleh seorang lesbian yang dikenalnya dari dunia maya. Saya shock banget waktu itu, dan gak tau juga mau komentar apa.

Kejadian tersebut merupakan memori yang cukup buruk, meskipun bukan saya yang menjadi korban. Mungkin karena yang mengalami adalah orang yang benar-benar dekat, jadi saya terkena aura negatifnya. Ketika itu saya heran juga sama teman saya ini, karena dia itu orangnya cantik, baik, kalem, pinter bahasa Inggris, dan idaman para pria banget. Selama sejarah bersekolah, selalu jadi kembang sekolah. Kenapa harus ‘belok’? Emang udah bosen sama laki-laki? Dan kalopun alasannya bosen, ya Tuhan saya aja gak dapet-dapet *malah curhat* berita terakhir sih bilang kalo teman saya ini kena santet sama si pasangannya itu. Ah tidak tau lah ya. Inti cerita, yak di sini lah saya baru ngeh real beneran kalo LGBT ini benar adanya bukan sekedar perkara ekspresi perilaku dan penampilan aja.

Masuk Fakultas Psikologi, bahasan-bahasan LGBT menjadi lumrah dan wes biasa. Selain belajar memahami LGBT dari buku, saya juga belajar dari langsung subyeknya. Yap, di kampus teman-teman yang openly gay/lesbian tidak malu mengekspresikan diri. Dan menurut saya pribadi itu sah-sah saja, sama seperti kalau kamu suka musik rock, lalu suka pakai baju-baju band rock. Ada beberapa teman LGBT yang saya pribadi kagumi, kagum dengan semangat hidupnya, malah gak jarang yang secara agama kuat banget, mereka juga open-mind, terbuka, serta apa adanya. Dan yang sangat saya hormati adalah ketika mereka juga menghargai kita yang straight, jadi temenan sama gay & lesbian bukan berarti kita juga kudu punya orientasi seksual yang sama dengan mereka. Ato mereka yang memaksa kita menjadi gay/lesbian juga.

Ada pendapat yang bilang kalau lesbian/gay itu “born this way” alias sudah dari lahir ya begini. Namun, sampai sekarang yang bilang homoseksual itu faktor genetis juga tidak banyak, masih belum cukup terbukti secara penelitian. Di sisi yang bersebrangan, ada yang bilang bahwa faktor lingkungan berperan besar dalam membentuk seseorang menjadi homoseksual, misal seperti trauma masa lalu, ajaran dari kecil, atau ikut-ikutan teman. Pendapat ini juga tidaklah salah, karena memang banyak juga yang memang ‘memilih’ orientasi seksual seperti ini, kayak contohnya orang-orang di Belanda yang demi dapet ijin tempat tinggal ya milih nikah dengan sesama jenis supaya cepet dan anti-repot. Sama juga dengan seorang teman saya yang suka bereksperimen, jadi kadang kalo lagi pengen sama cewe ya sama cewe, kalo pas pengen sama cowo jadilah dia hetero. Unik kan manusia. Jadi saya sendiri kalau ditanya orang lain mengenai asal-usul LGBT, ya begitulah yang saya jelaskan seperti di atas.

Dari berbagai bahasan LGBT, sebenarnya yang paling saya benci kalau sudah dikait-kaitkan dengan agama. Aduh. Nah inilah yang terjadi di Indonesia. Di negara ini apapun mesti dikaitkan dengan agama, which is making me feel sooo annoyed. Di agama tertentu memang tertulis di kitab suci bahwa LGBT itu adalah dosa dan tidak dibenarkan (secara agama). Saya agak curiga sebenarnya pasal ini ada karena pada jaman itu manusia sedang gencar-gencarnya memperbanyak keturunan karena ada keyakinan jumlah penduduk yang banyak itu sama dengan ketahanan dan kekuatan suku tertentu, kalau masyarakatnya banyak dan kuat ya tanah yang ditempati tidak mudah direbut oleh suku lain. Jadi ya jelas melarang karena hubungan sejenis kan tidak memunculkan keturunan. Sedangkan konteksnya di masa kini udah beda banget, negara-negara sekarang tidak begitu mudahnya direbut/dijajah, ada undang-undang, dan ada sistem pertahanan yang sebegini rupa. Jadi kalo masih ikut tulisan yang jaman baheula itu sebenarnya ya kurang tepat juga menurut saya.

