Wednesday, February 25, 2015

Hidup Ini Butuh Strategi

Pernahkah kamu merasakan bahwa banyak hal yang ingin dicapai dalam hidup tidak terlaksana sesuai dengan rencana? Banyak yang meleset, gagal, ataupun berubah ke arah yang tidak lebih baik? Saya mengalaminya juga, dan hal ini banyak terjadi setahun belakangan, yang saya sebut sebagai tahun pendewasaan. Entah hal ini terjadi karena apa, tapi dalam kasus saya, saya tau perkara utamanya adalah karena saya terlampau malas. Malas untuk mendisiplinkan diri sendiri, berujung pada melonggarkan tanggung jawab pribadi sampai kebablasan. Saya merasa kecewa terhadap diri saya sendiri, tapi juga tidak ada perubahan. Saya ingin sekali berubah, beneran.

Sejak dua hari yang lalu saya membaca sebuah buku, buku ini berjudul “Hidup Sederhana, Berpikir Mulia : P.K. Ojong Satu dari Dua Pendiri Kompas”. Saya membeli buku ini dari uang angpao yang diberi oleh Engkong, Mama, dan Kakak saya. Lumayan, buku ini bisa mengisi kekosongan mental dan rohani. Saya rasa sebagai generasi muda, harus banget nih baca buku ini. Highly recommended! Nah, gegara membaca buku ini, saya jadi merasa tertohok jleb jleb jleb.. Saya merasa malu saja, sebagai orang yang hidup di jaman modern, diberikan banyak sekali kemudahan, tapi justru saya tidak bisa sekeren Pak Ojong. Pak Ojong selalu penuh strategi dan bersungguh-sungguh dalam melakukan banyak hal. Saya sendiri? Haduh rasa malas ini rasanya keburu menutup keinginan membuat strategi. Padahal seperti yang saya sering obrolkan dengan Marsha, bahwa kami setuju kalau, hidup ini butuh strategi, bukan sekedar go with the flow.

Saya tidak sepenuhnya menyalahkan pernyataan ‘go with the flow’ karena ketika ada beberapa kejadian yang terjadi di luar kontrol kita, pernyataan ini akan menjadi pas karena we can’t do anything, selain mengikuti alurnya saja. Tapi ada banyak kasus yang perlu kita tangani dengan pemikiran yang matang dan membutuhkan strategi alias ada tujuan dan target. Ini lah yang sering kita lupakan. Saya sendiri sering mempunyai tujuan tapi tidak sungguh-sungguh memikirkan apa saja yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut. Kita sering sekali terlena dengan angan-angan yang besar, tapi nol besar dalam prosesnya.  Jika ditarik ke pembahasan organisasi kita sering sekali membuat visi yang terlalu tinggi, tapi justru misinya terkesan asal nyambung.

Contoh yang paling gampang saja, di kehidupan sehari-hari yang sering kita temui, sebagai mahasiswa kita sering mengeluh uang jajan kurang sementara banyak kebutuhan atau punya barang yang ingin dibeli. Jujur saja, saya juga mengalami hal yang sama, lalu saya menyadari betapa bodohnya saya. Saya selalu menyesal di akhir bulan, tapi ketika di awal bulan pas uang jajan datang kembali saya melupakan penyesalan tersebut dan hal ini berulang di bulan-bulan berikutnya. Padahal saya sendiri mencatat dengan disiplin berapa uang yang saya keluarkan tiap bulannya, yang seharusnya bisa menjadi takaran berapa uang yang harus saya habiskan untuk slot slot kebutuhan tertentu seperti untuk makan, untuk jalan-jalan, untuk kerjaan, untuk kesehatan, dll. Di sinilah letak plothole nya, saya kurang disiplin terhadap diri sendiri sehingga terlanjur kalap kalau sudah di awal bulan, tidak belajar dari yang sudah-sudah.

Dari buku tentang Pak Ojong, saya jadi ingat lagi mengenai strategi ini. Padahal waktu dahulu saya juga mempraktekan hal ini, dan tamparan lewat buku ini membuat saya jadi mikir : kemana aja nih Puji yang dahulu, yang punya strategi, dan bersungguh-sungguh seperti Pak Ojong? I am still here, dan saya mau berubah demi kebaikan bersama. Karena perubahan itu tidak pernah terlambat. Banyak hal yang membuat saya jadi introspeksi diri, kenapa saya begini, saya begitu, kadang rasanya saya begitu egois tidak memikirkan orangtua dan orang lain. Saya selalu memikirkan kesenangan diri sendiri, bahkan hanya diri sendiri di masa sekarang bukan diri sendiri di masa yang akan datang. Why am I so selfish?

Saya ingin jadi seperti Pak Ojong, yang sadar bahwa kesuksesan itu adalah buah dari proses panjang kerja keras. Terima kasih alm. Pak Ojong. Dan tidak lupa juga Bu Helen yang telah mengangkat kisah kehidupan Pak Ojong ke dalam buku untuk menjadi inspirasi bagi generasi muda. Saya benar-benar tergugah, persis seperti ketika saya SMA saya begitu terinspirasi dengan Soe Hok Gie. Semangat! Mari membuat strategi!


Sunday, February 22, 2015

Kiong Hi Kiong Hi

Imlek tahun 2015 ini saya habiskan dengan pergi ke Kota Semarang. Saya ke Semarang dengan teman-teman sekampung halaman, teman-teman Cirebon. Di sana kami menginap sehari di rumah Vina, pacar Vemby yang aseli orang Semarang. Lalu, hari berikutnya saya sengaja memperpanjang liburan satu hari lagi dengan menginap di tempat Mengty yang sedang kuliah di UNIKA Soegijapranata. Saya senang bukan main bisa mengunjungi Kota Semarang, meskipun hanya sebentar.

Sebenarnya, keluarga besar Papa saya ada saja acaranya tiap Imlek. Tahun ini juga ada acara kumpul-kumpul dengan sodara-sodara di Jakarta, menghabiskan waktu bersama dari pagi hingga malam hari. Bercanda, makan-makan, ngobrol ngalor-ngidul tanpa arah, dan tidak jarang juga bergosip. Acara satu ini -> gosip, memang yang paling digemari, fyi gosip di sini bukan membicarakan orang yang tidak-tidak ya, maksudnya ya obrolan santai dan update informasi seputar anggota dari keluarga besar. Mama Papa saya termasuk orang yang paling dicari ketika ada acara kumpul-kumpul, berhubung keluarga saya adalah yang paling jauh tempat tinggalnya (nyempil sendiri di Cirebon) jadi setiap ada kesempatan berkumpul, Mama Papa are the most wanted people, yang dinantikan kehadirannya. Ditambah mereka berdua memang doyan ngobrol dan tipe muka-muka dicurhatin (dua hal ini nurun sekali kepada saya) jadilah kami dapat cerita-cerita menarik dari kanan dan kiri.

Imlek itu sama dengan kumpul keluarga. Di saat, setiap harinya kami berkutat dengan kehidupan dan pekerjaan masing-masing, saat Imlek biarlah menjadi waktu yang berharga untuk keluarga. Maka, saya sendiri kadang merasa agak sedih kalau ternyata tidak bisa Imlek bersama keluarga, selain karena angpaonya, ya kehilangan kesempatan untuk bercengkrama dengan keluarga, seperti yang terjadi di tahun ini. Saya memutuskan pergi ke Semarang saja karena jika saya ikut pergi ke Jakarta.

Harapan saya di tahun kambing ini saya tetap bersemangat dan tidak pantang menyerah walaupun banyak halangan aral melintang di kehidupan. Dan yang pasti saya juga ingin di tahun baru ini saya bisa kembali ke hobi-hobi positif saya seperti blogging dan membaca buku. Syukurlah, saya dapet angpao dari Mama, Ci Dian, dan Engkong, bisa buat membeli buku bacaan. Hahahahha.. Rasanya haus sekali otak ini mendapatkan inspirasi dari buku. Ok, Selamat Hari Tahun Baru Imlek. Tebar kebaikan dan rejeki dimanapun kita berada! King Hi Kiong Hi..


Tuesday, February 17, 2015

Mirip Papa atau Mama

Setiap orang itu punya kepribadian yang unik. Setiap bayi yang dilahirkan itu berbeda satu sama lain, kembar identik sekalipun. Namun, tidak dapat dipungkiri, bahwa setiap manusia punya sifat-sifat bawaan (nurture) yang memang terkandung di dalam gen masing-masing. Lalu, sifat bawaan itu akan menguat seiring perkembangan mental seseorang dipengaruhi oleh pola asuh orangtua / care giver masing-masing. Maka perilaku anak itu biasanya gak jauh-jauh dari yang mengasuhnya. Jika pengasuh suka marah-marah, pasti akan ada kemungkinan si anak juga menjadi tukang marah-marah. Kalo pengasuhnya doyan makan jengkol, mungkin anaknya juga doyan jengkol.

Dalam keluarga inti saya, terdapat perdebatan, siapakah yang mirip Mama dan siapa yang mirip Papa. Berhubung, Mama saya adalah wanita dominan dan Papa saya itu semacam  kurang unjuk gigi, kami anak-anak mereka memang cenderung lebih dekat dengan Mama daripada dengan Papa, terlepas karena kami berempat sama-sama perempuan. Namun apakah hal ini mengartikan bahwa kami semua mirip Mama? Sepertinya tidak juga. Mari kita runut dari latar belakang dan peran keluarga terlebih orangtua kami dalam pengasuhan.

Keluarga saya adalah tipikal kebanyakan keluarga peranakan Tionghoa yang tinggal di daerah pesisir. Hidup kami selama ini bergantung pada sebuah toko keluarga yang sudah berdiri kira-kira 80 tahun yang lalu (beneran saya, gak bercanda). Pengelolaan toko mulai dari Nenek Kakek buyut saya, ke Nenek saya, lalu ke Papa saya. Tiga generasi. Mulai dari jualan gerabah, jual obat, sampai menjadi toko kelontong seperti sekarang. Ketika Papa saya dipasrahkan si toko ini, berhubung anak laki-laki yang bernasib gak bakat di area dagang berdagang, posisi ‘pengelola’ ato kerennya ‘boss’ di toko malah jatuh ke Mama saya. Padahal Mama saya notabene posisinya menantu, justru lebih bisa belajar banyak dan enjoy dengan pekerjaan ini. Sebenarnya ini juga yang terjadi ketika Nenek Kakek buyut saya memasrahkan toko, Nenek saya itu posisinya adalah menantu, lalu Kakek saya waktu itu memilih tidak mengurus toko tetapi menjadi seorang tentara yang keren.

Mama saya memang menjadi nahkoda utama usaha toko kami, namun, saya sendiri tidak pernah tau soal ini sampai dengan saya sudah SMA. Saya dahulu selalu merasa bahwa toko ini ya Mama Papa yang mengurus, tidak ada yang lebih berkuasa, atau tidak ada yang lebih dominan. Karena sudah besar, lalu bisa mengobservasi sendiri, saya jadi ngeh, well, my family is a little bit different. Dalam keluarga saya, terasa agak timpang antara peran Mama dan Papa, malah saya pikir-pikir kalau peran mereka itu semacam terbalik. Saat SMA, saya baru wondering, di antara teman-teman saya yang urusan sekolahnya selalu diurusi Mamanya, kenapa saya diurusin Papa. Hahahaha.. Padahal tipe keluarga ‘normal’ itu : Papa bekerja dan Mama mengurus anak. Tapi di keluarga saya, Mama saya yang harus bekerja lebih keras, lalu jadi kasarannya Papa saya kayak jadi asistennya. Lalu pas kuliah saya menemukan istilah yang tepat untuk keadaan ini, oh ya berarti bread winner di keluarga saya itu Mama saya.

Dari luar Papa saya seperti pemeran figuran di keluarga, namun sebenarnya setelah dipikir-pikir tidak juga karena beliau memiliki beberapa tugas yang penting. Terutama semasa kami masih sekolah, Papa yang mengurus urusan administrasi sekolah (mulai dari pendaftaran, ambil rapor, ikut pertemuan orangtua, sampai dengan memberi pidato saat perpisahan sekolah). Lalu, untuk urusan toko beliau juga yang mengurus hal-hal administrasi seperti bayar membayar pajak, urusan yang harus bersifat birokratif, dan perbankan. Di sisi lain, Mama saya adalah seorang akuntan di keluarga kami, yang darah berdagangnya rupanya mengalir deras. Otaknya bisa saya bilang lebih cepat dari prosesor komputer mana pun. Meski tidak mengenyam pendidikan ekonomi secara formal, tapi asam garam dunia perdangan membuat Mama saya lebih pintar dari sarjana ekonomi.

Saya sebagai anak punya penilaian personal yang bisa dibilang lebih condong menganggap Mama saya lebih positif daripada Papa saya. Mungkin ini disebabkan oleh Mama saya lebih banyak bercerita mengenai dirinya (curhat colongan) jadi saya selalu bisa memahami sifat-sifat negatifnya. Sedangkan, Papa saya bukan tipe ayah yang hangat terhadap anak-anak, jadi saya menganggap beliau adalah sosok yang ‘formal’. Ngobrol pun jarang sekali, kalau sekarang mungkin bisa dibilang lebih sering karena saya dan Papa punya ketertarikan yang sama di bidang sosial politik. Saya tidak mengenal Papa saya secara menyeluruh, sehingga beberapa perilaku negatif Papa, selalu saya anggap sebagai ancaman yang saya sendiri tidak mau tahu apa latar belakangnya.

Besar di tengah keluarga yang unik seperti ini, pastinya memberikan pengaruh-pengaruh yang unik pula. Secara prakteknya, saya dan kedua saudara kandung saya ini jarang-jarang ‘diurus’ oleh orangtua kami meski kami satu rumah. Mama saya bagaikan wanita karir yang dari pagi-sore di toko, Papa saya cuek dan kurang hangat. Saya sendiri lebih merasa banyak menghabiskan waktu  di sekolahan. Kalau malam, mengerjakan PR, nonton TV, jam 9 rumah saya sudah light off. Sehari-harinya saya lebih sering berinteraksi dengan ‘Mbak’ daripada orangtua saya sejak kecil. Beberapa pembelajaran pertama seperti bisa baca sendiri, bisa nulis, bisa makan sendiri, bisa menyebutkan huruf ‘R’, justru yang tau adalah ‘Mbak’ bukan Mama atau Papa saya.

Saya merasa masa kecil Kakak saya lebih membahagiakan, karena ketika itu Kakak saya adalah anak pertama dan cucu pertama dari kedua belah pihak. Papa Mama saya pun masih dalam masa-masa honeymoon (masih semangat 45, dan belum jenuh berkeluarga), buktinya adalah begitu banyaknya memorabilia Kakak saya di rumah, foto-foto masa kecilnya tersimpan rapih dan terawat. Ketika saya lahir, saya ketika masih bayi sempat dititipkan di rumah Nenek saya dari pihak Mama, saya gak tau persis alasannya apa, tapi sepertinya ketika itu rumah tangga Mama Papa saya rada gonjang-ganjing. Believe it or not, jika ditanya soal memori masa kecil di keluarga, saya tidak pernah bisa mengingat masa-masa yang menyenangkan, saya justru ingatnya Mama Papa saya sering bertengkar, lalu ada adegan kabur-kaburan kayak di sinetron gitu. Ketika adik saya lahir, keadaan keluarga sudah lebih stabil, karena perekonomian keluarga sudah lumayan. Mama Papa saya pun sudah lebih dewasa.

Kayaknya nih saya juga punya middle child syndrome, dimana saya ngerasa saya teralienasi dari keluarga. Namun, sepertinya begitulah keadaannya, ketika jadi anak tengah di antara tiga anak yang semuanya perempuan. Ada aja rasa dibandingkan-bandingkan secara berlebihan oleh kedua orangtua, tapi saya juga gak tau apakah ini hanya perasaan saya aja atau ngga. Saya malah waktu SD sempet berpikir kabur dari rumah karena kadung bete banget suka disalah-salahin orangtua dan tidak dianggap lebih baik dari Kakak saya. Namun, semakin besar, saya jadi makin sadar juga bahwa pengalaman pahit ketika masa kecil itu sudah berlalu, sekarang Mama Papa lebih wise dan saya sendiri juga sudah lebih jarang membuat masalah di rumah (berhubung dari SMA sudah keluar dari rumah hehehehe..)

