Tuesday, October 30, 2012

HDB Sweet Seventeen

Hari ini adalah hari ulang tahun adik saya,
Putri,
biasanya saya panggil si Ndut. Heheheheh..
Tidak terasa juga ternyata adik saya beranjak dewasa,
17tahun,
kayaknya baru aja kemarin dia kelas 5 SD.
Sekarang dia sudah kelas 3 SMA,
tahun depan mau meninggalkan rumah untuk sekolah ke jenjang berikutnya.
Huaaaaaaaaaaa.. waktu berjalan begitu cepat ya.


Doa saya untuk adik saya tidak lain ya yang bagus-bagus ya.
Semoga studinya sukses,
menemukan passion hidup,
menjadi anak yang membanggakan orangtua (serta kakak-kakaknya),
wkwkkwwkwk..
lancar rejeki dan sukses selalu
Hav good year, Ndut!


best regards,
puji wijaya, your sotoy sister

Friday, October 26, 2012

Educational Info

Teman-teman, ada link jurnal-buku open-access (lagi) ni..
through November 2012


Berbahagia banget deh bagi teman-teman yang sedang menyusun tugas akhir..
Hahahahahhahaha..


Oya, untuk teman-teman Yogyakarta dan sekitarnya,
minggu depan ada dua ekspo beasiswa dari dua institusi yang lumayan oke ni.
Ayo ikut hadir. :)

Britain Scholarship Expo
1 November 2012
Phoenix Hotel,
1-6pm


Holland Scholarship Expo
29 October 2012
FEB UGM, Gedung Pertamina Lt.7,
3-6pm

Tuesday, October 23, 2012

How are you, Thesis?

Selamat pagi dan selamat hari Selasa. Hmm.. Tidak terasa ya, bulan Oktober sudah mau berakhir, tinggal 1 minggu lagi. Adik-adik angkatan pun (ada yang) sudah menyelesaikan ujian tengah semester, itu berarti mereka telah menempuh setengah perjalanan dari semester ganjil ini. Selamat! Hehehehe.. Lalu, bagaimana dengan U-The saya? Apakah sudah setengah perjalanan juga? Jawabannya belum. Kalo secara rancangan sudah seperempatnya jadi. Untuk menjadikannya setengah jadi, sulitnya setengah mati. Hahahahaha.. Terkadang, saya berpikir, apakah waktu yang saya berikan ke U-The saya itu kurang banyak ya? Hmmmm..

Dengan semangat Spartan, pada minggu-minggu ini saya ngebut kejar teori di Bab II ini. Kesulitan Bab II saya memang tergolong tinggi, karena konsep variabel yang saya jadikan skripsi tergolong baru dan sumbernya bukan dari jurnal/buku/karya ilmiah dalam Bahasa Indonesia ß di Indo baru sedikit yang meneliti. Selain itu, karena konsep varibel saya ini muncul dalam beberapa ‘term’ maka perlu ada kejelasan mengenai konsepsi tersebut. Jadilah saya mendata semua term variabel tersebut dan bikin mapping mengenai term tersebut *kerenbangetgaksih. Konsekuensinya saya harus baca banyak jurnal, buku, dan artikel ilmiah yang notabene bukan Bahasa Indonesia. Huahahhahaha..

Btw, mungkin penasaran juga, memang saya meneliti apa sih koq kayaknya ribet amat? Saya meneliti mengenai variabel kebahagiaan. Paling terkenalnya dalam term psikologi disebut sebagai ‘happiness’, atau ‘subjective well being’. Kebahagiaan? Koq rasanya filsuf sekali ya? Hahahahaha.. Saya juga merasa demikian, koq jadinya semacam skripsi filsafat ya, apalagi karena ini juga sangat social psychology banget, makanya agak miring ke sociology juga. Kadang kalo dipikir-pikir, penelitian ini mungkin mirip cauldron penyihir yang berisi banyak ramuan, yaitu psikologi, filsafat dan sosiologi.

Kalo ditanya, apakah U-The ini idealisme saya demi mencapai apa yang dinamakan ‘masterpiece’? Jawabannya, ada benarnya juga, sekarang kalau dipikir-pikir kapan lagi coba kita buat kayak ginian selain ketika di perkuliahan, kalau sekarang kita bisa membuatnya dengan kemampuan maksimal, mengapa tidak kita lakukan. Beberapa ada yang bilang ‘kalau mau idealis kan bisa bikin pas ambil sekolah S2?’, saya pikir gini, yakin S2 bisa bikin yang sesuai dengan keinginan? Belum tentu lho, baik S1 atau S2 punya target tenggang waktu yang sama mepetnya, stress yang sama besarnya, kesulitan yang sama besarnya, jadi kenapa harus ‘nanti’. Lagian, yakinkah punya kesempatan dan kemauan sekolah S2? We never know what future hold, keputusan bisa berubah dalam hitungan detik. Mungkin ada juga banyak teman yang bilang 'ngapain sih susah-susah, toh nanti orang juga ga mungkin tanya skripsi kamu apa'. Menurut saya, ini bukan masalah what people will ask about, it’s all about self-pride. Soal orang nanti tanya apa, ya terserah mereka, lagian kalo mereka sudah tanya lalu dijawab, toh selesai. Tapi kalo namanya kebanggaan pribadi, ini dia yang akan menghidupi semangat diri untuk ke depannya. Jadi pantas kalau diperjuangkan. :D

Hoaahhmmm.. Baiklah. Sekian ceramah untuk pagi hari ini. Selamat menikmati hidup, teman-teman. Aihhhh.. Saya ni pagi-pagi koq homili. Hehehhehehe.. Goodluck puji wijaya, Tuhan besertamu.

best regards
puji wijaya, sekali pejuang tetap pejuang

Sunday, October 21, 2012

Muda dan Menginspirasi

Sebuah Review Buku

Belakangan saya memang lagi suka buku-buku yang bertema pendidikan. Mungkin, hal ini dikarenakan passion pribadi yang ingin mengembangkan negara lewat pendidikan, dan salah satu caranya, ya, mengajar, mengajar dengan hati. Buku pendidikan tidak melulu soal gaya pembelajaran efektif atau tips-trik menghadapi subyek pembelajaran a.k.a siswa, ternyata buku pendidikan itu bisa juga buku yang berisi kisah yang membuka mata, seperti buku yang saya baca ini Indonesia Mengajar.

Buku ini adalah manifestasi dari pengalaman para Pengajar Muda (PM, sebutan untuk para partisipan Indonesia Mengajar*, yang merupakan fresh-graduate terpilih dari seluruh Indonesia) mengajar di berbagai pelosok di Indonesia. Mereka adalah ke 51 orang Pengajar Muda yang tidak hanya bertugas mengajar di Sekolah Dasar, tapi mereka juga bertugas memberikan inspirasi, mimpi dan semangat untuk para siswanya serta guru di sana. Tugas yang terlihat mudah, yaaa.. Mungkin mudah ketika teraplikasikan di daerah yang maju, akses fasilitas mudah plus memadai, sarana-prasarana sudah ada. Namun, jika aplikasinya di daerah yang listrik saja hanya 4 jam di waktu malam, tidak memiliki jalan aspal, bangunan sekolah seadanya, kesadaran masyarakat pada pendidikan rendah, apakah masih menjadi hal yang mudah? Hal inilah yang menjadi tantangan bagi para PM. Bergulat pada realita ini, mereka menghasilkan banyak cerita yang beberapa diantaranya dapat kita nikmati dalam buku ini.

Pesan saya. Untuk membaca buku ini dari awal hingga akhir, sebaiknya siapkan tissue banyak-banyak. Entah, karena saya kelewat sensitif atau bagaimana, tiap tulisan PM seperti menyihir saya untuk menangis. Paling deras, ketika saya membaca bagian pertama yang berjudul besar “Anak-Anak Didik Pengajar Muda”. Penggambaran karakter anak-anak pelosok desa yang mayoritas diceritakan tidak kalah hebat dengan anak-anak perkotaan. Mereka juga memiliki kemampuan nalar, motorik serta kreatifitas yang baik, beberapa bahkan sangat baik, hanya saja karena keterbatasan, mereka stuck dan tidak dapat maju. 90% konten dari buku ini sangat inspiratif dan secara tidak langsung juga menimbulkan niatan refleksi bagi pembacanya. Saya yang putus asa dengan Bab II skripsi bisa koq terbangkitkan semangatnya gara-gara baca buku ini, hahahahaha.. Lalu, bukan hanya yang sedih-sedih, di buku ini juga ada kisah-kisah lucu para PM ketika beradaptasi, mulai dari untuk mendapatkan sinyal telepon harus mendayung perahu selama 15 menit dahulu ke pulau sebelah, ada yang menjadi dukun pemberi nama bayi di desa, ada yang punya sampingan pekerjaan jadi tukang antar paket, ada yang secara tidak sengaja terlibat langsung dalam kebangkitan kesenian daerah setempat, dll. Menarik.

Seperti yang telah saya katakan di atas, buku ini membukakan mata. Saya baru ngeh lho kalau ternyata guru-guru kita di pelosok banyak yang hanya guru honorer, lalu mayoritas dari guru-guru di desa itu memakai kekerasan untuk mengajarkan muridnya, bersenjatakan rotan dan tangan, dan karena secara lingkungan sosial anak-anak dibesarkan dengan budaya yang keras, banyak dari antara mereka yang kurang sopan dan perilakunya di luar batas kewajaran, orangtua di sana pun banyak yang hanya mengharapkan anaknya bisa baca-tulis selebih itu sudah sekolah menjadi tidak penting lagi, rasanya mereka tidak diberikan kesempatan untuk melihat dunia yang lebih luas. Itu yang mungkin membuat kita merinding sedih dan takut. Tapi hal yang membukakan mata, dan itu menyenangkan pun banyak saya temui di buku ini, bagaimana heboh dan semangatnya anak-anak pelosok ketika menerima pendidikan, welcome-nya warga setempat kepada para PM yang notabene adalah orang kota, saya baru kerasa juga bahwa bahasa di Indonesia itu sungguh amat-sangat-beragam-sekali, mendapati ada juga guru-guru yang mengajar di pelosok karena panggilan, dan yang pasti dari buku ini juga saya memahami bahwa di negara kita masih ada orang muda yang mau menyisihkan 1 tahun saja dari kehidupannya untuk melunasi janji kemerdekaan Indonesia, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. I really appreciate it.

Okay, sekian review buku Indonesia Mengajar. Mengajar bukan sekedar memberikan soal latihan dan ujian, tapi ini soal memberikan rolemodel bagi penerimanya, yuk mengajar, teman-teman. :)

*Indonesia Mengajar adalah sebuah gerakan memajukan pendidikan di Indonesia yang dipelopori oleh pegiat pendidikan, Anies Baswedan. Info lebih lanjut www.indonesiamengajar.org


Citation

Title : Indonesia Mengajar
Writer : Pengajar Muda
Publisher : Penerbit Bentang
First Publishing : November 2011
Page : XVIII + 322
Genre : Pendidikan
Puji Wijaya Rating : ☺☺☺☺☺from 5

Saturday, October 20, 2012

Countdown to the Next Circumstance

Hari Sabtu, malam hari, agak mendung, masih terasa juga bau hujan tadi sore. Suasananya gloomy.. gloomy.. gimana gitu.. alias galau, kata remaja jaman sekarang. Namun, galau yang saya alami ini bukan galau karena belum punya pacar, atau galau malam minggu sendirian karena pacar lagi ujian tengah semester (*lho.. curhat), atau galau ga punya uang, atau galau ga ada temen yang ngajakin hedon. Kegalauan yang saya alami ini kurang bisa teridentifikasikan. Tadinya saya kira ini adalah galau akademik. Tapi kayaknya bukan itu juga.

Sebenarnya dari tadi siang saya menerawang kisah kehidupan masa lampau saya, mulai dari TK, SD, SMP, SMA, sampa kuliah ini. Mungkin, karena hal ini trus saya malah jadi merenung, ditambah suasana hujan deras, jadilah penyakit galau itu. Makanya sekarang, saya malah jadi ingin cerita di blog mengenai perenungan (lebih cocok perenungan, daripada kegalauan) saya ini. Semoga ga sampe 200 episode yaaa.. Ngalahin sinetron Tersanjung. Hehehehehehe..

Tidak terasa, saya sudah berada di penghujung tugas akademik saya. U-The alias skripsi yang sedang saya susun ini sedikit demi sedikit menampakkan wujudnya. Saya bersyukur, karena seiring dengan berjalannya waktu dan proses, U-The ini akan berbentuk utuh. Tau-tau nanti saya ujian pendadaran (sidang) – yudisium – lulus deh. Target saya, Imlek tahun depan, saya sudah bisa pamer ke keluarga besar (pas sedang kumpul-kumpul gitu yaaaa..) “saya udah lulus lho!”. Inginnya sih begitu. Tapi, di sisi lain sebenernya saya berat untuk meninggalkan status ‘mahasiswa’ ini, ditambah lagi jika saya lulus nanti itu sama dengan berarti goodbye Yogyakarta, goodbye Sanata Dharma (kampus saya.red) dan goodbye orang-orang yang saya sayangi di sini. Saya akui, saya tidak suka dengan perpisahan.

Saya jadi ingat waktu pertama kali menginjakan kaki di Paingan (lokasi dimana kampus saya berada), terasa sangat asing. Apalagi saya harus culture shock, dari TK-SMA terbiasa dengan sekolah swasta yang homogen (secara etnis), lalu di sini jadi heterogen dan saya nasib jadi minoritas. Rasanya ke-Indonesia-an saya mulai tertempa dari sini. Pelajaran PPKN jaman SD soal toleransi itu memang hanya mudah dilafalkan tapi sulit dipraktekan. Tidak terasa setelah bertahun-tahun berada di sini, saya dapat banyak pelajaran praktik mengenai toleransi, kebhinekaan, pertemanan, dan menghargai orang lain. Teman saya warna-warni, kami bisa dengan vokal saling menceritakan agama dan suku kami tanpa merasa ‘ga enak’. Kami mengakui kelemahan dan kelebihan kami, kami juga tidak tersinggung ketika ada yang mengidentifikasikan kami dengan suku atau agama tertentu. Begitu pula dengan status sosial ekonomi, si X yang Bapaknya petani, bisa koq makan bareng di kantin dengan si Y yang orangtuanya dosen, si A yang bawa city-car ke kampus dan si R yang yatim-piatu. No border line.

Di sini juga, saya mengawali menempatkan batu-batu pijakan saya untuk masa depan. Kalau ketika jaman SMA, saya masih haha-hihi di sekolah. Di tahap kuliah ini, haha-hihi berubah jadi bulir keringat dan air mata. Semuanya butuh usaha dan kerja keras, dan itu munculnya dari diri sendiri. Ketika saya mendapat IPS 2,4 di awal perkuliahan, saya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa kecuali diri saya sendiri, dan saya juga ga bisa minta tolong ke siapa-siapa selain ke diri sendiri. Waktu itu saya hanya membayangkan betapa kecewanya orangtua saya melihat kartu hasil studi saya, kebakaran. Mungkin mereka malu punya anak yang IPS nya begitu rendahnya dalam sejarah keluarga. Namun, hal ini akhirnya bisa berbalik. Pada awalnya, saya salah taruh batu pijakan, lalu saya jatuh, kalau ketika itu saya ga jatuh, saya ga bakal tau kalau batunya itu ternyata salah. Karena jatuh, jadi saya benerin batunya lalu saya jadi ‘ngeh’ bagaimana menyusun batu pijakan yang benar. Pembelajaran tentang kerja keras, menggapai cita-cita, punya impian, mengejar passion. It’s priceless.

Kalau ingat-ingat jaman awal-awal, pada bagian yang lucu, saya jadi mesem-mesem sendiri. Pada bagian yang penuh perjuangan ada perasaan bangga. Pada bagian “…episode selanjutnya…” ini dia penyebab kegalauan saya. Apalagi kalau tau kalau ending-nya perpisahan seperti yang telah saya ungkapkan di atas. Sebenarnya, saya boleh koq sedih karena perpisahan ini. Perpisahan mau tidak mau akan terjadi, dan paling cepat akan terjadi 5 bulan ke depan, tapi lalu saya mikir, bukankah di tiap akhir dari sesuatu akan muncul pula awal dari yang baru. Mudahnya, seperti kata Ibu Kita Kartini, habis gelap terbitlah terang. Saya memang akan meninggalkan kampus saya tercinta, saya memang akan meninggalkan kota Yogyakarta yang nyaman, saya memang akan meninggalkan orang-orang yang saya sayangi di sini dan (ini mungkin yang terberat) saya akan melepaskan gelar ‘mahasiswa’ saya. Namun…

Dibalik itu semua, saya mendapatkan awal yang baru, gelar yang baru yaitu ‘sarjana’, teman-teman baru mungkin teman-teman se-kantor (jika saya bekerja) atau teman-teman kuliah baru (kalau saya sekolah lagi), lingkungan yang baru kalau ternyata saya pindah kota. Dan yang lama itu pun tidak akan hilang, karena akan selalu tersimpan dengan rapi di dalam memori. *tarik nafas dalam-dalam
So, sepertinya saya harus membuang jauh-jauh rasa galau ini lagi. Saya sadar, setiap tahapan hidup memiliki kisahnya masing-masing, kalau saya memang harus menutup tahapan yang ini, bolehlah saya menutupnya dengan penuh makna. Sama seperti ketika saya memulainya.

*baca jurnal lagi yuk, Bab II belom beres lho Ji..
*oh, iya.. iya.. roger that.

 best regards
puji wijaya, jangan galau lagi seperti abege labil


source picture: http://www.featurepics.com/online/Stepping-Stones-Across-Stream-Photo409326.aspx

Wednesday, October 17, 2012

Kisah Kepahlawanan

Sebuah Review Buku

Heroes. Pahlawan. Hmmm.. Ibu Kita Kartini, Cut Nyak Dien, Pattimura, Pangeran Diponegoro, siapa lagi yaaa.. Kira-kira nama-nama itu yang bisa saya katakan jika ditanya soal pahlawan.  Kalau ditanya lebih lanjut, pahlawan Indonesia di era demokrasi seperti sekarang? Saya pasti jawab, Gus Dur, Munir.. Berhenti untuk berpikir sebentar. Lalu, saya sadar, betapa sempitnya pengetahuan saya mengenai kepahlawanan. :( poor I am..

Pahlawan. Tema ini yang diangkat oleh buku Heroes yang ditulis oleh Andy F. Noya beserta tim. Buku ini merupakan lanjutan dari beberapa buku inspiratif karya Tim Kick Andy yang lain seperti 7 Heroes, Andy’s Corner dan Kick Andy. Seperti buku-buku lainnya, nafas inspiratif dan motivatif sangat terasa di buku ini. Inspirasi-inspirasi ini muncul dari ke-6 tokoh masyarakat yang diangkat profilnya. Aksi mereka berbeda-beda, mulai dari pelaku penghijauan sampai ke penggerak dunia fashion lokal. Namun, mereka punya sisi yang sama, yaitu sisi kepahlawanan, yang diartikan Tim Kick Andy sebagai orang-orang yang justru dengan keterbatasan mampu memberikan banyak hal positif bagi orang-orang di sekitarnya.


Buku ini menyadarkan saya akan makna kepahlawanan. Pada mulanya saya pikir, pahlawan itu orang-orang yang berani mati demi bangsanya, atau orang yang telah meninggal dan memberikan kontribusi demi bangsa-negara. Jadi, kalau pahlawan itu padanannya selalu sudah meninggal, punya kisah hidup heroik dan tak jauh-jauh dari dunia politik. Padahal sebenarnya pahlawan itu bisa bermakna lebih luas. Ternyata Pak Sidik yang semenjak lahir tidak memiliki kaki dan menjalankan usaha kripik singkongnya serta memberdayakan orang-orang cacat di sekitarnya pun layak disebut pahlawan. Haji Bambang yang tak pilih-pilih ketika menyelamatkan korban bom Bali, dokter Jose yang mengemban misi kemanusiaan di bidang kesehatan, Pak Saekan dengan rendah hati memperlakukan hutan tempat tinggalnya yang gundul sampai bisa hijau kembali, mereka juga pahlawan. Begitu juga dengan Mas Dinand yang mati-matian mengkonsep dan meyakinkan orang se-Jember bahwa acara Jember Fashion Carnival bukan acara hura-hura negatif, serta, Pak Ciptono yang mengangkat derajat anak-anak cacat mental dan mengabdikan hidupnya demi perkembangan mereka. They are the real hero. Tanpa kita sadari banyak lho orang-orang yang masih peduli dengan sesama tanpa menggembor-gemborkan apa yang telah mereka lakukan dengan berlebihan.

Seperti oase di tengah gurun, sebutan Andy F. Noya kepada 6 tokoh ini. Di tengah banyaknya elit-politik dan tokoh daerah yang minta diajukan menjadi pahlawan nasional, 6 tokoh ini muncul dan tanpa pamrih. Sekalipun pada akhirnya banyak apresiasi yang mereka dapatkan (termasuk muncul di buku ini dan meraih penghargaan), mereka tetaplah orang-orang ikhlas yang menjalani pekerjaan mereka sesuai dengan hati nurani.


Citation

Title : HEROES Para Pahlawan Pilihan Kick Andy
Writer : Tim Kick Andy & Arif Koes H.
Publisher : Penerbit Bentang
First Publishing : Juli 2011
Page : XXII + 206
Genre : Inspirational
Puji Wijaya Rating : ☺☺☺ from 5

Friday, October 12, 2012

Free-Access Sage Journals

Hi!
Para journal-fanatics (apalagi yang lagi pada ngerjain tugas akhir, tesis, skripsi, atao apa pun itu namanya). Saya mau promosi, lagi gratisan ini SAGE JOURNALS kapan lagi coba jurnal bagus tapi gretongan hahahhaha.. Btw, jangan lupa yang belum pernah sign-up, register dlu yaaaaa..
Selamat berpesta!


Thursday, October 11, 2012

Bukan Sekedar Cacing Biasa

Sebuah Review Buku

Selamat siang. Hyeaaaaa.. Review buku lagi ni. Kenapa saya jadi sering review buku? Berhubung waktu saya memang agak luang semenjak mengerjakan U-The ini, saya jadi sering habis akal untuk isi waktu. Jadilah saya kutu-buku wanna be, tiap hari kalo tidak baca artikel internet, baca jurnal, baca majalah ya baca buku. Hehehehehe.. Di satu sisi, menyenangkan juga sih baca buku, waktu-waktu membaca yang dahulu hilang sekarang bisa saya dapatkan kembali hehehehehe..

Buku yang selesai saya baca kali ini adalah Si Cacing dan Kotoran Kesayangan, telat juga sih saya baru baca sekarang. Buku ini sudah booming dari tahun-tahun kemarin, tapi saya baru baca sekarang-sekarang ini hehehe.. Buku ini ditulis oleh Ajahn Brahm, seorang guru Buddhist, pertapa, penceramah, motivator mungkin sekaligus penghibur kali yaaa. Tidak seperti buku-buku motivasi lainnya yang sangat menggebu-gebu, penuh kata-kata pembangkit semangat, dan kadang melupakan sense of humour, buku ini terlihat sangat bersahaja dan merakyat tetapi tetap kena esensi nya. Lebih enak memang membaca buku ini tidak sekaligus satu kali baca habis, karena tiap bagiannya selalu memunculkan perenungan tersendiri. Seperti contohnya ketika saya membaca bagian ‘Masalah Kritis dan Pemecahannya’ sedikit menggetarkan pas menyelesaikan bab ini. Saya seperti flashback ke kejadian-kejadian hidup yang menurut saya cukup sulit dan kritis, lalu kroscek, dahulu saya mikir/melakukan seperti itu apa tidak yaaaa.

Cerita lain yang mengena juga dari buku ini adalah cerita mengenai bata bagus dan bata jelek. Dan entah mengapa saya merasa kisah bata ini menjadi benang merah antara satu bab dengan bab lainnya. Singkat ceritanya, ketika Ajahn Brahm membangun kuilnya (karena mereka miskin jadi tidak bisa sewa tukang bangunan) bersama teman-temannya. Ajahn Brahm tidak sengaja keliru menyusun dua buah batu bata (jadi miring gitu posisinya). Ketika bangunan sudah jadi, beliau selalu tidak suka ketika melihat tembok itu. Lalu, pada suatu hari, ada seorang pengunjung kuil yang bilang kalau tembok itu bagus. Ajahn Brahm ga percaya pada awalnya, tapi setelah kejadian ini beliau jadi merenung. Mengapa hanya melihat dua bata yang jelek itu, tidak melihat ke 998 bata yang bagus lainnya.

Refleksinya sama seperti di kehidupan kita, yang terkadang terlalu berlarut pada kejadian yang jelek, yang mengecewakan, padahal selain kejadian ga enak itu, banyak kejadian menyenangkan lain yang notabene ketutupan gara-gara kita terus-terusan mikirin kejadian yang menyebalkan. Sama juga pas kita ga suka sama temen kita/pasangan kita/orangtua kita, pas sebel banget mesti yang diinget jelek-jeleknya tapi ga mikir kalo sebenarnya dia tuh orangnya banyak baiknya juga, ga cuma nyebelin aja. Kita selalu banding-bandingkan dengan yang sempurna. Padahal mau gimana juga, nobody’ and nothing’ perfect in this world. Jadi, penilaian terhadap itu, tergantung kita mau lihatnya dari sebelah mana. Dan saya setuju, kalau kita melihatnya dari 998 bata yang bagus itu, ga hanya lihat 2 bata yang jelek.

Overall, saya suka sama buku ini dan berniat untuk baca buku-buku Ajahn Brahm yang lain. Menarik. Dulu saya sempat pesimis pas lihat buku ini di toko buku, apa sih ni buku koq gambarnya cacing-cacing gitu. Ketika baca cerita terakhir mengenai si cacing, jadi tau deh maksudnya. Hmmmm.. Penasaran kan apaan. Hahahahaaa.. Semoga resensi buku ini bisa membuka hati teman-teman yang belum baca buku ini. Okay.. Okay.. Jadi, besok buku apa lagi ni yang mau saya review.. :)

Oya, info lebih lanjut mengenai buku Ajahn Brahm bisa dicek juga lewat www.sicacing.blogspot.com 


Citation

Title : Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya
Writer : Ajahn Brahm
Publisher : Awareness Publication
First Publishing : Australia 2004, Indonesia April 2009
Page : XVI + 307
Genre : Motivational
Puji Wijaya Rating : ☺☺☺☺ from 5 

Tuesday, October 9, 2012

Jadi Boss Selagi Muda

Sebuah Review Buku

Minggu kemarin saya menghabiskan waktu untuk membaca sebuah buku kocak. Bukan buku Raditya Dika atau Si Pocong atau Anak Kos Dodol, judul buku ini adalah Fresh Graduate Boss. Ini buku yang ditulis oleh Margaretha Astaman, siapa itu? Pelawak baru?? Bukaaaannnn.. Bukaaaannnnn.. No… No… Bagi yang pernah mendengar buku berjudul After-Orchard, mungkin nama Margie (nama sapaannya) tidak lagi asing. Saya bukan fans nya sih, hanya saja setelah baca bukunya, saya jadi kagum dengan kelincahannya merangkai kata-kata di atas kertas. Hohohohoho.. Jadi2 buku ini cerita tentang apa?

Buku ini bercerita tentang pemikiran dan sudut pandang Margie yang ababil, ceria dan aktif mengenai status keberadaan para fresh-graduate ato mahasiswa baru lulus di lingkungan pekerjaan. Stigma fresh-graduate itu harus kerja dari bawah, dari nol, dari jabatan paling ga penting, sepertinya ingin dipatahkan oleh Margie di buku ini.  Dari pengalaman hidupnya, Margie sendiri mampu mengampu jabatan tinggi selagi muda, maka ia ingin berbagi tips dan motivasi untuk kita-kita yang sedang masa kuliah dan transisi dari kuliah-kerja. Dengan gaya bicara cuek nan lucu, deskripsi Margie mengenai pekerjaan, mahasiswa, pengangguran, kepemimpinan, senioritas, menjadikan istilah-istilah tersebut menjadi mudah dipahami dan tentu saja mudah diresapi. Cerita-cerita pengalaman dirinya yang abnormal juga menghiasi lembar-lembar buku, membuat pembaca tidak cepat bosan.

Banyak hal di buku ini yang menurut saya cukup menarik, salah satunya ketika Margie mencoba mengungkap hal-hal apa saja yang terjadi di kantor dalam bab Conquer The Office. Mulai dari etos kerja karyawan Indonesia yang dikisahkan banyak leha-lehanya, budaya klenik kantor yang mungkin tak masuk akal tapi memang benar kejadian, sampai kepada cerita ala sinetron – percintaan dalam kantor yang memiliki untung-rugi. Margie sukses menguraikan fenomena unik seputar kantor dan perusahaan, sebagai pembaca awam (yang belum pernah bekerja formal) tentu saja jadi tambahan pengetahuan tersendiri. Lalu, saya juga suka pada bagian If I Were A Boss, apalagi tentang klasifikasi pemimpin, Bos Militan, Bos Welas Asih, Bos Pantai, Bos Robot, dll. Membaca buku ini bagian per bagian selalu bikin senyum-senyum sendiri.

Pelajaran penting yang saya dapat ketika baca buku ini yaitu penekanan-penekanan Margie mengenai roda hidup itu selalu berputar,  kita tidak terus selalu berada di bawah dan juga di atas, semua nya akan bergantian sesuai dengan berjalannya waktu. Seorang karyawan biasa tentunya ada saatnya dy akan mendapat promosi dan bisa menduduki jajaran direksi, pastinya hal tersebut dibarengi dengan usaha dan doa. Dan juga kebalikannya seorang chief/president toh akhirnya akan lengser juga termakan usia. Seseorang yang terlihat sangat cemerlang dalam karirnya tak mungkin kalo dy mendapatkan itu dengan kipas-kipas semata, dibalik apa yang dilihat orang sekarang, dahulu dy usahanya mati-matian dari bawah. Terkadang memang kita suka menutup mata dan menginginkan kesuksesan itu datang begitu saja.

Selain hal di atas yang jadi catatan penting mengenai buku ini juga adalah bagaimana kita mencintai pekerjaan yang kita miliki. Inilah yang kamu pilih, so, sayangilah. Bekerja dengan sepenuh hati dan jadilah karyawan luar biasa. Mencintai apa yang kamu kerjakan membuat pekerjaan tersebut meaningful dan akhirnya berguna untuk dirimu dan sekitarmu. Margie juga menyatakan bahwa kadang kita-kita yang mahasiswa terjebak dengan pola-pikir ‘pekerjaan baik’ dan sering menyingkirkan hobi yang amat kita sukai demi ‘pekerjaan baik’. Ketika membaca ini saya jadi ingat diri saya sendiri yang terkadang memaksakan diri untuk sesuai dengan social preferences, seperti mikir ‘Ya sudahlah Ji, kalau pada akhirnya kerja kantoran ga kenapa-napa, toh juga yang penting dapet duit dan ga lagi ngerepotin orangtua’ padahal hati ini ga passion sama itu. Sama juga seperti yang dialami TPLP ketika ditanya nanti kamu mau kerja apa, dy malah balas tanya ‘boleh ga kalo aku pengen jadi duta kultural Indonesia-Jepang?’. Saya hanya bisa ketawa dan bilang ‘boleh, siapa bilang ga boleh’. Trs, dy bilang ‘Hmmm.. Mungkin cari uang dulu yang banyak ketika jadi engineer, terus setelah tepat waktunya, banting setir deh’. Habis itu kami ketawa ngakak bareng. Menurut saya sih, whatever you do, do it heartly and passionately. Margie juga bilang begitu di buku ini. :) Thanks Margie sudah mendukung saya lewat buku ini. Hehehehehehe..


Citation

Title : Fresh Graduate Boss
Writer : Margareta Astaman
Publisher : Penerbit Buku Kompas
First Publishing : April 2012
Page : X + 246
Genre : Pop Literature
Puji Wijaya’s Rating : ☺ ☺ from 5

Sunday, October 7, 2012

Sedikit Update

Baru saja update page tentang orang-orang spesial dalam hidup :)
Keluarga : http://pujiwijaya.blogspot.com/p/the-foot-step.html
My match : http://pujiwijaya.blogspot.com/p/the-match.html
:D
senang.. senang.. sekarang senyum2 sendiri..

Friday, October 5, 2012

Insecure Feeling

Selamat siang!

Haaaaaa.. Tebak sekarang saya berada dimana?
Sekarang saya sedang berada di workstation perpustakaan Paingan. Omg. Sudah lama sekali ya saya tidak kemari. Btw, 3 hari belakangan saya tidak menyentuh U-The Jadi sekarang saya merasa bersalah gimana gitu, nah untuk mengatasi rasa bersalah, jadilah saya main ke kampus kwkwkkwkwkwk.. Hmmm.. Komitmen yang sudah dibuat sendiri agar rutin menyentuh U-The, saya langgar sendiri. Huhuhuhuhuhuhu..

Lantas, apa yang membuat sadar dan tertampar agar menyentuh kembali?
Kemarin saya membaca buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya - Ajahn Brahm. Lalu, saya jadi mikir, ya ampun, payah sekali saya ini kenapa bisa begitu malas. Harapannya dengan mulainya hari yang baru, saya juga bisa memulai mengerjakan U-The kembali. Semangat!!!!

Hohohohooh... Baiklah, selamat berakhir pekan. Jangan lupa akan komitmen diri sendiri, jangan sampai karena melanggar komitmen pribadi malah jadi merasa tidak aman dan nyaman alias insecure seperti saya. Hadeeeuuuuhhhhhhhh.. :)


best regards,
puji wijaya, just a random post in the noon


thanks untuk
Dicky, Arisa, Maz Muji & Vincent
yang bertemu dan chitchat dengan saya pada hari ini,
cukup membangun semangat dan memberi pencerahan

Monday, October 1, 2012

Berkebun

Berkebun. Ya berkebun. Saya punya beberapa tanaman yang saya pelihara di kos. Dulu 2 tahun yang lalu, saya sempat memlihara pohon cemara, tapi berhubung waktu itu saya tidak disiplin menyiram dan ketika pulang kampung saya lupa titipkan ke anak kos yang lain, alhasil dia kering dan mati. Tahun ni awal bulan Agustus, saya memelihara pohon lagi. Si pohon berjenis tanaman hias daun yang namanya kalau tidak salah Klaptika. Lalu di pertengahan bulan, Ibu Kos saya memberikan 2 buah pot dan saya tanami tanaman baru yaitu Krokot yang sebenarnya adalah gulma atau tanaman liar. Ternyata Krokot biar liar-liar gitu banyak khasiatnya lho, bisa buat obat bisul, luka, demam, dll. Waaaa.. Saya jadi pingin punya apotik hidup.. :)

Krokot 1, Krokot 2, akalipa yang gendut dan bulat

Krokot pas berbunga, warna kuning, manisnya..

Seru juga merawat ketiga tanaman ini, ahahhaha. Pagi-pagi menyiram tanaman dan lihat yang hijau-hijau adem juga yaaaa.. :D wooooo.. Mari teman-teman berkebun. Mempercantik lingkungan. :3


best regards,
puji wijaya, starts gardening before it's too mainstream hahahaha..