Indonesia rada telat juga ramenya soal LGBT. Baru beberapa bulan ke belakang ini, dan saya yakin si bentar lagi juga lupa, udah keganti sama berita lain yang lebih hebring. Padahal ya, sebenarnya untuk kalangan tertentu LGBT itu sudah buka barang aneh. Tanya aja sama temen-temen seniman, atau orang-orang yang berkecimpung di dunia showbiz. Cuma selama ini off the record, jadi baru heboh banget sekarang setelah banyak kasus-kasus yang terkait LGBT entah sebagai pelaku atau korban. Ekspos berita yang lebay ini nih yang bikin imej LGBT kayaknya salah banget, kayaknya jelek banget, dan virus. Dan ini lho yang saya kecewakan, padahal temen-temen LGBT ga semuanya salah, ga semuanya jahat, ga semuanya penjahat kelamin, or whatever you called it. Ya sama lah kalo kita punya prejudis orang Cina itu pelit-pelit, padahal ya ga semua begitu. Damn you, prejudice.

Yap itulah sekilas opini saya mengenai LGBT. Semoga kalo ada temen yang baca, ya bisa bantu kasih pandangan baru daripada pake pandangan yang itu-itu aja sampai mbuntet. Hahahaha.. Terus, kalau ada yang tanya saya soal, lalu apakah kamu di sisi yang pro atau kontra terhadap LGBT? Well said, saya memilih pro. Orientasi seksual itu hak pribadi, ya sebelas-duabelas lha dengan apakah kamu percaya Tuhan apa gak, dan sama juga dengan kamu lebih suka mayo, sambel, ato saos tomat. Selama hal ini tidak merugikan orang lain, gak masalah. Namun, nampaknya kita perlu banyak bersabar. Pro-LGBT di Indonesia itu jalannya masih panjang banget, you know kenapa yah.. Hahaha.. Tapi saya bersyukur dengan keadaan di negara lain yang sudah cukup banyak mau menerima temen-temen yang LGBT, bahkan pemimpin Gereja Katolik yang sekarang Paus Francis juga tidak memandang sebelah mata teman-teman LGBT – dan ini sebuah good start untuk keterbukaan agama yang lain. Hehehe.. Ya sudah daripada tambah panjang. Sampai bertemu di posting selanjutnya ya. 

pic taken from here

Friday, February 12, 2016

Icip-Icip Eskrim Ragusa

Pasti tau kan Eskrim Ragusa? Eskrim yang begitu legendaris di Kota Jakarta tercinta ini hahaha.. Kalau dulu di Jogja, ada eskrim tempo dulu juga yang lumayan hip namanya Tip Top. Saya sempat nyoba sekali, harganya lumayan mahal lho kisaran 20-30 ribu rupiah. Buat anak 90-an kayak saya gini, menikmati eskrim jadul itu tidak mengobati kekangenan berhubung waktu dulu saya kecil saya juga jarang makan eskrim. Jadi pas mencoba Tip-Top, saya terkesan bukan dengan eskrimnya tapi dengan sang pemilik toko mampu bertahan berjualan eskrim di tengah gempuran produk-produk es-krim lain yang progresif banget. Ketika memutuskan untuk mengunjungi Ragusa di Jakarta, yang dibayangan saya ya macam Tip-Top begitu. Hahaha..

Eskrim Ragusa berlokasi tidak jauh dari Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal, dari Stasiun Juanda dan Shelter Busway Juanda situ bisa jalan kaki, tinggal nyebrang saja pakai jembatan penyebrangan. Warung eskrim ini tidaklah besar, kalau akhir minggu bisa ruamek banget. Nah, kebeneran saya ke sana hari Sabtu dan sedang rame – pas banget sore-sore dan cuaca panas. Mirip seperti Tip-Top di Jogja, Ragusa masih memakai interior lama, kursi, meja kasir, dan dapurnya saya yakin masih sama seperti dulu. Di dindingnya terpajang foto-foto lama yang saya juga tidak mengerti, ini foto-foto courtesy asli atau hanya pajangan untuk menampilkan suasana jadul wkakkaka.. Karena fotonya agak kurang nyambung gitu.

  Gak kalah tua dengan toko Mama Papa saya

Pemilik dari Ragusa adalah keluarga Chinese, Encim-encim sudah setengah baya menjaga kasir, dibantu beberapa pegawainya untuk bersih-bersih. Di belakang (di dapur) ada Om yang sepertinya anak dari si Encim yang meracik eskrim pesanan. Jadi sistemnya, kita pesan dan bayar di kasir, lalu struknya dibawa ke belakang untuk dibuatkan eksrim ke si Om. Waktu itu saya tidak ikut pesan, karena jagain kursi barangkali keambil orang. Ho-oh, jadi kursinya rebutan dengan orang lain gitu. Hahaha rada bar-bar yah. Nah, si Encim itu orangnya tidak suka kalau kita konsumennya kelamaan milih dan kebanyakan nanya, jadi ketika Uut pesan setengah diomelin. Begitupun pas pesan eskrimnya di belakang, si Om juga sama bawelnya, ketika Uut milih-milih sendok eskrim. Duhh galak-galak bener siiii..

Jadi dari kejadian itu, kami agak bete gimana gitu. Sudah makan kudu buru-buru karena kalau kelamaan bakal ditegur, lalu tempatnya juga bisa dibilang tidak terlalu bersih, di dekat kursi saya aja ad kecoak lho hiiiii serem yahhh.. Nah, no AC juga tempatnya. Makanya kalau makan eskrim di Ragusa jangan berharap bisa makan eskrim cantik ya Gengss.. Rasa eskrimnya menurut lidah saya, biasa-biasa saja. Dibilang enak banget ndak juga sih. Tapi bukannya gak enak, jadi biasa lha. So, saya agak tertipu dengan review dari blog-blog lain yang bilang Ragusa itu enak banget dan wajib banget dikunjungi. Oh so over-rated.

Ragusa perlu dikunjungi, kalau menurut saya perlu memang. Tapi gak wajib. Dan ketika ke sana, mending lower your expectation, jadi tidak terlalu kecewa. Buat sebuah toko yang pernah nge-hits pada jamannya (ya waktu dulu jaman tahun 1930-an kan makan eskrim itu hanya bisa dinikmati oleh masyarakat high-class) Ragusa kini agak miss-manage. Ya boleh, gak ada salahnya juga masih menggunakan pakem-pakem lama dalam berbisnis, tapi jika begini terus, pelayanannya begini, situasinya begitu, coba siapa yang mau pergi ke situ lagi untuk kedua kalinya. Sekali saja sudah cukup kali yah.

Sekian review saya mengenai Eskrim Ragusa, agak sedikit mengecewakan. Tapi buat tambah-tambah pengalaman nyicip-nyicip makanan, kamu perlu ke Ragusa! Enjoy Jakarta, enjoy Ragusa bagaimanapun keadaannya hahaha..

Thursday, February 11, 2016

Jelajah Batavia Lama

Beberapa hari sebelum menikmati Imlek, saya berkesempatan untuk mengunjungi Kota Tua yang terletak di Jakarta Barat. Sebenarnya masing-masing kota besar di Indonesia pasti memiliki sisi kota yang terkesan jadul ditandai dengan bangunan-bangunan tua yang masih jaya berdiri di pinggir-pinggir jalannya. Seperti contohnya di Kota Gede nya Jogja, atau Kota Lama di Semarang. Nah meski sudah sering hilir mudik, saya belum pernah sekalipun ke Kota Tua, begitu juga Adek saya si Ndut yang juga penasaran. Tadinya trip Sabtu Ceria ini inginnya sih ke Kebun Binatang Ragunan, tapi tidak jadi ditimbang-timbang eh Kota Tua koq rasanya lebih seru yakh wkakakka..

Kami berangkat dengan naik Trans Jakarta (TJ), karena shelter TJ di Kota Tua (Shelter Kota) udah deket banget lokasi tujuan. Tinggal jalan kaki saja sebentar, sebenarnya bisa juga pake KRL langsung nyampe juga di Stasiun Kota yang sebrang-sebrangan dengan shelter TJ. Nah, uniknya nih, kedua transportasi ini punya jalan sambungan di bawah tanah (underpass) jadi mengingatkan kita seperti lokasi wisata di luar negeri. Wah asiknya pakai underpass jadi gak usah panas-panasan lagi di jalan raya dengan resiko ketabrak mercy kan. Sesampainya kami di kompleks Kota Tua, Ndut dan saya nunggu teman saya Uut yang bergabung dalam trip singkat ini. Kami nunggu di pelataran Factor Ij alias Museum Bank Mandiri yang lokasinya persis di depan pintu keluar underpass.

