Sunday, May 29, 2011

United States of Mind

Hellow world !
Salam siang dari gw !!
Hari ini hari Sabtu dan gw senang bisa melakukan sesuatu yang berguna untuk hari ini, yaitu menghadiri sebuah seminar. Cieeeeeeee.. Tumben2 kan gw ikut2 seminar kayak gini ehhehehehe.. Seminar yang gw hadiri ialah Seminar Aplikasi Statistik dalam Skripsi dan Tesis. Terkesan berat. Dan ya emang bener, berat beud deh.. Apalagi untuk mahasiswa yang belum memulai skripsi seperti gw. Mengikuti seminar ini bagaikan berenang di samudera Hindia, kelelep-kelelep maksudnya ehehhehe.. Banyak istilah yang asing dan banyak bahan ajaran mengenai statistik yang ehem.. Untuk sekedar mengerti, gw memerlukan energi yang besar. Hehehhehe..

Meskipun demikian, gw merasa banyak manfaatnya yah gw ikut seminar ini, ternyata gw mendapatkan informasi-informasi penting mengenai statistik dari Bu Bo (Nama lengkapnya Ibu Kwartarini Wahyu Yuniarti, Ph.D., dosen fakultas psikologi UGM, si ibu ini lucu beud, atraktif dan like this deh!) dan Pa Agung (Pa Agung Santoso, M.A., dosen psikometri gw yang mengajarkan mahasiswanya untuk selalu optimis meraih cita-cita dan tidak pernah lelah untuk berharap akan beasiswa). gw merasa, gw mendapat ‘nilai’ dan ‘semangat’ dari seminar ini. Fyi, seminar ini bukanlah seminar yang besar yang dihadiri oleh ratusan orang, seminar ini adalah seminar sederhana yang merupakan bagian dari proses penggalangan dana yang diadakan oleh kakak-kakak angkatan gw di program Magister Profesi Psikologi Klinis UGM (S2). Mereka memerlukan dana untuk pergi ke Kunming, China mengikuti konferensi psikologi sosial internasional. ‘Nilai’ dan ‘semangat’ mereka untuk mencapai hal tersebut sepertinya menular ke peserta seminarnya yang ingin seperti mereka kelak di kemudian hari. Luar biasa. gw senang bisa membantu Ko Liem, Ci Astin dkk untuk mencapai cita-cita mereka. :)

Selain penjelasan mengenai statistik. Di sesi terakhir ada bincang-bincang dan sharing tentang beasiswa luar negeri dari Mas Firman (Manda Firmansyah) dan Pa Agung. Menarik sekali ketika mereka share mengenai pengalaman berharga mereka ketika studi di Amerika dan benua lain.

Tidak banyak orang yang bisa seperti mereka. Mas Manda sendiri ialah seorang mahasiswa biasa fakultas psikologi UGM yang berusaha menjadi luar biasa dengan kerja keras dan keringat yang tidak sedikit. Ketika semester-semester awal dia tu cupu banget, gabisa bahasa Inggris, lalu teman-temannya itu mengenal dia sebagai mahasiswa yang suka jualan lotek (makanan mirip gado-gado) di kampus. Dengan harapan yang besar akan cita-cita, Mas Firman ini merajut mimpinya dengan langkah awal: ‘membuat paspor’. Dan dengan ini ia terpacu untuk mewujudkan cita-citanya untuk merasakan academic atmosphere di luar Indonesia. And.. It’s happened into him. Dia mendapatkan IELSP IIEF Summercourse di CESL, The University of Arizona, AZ, US dan Studenraise DAAD untuk postresearch di Leipzig University & Cologne University. Dia juga bercerita bahwa untuk mendapatkan semuanya itu tidaklah mudah. Kalo sekarang orang melihat “oh, Firman itu sering jalan-jalan ke luar negri, enak yahhhh..”, ya itu yang terlihat dari luar, enak-enak nya saja. Tapi, ini seperti fenomena gunung es menurutnya, karena orang tidak tahu capeknya kerasnya gigihnya untuk mencapai itu semua. Jadi pesan Mas Firman, semua itu bisa dicapai dengan kerja keras, tidak ada yang mudah, kecuali kalo kamu memiliki power yang lain, yaitu orangtua dengan finansial yang kuat.

Hal serupa juga dikatakan oleh Pa Agung. Pa Agung berhasil mendapatkan beasiswa Fulbright ke US untuk mempelajari ilmu pengukuran dan statistik di University of Georgia dengan 3 kali mencoba applying beasiswa tersebut. Dan ini bukan hal yang mudah, 3 tahun dia coba terus, dan akhirnya bisa. Waktu yang tidak sebentar dan pengorbanan yang juga tidak sederhana.

Setelah mendapat sharing dari mereka semua, so, bagaimana dengan gw???!!!
gw dengan yakin menjawab:
“gw juga akan mengikuti jejak mereka, walaupun gw tau jalannya akan tidak mulus dan berbatu”
gw bersyukur untuk semua yang telah gw raih di masa-masa kemarin dan itu menguatkan gw yang sekarang, ayo dong Puji jangan cepat berpuas diri, targetmu masih ada di tangga yang itu, kamu harus kejar.

Dan dengan hal ini gw juga ingin membuktikan (terlebih kepada Mama-Papa) bahwa ada sesuatu yang besar yang bisa dilakukan tanpa menuntut kamu atau orangtua mu harus jadi orang kaya dulu, baru itu bisa terwujud. Terkadang memang kita suka mengeluh atau mendengar orang lain bilang :
“aaa.. gw ga ikutan aaaa.. ga punya duit.”
“mana bisa sekolah ke luar kalo ga ada uang, mau beasiswanya kayak apa juga tetep perlu uang”.
Koq ya kesannya pesimis banget. Lalu, secara implisit kata-kata itu juga bisa berarti:
‘Kalo gw ga punya uang ya gw ga bisa ngapa2in’

Menurut gw itu tidak tepat. gw yakin, kesempatan itu bukan hanya dimiliki oleh orang-orang yang berduit, tetapi kesempatan itu berada di tangan semua orang, tepat dan tidak akan terlambat datangnya. Nah, sekarang yang kita butuhkan ialah sesuatu untuk menjemputnya. Dan itulah yang kita sebut effort.

Oke teman-teman. Semangat mengejar cita-cita mu.. Doakan saya selalu. Tuhan memberkati.

really best regards,
puji wijaya, optimist scholarship hunter

Wednesday, May 25, 2011

Inside the Guitar Class Insight

Ola Bah! Folks!
Baru saja saya pulang dari kegiatan rutin saya yang terbaru, tarararararaaaa..

Formal Guitar Course

Yap teman2, gw, sejak beberapa saat yang lalu dengan resmi memulai kursus gitar gw di salah satu sekolah musik di kota pelajar tercinta, Yogyakarta. Nyokap gw (akhirnya) memperbolehkan gw mengambil kelas gitar semester ini, dengan syarat, ketika pulang ke rumah gw mesti ngajarin bokap gw main gitar ahhahahahha.. Itung2 bayar untuk 1 orang, yang bisa 2 orang..
Dasar emang de nyokap gw gmw rugi.

Sedikit flashback, gw masih inget, dari waktu SD, gw pengen banget bisa main satu ajah alat musik & menguasai itu dengan baik. Orangtua gw bukanlah ortu yang rajin masuk2in anaknya ke sekolah musik, sampe SMA gw hanya bisa bermimpi untuk sekolah musik formal. Lalu, lulusan kelas 3 SMA gw akhirnya mendapatkan gitar pertama gw, dengan aksi dramatis (nangis2, waktu itu gw juga ga ngerti napa nyokap gw hampir ingkar janji, ga ngebeliin gw gitar, gw jadi merasa dikerjain). Klo ditanyai kenapa pilih gitar??? Selain karena emang gw suka suaranya (menenangkan), gitar adalah alat musik yang cukup terjangkau harganya hahahha.. Masa gw mau minta beliin Clavinova yang 1 bijinya 30 juta, ya kan mikir juga gw. Hehehe.. Lalu, tujuan gw belajar main gitar selain untuk kesenangan pribadi, gw pengen sekali bisa praise the God dengan ini. gw nyadar si kalo suara gw ga bagus, jadi gw main gitar ajah de. Sekarang, gw baru sebatas memakai gitar untuk berdoa di malam dan pagi hari. Semoga untuk ke depannya gw bisa mencapai tujuan yang sesungguhnya. Dan yap ini adalah proses. gw menikmati kelas gitar ini.

Kelas sore tadi bukanlah kelas yang pertama, kelas yang kesekian kali. Tetapi sore ini istimewa karena ini bukan kelas gw yang biasa, ini kelas pengganti hari Selasa Waisak kemarin. Dan gw jadi sekelas dengan 2 orang mahasiswa UGM yang berasal dari Malaysia, namanya (jujur) gw lupa!!! Wkwkkwkw.. Mereka berdua cewe dan cowo, yang ternyata berpacaran huahhahahhaaaaa.. Sebut saja deh ya si X dan Y. Keduanya bermuka oriental, jadi gw menduga mereka Chinese-Malaysian. Waktu ngomong mereka lancar walopun campur2 bahasa Mandarin – bahasa Indonesia – English, nha lho???!!! Hehehe.. Mereka juga bisa mengerti Mas Anton (guru gitarnya.red) kasih instruksi dan penjelasan. Fyi, Si X (cowo) ambil kedokteran dan si Y (cewe) ambil farmasi. Wah, sungguh2 pasangan yang serasi, ntar bisa praktek bersama dan bermain gitar bersama wkwkwkkww..

Selesai belajar gitar dengan mereka, dimana pada hari ini tidak tau kenapa gw merasa grogi ahhahahhahhahahaaa.. Salah-salah metik mulu & gw merasa koq ya gw gabisa-bisa gitu loh. Dibalik kegagalan sementara tersebut, setidaknya gw mendapatkan teman baru dan semangat baru. Lho??? Iya semangat baru, soalnya gw mendapat insight dari anak2 Malay ntu..

Satu hal yang gw pelajari dari hari ini ialah ketika kita mau belajar sesuatu, jangan kalah dengan jarak, jangan kalah dengan usia dan jangan kalah dengan keadaan. Si X dan Y jauh2 ke Yogyakarta untuk studi, gw jadi mikir, kenapa gw ngga bisa? Si X dan Y tidak seumuran dengan gw, mereka lebih tua tapi mereka tetap mau belajar, gw yang masih lebih muda kenapa harus minder? Si X dan Y bercerita tentang sistem pendidikan di Malaysia, yang ternyata, yo gonta-ganti kurikulum juga kayak di Indo, mereka merasa pendidikan di sini lebih bagus, daripada di sana makanya mereka skul di sini, tapi napa orang Indo (gw di sini) merasa desperado dengan pendidikan di negara sendiri, jadi kayak tidak bersyukur yaaaa..

Ayo semangat2.. Ingat! If you can see it, than you can do it..

Progress saya di kelas gitar:
- sekarang gw bisa dikit2 baca not balok
- main gitar gw lebih canggih.. Melodi & akor I’ll beat it!!
- Teknik petikan gw ya dikit2 mule variatif..
Sekarang perlancar membagi atensi menjadi 3 ; ke buku musik, tangan kanan metik & tangan kiri pencet kunci. :D

regards
puji wijaya, guitarist newbie

Sunday, May 22, 2011

Identity

Night folks!

Tema posting pada hari ini ialah mengenai identitas. Woot??? Berat sekali sepertinya. O-ow-ow sebenarnya tidak berat kok. Posting hari ini ialah hasil dari pembicaraan gw dengan salah satu teman lama gw. Pagi ini gw ke Gereja bareng dia. gw udah lama beud deh ga ketemu sama ni anak, mungkin ada ya setengah taun ga ketemu, padahal sama2 di Jogja. Ahahhahaha.. Lalu, akhirnya, setelah berSMSan-ria gw bikin janji sama dia untuk pegi ke Gereja bareng di hari Minggu.

Singkat cerita, abis ke Gereja gw breakfast bareng sama dia (selanjutnya sebut saja nama temen gw ini San2). Kami makan di warung Mie Medan, rasanya enak abis, yang bertempat di deket Jalan Solo, lebih tepatnya di deket XXI Empire. Dia kan orang Medan, jadi doyan de makan2 beginian. Lalu, ketika makan kami cerita2 banyak, gosip2 gitu. Dan sampailah kami ke sebuah topik pembicaraan "Identitas kami sebagai orang Chinese-Indonesian" diawali dengan cerita San2 mengenai temannya (cowo) yang putus sama pacarnya (dua-duanya orang keturunan Cina) gara-gara cewe nya tu: not really Chinese. gw agak kaget dan hah??? memang yang Chinese itu yang gimana sih????



