Thursday, October 8, 2015

The Story of a Family

Harta yang paling berharga adalah keluarga. Salah satu barisan lirik lagu sinetron Keluarga Cemara. Sinetron yang berkisah sebuah keluarga yang terdiri dari Abah yang bekerja sebagai pengayuh becak, istrinya yang penjual opak keliling, serta tiga anak perempuannya yang masih kecil-kecil adalah memori yang tidak bisa dilupakan oleh anak-anak yang mengaku angkatan 90-an, termasuk saya. Untuk ide cerita dan pesan moral yang terkandung, menurut saya sinetron sekarang belum ada yang bisa mengalahkan. Saya menonton drama seri ini mulai dari ini diputar sore hari, jadi pagi hari, dan jadi tengah hari. Bertahun-tahun, mungkin saking gak ada drama seri laen yang layak disiarkan, cerita Keluarga Cemara mengerak sudah di ingatan saya. Ajaibnya bertahun-tahun nonton episode yang kadang diulang-ulang, saya selalu terharu nontonnya.

Melihat dari susunan keluarga, Keluarga Cemara ini mirip dengan keluarga saya. Terdiri dari Bapak, Ibu, beserta 3 anaknya yang semuanya perempuan. Kalau tidak salah urutan usia tiga anak Abah (Euis, Ara, dan Agil) juga tidak beda jauh dengan saya dan saudara-saudara kandung saya. Dan ketika jaman itu, entah kenapa saya juga kadang merasa saya mirip dengan si Ara, mirip mukanya, kurus, rambutnya bob gitu. Hahahaha.. Tapi beruntunglah keluarga saya tidak sedramatis kisah Abah and family, yang dari awal episode sampai tamat kayaknya ada aja masalahnya. But, every family has their own story. Mungkin keluarga saya cukup beruntung memiliki kemampuan finansial di atas Keluarga Cemara, tapi di sisi yang lain keluarga saya tidak sehangat Keluarga Cemara alias interaksi antar anggota keluarganya tidak bisa se-akrab mereka. Oleh karena itu ketika saya SD menonton Keluarga Cemara itu ada perasaan iri dengan si Ara yang walaupun miskin tapi keluarganya kompak.

This is my family’s story. Keluarga saya adalah keluarga keturunan Tionghoa pesisir daerah perbatasan Jawa Barat dengan Jawa Tengah. Ekonomi keluarg kami bertumpu pada sebuah toko yang tidak besar dan tidak kecil juga. Toko ini telah ada sejak Nenek Buyut, Papa saya adalah keturunan ketiga yang ‘mewarisi’ usaha keluarga ini. Meski secara de jure Papa saya yang punya ni toko, tapi secara de facto Mama saya yang lebih mengelola usaha ini. Papa saya berbeda usia 7 tahun lebih tua dari Mama. Mereka berdua sebenarnya masih saudara jauh, bertemunya pun unik, awal pertemuan dari sebuah pintu sambung rumah-toko salah satu kerabat. Ketika itu Papa saya sedang main ke rumah sodaranya, sedangkan Mama bantu kerja jaga toko di rumah sodaranya (nah sodara nya ini satu keluarga yang sama ya). Tidak lama setelah pertemuan tersebut kira-kira hanya satu tahun saja, Papa saya menikahi Mama saya yang ketika itu berusia 20 tahun.

Saya sih tidak kebayang kalau jaman sekarang pacaran kilat seperti itu ya. Ya namanya juga beda generasi hahahaha.. Wanita usia 20 tahun menikah juga bisa dibilang nekad kalau sekarang, waktu dulu lazim-lazim aja. Nah lanjut, tidak lama setelah menikah di penghunjung tahun 1986, Mama saya melahirkan Kakak saya. 3,5 tahun kemudian saya si sotoy lahir, dan 5,5 tahun berselang Adek saya yang ndut lucu lahir. Kalau melihat foto-foto lama, saya rasa masa keluarga saya ketika Kakak saya lahir lebih berwarna ketimbang tahun-tahun berikutnya. Smile everywhere, penuh dengan liburan dan jalan-jalan sekeluarga, pesta ulang tahun, kumpul dengan keluarga besar. Sedangkan setelah 3 tahun berselang, pas saya lahir, dokumentasi mendadak jadi sedikit sekali, foto saya pas bayi dikit banget, ada sih tapi sekelibet-sekelibet bukan saya fokus utamanya. Saya sendiri faktanya pernah sampai dititipkan waktu bayi karena ketika itu situasi keluarga saya sedang gonjang-ganjing. Mama Papa tidak lagi seakur dulu. Mungkin bunga-bunga masa awal pernikahan sudah banyak berkurang ya. Hehehe..

Beranjak usia sekolah, masa saya sudah bisa ingat dengan apa yang terjadi. Saya tumbuh sebagai anak yang suka ngambek dan kurang perhatian. Yang saya ingat waktu itu Mama Papa saya sering bertengkar sampai ada adegan kabur-kaburan dan rebutan anak segala. Satu-satunya sumber kasih sayang ketika itu adalah Nenek Buyut dan Nenek saya. Keduanya memang satu rumah dengan kami, maklum kami kan memang tinggal di ‘rumah keluarga’. Situasi keluarga ini dingin, kaku, cuek, intinya bukan suasana ideal untuk membesarkan anak. Melihat Papa sering marah-marah, lalu kami juga anak-anaknya sering kena semprot padahal ga salah apa-apa, melihat Mama sering menangis dan juga marah-marah, membuat saya trauma dan tidak betah di rumah. Saya keluyuran maen ke sekolah dan ke rumah teman, karena berada di rumah membuat saya tertekan, sampai dengan sekarang, saya tidak suka pulang ke rumah. Saya berkembang punya dunia bermain sendiri, saya berbicara dengan boneka, saya mengarang-ngarang cerita pendek untuk ditulis di buku, dan membuat berseri-seri komik yang saya gambar sendiri. Saya jadi anak yang sangat tidak peduli dengan keadaan sekitar, saya asik dengan diri sendiri.

Ketika Adik saya lahir, sepertinya suka cita keluarga saya kembali tumbuh. Adik saya ini seperti membawa keberuntungan, everybody loves her. Karena lucu, gendut, bule, pada waktu jaman itu jarang ada anak lucu kayak adik saya gitu. Waktu itu Kakak saya sudah besar sudah SD pertengahan dengan prestasi sekolah yang luar biasa, termasuk masuk TVRI karena juara lomba cerdas cermat. Saya yang cuek ini, terhimpit dengan dua orang saudara yang stand-out dengan kemampuannya masing-masing, Kakak saya yang jenius dan Adik saya yang lucu. I developed low self-esteem, bertambah parah ketika Papa saya mulai sering membanggakan prestasi Kakak saya dan membandingkannya dengan saya. I have nothing to be proud of. Saya bukan anak yang pintar, prestasi sekolah saya biasa banget, nilai rata-rata, naik kelas sudah syukur, rangking 5 itu paling maksimal. Saya juga bukan anak yang cantik, kurus kering rambut merah (sering maen) bau badan, dan saya juga bukan anak yang ramah, saya cuek banget, jutek, galak tapi cengeng. Suasana keluarga yang agak hepi ini juga tidak berlangsung lama, lagi-lagi badai awan panas muncul terlebih ketika itu Mama Papa juga secara ekonomi belum mandiri.

Toko di rumah pengelola utama ketika itu adalah Nenek saya (Ibu dari Papa saya), jadi keputusan tertinggi adalah Nenek saya. Mama Papa saya waktu itu posisinya seperti apprentice ato anak magang wkakakka.. Papa saya memang dasar kaga bakat dagang mau diajarin kayak apa aja ga masuk, Mama saya pengalaman dagangnya sudah banyak (sejak lulus SMA sudah bekerja bantu toko sodara) jadi lebih nyambung dan mungkin karena passion juga sih ya jadi lebih mudah meyerap ilmu-ilmu dari Ibu mertuanya. Pada akhirnya Nenek saya lebih percaya dengan Mama, tapi tetap uang dipegang oleh Nenek jadi keluarga kami tidak bisa semena-mena memakai uang. Orang luar melihat keluarga kami sebagai keluarga yang berkecukupan, tapi kenyataannya banyak hal yang membuat kami tidak bisa menikmati hasil jerih payah itu. Papa saya terjerumus dalam lubang perjudian (jeng.. jeng.. jeng.. udah berasa sinetron nih), sembunyi-sembunyi mainnya, ketika ketahuan dan dinasehati Papa membalas lebih marah. Dan hal ini yang membuat hari-hari masa kecil saya makin suram.

Ekonomi keluarga yang sulit membuat saya dan saudara-saudara saya jadi anak yang prihatin. Terlebih Kakak saya, sampai sekarang dia jadi orang yang sangat cermat terhadap uang. Saya sendiri jadi orang yang banyak pertimbangan ketika mau mengeluarkan uang untuk membeli barang, dipikirin sampai bikin pusing sendiri, dan saya jadi suka merawat barang karena tau belinya tidak gampang. Kalau Adik saya, dia doyan sekali menabung. Kami bertiga untungnya dapat dampak yang positif dari kesulitan ekonomi keluarga ini. Saya ingat waktu dulu, jaman SD kelas 5 saya menginginkan sebuah jaket warna cokelat merknya Triset, jaket ini harganya 65 ribu kalau tidak salah. Mahal? Iya mahal. Selama 2 tahun sampai kelas 1 SMP saya masih naksir dengan jaket itu, akhirnya Mama saya bisa membelikan barang idaman ini belinya pas diskon barang-barang lama. Jaketnya masih saya pakai sekarang hahaha.. Kebanyakan barang-barang kami dibelikan oleh Nenek, yang bagus-bagus pasti dari Nenek, dulu rasanya Nenek itu seperti Santa Claus. Makan enakpun sama Nenek, kalau sama Mama Papa makan harus nurut – gak boleh minta aneh-aneh gak ada budget buat itu. Saya jadi bisa makan apa aja sekarang, ga susah makan ato milih-milih, bersyukur ada manfaatnya.

Begitu kira-kira ritme keluarga saya sampai saya SMP. Kelas 3 SMP, Nenek saya meninggal dunia. Bumi gonjang-ganjing, Mama Papa kolaps, perekonomian keluarga makin parah, apalagi posisi Kakak saya waktu itu baru masuk kuliah semester 1 yang lagi membutuhkan biaya banyak sekali. Lalu, Mama Papa juga kena masalah dengan keluarga besar, macam-macam deh. Waktu tahun 2004-2005, tahun yang sangat berat untuk keluarga, mungkin saya tidak terlalu berasa karena gak terlalu ngerti permasalahannya, tapi Mama Papa merasakan langsung hantamannya. Hikmahnya, karena kejadian ini Papa saya menjadi orang yang lebih baik, kebiasaan buruknya mulai ditinggalkan, Mama mulai ke Gereja, lalu Papa ikut Mama ke Gereja. Mendekatkan diri kepada Tuhan jadi hidupnya tertuntun dengan lebih positif. Perlu waktu 3-4 tahun kemudian keluarga kami settle. Kalau dihitung dari awal pernikahan Mama Papa, they needs 23 years of struggling and battling untuk sampai ke titik settle yang sekarang ini sedang kami jalani.

Bagaimana keadaan keluarga sekarang ini? Kami, anak-anak, sudah dewasa, tahun ini Adik saya saja berusia 20 tahun, tidak menyangka kalau secepat ini ya waktu itu berjalan. Mama Papa saya tetap menjadi orangtua yang kurang kompak masih suka adu argument gak jelas, tapi caranya sudah tidak seperti dulu yang harus memakai emosi negatif yang berlebihan. Pengaruh umur juga kali ya, sekarang sudah menginjak kepala 5 semua,  sudah punya cucu, lebih sadar diri. Sekuritas finansial juga salah satu faktor yang penting (wahai pasangan-pasangan muda, ingat, kalau belum mapan-mapan banget jangan gegabah menikah ya), ketika saya kuliah banyak dimudahkan, Mama Papa tidak kesulitan membayar uang kuliah saya dan juga adik saya sekarang. Kalau mau beli macam-macam, masih ditimbang-timbang tapi tidak sesulit waktu dulu. Karena kami pernah sulit, kami jadi lebih menghargai uang, ga pakai sembarangan, yang sewajarnya saja.

Kakak, Adek, dan saya pun akur walau jarak memisahkan kami. Kakak saya tetap menjadi anak paling stand-out dari kami bertiga, dulu saya sebal kenapa Kakak saya ini too good to be true, tapi sekarang saya sadar kalau saya tidak punya Kakak seperti dia mungkin saya tidak akan pernah semangat untuk mencoba jadi sebaik dia. Saya sendiri sudah lebih memaafkan kesalahan Mama Papa yang terdahulu, bertahun-tahun di fakultas psikologi memang mengasah kemampuan refleksi ya, sampai bisa menulis posting ini. Adik saya sedang berkuliah, meski merasa salah masuk jurusan tapi dia punya cita-cita lain yang bright dan on the track yaitu ingin jadi pebisnis kuliner merangkap chef pastry. Masing-masing punya problema nya, seperti saya yang susah lulus kuliah dan kena fitnah-fitnah orang tidak dikenal, tapi lalu keluarga jadi pihak yang selalu mendukung dan menguatkan meski caranya tidak seperti psikolog yang pelan-pelan dan mengajak berbicara secara akrab dan hangat. Keluarga ternyata punya caranya sendiri and it works. Mama Papa meski tidak pernah mengucapkan kata-kata motivasi yang penuh kasih sayang, tapi optimisme mereka terhadap anak-anaknya menembus kecepatan gelombang suara, hahaha biar deh agak lebay sedikit kata-katanya..

Mungkin ini memang bukanlah akhir dari cerita keluarga kami, masih ada episode-episode selanjutnya yang kami sendiri tidak pernah tahu akan seperti apa kisahnya. Tapi dari apa yang kami alami sekeluarga kurang  lebih 20 tahunan ini, kami sadar bahwa tidak pernah ada roda yang selalu di bawah, it keeps moving, up and down, gak jarang lalu roda ini bocor di tengah jalan, melalui jalan yang penuh batuan atau licin berpasir. People change, semua pernah berbuat salah tapi jangan sampai menuduh bahwa orang itu tidak akan pernah berubah. Kami masih berusaha untuk meningkatkan bounding antar satu sama lain anggota keluarga, yang ternyata lebih mudah dilakukan ketika sudah dewasa.

So, untuk paragraf terakhir di posting yang sangat panjang ini, saya lagi-lagi mau mengutip quotes fenomenal sinetron Keluarga Cemara: harta yang paling berharga adalah keluarga. Walaupun keluarga saya tidak sehangat keluarga lain, tidak terlalu perhatian, masih kurang kompak, but they are the best, dari segala hal yang terjadi dalam hidup kami, sampai sekarang kami tetap jadi keluarga, kalau bukan harta yang paling berharga, mungkin relasi ini sudah jadi korban dan tidak dipertahankan sejak dulu. Terima kasih Papa, Mama, Cici, & Ndut. Wo ai ni. 

No comments: