Friday, January 22, 2016

Gerah dengan Tuntutan

Waktu kita semua kecil, hidup ini sangatlah sederhana. Apalagi jika terlahir di keluarga samawa, yang orangtua nya teredukasi dengan baik dan tidak memiliki kesulitan ekonomi. Sebesar apapun masalahnya, tidak akan jadi complicated seperti hidup teman-teman yang sedari kecil susah makan, orangtua tidak kompak, dan malfungsi keluarga akut. Semakin kita besar, lalu kita perlahan-lahan menjadi entitas pribadi yang utuh (harusnya). Punya karakter kuat dan unik, serta memiliki kebebasan memilih. Namun, ternyata setelah sudah dewasa, kehidupan itu juga kemudian mulai sulit. Permasalahan yang dahulu hanya bisa disaksikan di sinetron ternyata ada juga di kehidupan nyata. Which is membuat saya yang polos (polos???) ini terkaget-kaget bukan main wahahahahaha..

Salah satu permasalahan klasik dalam proses menjadi orang dewasa atau kerennya disebut grown-ups adalah bagaimana pandangan orang lain itu sangat mempengaruhi setiap tindak-tanduk perilaku serta pilihan hidup kita. Padahal idealisnya adalah kita melakukan sesuatu ya karena kita ingin lakukan, bukan karena pengaruh orang lain. Biasanya semakin kita besar lalu semakin seringlah muncul kalimat-kalimat seperti ini:
“… apa kata orang …”
“ah barangkali diomongin begini.. begitu..”
“malu sama …”
“jangan begitu, gak enak dilihat orang lain..”
Selanjutnya, sudah bisa ditebak, apa yang kita lakukan ya itu-itu saja mengikuti pakem orang kebanyakan. Malu, takut, gak enak, kalo beda dari yang lain. Sebenarnya tidak salah juga sih kalau kita menjaga perilaku demi terjaganya moral sosial kehidupan ini (ya Tuhan bahasa guehhh..), tapi seringkali ‘kata orang’ itu kemudian membatasi kita dalam mengekspresikan diri sendiri, pada akhirnya kita gak bisa jadi diri sendiri. Dan ketika ada orang lain yang ‘beda’ dan ternyata berhasil membawa ke kehidupan yang lebih baik, kemudian kita iri hati. Padahal jelas permasalahannya à kenapa selalu ikut hidup yang itu-itu aja.

Karena terlalu sering hidup dalam tuntutan orang lain (social pressure), kita jadi sulit untuk menemukan ide-ide orisinil atau out of the box. Ya kalau menurut saya pribadi sih, sayang banget kalau hidup hanya mengikuti kata orang, hellow emangnya itu orang orangtua kamu, saudara kandung kamu yang memang tau kamu banget. Bisa-bisanya mengatur hidup kamu. Salah satu contoh yang kadang bikin saya geleng-geleng adalah kebiasaan warga kampung di dekat rumah saya, ketika ada satu rumah yang sedang renovasi, tidak ada angin tidak ada hujan tidak lama para tetangga kemudian ikut merenovasi rumah juga. Kalau ditanya memang kenapa koq renovasi juga? Jawabannya adalah ya biar ga diomong warga yang laen (diomongin koq rumahnya ga terawat, atau merenovasi rumah karena agar dilihat kaya raya tidak kalah dengan tetangganya).

Contoh laennya adalah gini - tau kan kalau sehabis kita lulus kuliah dan bekerja, pertanyaan selanjutnya adalah ‘mana pacarnya?’ dan ‘kapan menikah’ *ehem* kalau jawabannya ‘belum ada pacar’ ‘belum memikirkan pernikahan’ atau ‘masih jomblo’ ada aja orang yang mencap aneh. Lho.. Emangnya kenapa ya kalo masih jomblo atau ada pacar tapi belum mau menikah. Lalu, kalau sudah terlalu banyak yang bertanya gitu, lama-lama jadi kepikiran, dan memutuskan untuk cepet-cepet punya pacar tapi dapetnya asal-asalan. Mental belum siap punya keluarga tapi segera menikah agar tidak diomong orang. Fiuhhh.. Rasanya capek sekali yah kalau hidup mesti seperti itu terus.


Manusia memang cenderung berpikir dengan membentuk pola-pola sehingga sangat mengapresiasi sesuatu yang serasi dan seiringan. Terlebih masyarakat Indonesia yang dari sejak jaman dahulu kala hidupnya komunal berdasarkan ‘kesamaan’ tertentu entah itu ras, suku, agama, dan golongan. Jadi gak heran kalau kita kurang terbiasa melihat sesuatu yang beda dan ada usaha untuk menjadi dan membuat segala sesuatu SAMA. Kalau dipikir-pikir apa sih yang salah apabila ada rumah yang tidak ikut renovasi, seseorang menunda menikah atau mencari pacar, kan tidak merugikan orang-orang tersebut juga. Kalaupun ada efek negatif itu juga buat kita sendiri, bukan buat orang itu. Kenapa harus ribet sama kehidupan orang lain sih?

Dan yang sering terjadi juga begini, apa yang dilontarkan orang-orang seringkali hanya basa basi busuk tidak penting – hanya biar ad bahasan pembicaraan saja. Ya maklum ya masyarakat kita kan kayaknya gatel gitu kalo tidak basa-basi. Mending kalau basa-basi lalu habis itu lupa, namun ada aja oknum-oknum nyinyir yang sengaja kepo2 dan menyebarkan berita tentang ‘hal yang tak lazim’ tersebut. Kemudian di masyarakat muncul judgment yang tidak penting, dan sifatnya hanya penghiburan (asik ada gosip baru). Lalu, apa yang terjadi dengan orang yang berbeda tersebut? Karena tertekan jadi berubah dan kemudian mengikuti apa yang dimaui masyarakat. Padahal belum tentu keputusan atas dasar tuntutan orang tersebut baik untuk dirinya. Rest in Peace yang namanya kebebasan berekspresi. Endingnya, ya kita hanya disitu-situ saja, tidak berkembang, dan kayak robot – society bilang apa kita lakukan apa.

Penting buat kita menyadari - yang pertama adalah jangan sampai kita menjadi pribadi yang suka menuntut orang lain. Contoh sederhananya, misal kalau ketemu teman-teman coba cari pertanyaan basa-basi lain ‘hey, gimana lagi sibuk apa sekarang?’ dan menghargai jawaban jujur temanmu dan sambung pertanyaan/pernyataan lain yang sesuai konteks jawaban sebelumnya. Misal, ‘oh ada lagi bisnis, wah asik jadi bisnismen, gue juga pengen tu, kudu belajar dari lu dong ya.’. Penyadaran kedua adalah ketika ada orang yang rese, mempertanyakan keputusanmu yang ganjil dan tidak biasa, mending senyum secantik/seganteng mungkin - habis itu cepat-cepat sudahi bicaraan apalagi kalau orang tersebut makin melunjak.

Kemudian sadari nomor ketiga – tidak perlu masukin hati banget omongan orang tsb yang tidak penting, prinsipnya saring yang penting-penting aja karena ini akan menjaga kesehatan psikologis Anda. Keempat, kalau diajak ngobrol orang yang tidak dekat-dekat amat hindari curhat colongan. Kita kudu pinter-pinter juga membuat tameng, supaya tidak pusing sendiri. Sadari nomor lima (menurut saya paling penting nih) – kita perlu tau kita pingin apa, fokus tujuan, dan cita-cita, kalau kita tau ke depannya mau gimana, omongan orang lain yang tidak penting hanya akan masuk ke folder kritik dan saran.

Hihiiii.. Oke siapkah kita menjadi pribadi yang utuh? Yang secara sadar tau apa yang kita mau dan ingin lakukan, bukan hanya karena takut diomongin orang. Ayo kita kudu siap, Kakak!

pic taken from here

1 comment:

rania said...

Persetan omongan orang. Mikirin hidup pribadi aja ga selese-selese hahaha. Nice topic puj.. ini terjadi di kehidupan siapapun. Pada akhirnya mereka pilih cara yg katanya normal atau ikutin kata hati.