Tuesday, April 24, 2018

Book Review : A Court of Thorns and Roses




Judul : A Court of Thorns and Roses
Penulis : Sarah J. Mass
ISBN : 978-602-03-8277-7
Tebal : 587 Halaman
Sampul : Softcover
Terbit : Maret 2018, Bhuana Sastra

Blurb
Ketika Feyre­­—seorang  perempuan pemburu—membunuh serial di hutan, makhluk serupa binatang buas datang mencarinya untuk menuntut pembalasan. Feyre disandera di tanah magis berbahaya yang hanya pernah didengarnya dari legenda. Dia pun mengetahui bahwa makhluk itu bukannya seekor hewan, melainkan Tamlin, peri agung abadi yang pernah menguasai dunia fana.

Perasaannya terhadap Tamlin berubah dari permusuhan dingin menjadi api yang membakar setiap cerita yang menyeramkan yang pernah didengarnya tetang dunia peri. Namun, kesuraman semakin menaungi dunia itu, dan Feyre harus bisa menghentikannya… atau malapetaka akan menimpa Tamlin dan dunianya selama-lamanya,

Review
Tidak dapat dipungkiri, bacaan bergenre fantasi dengan tokoh mystical creature selalu menarik untuk diikuti. Contoh saja seperti Twilight, Lord of the Rings, Harry Potter, dan A Game of Thrones. Benar-benar bisa membius kita untuk tidak beranjak sebelum halaman terakhir usai dibaca. Saya sendiri termasuk dalam kelompok penikmat novel fantasi sejak kecil. Namun belakangan belum mendapatkan seri novel baru untuk diikuti kelanjutannya, sampai teman saya memberikan A Court of Thorns and Roses karya Sarah J. Mass. Hmmm… Menarik juga dari judul dan sinopsisnya. Baiklah mari kita selami dunia ini!

Sosok Feyre memang mengagumkan sejak awal kemunculannya, dalam diri Feyre saya melihat sisi wanita yang berani, tidak pantang menyerah, sekaligus keras kepala. Saya kasihan karena Feyre harus menanggung hidup keluarganya yang jatuh miskin. Gaya narasi dengan memakai sudut pandang orang pertama yakni Feyre sendiri membuat pembaca bisa memahami apa pun yang Feyre rasakan, termasuk ketakutannya ketika berhadapan dengan Tamlin—Sang Peri Agung. Formulasi plot cerita dari benci jadi cinta antara manusia dan makhluk asing ‘beast’ mengingatkan kita dengan kisah Beauty and The Beast, namun dengan ciamik penulis lihai membuat sub-sub plot dan background masing-masing tokoh sehingga kita sebagai pembaca tetap bisa menikmati kisah novel sebagai karya orisinil, tanpa dipengaruhi oleh referensi fiksi lain.

Jujur, tokoh favorit saya di buku ini bukanlah tokoh utamanya, Feyre atau Tamlin. Tapi saya suka dengan Lucien dan keberadaannya di buku membuat banyak hal menjadi lebih jelas. Lucien adalah ice breaker yang jitu, sehingga kita tidak terkungkung dengan pikiran-pikiran Feyre semata. Jokes yang dilontarkan oleh Lucien pun tidak membosankan, benar-benar penyeimbang Berhubung ini novel roman fantasi, rasanya kurang yahud apabila tidak membahas hubungan romantis antara Feyre dan Tamlin. Tamlin yang digambarkan dingin awalnya, pria tipe A (alpha), dan ternyata semakin ke belakang semakin menarik, surprisingly cute. Cinta Feyre dan Tamlin berkembang perlahan, dan tidak terburu-buru. Pembaca disuguhkan proses kasih sayang yang menurut saya wajar, tidak kilat seperti novel roman fantasi young adult pada umumnya.