Balik ke pertanyaan ‘mirip Papa atau Mama?’, dari latar belakang yang sudah saya ceritakan bisa ditebak kan, anak dari orangtua saya ingin dibilang mirip siapa. Yap, mirip Mama. Mama saya sendiri sejak saya kecil selalu mengasosiasikan sesuatu yang baik kepadanya dan yang kurang baik ke Papa saya, contohnya saja, ketika Mama ngomel suka terucap kata-kata ‘kamu malas kayak Papa’ atau ‘kamu boros mirip si Papa aja’. Sedangkan yang baik-baik semisal ‘Ci Dian hemat kayak Mama’ atau ‘Untung anak-anak perempuan Mama gak macem-macem, kayak Mamanya’. Saya dari SMA sudah merasa ini salah satu kebiasaan Mama saya yang kurang baik, dengan kata lain, ya masing-masing punya kelemahan dan kelebihan, meskipun masing-masing membuat pencitraannya sendiri.

Semakin besar, saya pribadi menyadari dari banyak hal yang saya miliki, saya mirip sekali dengan Papa, hal ini tentunya kontras karena sejak kecil saya selalu sebal dengan Papa saya. Ternyata, buah dari kesebalan itu adalah saya justru menjadi orang yang makin lama mirip dengan Papa saya. Pertama, soal wajah, meski kalo dilihat-lihat Adik saya itu mukanya yang paling mirip dengan Papa saya, tapi ketika difoto entah ya, kenapa muka saya yang paling mirip dengan si Papa *senewen *gakterima. Kedua adalah ada beberapa kebiasaan yang sama persis dengan Papa, salah satunya adalah kebiasaan buruk saya mengupil, lainnya mulai dari bisa tidur dimana saja, ga rewel makan, bisa ngegembel, awet kalo punya barang, sama-sama suka sospol, sama-sama ngarep jadi pejabat daerah, suka banget baca, dll. Ketiga, well, beberapa sifat saya memang mirip dengan Papa mulai dari diam-diam pendendam, bisa males kebangetan, gak mau ngalah, suka memperjuangkan keadilan, open-mind, cenderung cuek, suka nasihatin orang, kadang plin plan, susah ditebak, suka pura-pura baik sama orang, tipe setia, dll.


Setelah saya uraikan ternyata si Papa punya sifat-sifat baik juga kan ya, tidak sepenuhnya jelek, walopun yang lebih sering keliatannya yang aneh-aneh. Dan begitu juga saya sendiri, meski cenderung mirip Papa, not too bad, bukan berarti saya adalah orang yang nyebelin. Gegara saya menyadari bahwa saya ini mirip sama si Papa, saya harus menarik ucapan bahwa saya bete sama Papa, karena kenyataannya, he is your father and you are really like him. Uhmmm.. Refleksi ini cukup membuat saya tertegun & kaget bagaikan Luke Skywalker ketika mengetahui bahwa Darth Vader itu ternyata Bapaknya. Nah kan saya mulai ngigo dan berimajinasi, just like my dad! Puji itu anak Papa banget.

Saturday, February 14, 2015

Valentine 2015

Hari kasih sayang, hmmm.. Nothing but special. Saya sih bukan orang yang suka merayakan hari kayak ginian, ya beberapa tahun ini hanya menjadi ajang untuk kirim-kiriman ucapan aja lewat socmed atau messenger apps. Sekalian keep in touch dengan teman-teman mulai dari teman-teman kos, SMA, kuliah, & komunitas. Buat beberapa orang hari ini terasa sangat spesial, terlebih buat yang punya pasangan. Saya jadi ingat, jaman SMP dulu suka banget minta uang jajan lebih ke orangtua cuma buat beli cokelat, cokelatnya buat bagi-bagi ke temen-temen. SMA? Mulai realistis bahwa cokelat itu muahal, mending uangnya saya simpen buat makan. Jaman kuliah, saya hanya kasih cokelat ke teman sepermainan, itu juga karena gak enak karena yang laen bagi-bagi masa saya ga bagi-bagi ahhaahhaha..

Kejadian yang paling saya ingat ketika Hari Valentine adalah ketika tanggal 14 Februari tahun 2006, ketika itu saya masih kelas 1 SMA. Ada kakak kelas yang naksir sama saya, saya dari kecil suka sebal sama acara naksir-naksiran, bukannya ke-geer-an tapi saya malah serem dan takut dengan oknum yang naksir saya itu. Si Kakak kelas ini, memang terkenal aneh di sekolah, orangnya pendiam tapi sekalinya memulai pembicaraan katanya sih suka ga nyambung. Temennya pun tidak banyak di sekolah. Orangnya sih ga jelek, denger-denger dy jago karate, sudah sabuk hitam. Dan tak disangka ternyata dy orangnya romantis. Ketika itu hari itu pas istirahat kedua dan akan masuk kelas, saya kaget setengah mati karena tiba-tiba di meja saya ada boneka babi yang dibungkus cantik. Berhubung saya seumur-umur ga pernah dapet hadiah begituan, hari itu rasanya awkward setengah mati.

Rasa malu saya lebih gede daripada rasa seneng saya. Jadilah itu boneka saya titipkan ke teman saya, tolong dy yang bawakan. Saya belum sudi begitu, terima itu boneka. Hahahaha.. Dipikir-pikir saya jahat juga yah jadi orang. Terus apakah karena dikasih boneka lalu saya jadi suka sama si kakak kelas? Nggak, saya malah tambah sebal. Ya ampun, defensif nya saya. Lalu, namanya juga cinta monyet, ga lama setelah itu, si kakak angkatan sudah tidak kejar-kejar saya lagi. Hahahaha.. Kocak. Kalau saya ingat kejadian ini rasanya malu, tapi juga terkesan. Terkesan dengan kelabilan anak remaja, terkesan dengan keberanian si Kakak kelas. Dulu saya menganggap ini sebagai pengalaman buruk. Tapi saya juga gak nyangka, bahwa sekarang, cerita ini menjadi salah satu pengalaman berharga saya di SMA.

Semakin dewasa, pemaknaan Hari Valentine itu terasa semakin meluas. Kalo dulu rasanya JoNes banget (Jomblo Ngenes), tanggal 14 itu rasanya desperado gegara gak punya pasangan, sedangkan di sekolah dan kampus harus menyaksikan beberapa adegan romantis ala drama Korea. Setelah sudah dewasa, sedikit bodo amat, tapi juga merasa bahwa hari ini bisa dijadikan hari untuk mendekatkan diri kepada orang-orang yang disayangi. Dan bagaimana bunga, cokelat, dan kado terasa artifisial, sebab apabila di hari kasih sayang ternyata masih ada orang yang kamu hindari, cuekin, dan musuhi, buat apa kita harus heboh sendiri dengan perayaan ini.


Sekian posting untuk Hari Valentine 2015, ohya makasih banyak untuk Marsha dan Mas Didim karena sudah mengajak saya makan malam ‘sweet’ di sekitar alun-alun kidul kota Jogja, ditemani lampu temaram, serta lalu lalang turis dan lokal. Malam ini, saya makin paham kenapa setiap sudut Kota Jogja itu begitu romantis.

Friday, February 13, 2015

Kalau Cinta, Tidak Posesif

Saya pernah punya pacar, walaupun pada kenyataannya, si hubungan tidak pernah berlangsung lama. Punya pacar pernah, punya gebetan pernah, punya teman tapi mesra juga pernah, hitungannya ya saya gak sengsara-sengsara amat sebenarnya dilihat dari peruntungan kehidupan cinta. Buat di kalangan teman-teman saya baik lingkaran pertemanan jaman SMA maupun kuliah, saya gak cupu-cupu amat, ada lho beberapa teman saya, yang gebetan saja gak punya boro-boro pernah pacaran. Lalu, di usia yang hampir seperempat abad begini, teman-teman ‘virgin’ saya tersebut lalu makin penasaran, menjadi-jadi, serta liar dalam mencari pacar. Takut jadi ‘jomblo perak’ katanya. Masa umur segini belum pernah pacaran. Hahahaha.

Meski saya gak cupu-cupu amat, tapi jangan bandingkan saya dengan teman-teman yang memang udah pada pernah pacaran dari SMA, hmm.. bahkan waktu TK pun sudah punya pacar. Wah kalah banget saya mah.  Ampun.. Ampun.. Pengalaman saya dibandingkan dengan mereka, ecek-ecek banget. Intinya nih ya, ya saya kurang jago dalam dunia percintaan makanya pengalaman saya juga walaupun ada tapi sedikit. Dengan begitu, pengetahuan saya mengenai ilmu memahami lawan jenis dan relasi romantis juga otomatis cetek donk. Yang kocak, meski kurang pengalaman tapi ada beberapa kejadian yang bikin saya tau lalu berintrospeksi, bahwa ada tipe-tipe manusia yang kalau bisa nih ya jangan sampe banget deh amit-amit jadi pasangan sehidup semati saya. Spesies tersebut dinamakan manusia-manusia posesif.

Manusia-manusia posesif ini berkeliaran dimana-mana, dan entah herannya kenapa selalu muncul di kehidupan saya setahun belakangan. Teman saya, Marsha, sampai menamakan saya sebagai Magnet Orang Posesif, saking seringnya saya cerita mengenai orang-orang ini. Saya ketemu tipe posesif-posesif beginian di kos, di kampus, di komunitas, sampai di lingkungan persahabatan yang sudah sekian belas tahun saya jalani. Rasanya muak juga si kesandung masalah dengan orang-orang seperti itu. Kejadiannya saya gak tau mana yang kejadian duluan, karena si tokoh posesif yang sama ini datang dan pergi begitu saja secara bergantian, serem kan kayak hantu. Manusia-manusia posesif ini sebut saja : Mister Ketek, Nona Insecure, dan Teteh Sadako.