Dengan perut agak melilit kepingin BAB, saya akhirnya memutuskan masuk duluan ke Museum Bank Mandiri dengan rencana nyari WC tapi koq gak kelihatan WC-nya dimana. Sambil foto-foto eh melilitnya hilang sendiri wkakakka, lalu Uut datang. Jadi lengkaplah formasi acara jalan-jalan hari ini – Ndut, Uut, dan saya. Btw, agar lebih teratur saya buat list saja ya tempat mana saja yang saya kunjungi dalam trip ini, yuk mari cekidot:

#1 Museum Bank Mandiri
Tiket masuk : (umum) 5000 rupiah, (nasabah/pegawai Bank Mandiri) gretong

Lokasi pertama yang kami kunjungi, museum ini menarik tapi pas masuk memang terkesan rodo horor. Tata bangunannya dibuat persis seperti Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) ketika masih beroperasi dulu, lalu ada banyak manekin-manekin yang memperagakan aktivitas-aktivitas bank ketika itu. Hihihi.. Emang ga kebayang kalo udah malem suasananya gimana. Museum ini dulunya memang bank beneran (NHM), sempat jadi perusahaan dagang tapi habis itu berubah jadi bank.

Di dalam museum selain kita bisa mengagumi arsitekturnya dan tata letak museum, di sana juga terdapat koleksi alat/mesin untuk membantu kegiatan di bank seperti mesin hitung, mesin ATM, mesin tik, mesin input data, mesin teller, dll. Lalu ada pula koleksi surat-surat berharga jadul yang kuno banget. Ada banyak spot foto yang lumayan juga lho di sini. Pokoknya serasa dibawa ke dunia bank tempo dulu. Yang paling menarik menurut saya adalah bagian ‘Kasir Cina’ lucu banget kenapa untuk orang Cina dulu sampai dipisah segala ruangannya.

Pernak pernik di Museum Bank Mandiri

Bangunan Bank Mandiri terdiri dari 4 lantai. Lantai basement, dasar, lantai 1, dan 2. Tetapi untuk museum hanya dibuka 2 lantai saja, lantai dasar dan lantai 1. Di lantai dasar isinya seperti yang sudah saya ceritakan di atas. Lantai 1 terdapat ruang meeting dan lukisan kaca patri (stained glass) yang keren banget.

#2 Museum Bank Indonesia
Tiket masuk : (umum) 5000 rupiah

Selesai dengan Museum Bank Mandiri, tepat di sebelahnya terdapat Museum Bank Indonesia. Usia bangunannya lebih tua. Kalau bangunan Museum Bank Mandiri dibangun pada tahun 1929, Museum Bank Indonesia dibangun pada tahun  1828. Beda 100 tahun. Maka dari segi arsitektur, bentuk bangunannya lebih klasik. Museum yang biasanya terkesan jadul dan berbau aneh (dan agak berdebu-debu gimana gitu yah), di Museum Bank Indonesia jauh dari kesan jadul. Seriously. Mana berAC pula, wah enak banget deh pokoknya.

Gedung kolonial disulap jadi museum modern

Museum Bank Indonesia sejak awal detail banget dalam menjelaskan sejarah Bank Indonesia, lalu perjalanan kondisi politik-ekonomi di Indonesia. Makin ke belakang makin bisa kita nikmati barang-barang peninggalan yang lucu-lucu banget termasuk koleksi mata uang jadul dari jaman Indonesia masih susah sampai masih susah juga kayak sekarang wakakkaka.. Maksudnya dari jaman penjajahan sampai jaman kemerdekaan gitu. Eh ada koleksi uang asing kuno juga lho. Museum ini salah satu museum yang menurut saya niat pengelolaannya. Penyampaian informasi begitu interaktif dan menarik. Penataan ruang, sekat, koleksi, papan info, jempolan banget!

#3 Lapangan Fatahillah
Tiket masuk? Gratis bok!

Dua museum di atas letaknya agak berjauhan dengan ikon Kota Tua yaitu Gedung Fatahillah dan lapangannya yang super luas. Pusat Kota Tua ini dapat ditempuh dengan jalan kaki dari Museum Bank Mandiri + Museum Bank Indonesia lalu agak nyebrang dikit, maka barulah kita sampai ke jantung utama Kota Tua yang ramenya pol ala ala pasar kaget. Jalan menuju pusat keramaian kami disambut oleh deretan abang-abang penjual jasa ramalan garis tangan (palm reading). Heran juga saya ya. Lalu banyak juga yang menjajakan kaos dan souvenir-souvenir Kota Tua. Di sisi sebelah kiri, terdapat deretan kafe dan tempat makan yang terkesan jadul tapi hipster.

Yang tak dapat dipisahkan Gedung Fatahillah dan sepeda ontel

Lapangan Fatahillah luas beud, jadi idealnya kalau mau muterin pakailah sepeda (harga 20.000/setengah jam). Kalau jalan kaki dengan terik matahari jam 11 siang, jangan deh, malah pening ini kepala hahahaha.. Lalu, yang menarik di sekitaran lapangan selain banyak yang jualan, dan sewa-sewa sepeda, ada pula orang-orang yang pura-pura jadi patung hidup, seperti ada patung noni belanda, patung Aladdin, W.R. Supratman, dan laen-laen. Untuk anak-anak ada badut Doraemon, Upin-Ipin, dan Masha yang siap jadi obyek foto. Sebenarnya agak absurd juga ya, foto bareng Doraemon tapi latarnya Kota Tua, nah lho.

#4 Café Batavia
Agak males lama-lama di lapangan karena kepanasan. Kami memutuskan untuk ngadem, tapi bingung mau ngadem dimana. Lalu di pojokan terdapat café unyu yang kayaknya (dan emang beneran) mahal, namanya Café Batavia. Kafe ini bangunan luarnya ya kolonial seperti kebanyakan bangunan di Kota Tua. Interior-nya juga sengaja dibuat cantik-cantik kuno begitu. Hiasan-hiasan foto dengan bingkai lama, lalu meja dan kursinya juga kayu (sepertinya jati) yang cocok dengan suasana tempo dulu.

Judulnya sih makan minum cantiks cantiks

Sebenarnya agak jiper juga ya masuk ke café ini, secara apalah kami ini, hanya butiran debu. Kebanyakan yang masup adalah bule-bule gorjes atau pelancong-pelancong gaul. Kami yang sudah keringetan bak tukang becak ini nekad aja masup. Ingin tahu dalamnya kayak gimana, ya kalo mahal paling hanya beli minum dan numpang foto-foto aja deh. Membuka menunya gak heran si, harga minumannya di atas belasan ribu, makanannya paling murah 20ribuan yaitu berbagai macam jenis dimsum yang menarik. Akhirnya kami memutuskan beli Chinese Tea (yang bisa di-share bertiga) dan 3 jenis dimsum. God, itu aja udah 150 ribu habisnya. Deuh mahalnya ya Jeung.

Ohya, perlu diingat juga bahwa meja yang letaknya di dekat jendela memiliki batasan waktu pemakaian, yaitu hanya 2 jam saja. Wah, begitu eksklusifnya ya meja dekat jendela. Tapi memang sih, view-nya memang best sekali. Saran saya, coba deh pakai kostum yang bagus, dompet kudu tebel juga, untuk dapat sensasi makan yang tidak biasa. Kalo kayak kami bertiga kemarin, agak ngiri juga lihat di sebelah bisa minum wine dan makan steak. Huwahhhh penasaran.. Wine di sini lumayan lengkap dan makanannya variatif dari menu barat, oriental, dan Indonesia.

#5 Museum Wayang
Tiket masuk : (umum) 5000 rupiah

Sowan sama Unyil dulu yah

Museum Wayang terletak di sekitaran Lapangan Fatahillah, memiliki bentuk bangunan yang lucu dan catchy banget. Dulu bangunannya merupakan sebuah Gereja, gak heran di dalamnya jangan kaget ya kalau di dalam ketemu batu nisan yang berukir tulisan-tulisan latin. Hiiiiii.. Haaaaaa.. Kelihatan dari luar berasa kecil, tapi sampai di dalam ternyata luas dan panjang. Meski tidak sebagus Museum Bank Indonesia dan Museum Bank Mandiri, museum ini mayan juga. Saya bisa bertemu si panggung boneka Po Te Hi dan Unyil beserta keluarga. Ya, bukan hanya wayang yang dipamerkan di sini, tetapi juga puppet-puppet tradisional lain dari Indonesia dan dunia. Waaaa sayang banget ga ngajakin Creamy.

#6 Museum Seni Rupa dan Keramik
Tiket masuk : (umum) 5000 rupiah

Ane ngantor dulu yeeee

Kalau kaki masih kuat untuk jalan keliling-keliling Kota Tua, gak ada salahnya mengunjungi Museum Seni Rupa dan Keramik. Museum ini memakai gedung tua bekas pengadilan kota. Pilar-pilar besar, pohon beringin, dan taman yang luas, memang khasnya bangunan kepemerintahan jaman dulu yah. Koleksi dari museum ini banyak berupa lukisan, termasuk karya dari Raden Saleh, Affandi, dan Antonio Blanco. Menarik.

#7 Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah)
Tiket masuk : (umum) 5000 rupiah

Para pecinta sejarah hihihi..

Yak, ini museum terakhir yang saya kunjungi. Tadinya bingung juga, yang mana yah Museum Fatahillah, oh ternyata Museum Fatahillah adalah nama lain Museum Sejarah Jakarta. Kalau demen sejarah dan barang antik, kudu banget ke museum ini. Koleksinya antik-antik, meski penataannya kelihatan kurang terurus dan maaf agak terbengkalai, tapi Museum Fatahillah punya spot-spot tertentu yang cantik banget buat di foto.

Di belakang museum, terdapat sebuah taman yang cukup luas dan penjara bawah tanah. Di taman ini qt bisa sekedar ngadem, lihat yang hijau-hijau, atau duduk-duduk ngerumpi. Kalau agak sepi, wah kayaknya enak banget deh buat ngelamun, sayangnya rame dan banyak alay wahahhahha.. Cantik banget tamannya, pohonnya begitu rindang.

#8 Pos Café
Kalau laper, jangan takut untuk masuk ke kafe-kafe yang tersebar di sekitaran Kota Tua. Harganya pun sebenarnya termasuk standar untuk makan dan minum di sebuah lokasi wisata (around 30-50rb). Kalaupun tidak mau masuk kafe, di pinggiran lapangan banyak yang menjual nasi pecel dan ada juga Indomaret kalau mau makan yang instant-instant. Kebetulan di Pos Café ini Uut makan siang. Ndut dan saya masih kenyang jadi gak makan dulu. Makanannya makanan Indonesia, enak juga menurut Uut. Tapi toiletnya kurang enak. Kenapa nama nya Pos Café? Karena kafe ini sebelahan persis dengan kantor pos – yang lagi-lagi bernuansa jadul. Ahhhh apa sih yang gak jadul di Kota Tua. (maap ga poto-poto di Pos Cafe)

Yak, begitulah perjalanan saya mengelilingi Kota Tua seharian. Wahhh capek kaki tapi hati ini rasanya puas sekali. Buat para pejalan yang sedang mampir ke Jakarta, kudu pake banget visit Kota Tua. Meski belum semua museum rapih dan tukang jualan juga banyak yang sembarangan, Kota Tua menawarkan pengalaman berpetualang yang mengasyikan sekaligus bikin pinter. Saran saya untuk menjelajahi Kota Tua datanglah dari pagi sekitar jam 9 pagi (pas banget jam museum-museum buka), sampai dengan siang menjelang sore. Selain museum, banyak juga bangunan umum yang juga lucu-lucu dan menarik, sayang saya tidak menyempatkan foto-foto dengan gedung-gedung tersebut, next time deh ya. Ok, sampai bertemu di destinasi selanjutnya ya!

Wednesday, February 10, 2016

Pacaran Lama Belum Tentu Jodoh

Seorang teman begitu merana ketika memutuskan hubungan romantik dengan pria yang telah dijalinnya sejak lama. Merana sampai-sampai curhat ke psikolog, ternyata curhat ke teman tidak mempan rupanya membuat hati ananda tenang. Karena pacarannya sudah lama, dia sampai bilang kalau sayangnya dia sudah habis untuk si cowo tersebut. Susah move on. Sampai profpic aja masih pakai foto berdua. Mereka juga masih sering ketemuan. Siapa yang mutusin? Teman saya yang memutus hubungan, alasan jelasnya saya juga tidak tahu. Melihat dia segitu desperadonya, saya jadi kasihan. Betapa sedihnya putus cinta.

Hmmm.. Pacaran 6 tahun, 4 tahun, 2 tahun, tidak menjamin pasangan kita ini adalah sang The One yang dinanti-nanti sejak lama. Hal ini membuat kita berkonklusi kuantitas tidak menentukan kualitas. Jodoh memang misteri ilahi. Banyak contoh di sekitaran kita, dimana orang yang begitu lama kita perjuangkan ternyata dia bukan untuk kita tapi untuk orang lain. Lalu, yang kocaknya, ada orang baru yang datang dan serius, lalu gak pakai lama bisa mengantar kita ke depan meja altar atau meja penghulu. Jeng.. Jeng.. Kenapa yah begitu misteriusnya persoalan jodoh itu.

Saya sendiri memiliki pendapat bahwa sebenarnya The One itu tidak ada. Istilah The One saya pikir terlalu naïf. Kalau menikah sudah bilang pasangan adalah The One, ya wajar lha. Tapi pas pacaran sudah nyebut pasangan adalah The One, eh tunggu dulu bisa jadi ada The One The One lain yang ngantri tapi ga berani deketin karena ada The One yang ono. Hahaha.. Dan ketika menikah pun banyak orang yang berani lirik sana dan sini, lho itu apa kabarnya si The One? Ke laut aja deh The One.


Cerita-cerita soal jodoh memang unik. Ada beberapa cerita menarik dari teman yang menurut saya luar biasa. Cerita ini bikin kita berpikir bahwa memang benar kalau ‘Pacar Lama Belum Tentu Jodoh’. Alkisah seorang cewe memiliki pacar cowo yang gaje banget, suka selingkuh, tapi anehnya si cewe selalu sabar dan menanti sang pacar berubah. Empat tahun lamanya, si cewe ini menunggu, tapi tidak ada perubahan. Lalu mereka putus dengan bertengkar hebat. Sedih? Banget. Untungnya si cewe matanya sudah terbuka. Lalu, kini sudah punya pacar baru yang ouukeee banget dari segi bibit, bebet, dan bobot, setengah tahun yang lalu baru jadian. Juli ini mereka akan menikah.

Banyak versi dari teman lain yang kurang lebih alurnya mirip dengan cerita di atas. Sudah luamak banget pacaran sampai lumutan, ternyata bukan jodohnya juga. Tapi mari diperhatikan, coba kalau si cewe tidak pernah putus dari cowo lama, apa iya dia bakal dapet calon suami yang jempolan banget. Nah, terkadang, kita memang kudu dapat yang pait dulu baru dapat yang manis. Hanya saja banyak orang yang terlalu takut untuk memutuskan hubungan yang sudah lama terjalin. Kalau ternyata penghalangnya sedikit, adem ayem saja ya hubungan ini layak dipertahankan. Tapi semisal, kita mengetahui sang pacar menyebalkan di bertahun-tahun kemudian, kita cenderung untuk menghapus option putus. Alasannya? Mostly karena sudah pacaran lama, sayang kalau tidak diteruskan, sudah banyak yang dikorbankan, sudah kenal baik dengan orangtua, kalau putus sudah tidak punya teman wanita lain dan lain-lain. Lalu, kita sendirilah yang menutup jalan mendapatkan seseorang yang better.

Apakah kita takut putus cinta? Kudunya sih enggak. Ya secara begini sih, buat orang yang sudah dewasa, ketika komit untuk berpacaran, di sisi lain ya kita juga tau bahwa di hubungan ini ada konsekuensi putus. Dan inilah yang sering tidak disadari, berani pacaran tapi takut putus. Padahal ya namanya juga manusia, ada cocoknya, ada juga tidak cocoknya. Nah tinggal kita aja milih, apakah kita mau memahami dan memaklumi kelemahan yang dimiliki oleh pasangan kita. Kalau memang sudah tidak bisa mentoleransi kelemahan pasangan, ya sudah diputus aja dan cari orang baru yang lebih match. Gak apa-apa koq kalau kita desperate karena patah hati, tapi ya habis itu kudu move on apalagi kalau kita putus dari pasangan karena perselingkuhan, matre, atau membawa kita ke pergaulan yang gak kita banget. Alasan yang jelas itu merugikan diri kita sendiri. Ya gak usah juga terlalu lama tenggelam dalam kemeranaan, seperti cerita-cerita di atas, percayalah dan optimis kalau kita akan menemukan pasangan yang jauh lebih worth untuk dibawa ke jenjang selanjutnya.

So, mungkin buat teman yang baca postingan ini dan sedang merasa gundah gulana karena sudah pacaran lama-lama tapi putus. Nikmati proses putus ini sebagai proses pendewasaan, and keep moving on.. Masih banyak ikan di laut lho Mba Jeng & Mas Bro!

pic taken from here