Saya dengar A Court of Thorns and Roses sudah dibeli rights filmnya. Dan saya excited! Sebelum layar lebarnya muncul, saya tertarik membaca dua buku sekuelnya yaitu A Court of Mist and Fury (#2) dan A Court of Wings and Ruin (#3). Penasaran dengan pengembangan karakter-karakter pembantu di buku yang pertama, berharap makin banyak karakter yang berperan signifikan. Saya baru pertama kali membaca novel karangan Sarah J. Mass, dan suka dengan universe building yang dibuatnya. Memang tidak serumit Middle Earth J.R.R Tolkien, tapi justru dengan lingkup sederhana penggambarannya jadi lebih jelas dan menyeluruh.

Ini merupakan pengalaman baru bagi saya dalam menikmati cerita fantasi berbalut romansa. Untuk yang suka seri Twilight pasti akan menyukai A Court of Thorns and Roses. Tamlin—is he the new Edward Cullen? Hahahha.. Kita tunggu, semoga dengan buku ini makin melejit di pasaran dan filmnya juga dieksekusi dengan baik.

Tuesday, January 17, 2017

Naik Kereta Tujuan Bumi Sriwijaya

Tidak terasa lewat sudah lima hari di Bandar Lampung, mendadak mellow karena harus meninggalkan kota ini. Terima kasih untuk Icott dan keluarga yang sudah mau direpoti berhari-hari ini. Hangat tangan kalian akan selalu berkesan di hati dan memori ini *heleh puitisnya saya.. Hujan gerimis mengantar kepergian kami dari rumah Icott menuju Stasiun Tanjung Karang, yes liburan masih ada 3 hari dan 2 malam lagi nih, hari ini Tina, Icott (iyo Icott masih ikutan), Ndut, dan saya bertolak ke Palembang dengan menggunakan kereta api! First time naik kereta api yang bukan berada di Pulau Jawa.

stasiun kebanggaan orang Lampung

Kami naik KA Rajabasa kelas Ekonomi yang harganya hanya 32 ribu rupiah/orang. Murah banget yak, tiga puluh ribu udah bisa nyebrang provinsi hahahaha.. KA Rajabasa ini berangkat dari Stasiun Tanjung Karang di Bandar Lampung menuju Stasiun Kertapati di Palembang. Kami berangkat jam 9 pagi, diperkirakan jam 5 sore sudah sampai ibukota Sumatera Selatan tersebut. Sekilas pandang mengenai Stasiun Tanjung Karang rapih dan bersih, naik angkot dari rumah Icott langsung sampai persis di depan stasiun. Stasiun kelihatan seperti baru direnovasi, bentuk bangunannya Lampung banget ada mahkota Siger nemplok di atap bangunan. Meski tidak terlalu besar, Stasiun Tanjung Karang ini pandai memanfaatkan ruang untuk berbagai fasilitas – ada tempat untuk free-charging, toilet, ruang P3K, mushola, nursery room dan bahkan kios kecil-kecil untuk UKM yang mau berjualan di dalam stasiun. Sugoi lengkap banget!

interior stasiun

Sembari menunggu kereta api, kami sempat lihat si KA Babaranjang lagi ngetem di stasiun. Batubara nya sedang terisi, gak tau mau dibawa kemana. Lucu juga KA ini, penampakannya sudah kayak kereta api milik Batman, hitam legam dari depan sampai belakang. Black beauty! Ga lama menunggu akhirnya kami naik juga ke KA penumpang Rajabasa yang ternyata sama aja penampakannya seperti KA lainnya yang di Jawa. Sekilas mirip dengan KA Gaya Baru Malam jurusan Jakarta-Jogja PP, dengan formasi tempat duduk 3 3 – 2 2. Kami dapat kursi 2 2 berhadap-hadapan. Nge-pas banget berempat. Tempat duduk kami dekat dengan pintu keluar dan toilet di Gerbong 1. Mentok banget yah gerbong paling depan, setelah lokomotif. KA Rajabasa meski tidak terisi penuh, tapi lumayan rame juga. Wah banyak juga ya yang mau ke Palembang, mungkin karena musim liburan juga.

Naik KA Rajabasa semacam excited seperti naik kereta di negara lain. By the way, meski mirip dengan KA Gaya Baru Malam, KA ini lebih bagus loh penampakannya, versi lebih baru. Saya suka tirai kereta yang memakai motif batik Lampung sebagai lis pemanis. Perjalanan berangkat agak telat 10 menit dari waktu yang seharusnya, pemandangan selepas dari Lampung masih berupa rumah-rumah penduduk, kira-kira satu jam berlalu kemudian pemandangan pelan-pelan berganti dari sawah kemudian hutan karet dan kelapa sawit. Wew banyaknya tanaman karet dan sawit di Sumatra ini bukanlah mitos sodara-sodara.. Hahahaha..

Berjam-jam waktu perjalanan kami habiskan untuk makan, tidur, bergosip, dan mendengarkan musik. Asiknya jalan dengan teman-teman yang telah dikenal sejak lama adalah kami bisa sharing banyak cerita, hahaha.. Dasar perempuan! Apa aja dibahas, sampai gosip artis yang tidak kami kenal pun jadi bahan pembicaraan, bagai presenter infotainment. Pemandangan selama berjam-jam kemudian juga gak berganti, masih sama yaitu hutan. Antara senang dan sedih, senang karena pastinya negara kami mendapat banyak penghasilan dari karet dan sawit. Sedihnya, hutan tropis yang dahulu dipuja-puja kini sudah berganti rupa. Keberadaan flora dan fauna unik kita juga semakin tergusur jaman.

lihat tirainya!

Di pertengahan perjalanan, seorang polsuska (polisi khusus kereta api) menyuruh kami untuk menutup tirai. Kenapa? Katanya di sini masih sering terjadi pelemparan batu dari warga setempat. Wew.. Kereta api yang bagus gini masih jadi sasaran tindak anarkisme yah.. Seramnya juga bukan hanya di situ, Tina gak sengaja lihat ada Ibu-Ibu bawa bedil di tengah hutan. Wah mau berburu babi hutan kali yah Ibuknya.. *syokkk.. Bused ngeri-ngeri sedap. Tirai jendela yang saya kira hanya berfungsi sebagai hiasan dan penghalang matahari ternyata ada fungsi lain yaitu menghalau pecahan kaca dari pelemparan batu. Penumpang menutup jendela sampai sudah dekat dengan Palembang. Setelah kerasa bau-bau gas ammonia, selamat datang di Palembang! Gas Ammonia ini bersumber dari Pabrik Pupuk Sriwijaya (PUSRI) yang merupakan industri pupuk nasional yang sangat besar. Wehhh.. Bau ammonia kurang lebih kayak bau-bau kentut begitu.

ada Rail Clinic di Stasiun Kertapati,
semacam klinik kesehatan tapi di dalam gerbong

Akhirnya Stasiun Kertapati! Entah kenapa kereta ngaret banget, harusnya jam 5 sudah sampai, kami baru sampai jam 7 malam! Weh gile juga yah, 10 jam bro! Pegel juga ini pinggang duduk terus. Stasiun Kertapati besar dan lapang, rame banget. Keluar dari stasiun seperti biasa kami disambut oleh Bapak-Bapak yang menawarkan jasa kendaraan. Tapi kami sudah pesan gocar yang kebetulan standby di luar stasiun, wah sangat membantu sekali ini ada gocar & gojek di Palembang. Baru malam pertama dan kami sudah kagum oleh menterengnya Jembatan Ampera yang kami lewati dari Stasiun Kertapati menuju tempat penginapan. Cantik, merah-merah meriah, udah kayak di Tiongkok saja. Tapi ternyata jembatannya tidak terlalu panjang, padahal kalo di gambar berasa jauh banget. Hooooo.. Selamat datang di Ibukota Sumatra Selatan!

mau nunjukin Jembatan Ampera tapi blawur