Cerita saya random saja ya, saya mulai dari “Kisah Puji dan Mister Ketek” alkisah, saya yang hidup harmonis bersama anak-anak kos yang imut, tiba-tiba jadi korban curhatan seorang tetangga kos. Tetangga kos yang usianya lebih muda dari saya ini punya seorang pacar, namanya Mister Ketek. Dari cerita tetangga kos, saya menangkap bahwa si Mister Ketek ini adalah tipe cowo pintar di perkuliahan tapi sayang agak oon di hubungan percintaan. Oonnya dimana? Di perilakunya yang memilih kekerasan sebagai jalan keluar suatu permasalahan, singkatnya tetangga kos saya ini korban kekerasan dalam pacaran. Yang hebatnya, sepertinya dua orang ini punya hubungan yang sado-maso. Jadi satu suka nyiksa, yang satunya juga suka disiksa. Jadi, walau kesannya sedih karena tetangga saya ini selalu jadi korban tapi dy gak putus-putus tuh, dengan meyakini bahwa perilaku kasar Mister Ketek ini akan pelan-pelan berubah.

Bukan sampai di situ saja, bagaikan paket hemat KFC, Mister Ketek ini adalah paket lengkap. Sudah KDP, eh ternyata posesif pulak. Sehari-harinya hidup tetangga kos saya ini harus chattingan dengan doi. Tiap mau pergi kemana juga HARUS ngabarin, kemana dengan siapa, kapan. Mamihnya si tetangga kos aja gak gitu-gitu amat. Saya sih aneh aja sama interaksi mereka, koq betah banget yah ni anak pacaran sama Mister Ketek, saya mah ogah amat punya pacar macam ginian. Lalu, sampai suatu ketika, berhubung saya suka dicurhatin lantas saya juga jadi deket kan dengan tetangga kos, lalu saya suka ajakin dy makan, wisata kuliner, atau ngapain gitu. Sampai ketika, jeger-jeger, si tetangga sempat marahan besar dengan Mister Ketek gegara saya ajak pergi-pergi. Oh ternyata tiap saya pergi dengan tetangga kos, dy gak pernah ngomong sama Mister Ketek, pas keceplosan kena marah deh. Ya oloh. Saya jadi malas ngajak dy pergi-pergi lagi, termasuk pergi cuma buat makan ya..

Cerita kedua berjudul “Petualangan Puji dalam Dunia Nona Insecure”. Cerita dimulai dari keikutsertaan saya dalam komunitas blog di kota Jogja tercinta ini, lalu saya ikut kepanitiaan sebuah acara nasional blogger. Saya sih senang-senang saja ya bergabung di komunitas yang saya juga kenal betul, nambah teman juga. Enjoy deh. Hari-hari saya dari kopdar, meeting panitia, sampai hari H acara pun lancar jaya. Saya di panitia ini berpartner dengan seorang Om2 berusia 30 tahunan, sebut saja Mas X. Saya dan Mas X cukup kompak bekerja, buktinya kerjaan kami paling beres dibandingkan divisi-divisi lain di kepanitiaan ini. Obrolan kami juga nyambung, saya suka ngobrol dengan Mas X karena dy punya wawasan luas jadi mau diajak ngomong apa aja juga nyambung. Lalu, ketika hari H acara blogger saya dikenalkan ke seorang cewe abege bernama Nona Insecure, yang ternyata pacar Mas X.. Oh jauh ya jarak usia kalian hahahhaa..

Waktu ketemu di acara saya sudah menduga kalo Nona Insecure ini adalah tipe yang manja, childish, egois, maunya diperhatiin mulu, dan perilakunya cenderung impulsif dan posesif. Ya.. Saya sih mengira sifatnya ini mungkin bawaan abege, maksudnya siapa sih yang abege nya stabil, semua juga labil. Tapi positive thinking saya ini berubah setelah saya menjadi korban sang Nona Insecure. Setelah acara selesai, saya masih suka kontak dengan Mas X, yang suka kasih jadwal kopdar, dan lain-lain. Kadang chatting sebentar (cm 10-15 menit untuk tanya atau bagi-bagi informasi). Saya menganggap hal ini biasa-biasa saja, maksudnya plis deh, masa iya juga saya suka dengan Om2 gitu lho dan apalagi mengingat si Mas X udah punya pacar juga. Komunikasi saya dengan Mas X tidak lah spesial, sungguh. Tapi ternyata komunikasi saya dengan Mas X ini dinilai sudah out of border menurut Nona Insecure.

Saya lalu lumayan sering kena teror, dikata-katain di messenger apps dan socmed Nona Insecure. Saya rada ironis, karena pasca acara justru saya sempet deket banget juga dengan Nona Insecure, jadi rada aneh gimana gitu yah. Saya bales? Nggak, buat apa saya bales, saya udah pengalaman, membalas perbuatan buruk itu hanya seperti menumpahkan bensin dalam api, makin besar lah masalahnya. Jadi saya diem saja, sampai akhirnya saya sendiri bikin target, kalau sampai sekali lagi ni Nona Insecure gangguin hidup saya, saya semprot juga ni orang. Karena waktu itu juga saya sudah bilang ke Mas X minta maaf segala kalau selama ini mengganggu (coba kurang baik apalagi, saya kan gak salah, tapi minta maaf). Ternyata absennya saya dalam kehidupan Mas X tidak serta merta membuat saya terlepas dari cercaan Nona Insecure, lalu pada suatu kesempatan, saya marahin balik tu orang. PUAS banget rasanya. Lalu tiba-tiba, habis saya marahin habis-habisan dy malah minta maaf ke saya dengan alasan mau Lebaran. Sekarang? Ga ada urusan lagi tuh.

Cerita terakhir ini saya kasih judul “Puji di Tanah Sunda : Bertemu Teteh Sadako”. Cerita ini sebenarnya yang paling seru dan yang paling lama durasinya. Karena masalahnya sudah kelihatan sejak dua tahun yang lalu, dan baru beres bulan kemarin. Hebat kan. Alkisah saya yang dari kecil suka berteman ini, punya teman SD, namanya Bejo. Bejo ini waktu SD anak kota yang pindah ke desa, jadi paling cakep daripada cowo-cowo lainnya. Gak heran lah kalo Bejo banyak yang naksir dan sampai dengan SMP pun dy suka gonta-ganti pacar. Saya temenan dengan Bejo ini lumayan baik, sempet menjadi crush saya juga waktu SD. Tapi habis gitu saya illfeel sendiri juga ngeliat kelakuannya dy yang cuwawakan gitu. Mana dy juga merokok. Gak mau donk saya bengek karena punya pacar perokok.

SMA saya juga masih kontak walaupun beda kota, awal kuliah saya juga masih kontak dan intens berhubung saya belum punya temen di kota antah berantah. Tapi habis itu ketika masing-masing punya kegiatan dan teman-teman baru, ya renggang. Sampai ketika di penghujung perkuliahan. Bejo cerita kalau dy sudah punya pacar, namanya Teteh Sadako. Saya ditunjukin profil fesbuknya, cantik modis, memang tipikal Cici Bandung gaul. Melihat Teteh Sadako ya saya seneng donk, temen saya punya pacar cantik, lagian si Bejo ini kapan sih pernah punya pacar jelek, perasaan dari dulu juga cantik-cantik semua, hokinya dy deh. Lalu, tidak lama setelah woro-woro punya pacar tersebut, saya tiba-tiba diberitahu kalo mau kontek Bejo jangan lewat socmed, ato kalo mau SMS ato telepon jangan hari Sabtu Minggu. Ya berhubung saya juga udah jarang hubungi dy, jadi saya cuekin aja, toh juga udah jarang banget komunikasi, kalo Bejo hubungi saya duluan baru saya tanggepin.

Alasan dy sih bilangnya Teteh Sadako gak suka kalo ada cewek lain selain dy di kehidupan Bejo, sampe temen deket yang notabene berjenis kelamin perempuan pun disuruh jauh-jauh. Posesif banget kan gaes ni Teteh Sadako. Lama banget saya ga ada ba bi bu sama si Bejo, tiba-tiba suatu hari saya dihubungi Bejo via Twitter, dy minta nomer hape saya, saya ga peduliin waktu itu, saya lagi nonton film Frozen malem-malem. Gak lama. Teman dekat Bejo yang lain, termasuk temen saya dari SD juga, sebut aja Tambun, BBM saya bilang ‘Ji, jangan bales message Bejo yang di twitter, itu bukan Bejo’. Jelas donk saya kaget setengah mati, ada konspirasi apaan nih, napa saya kebawa-bawa.

Dijelaskanlah oleh si Tambun kalo Bejo lagi marahan sama Teteh Sadako gara-gara si Teteh baca message saya ke Bejo di twiiter. Lalu, saya buka twitter baca saya kirim message apa yah. Oh ternyata si Bejo pernah tanya kabar Adek saya jadi kuliah dimana gitu gitu. Ya oloh cuma gitu doank. Lalu, Teteh Sadako yang punya semua password socmed Bejo lalu memakainya untuk menjebak saya untuk kasih nomer hp saya. Mungkin idenya mau ngelabrak saya lewat telepon gitu kali ya. Gak ngerti deh.

Makin lama, masalah dengan saya ini lantas jadi bahan ungkitan Teteh Sadako kalo lagi marahan dengan Bejo. Sampai Bejo pun frustasi dan beberapa kali curhat entah ke saya, ke Tambun, atau bahkan Kakak nya. Saya sih konsisten dengan penyelesaian : elu mau sampe kapan kayak gini mulu, putusin aja lah, kayak ga ada cewek lain aja. Lagian gue ga rela ga diundang pas elu nikahan. Bagaimana lantas kelanjutannya? Well. Mereka putus. Saya pikir, kayaknya saya rasanya punya pengaruh besar mengapa mereka terus jadi putus. Karena masalah terakhir, akhir tahun 2014 itu, saya sempat ditelepon oleh Teteh Sadako yang meminta penjelasan, sedangkan menurut saya tidak perlu ada yang dijelaskan. Karena saya dikonfrontasi langsung begitu, ya saya ngamuk donk. Terus gak lama mereka putus. Tadinya saya udah gak temenan di berbagai apps chat & socmed dengan si Bejo, sekarang balik lagi ke semula. Syukur deh pas si Bejo nikahan, saya bakal diundang, dengan calon baru yang pastinya better.

Jadi gimana menurut kalian, pengalaman saya berurusan dengan manusia-manusia posesif? Bikin capek deh banget kan. Lalu, pertanyaannya apakah saya juga bersalah? Ya, saya salah, salah lokasi dan waktu. Apakah saya kegenitan atau sense of belonging saya kepada teman berlebihan? Saya tanya kepada beberapa teman yang juga pria, biasa-biasa aja. Catatan bukan sekali ini saya punya sahabat-sahabat yang punya pacar, malah di kedua teman saya Bobby & Vemby, saya sahabatan juga sama pacar-pacar mereka yang notabene juga cewe. Sekian tahun temenan gak ada masalah, karena pacarnya BUKAN tipe yang posesif. Kalo saya yang bermasalah, kenapa saya hanya bermasalah di kasus-kasus tertentu aja?

Kemungkinan lainnya (menurut analisis kawan-kawan saya) adalah kata mereka sih berhubung saya tipe yang ‘lumayan’ ramah dan sinyal saya lumayan kuat  jadi jago cari topik pembicaraan tanpa terkesan basa basi busuk, so nyambung anti roaming. Jadi orang nyaman kalo ngobrol sama saya (sambil ngetik ini saya senyum-senyum sendiri). Mungkin aja nih ya, para pacar-pacar yang bersangkutan merasa tidak aman dengan keberadaan saya, lanjut menjadikan saya target untuk dimusuhi. Ya, semacam insting survival kalo pake istilah manusia purba. Ya udah terima aja deh lu Ji, kalo lu disangka T-Rex, padahal ente cuma brontosaurus.


Sebagai paragraf penutup, saya sih cuma mau bilang kalau cinta beneran, gak jadi posesif donk. Inget yah, salah satu bahan untuk bisa mencintai orang lain itu adalah kepercayaan. Masa kamu gak percaya sama pacar sendiri? Hellaauuuwww, ke laut aja deh kalau getoo *pakegayaUdin* wahai pacar-pacar posesif saya mohon, jangan lagi ada korban salah sasaran kayak saya yah. No offense, sekarang saya rada trauma main sama temen-temen yang sudah punya pasangan. Jangan-jangan pacarnya posesif.

Thursday, February 12, 2015

Rainy Day

Indonesia hanya memiliki dua musim, musim hujan dan musim panas, kalo dalam Bahasa Inggris menjadi : wet dan dry season. Jika disuruh memilih yang mana, saya sendiri bingung mau pilih yang mana. Karena di satu sisi, saya suka dengan musim panas yang memiliki awan biru cerah ceria setiap hari, jadi untuk keperluan memotret mendukung sekali. Namun, di sisi lain, saya juga menyukai musim hujan, karena suhu udara menjadi sangat nyaman untuk bekerja. So, why do I have to choose? I just love them both.

Kini, di bulan Februari menjadi puncak dari musim hujan yang telah berlangsung dari bulan November. Kalo waktu dulu di buku pelajaran IPS, musim hujan itu mulai bulan September sampai dengan bulan Maret, dengan puncak hujannya di bulan Desember, namun kini informasi tersebut sudah layaknya diralat. Hahahaha.. Di musim hujan ini, saya sedang duduk di depan layar komputer saya, Elex, yang sudah lama tidak disentuh untuk keperluan ketik-mengetik. Sudah lama juga tidak saya pergunakan untuk keperluan blogging, Well, intinya saya sudah lama tidak menyentuh blog. Mungkin ini ya yang dinamakan hiatus.

Hiatus blog ini saya kira dampak dari banyak kejadian yang menampar saya setahun belakangan. Berbagai drama ala sinetron, yang kalo saya ingat-ingat lagi, saya jadi percaya bahwa apa yang diceritakan di novel dan sinetron itu mungkin ada benarnya juga yah. Hehehehe. Beberapa masalah tersebut mulai dari kehilangan seseorang yang disayangi, beberapa episode bertikai dengan manusia posesif (yang akan saya ceritakan satu postingan sendiri), ganti dosen pembimbing skripsi, mundur lulus sampai injury time, sampai dengan tidak produktifnya saya sehingga harus beberapa kali menelan buah pekerjaan yang mengecewakan. Kalo dibilang tahun kemarin itu susah sekali, ya memang saya sadari, memang sulit.

Banyak kejadian menyebalkan bukan berarti tidak ada kejadian yang membahagiakan. Walaupun di tahun yang sulit, saya cukup bangga bisa menyaksikan secara langsung beberapa teman se-angkatan saya menikah (okay fine saya telah beranjak dewasa). Di tahun kemarin pula saya mengetahui bahwa saya akan punya keponakan. Lalu, beberapa kali saya diberikan kesempatan untuk pergi ke luar kota dalam rangka eksplorasi (baca: jalan-jalan), walaupun bukan ke luar negeri. Bisa menulis untuk buku yang diterbitkan fakultas. Punya kesempatan untuk belajar martial arts. Jadi, saya kira meski berat, tapi ya ada senengnya juga, harus tetap bersyukur dengan segala yang telah terjadi.

Saya jadi ingat, ada seorang teman mengajari saya berdoa, apabila biasanya kita berdoa dengan permintaan ‘Tuhan semoga hari esok menjadi hari yang lebih baik daripada hari yang sebelumnya’ cobalah ganti dengan ‘Tuhan semoga hari esok menjadi hari yang baik seperti hari ini dan kemarin’. Karena sesungguhnya, Tuhan tidak pernah memberikan hari yang jelek ataupun hari yang menyusahkan.

Di musim hujan ini pula, saya memiliki beberapa komitmen. Komitmen untuk menyelesaikan apa yang telah saya mulai. Komitmen untuk menulis blog kembali bahkan sebuah buku. Komitmen untuk tetap survive di tengah tekanan kehidupan yang makin besar. Saya menganggap beberapa kejadian yang terjadi kemarin itu sebagai : proses menuju pendewasaan, yang oh my God ternyata sakit banget yah, sampai saya harus konsultasi dengan para praktisi di bidang ilmu saya sendiri. Hahahaha..


Akhir kata untuk posting hari yang diguyur hujan ini, terima kasih sekali Tuhan karena saya masih diperbolehkan untuk punya harapan, bahwa selalu ada pelangi sehabis hujan.