gw maupun San2, sama2 orang keturunan. Nyokap-Bokap gw adalah seorang pedagang - punya toko, begitu juga dengan San2. Bedanya kami beda tempat asal, kalo gw Cina Cirebon kalo dia Cina Medan gitu deh. Nah, secara pribadi, sebenarnya gw sudah tidak familiar dengan akar budaya gw. Mama Papa gw juga sudah ga ngerti, makanya ga diturunkan. Salah satu alasan logis mengapa orang2 keturunan yang tinggal di Indonesia (khususnya Pulau Jawa) sudah tidak terlalu Cina lagi yaitu karena dulu kami kena G30S***, dimana sekolah2 Chinese ditutup dan kami, orang2 keturunan harus terkungkung selama kurang lebih 40 tahun untuk tidak melakukan hal-hal yang berhubungan dengan kebudayaan kami. gw juga jadi ingat cerita nenek gw, adik2nya pulang ke Hongkong karena kena PP10, peraturan (geje) yang kalo sekarang nama kerennya deportasi. Nenek gw karena udah menikah dengan kakek gw yang punya kerjaan sebage tentara jadi ga kena usir.

Keluarga gw dari jaman jebot tinggal di Cirebon. Kami sekeluarga tidak bisa berbahasa Ibu. Kalo kami ngomong ya selayaknya orang Indo pada umumnya, berbahasa Indonesia. Malah bokap-nyokap gw itu fasih berbahasa daerah Sunda dan Cirebon. Lalu, upaya pelestarian budaya kami juga hanya merayakan tahun baru Imlek saja, untuk sembahyang dan lain-lainnya itu sudah tidak lagi dilakukan, kami juga memeluk agama kristiani berbeda dengan kepercayaan asal kami. Kalo dirating mengenai kadar ke-Cina-an, kami mungkin punya nilai yang kecil. Tapi apakah karena hal ini lalu kami jadi berbeda dengan orang keturunan yang lain? Kami tetap menghargai akar budaya kami, tapi yang sekarang lebih perlu ditekankan ialah we are Indonesian.

Balik ke masalah temannya San2 yang mutusin pacarnya dengan alasan yang menurut gw dan San2 "Plis deh ini taun 2011, kolot beud sih lo???" gw akhirnya menyadari bahwa ada banyak warga keturunan di luar sana yang alirannya keras (bahasa gw ajib banget). Sampe2 dalam mencari pasangan pun, pilih-pilihnya udah kayak pilih beras merah (lho??? Opo toh??? ga nyambung wkwkkwkkww). Cerita lebih lanjut mengenai temannya itu, jadi si cowo tuh pengen kalo pacarnya itu Chinese, dengan warna kulit putih, bisa bahasa ibu, teman-temannya juga Chinese, tinggal di lingkungan Chinese. Pokoknya yang totok gitu de. Sedangkan pacarnya tsb (skrg udah jadi mantan) tidak memenuhi kriteria itu.

gw pun dalam hati jadi bertanya-tanya. gw juga termasuk orang yang not really Chinese kan. Mata boleh si sipit, kulit gw lebih gelap dari yang lain, lalu pemikiran gw juga sangat nasionalis, gw lebih suka mengidentifikasikan diri gw sebage orang Indonesia dibandingkan dengan orang Chinese, teman2 gw dari berbagai ras, teman dekat gw sekarang adalah seorang Jawa, so what???? Kelak juga kalo gw mau punya pacar gw pengen gw fair melihat orang tersebut tanpa melihat dia itu 'orang apa', ya sampe sekarang si tipe gw yang engkoh2 gitu. Ehehehehehe.. Tapi ga sampe ekstrim si, masa gw harus cari yang bener2 'genuine' (udah kayak spare-part motor ajah), kalo kayak gitu sih, gw sekolah ke Cina aja. Trus, gw cari pacar di sono. Kisah temannya si San2 ini menurut gw, not make sense. gw ga habis pikir, ternyata ya masih ada gitu orang keturunan yang masih tidak terbuka dengan diversity kita di Indonesia.

Hmmmm.. Yaaaaa.. Benar2 refleksi benar sih hari ini. gw sekarang jadi kepikiran untuk mengambil les bahasa mandarin. wkwkwkwkwkw..

Ini bukan pertama kali gw mendengar cerita seperti ini, sebelum2nya juga gw dapet cerita yang mirip2. gw heran ajah ya kenapa hal-hal seperti itu masih aja jadi permasalahan.. Semoga gw tidak mendengar cerita sensitif seperti ini lagi di lain waktu.. Koq ya gw jadi merasa sedih ya.. :(

Oke. Take care teman2..
Semoga kita tidak tercerai berai.

regards
puji wijaya, an Chinese-Indonesian

Saturday, May 21, 2011

PKM alias Program Kelelahan Mahasiswa

Hi Folks!
Selamat malam. Hari ini, hari yang baik, dimana gw (akhirnya) bisa memposting sesuatu kembali di blog. Wah senangnyaaaaa.. :) Banyak hal yang membuat gw jadi stuck menulis blog. Mule dari tugas numpuk (salah sendiri kebiasaan gw menunda pekerjaan. Prinsip mengerjakan yang mudah dan menunda yang sulit ternyata suatu prinsip yang salah humhumhum..), besnes dadakan bersama Ms Diaz & Mr Andrew Oey, proyek2 sosial pribadi sok idealis yang agak merepotkan saya akhir2 ini ahahhahahah.. Semuanya menyenangkan di satu sisi dan menyebalkan di sisi yang lain wkkwwkkww.. Ya ya.. Realize that every single moment of our ife are not just 'happy' moment.

Keribetan2 hidup bukan hanya dirasakan gw sendiri. Beberapa waktu belakangan ini gw banyak mendengar keluhan-keluhan dari orang-orang terdekat mengenai hectic dan ribetnya hidup ini. Euuuuuu.. Terkadang gw jadi mikir, walah gmn gw bisa jadi orang yang positif ni kalo orang-orang di sekitar gw aja ngeluh2 molo.. wkkwkwkwkw.. Dari salah banyak alasan yang dijadikan penyebab keluhan. Rekor terbanyak ialah:

"Saya merasa stress karena PKM"

wow. PKM??? Makanan apakah itu???

PKM adalah singkatan dari Program Kreatifitas Mahasiswa. Program ini adalah program bergengsi mahasiswa S1 yang melingkupi penelitian dan pengabdian masyarakat. Teman2 saya banyak yang ikutan karena beberapa alasan, ada yang memang tulus ingin membuat sebuah inovasi, ada juga yang ingin dapet duidnya karena banyak ahhahah.. lalu ada juga yang motivasinya supaya ga ikutan Kuliah Kerja Nyata (KKN), PKM bobotnya bisa dikatakan sama dengan KKN.

Awal semester 5 lalu, gw dan beberapa teman dari fakultas farmasi, psikologi dan manajemen juga mengajukan proposal untuk PKM. Tetapi tidak lolos. PKM milik teman-teman gw banyak yang lolos maju untuk maju ke tahap Provinsi (yang selanjutnya akan diseleksi untuk tahap Nasional dan ke Makassar bulan Agustus ini). Awalnya gw iri dan cemburu dengan mereka, tetapi setelah mengetahui kegiatan mereka, gw bersyukur proposal PKM gw & tmn2 tidak lolos <-- selalu ada keuntungan di tiap kemalangan wkwkwkkwkw..

Mengapa???

Ternyata Program Kreatifitas Mahasiswa ini sungguh2 menguras waktu tenaga dan pikiran (serta emosi). Ada beberapa hal yang gw cermati dalam pelaksanaan PKM yang menjadi sumber masalah:

1. Beda Program Studi - Beda Angkatan - Beda Otak????
Salah satu persyaratan PKM ialah anggota penyusun program harus terdiri dari mahasiswa beda program studi dan beda angkatan. Tujuan utama nya mungkin karena pemerataan dan penyebaran yah. Tapi yang menjadi masalah di kemudian hari ialah orang-orang yang dipersatukan atas nama PKM seringkali menjadi tidak klop. Pas penyusunan proposal kan belum keliatan tabiat masing-masing, pas kerja lapangan hmmmm.. Baru keliatan belangnya. Hal ini terjadi karena beberapa kelompok maksa banget gitu loh masuk-masukin orang cuma supaya PKMnya lolos ke tahap selanjutnya. Yang penting "beda prodi" ato "beda angkatan", belum tentu cocok kan masing-masing orang. Hasil akhirnya??? Program bisa saja selesai, tapi kalo menyisakan badmood di hati masing-masing anggota karena tidak merasa nyaman??? Itu jadi pertanyaan. Jadi maksimal ga mengerjakan programnya??? Jangan2 ujung2nya hanya kerjakan proyek karena ga enak udah dikasih uang sama pemerintah tapi ga bener2 dikerjain karena terlanjur bad feeling sama anggota kelompoknya sendiri.

2. Keluarkan Dana Sekecil-kecilnya
Siapa si yang gak seneng kalo dapet duid? Nah, fenomena tergiur 'kertas bahagia' juga muncul di kegiatan ini. Ketika pembuatan proposal kita akan membuat proposal dengan perkiraan dana yang 'agak' digelembungkan, dengan asumsi, mending lebihan deh daripada kurang. Tetapi, yang jadi masalah ialah ketika dana tersebut cair, kita malah menggunakan dana tersebut sekecil-kecilnya berharap dapet untung. Ya oloh, plis deh, kalo cari duit jgn di PKM atuh.. Kerja komersil aja sekalian.. Hasilnya??? Baik kah??? Maksimalkah??? Kalo pake prinsip ada uang ada barang, otomatis sesuatu dengan pengorbanan kecil akan mendapat sesuatu yang kecil juga kan???

3. Proyek Dosen Bukan Proyek Gw
Seringkali penelitian dan pengabdian masyarakat yang dikerjakan oleh mahasiswa ialah hasil dari kerjaan dosen. Kalo dosen yang memberikan ide, itu mah ga masalah. Tapi, kalo ternyata program tersebut kerjaan dosen, mahasiswa hanya sebagai pelaksanannya?? Ga banget kan. Ini si namanya Program Kreatifitas Dosen, bukan Program Kreatifitas Mahasiswa. Memudahkan di satu sisi, kurang mendidik di sisi yang lain.

4. Presentasi di Tengah Malam
Ini yang masih ga gw ngerti sampe sekarang. Presentasi PKM tahap provinsi ternyata tidak sekeren kedengarannya. Jadwalnya kacrut. Teman gw ada yang dapet presentasi jam 12:05 am. Alasannya: Reviewernya import dari Kota Bandung, udah datengnya telat, pulangnya kecepetan. Akhirnya dia harus kerja ekstra keras sampe mau menjuri PKM sampe subuh2 gitu. Gw mikir, gimana bisa orang exhausted kayak gitu ngereview PKM, ngedengerin presentasi??? Ga habis pikir juga gw, Indonesia memang sedikit yah orang pinternya??? Sampe2 yang menjuri ntu orang ajah???

Nah itu dia beberapa celah PKM yang gw liat dari kacamata gw. Program ini merupakan sarana yang baik untuk perkembangan mahasiswa, namun harus diberi beberapa catatan penting yang mesti dikritisi. Semester depan pun, gw berencana mengajukan proposal PKM dengan 2 teman lain dan gw inginnya sih PKM gw yang ini menjadi PKM yang ideal. Dimana gw menemukan kecocokan dengan teman yang lain, dimana otak dari PKM ini ialah mahasiswa bukan dosen, dimana kita tidak mengorbankan subjek PKM demi mendapatkan uang banyak, dan tentunya kita berharap semoga panitia pelaksana PKM tahun depan bisa lebih sadar dan lebih baik lagi. :)

Tema PKM gw semester depan masih menjadi rahasia si. Ehehehehhe.. Ya kita lihat saja ya perkembangannya yah. Oke. Take care teman2.. Jangan lagi kelelahan karena PKM. Semoga hari mu menyenangkan. God bless.

regards
puji wijaya, calon PKM-ers

Fun Teaching English

Heyho teman-teman..

Senang sekali bisa menulis kembali. gw ingin menceritakan kesempatan baru gw di Bulan Mei 2011 ini. Yap, teman-teman, gw mulai July 2011 nanti akan menjadi seorang part-timer English teacher di sebuah lembaga bahasa di Yogyakarta, yaitu FinK Kanisius Language and Learning Center. Sebuah kesempatan yang langka dan gw juga tidak menyangka bisa mendapatkannya. Thanks God. Lalu, bulan Mei -Juni ini adalah waktu gw untuk banyak belajar dengan teman2 part-timer yang lebih senior wahhaahhaha..

Sebagai bagian dari acara 'Training' menjadi seorang guru bahasa Inggris yang baik dan imut2 maka gw harus menjalankan tahap observasi ke sekolah selama dua kali dan observasi di basecamp fink dengan tanpa batas. Kemarin, tanggal 19 Mei 2011, gw mendapatkan kesempatan observasi yang pertama yaitu bertempat di Olifant Kindergarten.


Olifant sendiri ialah sebuah lembaga pendidikan anak usia dini yang memakai kurikulum internasional dalam kegiatan akademiknya. Setau saya untuk menyekolahkan anak di sini, memerlukan biaya yang cukup besar. Tidak heran anak-anak yang sekolah di sini ialah anak-anak dari orangtua dengan tingkat ekonomi menengah ke atas. Terlihat dari Mama2 muda yang datang mengantar anak2nya, terlihat amat modis dan fashionable. Anak2nya juga tidak mau kalah sama keren dengan orangtuanya. :) Mungkin karena hal ini juga, maka pengamanan di Olifant sangat ketat. gw yang notabene ialah anak baru, diperlakukan masih sebagai visitor, yaitu meninggalkan id card di satpam dan mengisi buku tamu. Lalu guru2 yang lain absen dengan teknologi finger print. Luar biasa. Prokk.. Prokkk.. Prokkk.. Kampus saya kalah jauh men..

Oke itu sekilas mengenai sekolahnya. Nah gw observasi di Kelas Parrot dengan usia anak 3-4 tahun. Kelas ini yang mengajar ialah Miss Pipit & Miss Stella. Anak2 kelas gw ini ada 5 orang dengan masing karakteristik yang menurut gw amat unik:

1. Bea
Bawel, suka cerita, atraktif, aktif dan mandiri

2. Farrel
Aktif, usil, bawel juga si, suka ngoprek

3. Angel a.k.a Mei2
Agak cengeng yah, agak pemalu, mau belajar dan berusaha

4. Gaby a.k.a Je2
Pendiam, kalem, kadang aktif kadang ngga

5. Chika
Pendiam (pake banget), ga mau ngomong, sukanya tidur-tiduran, pasif

Nah dengan komposisi lima anak seperti ini harapannya materi bisa terserap dengan baik karena ini kelas kecil. Walaupun sebenarnya ya kalo materi itu bukan hal yang penting ketika kita mengajarkan bahasa baru kepada anak2. Kuantitas materi boleh sedikit tapi yang penting berkualitas. Pada hari itu Miss Pipit & Miss Stella mengajarkan anak2 tentang nama hari, cuaca dan keluarga. Tema ini sudah dibahas minggu2 sebelumnya jadi pertemuan ini seperti minggu review supaya anak2 bisa inget dan minggu kreatifitas karena anak2 membuat craft yang melatih kemampuan motorik kasar mereka.

Di awal course, anak2 diajak main dulu. Qta main 'Hide and Seek' dan main 'Where is Mr. Whoo?' dua permainan sederhana yang membuat mereka sangat senang. Saya jadi berpikir mengapa kita sebagai orang dewasa terlalu banyak keinginan sehingga tidak bisa merasa bahagia dengan hal yang sederhana. :) ketika bermain hanya ada 4 anak. Hanya 3 anak yang aktif yaitu Bea, Farel & Je2. Chika sudah datang tapi diam saja & glepor-gleporan. Lalu, Mei2 bebearpa menit kemudian datang ke kelas dengan nangis jerit2an (oh mai goat, gw ikutan histeris de liat ni anak nangis mulu heuuuuuu..) dy gmw masuk kelas. Dy pengen bareng Maminya terus. Setelah dibujuk oleh Miss Stella dan Je2 akhirnya (akhirnya!!!!) Si Mei2 mau deh masup kelas.

Lengkap sudah pasukannya. Miss2 FinK yang cantik2 ini (termasuk gw si observer konyol) mengajar anak2 super heboh. Dan setelah melihat proses ajar-mengajar itu, gw jadi ngeh, kalo ngajar anak-anak itu tidak semudah membalikan kertas binder. Susah nya dah kayak gbs pup 3 hari. Huhuhuhuhu.. gw watir, apa gw bisa ya ngajar dengan cara seperti Miss Pipit & Miss Stella lakukan. Pengalaman menarik lain yaitu pas gw harus nganter si Chika pipis. Wadowwwww.. Mamen(cret) begemana ne.. Untung, toiletnya, toilet duduk untuk anak2 dimana gw jadi ga watir kalo anaknya nyemplung. wkwkkwkw.. gw bantuin si Chika ni lepas celana & make celana. Susah ya, mana si Chika ni ga mau ngomong, repot gw, dy cuma bisa ngangguk sama nggeleng doank. Waduwwwwww..

Anak jaman sekarang ini memang beda yah dengan anak jaman dulu. Waktu bikin craft si Farel heboh-heboh soal permainan Upin-Ipin. Sumpeeee gw kaga ngarti deh. gw ho-oh ho-oh aje tapi ga ngerti juga si Farel ngomong apaan. wkwkwwkkwkw.. Trus, gw juga agak kaget waktu si Bea tiba-tiba cerita di kelas kalo dia abis pegi ke luar negri.. Woot??? Takjub. Lalu, lucu juga waktu Miss Pipit tanya si Bea:

"Bea, where do you buy your shoes? It's so cute"
Keterangan : Sepatunya Bea model boots kayak di video klip SNSD gitu deh.. warna pink..
"Ini belinya jauh. Di Bangkok"

Dan gw, cm bisa nelen ludah. Buseddddd. Realita masa kini.
Lewat observasi pertama gw ini, gw jadi ngeh apa saja yang harus gw pelajari. Yang paling penting ialah, bernyanyi. Iya gw mesti punya banyak2 lagu anyak2 neh. Wadoowwwww.. Lalu, gw harus pandai menyetir suasana dan banyak ide untuk motivasi. Karena lesson plan yang kita buat bisa saja tidak sesuai ketika dipraktekkan di kelas. Ini dia, membutuhkan kreatifitas tingkat tinggi.
Yap2 banyak hal yang gw ambil dari My First Observation. Terimakasih Tuhan.

regards
puji wijaya, KimCil English teaher

Monday, May 16, 2011

Love is in the Air

Malam itu gw ngenet di kampus bareng sohib footraffic gw, Nina. Rencana gw mau ngajarin dy beberapa hal mengenai blog. gw janjian sama Nina jam 7 sih.. wkwkwkkwkww.. tapi gw baru dateng jam setengah 8 huahahhaa.. Maap ye Nin.. Otak karet emang ane. Akhirnya kita melakukan kegiatan berselancar kami..

Selese dengan pengajaran menjadi blogger yang baik dan bijaksana. Biasa lha yaaaa.. Kalo ngenet tapi ga buka facebook, kow kyknya gatel yah tangannya hahahha. Ketika itu gw udah lama bgt.. Ga buka facebook. Bisa jadi ada 2-3 harinya. Maklum, gw kan skrg udah bkn internet geek lagi.. Yang tiap hari kerjaanya onlen mulu ngalah2in Olga Syahputra wkwkwkk..
Nah, kebiasaan lama gw muncul de gara2 ini..
Yaitu : stalking orang-orang di facebook, mule dari tmn2 SD sampe kuliah. Heboh2 gw & Nina ngetawain status update orang2 yang kocak & di luar akal sehat. Sampe akhirnya gw keinget sesuatu :
“weh udah lama ga liat fb cowo TPLP”
(sepertinya pembaca sudah tidak asing ya dengan inisial ini wkwkkwkwkw..)
bukalah gw fb TPLP dan… mendapati dia hari Jumat yang lalu memposting pergantian status hubungannya:

cowo TPLP in relationship with cewe TPLP

tertegun,
tapi setelah itu..
gw tertawa..
lho koq ketawa????

gw merasa sangat lega dan bisa meyakinkan diri sendiri bahwa:
Puj, dia baik-baik saja dan bahagia dengan hidupnya, jangan kuatir.

:)

Dan gw baru sadar malam ini adalah malam hari Waisak. Hari yang sangat berarti buat gw di masa lampau dan tetap menjadi hari istimewa untuk gw di masa kini.

Congratz & Longlive, Chris & Evelle :)