Monday, January 21, 2013

Kesan Mengenai Bali Dwipa

Tidak menyangka, nonstop sekitar 1 minggu, mengejar ketinggalan menulis posting mengenai Bali, akhirnya selesai juga. Bak menulis skripsi, nulis posting perjalanan butuh banyak waktu dan energi ternyata. Ngurek-ngurek lagi memori mengenai Bali, bukan persoalan yang mudah. Karena ternyata ada beberapa detail yang saya lupa catat sehingga saya harus browsing lagi. Heheheeheheee.. Sudah menjadi kebiasaan saya si, kalo habis pergi jauh, saya suka cerita di blog. Menurut saya, kenapa tidak saya menceritakan ulang dan menyimpannya dalam bentuk teks. Trus, orang-orang juga jadi bisa membacanya kembali. Taun2 berikutnya juga saya sendiri bisa membacanya kembali. :D

Kesan setelah belasan tahun, akhirnya ke Bali lagi, Bali rupanya banyak berubah. Yang paling tidak berubah adalah Pura Tanah Lot. Heheheheheh.. Ya iya lha ya. Kuta sendiri, yang dahulu masih adem ayem, sekarang ramai nya luar biasa dan bangunan tingginya tiba-tiba jadi banyak. Hehehehe.. Populasi turis di Bali sama saja, dulu sama sekarang sama2 banyak beud. Dan turis asing terlihat sangat happy sekali liburan di pulau dewata ini. Yang saya amati di beberapa tempat pusat keramaian, Bali tidak seperti Bali yang kesannya suci, sakral, agak mistis, dan misterius. Terlalu terbuka dan terlalu western, kadang saya jadinya merasa bagai hujan batu di negeri sendiri saking tidak bisa mengikuti gaya hidup dan menggapai tingginya biaya hidup di sini. Sedangkan, turis asing yang didominasi oleh orang berkulit putih, bagai hujan emas di negeri orang, karena mereka enak bersenang-senang di sini, tanpa memikirkan uangnya akan habis, murah gitu lho bagi mereka. (perumpamaan ini saya terinspirasi dari Komik Beny and Mice, Lost in Bali 1).

Selain itu hebohnya industri pariwisata di Bali juga berdampak pada perilaku sosial masyarakat Bali. Pertama, saya sebagai turis domestik, dalam beberapa kejadian merasa kurang dihargai. Kelihatan sekali kalo masyarakat lebih respek dengan turis asing dibandingkan turis domestik. Heheheheh.. Kasusnya mirip seperti di Singapura, ketika orang Singapura merasa kalo orang Indonesia kaya-kaya jadi mereka well-act agar jualannya dibeli, sedangkan mereka cuek bebek sama orang negeri sendiri. Kedua, di beberapa tempat kehidupannya sangat bebas. Di gang tempat saya menginap, jual diri itu sudah seperti jual kerupuk. Dimana-mana, mudah sekali didapatkan dan murah. Ga tau juga apakah gaya hidup seks bebas di sini jadi bikin orang-orangnya agak lemot, tapi yaaaaa kalo memang ada korelasi positif akan dua hal ini, sangat disayangkan juga kan, masa generasi muda kita jadi lemot2. Sudah gitu di sini juga banyak anak kecil, tiap hari lihat yang seperti ini, gak heran jadi dewasa sebelum waktunya. Namun, yaaa.. Hal ini mungkin akan terus ada entah sampai kapan, kalo dilihat dari perspektif ekonomi, dengan menjadi seperti inilah mereka bisa makan, bisa hidup. Ironis si memang.

Bali, memang punya magnet yang kuat untuk mendatangkan pundi-pundi keuntungan negara lewat pariwisata. Bisa dibilang paket wisatanya lengkap. Contoh saja, bagi yang tidak menyukai dunia sosialita, bisa juga menikmati Bali dari sisi budaya, seni, sejarah, olahraga, ekologi, geografis dll. Tiap pelosoknya ada tempat wisatanya. Gilimanuk punya tempat wisata sejarah manusia purba dan hutan berstarus taman nasional di sisi seberangnya Kubu, terkenal dengan lokasi diving keren. Di tengah, Ubud, kita bisa melihat sawah berhektar-hektar luasnya, agak ke timur ada Desa Trunyan yang menyimpan sejuta misteri dan megahnya Gunung Agung. Melipir ke selatan, Bali punya wisata kelas atas di Tanjung Benoa lengkap dengan fasilitas kapal pesiarnya, geser dikit sudah ke pantai-pantainya yang terkenal ke seluruh dunia. Belum lagi dengan tersebarnya pura-pura cantik di seluruh Bali, aaaaaaaaa.. Wisata di Bali tidak bisa hanya sehari-dua hari dan sekali-dua kali. Sepertinya perlu waktu yang banyak untuk menjelajahi semuanya.

Well, sekian kesan saya mengenai Bali. Senang bisa membaginya.. Yang pasti, di taun2 ke depan, saya pingin ke Bali lagi. Hahahahahahaaaa..

best regards,
puji wijaya, the explorado.

heboh di Tanah Lot

1 comment:

pak Samsul said...

saya atas nama BPK. SAMSUL dari MADURA ingin mengucapkan banyak terimah kasih kepada MBAH KARYO,kalau bukan karna bantuannya munkin sekaran saya sudah terlantar dan tidak pernaah terpikirkan oleh saya kalau saya sdh bisa sesukses ini dan saya tdk menyanka klau MBAH KARYO bisa sehebat ini menembuskan semua no,,jika anda ingin seperti saya silahkan hubungi MBAH KARYO no ini 082301536999 saya yakin anda tdk akan pernah menyesal klau sudah berhubungan dgn MBAH KARYO dan jgn percaya klau ada yg menggunakan pesan ini klau bukan nama BPK. SAMSUL dan bukan nama MBAH KARYO krna itu cuma palsu.m