Saturday, August 30, 2014

AirAsia Flew You Into A Hope

Pesawat Air Asia di Bandara Adi Sutjipto

Pagi hari ketika masih buta..
Kos masih dalam keadaan sepi gelap gulita, tengok-tengok ke jam weker di meja belajar ternyata jam menunjukkan jam tiga pagi. Oh my God! Ngapain lagi saya ini bangun pagi-pagi banget. “Kebiasaan!” jawab saya dalam hati. Kalau orang lain punya kebiasaan tidur malam atau begadang dan susah bangun, tidak dengan saya. Saya malah entah kenapa sering sekali bangun kepagian, okay, disyukuri saja, karena banyak orang lain yang tidak bisa bangun pagi. Kalau sudah subuh-subuh bangun dan tidak jelas tujuannya, saya selalu menghabiskan waktu dengan membaca majalah travel dan buka website travel. Saya selalu semangat, ketika membaca kisah-kisah liburan orang lain. Saya penggemar dari cerita-cerita Om Agustinus Wibowo, Tante Trinity, Om Yunaidi Joepoet, Tante Margareta Astaman, Tante Windy Ariestanty, dan lain-lain. Rasanya ketika membaca tulisan mereka mengenai ‘traveling’ saya seperti ikut diajak jalan-jalan.

Karena kebiasaan bangun kepagian, saya jadi suka bahan bacaan yang menyangkut travel, kultur, dan sosbud. Namun, keinginan untuk pergi menjelajahi negara lain atau daerah-daerah eksotis selalu pupus ketika mulai berpikir tentang ‘biaya’. Yap, biaya. Rasanya kata ‘biaya’ inilah yang selalu bikin jiper orang-orang untuk pergi melakukan perjalanan atau liburan. Bayar kuliah saja sudah berat, makan sehari-hari juga sudah mahal, masih mau liburan? Namun pemikiran itu, sedikit demi sedikit tertepis ketika pada tahun tahun 2000-an akhir oleh perintis maskapai penerbangan low-cost bernama AirAsia. Jaman saya SMA dan awal kuliah, AirAsia seperti kata ajaib yang mematahkan premis ‘liburan itu mahal’. Air Asia memberikan harapan kepada banyak orang untuk get a life, let’s take a break, go on voyage now, no worry about the cost!

Pesawat Air Asia & Gunung Merapi

Seringnya saya mendengar kabar tentang AirAsia, lama-lama saya tergelitik juga untuk mengadakan sebuah escape trip kecil-kecilan. Waktu itu tahun 2011, saya dan kedua teman bikin perjalanan nekad. Negara tujuan? Tidak jauh, hanya ke Singapura. Waktu itu saya baru sekali ke luar negeri, dan jika berhasil, trip nekad ini akan menjadi kali kedua saya pergi ke luar negeri. Saya waktu itu agak ngeri juga, karena kedua teman saya ini belum pernah pergi ke luar negeri, dan bahkan belum pernah naik pesawat. Belum lagi kami ini hanya mahasiswa biasa tanpa pekerjaan sampingan, jadi ga punya penghasilan. Untuk biaya dan lain-lain minta orangtua? Well, rasanya tidak pantas lha kita menuntut orangtua terlalu banyak, apalagi untuk membiayai sesuatu yang sifatnya tersier.

Terminal 1 Changi Airport, finally!

Bertiga di Bugis Street

Kami bertiga berpikir keras, bagaimana caranya untuk bisa pergi tapi gak ngabisin banyak uang? Waktu itu saya ingat sekali dengan AirAsia “Kita naik pesawatnya AirAsia aja” browsing punya browsing memang tiket AirAsia yang paling affordable buat kami. Saya yang belum pernah booking-booking tiket pesawat via online merasa sangat terbantu ketika itu, karena website AirAsia yang user friendly. Prosesnya pun tidak berbelit-belit. Waktu itu ketika mengetahui bahwa mungkin sekali pergi ke luar negri dengan biaya yang murah, kami merancang gimana caranya untuk mencari uang agar bisa membayar kepergian kami bertiga ke negara merlion. Waktu itu, kami mendadak menjadi toko fotokopian berjalan di kampus – kalau ada teman yang butuh buku kami bisa menyediakan jadi mereka tidak pusing-pusing repot, kami seminggu lima kali jualan makanan (jajanan pasar) di kampus, lalu akhir minggu mengumpulkan barang bekas seperti kertas dan botol supaya bisa dijual kembali. Di sela-sela kuliah, kami jualan kaos dan totebag. Tidak lupa tiap minggu juga kami urunan @10.000. Hal itu kami lakukan dalam jangka waktu 1 semester. Semua keuntungan dari berjualan tersebut pada akhirnya bisa membiayai kami liburan ke Singapura.

Rasanya puas sekali bisa pergi dengan usaha sendiri, orangtua juga bisa bangga karena hal ini. Dan yang pasti entah kenapa setelah kepergian kami lalu banyak teman-teman yang juga jadi bersemangat untuk melakukan aksi perjalanan nekad ala backpacker. Mereka tidak jarang bertanya soal maskapai penerbangan apa yang dipakai, lalu saya bisa dengan mantap merekomendasikan AirAsia. Hingga kini pun, apabila saya bepergian saya tetap memakai AirAsia, kesan pertama di tahun 2011 sangat membekas. Ketika melihat tagline AirAsia ‘Now everyone can fly’, saya berefleksi bahwa ya memang benar AirAsia membuat banyak orang punya harapan untuk bisa menikmati naik pesawat terbang yang dulu kesempatan itu hanya dimiliki oleh kalangan atas, dan bahkan AirAsia juga bisa membuka seluruh lapisan masyarakat untuk liburan kemana-mana tanpa harus takut jatuh miskin seusai perjalanan berakhir.

Pesawat Air Asia ketika mau pulang ke Yogyakarta

Kwecky ikut narsis


Apakah AirAsia mengubah hidup saya? Tentu saja, bahkan bukan hanya saya saja, tapi banyak orang di dunia. AirAsia memberi harapan dan kepercayaan diri bagi para traveler baik tua, muda, wanita, pria, mapan, belum mapan. Air Asia membukakan pintu ke dunia luar dengan lebih lebar. Mengajak orang-orang untuk bisa saling berkunjung satu sama lain tanpa ada keterbatasan, this is one step ahead, semangat yang tidak dimiliki oleh maskapai lainnya. Dan saya bangga bisa menjadi salah satu pelanggan setia AirAsia. AirAsia bukan hanya mengajak Anda terbang ke tempat tujuan, tapi mereka menerbangkan Anda menuju harapan.


2 comments:

Jose said...

Wesedew ikutan jg toh hahahhahaha.. saingan booooo.. keep cemungud eahh..

Anonymous said...

Puji kalo dpt oleh2 yaaa hehhe..