Friday, October 23, 2015

Yang Namanya Ramalan

Ada beberapa orang yang memang punya kelebihan untuk dapat memprediksi kehidupan, bisa dibilang feeling dan insting nya sangat amat kuat sehingga dia bisa menangkap gelombang-gelombang tak kasat mata wuedihhh berat banget yah. Nah tetapi ada juga yang bisa memprediksi karena lihai menganalisis dan mengobservasi kejadian-kejadian sebelumnya, maka itu dia bisa ‘melihat’ kejadian yang akan datang, tipe ini lebih bisa diterima oleh akal sehat sih. Tapi yang mana pun tipenya, saya pribadi percaya ada hal yang begini-begini, hanya kadang tidak ingin dibawa atau dipikirkan secara berlebihan aja. Ibaratnya kalau dapat goodnews ya saya senang dengarnya tapi tidak lalu jadi terlena, dan kalau dapat badnews diterima aja gak usah dibawa pusing.

Keluarga saya bukan keluarga klenik, yang percaya hal-hal berbau supranatural. Tapi belakangan Mama saya kadang suka berlebihan juga menanggapi sebuah ramalan, saya jadi bingung nanggepin kalau topiknya sudah ‘kata si X nanti kamu akan bla.. bla.. dan bla..’. Di lingkungan keluarga saya, ada salah satu Om yang jago sekali soal beginian, yang sampai sekarang saya terkadang merasa geli sendiri kalau sudah dengar ramalan-ramalan beliau. Mama Papa saya sudah sejak lama sering ditebak-tebak berhadiah oleh si Om, dan herannya dalam kurun waktu tertentu memang hal-hal yang dia prediksi tepat adanya. Sugoi, hebat bener kan. Saya gak tau juga sih apakah ini sugesti atau gimana, tapi hal-hal yang ditebaknya adalah kejadian yang cukup spesifik.

Keheranan saya makin menjadi, ketika saya bertemu dengan si Om lalu biasa lah dia akan membaca-baca saya secara kepribadian dan apa yang akan terjadi di masa depan, termasuk soal karir dan jodoh. Saya sih sangat curiga, awalnya Mama Papa saya sudah pernah cerita briefly tentang saya, jadi si Om ini akan menyimpulkan fakta-fakta yang telah dia terima. Sayang aja kali ini prediksinya soal ‘me as a person’ meleset, apalagi setelah menebak saya adalah anak yang rajin belajar dan teratur. Well, saya gak tau juga liatnya dari mana, kalaupun ada sesuatu yang bisikin, kayaknya tu salah info deh Om. Aslinya, saya itu laid back banget dan punya sifat menggampangkan sesuatu yang sering membuat hidup saya sulit sendiri, ditambah dengan kebiasaan prokrastinasi yang sama besarnya. Lalu sehabis tebak-tebak tentang kepribadian, saya dicoba dibaca, katanya masa depan saya akan mandiri dan punya pekerjaan yang baik. Well, mendapatkan informasi seperti ini di kala saya sedang galau-galaunya dengan masa depan terasa mendapatkan penguatan juga. Makasih banyak lho Om.

Mama saya yang kayaknya keasyikkan ‘diramal’ lalu nanya macam-macam soal kampung halaman kami, apakah prospeknya bagus, bisnis apakah yang nanti akan berkembang, apa yang terjadi di kampung bertahun-tahun yang akan datang. Lalu sampailah pada pertanyaan ‘Adakah dari antara anak Mama Papa saya yang akan meneruskan usaha keluarga?’ waktu itu saya dan Adek saya juga lagi ikut nimbrung, pengen tau banget jawabannya. Seolah-olah si Om mengetahui isi otak kami berdua, Om bilang ‘Tidak ada. Semua akan keluar dari kampung. Mama Papa tetap berdua jadi penunggu toko’ saya dan Ndut langsung ngakak dan berkomentar ‘Wah lega yah..’ well, stay di rumah dan meneruskan usaha keluarga adalah nightmare buat kami semua. Saya sendiri selalu sedih ketika Mama saya selalu menyuruh pulang dan ketika pulang ‘memprospek’ saya untuk mau meneruskan usaha keluarga. Saya jadi bertanya-tanya, apakah Mama tidak mau anaknya jauh lebih berkembang? Apakah ekspetasinya terhadap anak-anak hanya segitu saja?

Ramalan biarlah menjadi ramalan. Dan harus bijak juga ditanggapinya. Selain pengalaman ramal-meramal oleh si Om, saya juga pernah dengar ramalan via kartu Tarot, dan juga oleh dukun. Kalo cerita yang tentang kartu Tarot ini ga terlalu berkesan, karena waktu itu hanya iseng bayar 10ribu untuk minta dibuka satu kartu dan si pembaca Tarot mendeskripsikannya dengan sangat diplomatis sekali – nothing personal. Nah kalau dengan dukun ini kocak juga karena bukan saya yang nanya, tapi ada seseorang yang membenci saya lalu dia datang ke orang pintar untuk bertanya soal diri saya (saya taunya ini juga karena tidak sengaja). Sang orang pintar ini membaca bahwa saya adalah orang yang dominan lalu kalau dekat-dekat dengan saya terlalu lama (misal menjadi pasangan hidup) orang ini akan mengalami sakit penyakit – lalu dijembrengin lha sakit itu darah tinggi lha, diabetes mellitus, sakit jantung, gagal ginjal.

Pas saya tau cerita ini, saya mangap. Gilak sakti banget saya sampe bisa nyebarin penyakit-penyakit kayak gituan. Lagipula soal saya itu dominan, salah besar abis. Pada kenyataannya saya bukanlah orang yang dominan, saya jadi dominan hanya pada saat tertentu ketika tidak ada orang lain yang dominan, dan kemudian saya berperan dominan. Tetapi secara umum, saya tu submissive karena saya cari aman, saya tidak memaksakan kehendak saya kalau memang tidak fit in, kesannya dari ramalan itu saya nih saking dominannya sampai bikin orang lain rugi. Pusing deh difitnah sama dukun. Ya kocaknya, si klien dukun percaya mentah-mentah dengan perkataan dukun (mungkin sudah langganan kali ya). Saya gak bisa ngapa-ngapain kalau kayak gini, dukun udah bertindak, untungnya aja saya ga dikirim penyakit macam-macam. Susah juga kalau terlampau percaya dengan ramalan, maka saya suka ngomong juga ke Mama saya supaya tidak menanggapi ramalan terlalu berlebihan, jangan sampai hidup kita tuh bertumpu pada hal-hal seperti itu.

Bagaimanapun yang menciptakan masa depan kita, adalah kita sendiri bukan? Jika ada yang bilang Tuhan sudah menggariskan dan sudah mentakdirkan, tetapi apakah berarti apa yang kita lakukan itu tidak berpengaruh? Kok pasrah banget kesannya. We all make our own fate. Pendapat saya sih gitu, kalau orang lain punya pemikiran berbeda juga boleh. Hehehe.. Bye!

No comments: