Monday, October 19, 2015

Manusia Sedang-Sedang Saja

Saya itu orangnya rata-rata banget. Saya belum pernah jadi expert, tapi bukan berarti juga apa yang saya kuasai terlalu dasar, pokoknya di tengah-tengah. Kemampuan kognitif saya juga rata-rata, meski tidak pernah tau IQ saya berapa, tapi saya jamin IQ saya tidak lebih dari 110, seperti 90% manusia lainnya. Gak tau, bawaan anak tengah atau gimana. Sekian puluh tahun hidup, saya belum pernah sih being expertise, kayaknya skill saya itu moderate banget. Sedang-sedang saja. Contohnya, saya bisa main gitar tapi gak terus jadi gitaris yang menang lomba berturut-turut atau manggung sana-sini, saya bisa kendo tapi saya juga tidak jadi yang paling keren di dojo, saya bisa gambar tapi gambar saya standar aja loh, banyak yang bilang lucu, tapi lebih banyak yang lebih lucu. Nah lho! Jadi sebenarnya saya ini gimana sih?

Begitu tengah-tengahnya kemampuan saya juga terlihat dari nilai saya selama mengecap bangku sekolah. Dari TK sampai dengan kuliah, saya bukanlah anak yang paling pintar di kelas, tapi saya juga ga ketinggalan banget. Ranking saya waktu jaman sekolah juga gitu-gitu aja, masuk 10 besar tapi mentok gak bisa top 5. Pernah sekali ranking 2 waktu SMP kelas 3, tapi tidak terlalu istimewa karena nilai saya dengan yang ranking 1 jaraknya jauh banget. SMA gak ada ranking2an, tapi ada kejadian lucu ketika kenaikan kelas 2 SMA dan penjurusan. Karena nilai rapot saya kebanyakan nilai 7, guru saya nanya ke Papa, Puji mau masuk IPA atau IPS, saya bingung dan memilih opsi mudah saja lah. Saya pilih masuk IPS karena di IPA malas bertemu Fisika. Ternyata di IPS saya babak belur dengan ekonomi dan akuntansi hahahahaha.. Saya bingung sebenarnya saya ini bisa apa. Masuk kuliah, kebanyakan nilai saya B, iya nilai B, menyebalkan, mana di kampus saya tidak ada nilai B plus atau B minus, jadi ya sudah lah makan itu B bulat, bikin transkrip nilai saya juga ‘rata-rata’.

Karena kerata-rataan saya ini, saya sejujurnya bingung menghadapi kehidupan selanjutnya. Pertanyaan ‘mau apa?’ ‘mau dibawa kemana?’ itu seperti nightmare tersendiri. Senang untuk teman-teman yang mengetahui kemanakah hidupnya ini akan berlabuh (happ ciehhhhh..), punya target di depan mata yang kelap-kelip dan terang. Lha saya? Hmmmm.. Untuk memilih mau ngapain aja, jadi dilematis. Seperti contohnya begini yang paling gampang, mau bekerja dimana? Pilihan saya banyak, toh jadi apa saja saya bisa-bisa aja, karena prinsipnya belajar, dibilang suka yang mana, banyak juga yang saya sukai, jadi mau jadi HRD, mau jadi social worker, mau jadi anak marketing, atau apapun – saya pasti excited belajarnya. Saya itu orang nya bosenan, jadi kalau terlalu lama dalam suatu pekerjaan kayaknya ga banget juga deh, saya kadang mikir apa saya itu kutu loncat ya, tipe yang anget-anget tai ayam, tapi gak juga buktinya kata ‘bosan’ tidak serta merta membuat saya tidak fokus, saya hanya butuh selingan laen aja supaya bisa keep on the track. Saya termasuk yang komit mengerjakan sesuatu yang saya geluti.

Orangtua saya juga kadang bingung sendiri dengan saya. Karena mereka juga bukan yang tipe menggiring masa depan anak, mereka sangat liberal, hmmm.. mungkin lebih tepatnya tidak terbiasa memperhatikan anak jadi ya diserahkan ke anaknya saja mau bagaimana. Nah, dari kira-kira sebulan yang lalu, orangtua saya mulailah pedekate, dan mulai mengutarakan ide-ide mereka mengenai masa depan saya. Dimulai dari Mama saya, beliau cerita tentang toko dan berbagai hal tentang menyenangkannya berdagang, di tengah pembicaraan disisipi pesan-pesan sponsor agar saya mau untuk meneruskan usaha keluarga. Mengenai ide berdagang – it is not a bad idea actually, saya tertarik juga dengan bisnis tapi melihat segala macam permasalahan yang Mama Papa alami, ditambah kalau saya meneruskan usaha ini lalu saya akan terkungkung di kampung halaman dengan rutinitas yang begitu-begitu saja, saya hopeless menjadi orang yang berguna untuk masyarakat. Ditambah trauma masa lalu, toko yang meski menjadi topangan hidup kami tetapi juga membuat orangtua saya jadi kurang perhatian. Apakah lalu saya harus mengulang ritme keluarga yang sama? Apalagi saya juga kurang kompak dengan Mama Papa, bisa-bisa setiap hari bertengkar.

Sehabis Mama, datanglah Papa saya punya ide bagaimana kalau saya menulis untuk surat kabar. Berhubung menurut dia saya memiliki kemampuan merangkai kata-kata yang cukup baik. Dibalik alasan ini, perlu diketahui, Papa saya itu Bapak-Bapak pembaca koran sejati, dia juga memiliki interest pada dunia sosial politik yang sangat besar, maklum dulu kuliahnya di fakultas hukum. Mendukung saya untuk menjadi penulis berita, wartawan, atau orang yang berkecimpung di dunia politik itu cukup keren sebenarnya. Tapi apalah dayaku dengan otak pas-pasan begini, baca beritapun pilih-pilih dan cenderung cuek dengan apa yang terjadi di negara ini, tidak cukup membuat niat untuk menjadi penulis berita itu muncul. Papa memang benar bahwa saya suka menulis, tapi apakah saya sanggup menulis untuk berita, fakta, opini kritis, resensi, atau apa saja lah itu yang ada di koran. Malah pikir saya, saya cocoknya menulis untuk tabloid gosip atu majalah anak-anak. Hehehe.. Atau ya sudahlah menulis blog saja. Opsi menulis ini baik, walaupun obyek tulisannya kurang tepat. Saya lebih mempertimbangkan hal ini dibandingkan ide Mama saya untuk berdagang.

Ya, masih bingung juga si mau apa. Ngobrol dengan teman-teman sebaya, mereka mendukung saya untuk tetap lanjut menulis dimanapun itu. Mereka juga percaya jika saya menjalankan bisnis, pasti akan jalan melihat saya juga tidak buta-buta amat di dunia dagang dan marketing. Hahahaaa coba gimanaaa.. Saking rata-ratanya saya, orang-orang di sekitar pun jadi bingung. Masih mikir nih ya. Satu-satunya yang saya ingini sih mau jadi turis saja lah, hahahaha.. Kalau yang ini semua orang juga pasti mau.


No comments: