Wednesday, February 17, 2016

Opini Terhadap LGBT

Sebuah stasiun TV yang kebetulan suka sekali caper, mengangkat LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, and Transgender) sebagai topik talkshow andalannya. Saya lihat? Sebentar saja, merasa muak dengan cara mereka membahasnya lalu mending ganti channel lain daripada otak ini mendadak turun IQ. Hmmm.. Saya jadi berpikir, mungkin gini ya keadaan Amerika sekitar 50 tahun yang lalu ketika antar golongan masyarakat berdebat mengenai LGBT. Tak ada ujungnya, seriously, dan tiap golongan saling membenarkan diri. Semua orang ingin dianggap benar, padahal opini ya just opini, boleh semua orang ngomong, tapi soal benar apa salah, mau diikuti ato ga. Ya kan balik lagi ke urusan masing-masing orang. Nah, gak mau kalah dengan Bapak-Bapak Ibu-Ibu di acara tersebut, di posting kali ini, saya mau mengutarakan pendapat pribadi saya mengenai LGBT.

Saya mengetahui term laki-laki yang keperempuanan atau perempuan yang kelaki-lakian sudah sejak SD. Ketika SD saya punya teman dekat yang sering dikata-katai ‘banci’ karena dia lebih nyaman bermain dengan teman perempuan dibanding teman laki-laki. Anaknya rajin banget, lembut, dan tidak terlalu suka pelajaran olahraga. Tapi ketika itu hanya sebatas si X memang lembut seperti perempuan tetapi tidak pernah berpikir sampai apakah dia menyukai pria atau wanita. Namanya juga anak SD masih polos-polos unyu gitu. Di SMP juga tidak ada yang aneh, saya sendiri dari SMP boyish sekali tidak terlalu menyukai hal yang cantik-cantik, dari dulu doyan main basket dan aktifitas outdoor. Tapi saya secara sadar, tau bahwa I have desire to man, meski tampilan macho begini.

Di SMA lha ya, saya menemukan spesies wanita yang bener-bener tomboy. Kayaknya ke-macho-an saya di SMP gak ada apa-apa nya deh. Kakak angkatan saya ini gaya berbicara nya juga sudah kayak anak laki-laki. Potongan rambut juga cowok. Namun, lagi-lagi ketika itu pengetahuan saya hanya terbatas menganggap ‘ah itu hanya penampilan saja sih..’. Lalu, ada satu kejadian di penghujung sekolah menengah atas yang membuat saya menyadari betul kehadiran LGBT di dunia ini, ketika teman dekat saya (perempuan) tiba-tiba menghilang dan dibawa kabur oleh seorang lesbian yang dikenalnya dari dunia maya. Saya shock banget waktu itu, dan gak tau juga mau komentar apa.

Kejadian tersebut merupakan memori yang cukup buruk, meskipun bukan saya yang menjadi korban. Mungkin karena yang mengalami adalah orang yang benar-benar dekat, jadi saya terkena aura negatifnya. Ketika itu saya heran juga sama teman saya ini, karena dia itu orangnya cantik, baik, kalem, pinter bahasa Inggris, dan idaman para pria banget. Selama sejarah bersekolah, selalu jadi kembang sekolah. Kenapa harus ‘belok’? Emang udah bosen sama laki-laki? Dan kalopun alasannya bosen, ya Tuhan saya aja gak dapet-dapet *malah curhat* berita terakhir sih bilang kalo teman saya ini kena santet sama si pasangannya itu. Ah tidak tau lah ya. Inti cerita, yak di sini lah saya baru ngeh real beneran kalo LGBT ini benar adanya bukan sekedar perkara ekspresi perilaku dan penampilan aja.

Masuk Fakultas Psikologi, bahasan-bahasan LGBT menjadi lumrah dan wes biasa. Selain belajar memahami LGBT dari buku, saya juga belajar dari langsung subyeknya. Yap, di kampus teman-teman yang openly gay/lesbian tidak malu mengekspresikan diri. Dan menurut saya pribadi itu sah-sah saja, sama seperti kalau kamu suka musik rock, lalu suka pakai baju-baju band rock. Ada beberapa teman LGBT yang saya pribadi kagumi, kagum dengan semangat hidupnya, malah gak jarang yang secara agama kuat banget, mereka juga open-mind, terbuka, serta apa adanya. Dan yang sangat saya hormati adalah ketika mereka juga menghargai kita yang straight, jadi temenan sama gay & lesbian bukan berarti kita juga kudu punya orientasi seksual yang sama dengan mereka. Ato mereka yang memaksa kita menjadi gay/lesbian juga.

Ada pendapat yang bilang kalau lesbian/gay itu “born this way” alias sudah dari lahir ya begini. Namun, sampai sekarang yang bilang homoseksual itu faktor genetis juga tidak banyak, masih belum cukup terbukti secara penelitian. Di sisi yang bersebrangan, ada yang bilang bahwa faktor lingkungan berperan besar dalam membentuk seseorang menjadi homoseksual, misal seperti trauma masa lalu, ajaran dari kecil, atau ikut-ikutan teman. Pendapat ini juga tidaklah salah, karena memang banyak juga yang memang ‘memilih’ orientasi seksual seperti ini, kayak contohnya orang-orang di Belanda yang demi dapet ijin tempat tinggal ya milih nikah dengan sesama jenis supaya cepet dan anti-repot. Sama juga dengan seorang teman saya yang suka bereksperimen, jadi kadang kalo lagi pengen sama cewe ya sama cewe, kalo pas pengen sama cowo jadilah dia hetero. Unik kan manusia. Jadi saya sendiri kalau ditanya orang lain mengenai asal-usul LGBT, ya begitulah yang saya jelaskan seperti di atas.

Dari berbagai bahasan LGBT, sebenarnya yang paling saya benci kalau sudah dikait-kaitkan dengan agama. Aduh. Nah inilah yang terjadi di Indonesia. Di negara ini apapun mesti dikaitkan dengan agama, which is making me feel sooo annoyed. Di agama tertentu memang tertulis di kitab suci bahwa LGBT itu adalah dosa dan tidak dibenarkan (secara agama). Saya agak curiga sebenarnya pasal ini ada karena pada jaman itu manusia sedang gencar-gencarnya memperbanyak keturunan karena ada keyakinan jumlah penduduk yang banyak itu sama dengan ketahanan dan kekuatan suku tertentu, kalau masyarakatnya banyak dan kuat ya tanah yang ditempati tidak mudah direbut oleh suku lain. Jadi ya jelas melarang karena hubungan sejenis kan tidak memunculkan keturunan. Sedangkan konteksnya di masa kini udah beda banget, negara-negara sekarang tidak begitu mudahnya direbut/dijajah, ada undang-undang, dan ada sistem pertahanan yang sebegini rupa. Jadi kalo masih ikut tulisan yang jaman baheula itu sebenarnya ya kurang tepat juga menurut saya.

Indonesia rada telat juga ramenya soal LGBT. Baru beberapa bulan ke belakang ini, dan saya yakin si bentar lagi juga lupa, udah keganti sama berita lain yang lebih hebring. Padahal ya, sebenarnya untuk kalangan tertentu LGBT itu sudah buka barang aneh. Tanya aja sama temen-temen seniman, atau orang-orang yang berkecimpung di dunia showbiz. Cuma selama ini off the record, jadi baru heboh banget sekarang setelah banyak kasus-kasus yang terkait LGBT entah sebagai pelaku atau korban. Ekspos berita yang lebay ini nih yang bikin imej LGBT kayaknya salah banget, kayaknya jelek banget, dan virus. Dan ini lho yang saya kecewakan, padahal temen-temen LGBT ga semuanya salah, ga semuanya jahat, ga semuanya penjahat kelamin, or whatever you called it. Ya sama lah kalo kita punya prejudis orang Cina itu pelit-pelit, padahal ya ga semua begitu. Damn you, prejudice.

Yap itulah sekilas opini saya mengenai LGBT. Semoga kalo ada temen yang baca, ya bisa bantu kasih pandangan baru daripada pake pandangan yang itu-itu aja sampai mbuntet. Hahahaha.. Terus, kalau ada yang tanya saya soal, lalu apakah kamu di sisi yang pro atau kontra terhadap LGBT? Well said, saya memilih pro. Orientasi seksual itu hak pribadi, ya sebelas-duabelas lha dengan apakah kamu percaya Tuhan apa gak, dan sama juga dengan kamu lebih suka mayo, sambel, ato saos tomat. Selama hal ini tidak merugikan orang lain, gak masalah. Namun, nampaknya kita perlu banyak bersabar. Pro-LGBT di Indonesia itu jalannya masih panjang banget, you know kenapa yah.. Hahaha.. Tapi saya bersyukur dengan keadaan di negara lain yang sudah cukup banyak mau menerima temen-temen yang LGBT, bahkan pemimpin Gereja Katolik yang sekarang Paus Francis juga tidak memandang sebelah mata teman-teman LGBT – dan ini sebuah good start untuk keterbukaan agama yang lain. Hehehe.. Ya sudah daripada tambah panjang. Sampai bertemu di posting selanjutnya ya. 

pic taken from here

No comments: