Tuesday, January 17, 2017

Naik Kereta Tujuan Bumi Sriwijaya

Tidak terasa lewat sudah lima hari di Bandar Lampung, mendadak mellow karena harus meninggalkan kota ini. Terima kasih untuk Icott dan keluarga yang sudah mau direpoti berhari-hari ini. Hangat tangan kalian akan selalu berkesan di hati dan memori ini *heleh puitisnya saya.. Hujan gerimis mengantar kepergian kami dari rumah Icott menuju Stasiun Tanjung Karang, yes liburan masih ada 3 hari dan 2 malam lagi nih, hari ini Tina, Icott (iyo Icott masih ikutan), Ndut, dan saya bertolak ke Palembang dengan menggunakan kereta api! First time naik kereta api yang bukan berada di Pulau Jawa.

stasiun kebanggaan orang Lampung

Kami naik KA Rajabasa kelas Ekonomi yang harganya hanya 32 ribu rupiah/orang. Murah banget yak, tiga puluh ribu udah bisa nyebrang provinsi hahahaha.. KA Rajabasa ini berangkat dari Stasiun Tanjung Karang di Bandar Lampung menuju Stasiun Kertapati di Palembang. Kami berangkat jam 9 pagi, diperkirakan jam 5 sore sudah sampai ibukota Sumatera Selatan tersebut. Sekilas pandang mengenai Stasiun Tanjung Karang rapih dan bersih, naik angkot dari rumah Icott langsung sampai persis di depan stasiun. Stasiun kelihatan seperti baru direnovasi, bentuk bangunannya Lampung banget ada mahkota Siger nemplok di atap bangunan. Meski tidak terlalu besar, Stasiun Tanjung Karang ini pandai memanfaatkan ruang untuk berbagai fasilitas – ada tempat untuk free-charging, toilet, ruang P3K, mushola, nursery room dan bahkan kios kecil-kecil untuk UKM yang mau berjualan di dalam stasiun. Sugoi lengkap banget!

interior stasiun

Sembari menunggu kereta api, kami sempat lihat si KA Babaranjang lagi ngetem di stasiun. Batubara nya sedang terisi, gak tau mau dibawa kemana. Lucu juga KA ini, penampakannya sudah kayak kereta api milik Batman, hitam legam dari depan sampai belakang. Black beauty! Ga lama menunggu akhirnya kami naik juga ke KA penumpang Rajabasa yang ternyata sama aja penampakannya seperti KA lainnya yang di Jawa. Sekilas mirip dengan KA Gaya Baru Malam jurusan Jakarta-Jogja PP, dengan formasi tempat duduk 3 3 – 2 2. Kami dapat kursi 2 2 berhadap-hadapan. Nge-pas banget berempat. Tempat duduk kami dekat dengan pintu keluar dan toilet di Gerbong 1. Mentok banget yah gerbong paling depan, setelah lokomotif. KA Rajabasa meski tidak terisi penuh, tapi lumayan rame juga. Wah banyak juga ya yang mau ke Palembang, mungkin karena musim liburan juga.

Naik KA Rajabasa semacam excited seperti naik kereta di negara lain. By the way, meski mirip dengan KA Gaya Baru Malam, KA ini lebih bagus loh penampakannya, versi lebih baru. Saya suka tirai kereta yang memakai motif batik Lampung sebagai lis pemanis. Perjalanan berangkat agak telat 10 menit dari waktu yang seharusnya, pemandangan selepas dari Lampung masih berupa rumah-rumah penduduk, kira-kira satu jam berlalu kemudian pemandangan pelan-pelan berganti dari sawah kemudian hutan karet dan kelapa sawit. Wew banyaknya tanaman karet dan sawit di Sumatra ini bukanlah mitos sodara-sodara.. Hahahaha..

Berjam-jam waktu perjalanan kami habiskan untuk makan, tidur, bergosip, dan mendengarkan musik. Asiknya jalan dengan teman-teman yang telah dikenal sejak lama adalah kami bisa sharing banyak cerita, hahaha.. Dasar perempuan! Apa aja dibahas, sampai gosip artis yang tidak kami kenal pun jadi bahan pembicaraan, bagai presenter infotainment. Pemandangan selama berjam-jam kemudian juga gak berganti, masih sama yaitu hutan. Antara senang dan sedih, senang karena pastinya negara kami mendapat banyak penghasilan dari karet dan sawit. Sedihnya, hutan tropis yang dahulu dipuja-puja kini sudah berganti rupa. Keberadaan flora dan fauna unik kita juga semakin tergusur jaman.

lihat tirainya!

Di pertengahan perjalanan, seorang polsuska (polisi khusus kereta api) menyuruh kami untuk menutup tirai. Kenapa? Katanya di sini masih sering terjadi pelemparan batu dari warga setempat. Wew.. Kereta api yang bagus gini masih jadi sasaran tindak anarkisme yah.. Seramnya juga bukan hanya di situ, Tina gak sengaja lihat ada Ibu-Ibu bawa bedil di tengah hutan. Wah mau berburu babi hutan kali yah Ibuknya.. *syokkk.. Bused ngeri-ngeri sedap. Tirai jendela yang saya kira hanya berfungsi sebagai hiasan dan penghalang matahari ternyata ada fungsi lain yaitu menghalau pecahan kaca dari pelemparan batu. Penumpang menutup jendela sampai sudah dekat dengan Palembang. Setelah kerasa bau-bau gas ammonia, selamat datang di Palembang! Gas Ammonia ini bersumber dari Pabrik Pupuk Sriwijaya (PUSRI) yang merupakan industri pupuk nasional yang sangat besar. Wehhh.. Bau ammonia kurang lebih kayak bau-bau kentut begitu.

ada Rail Clinic di Stasiun Kertapati,
semacam klinik kesehatan tapi di dalam gerbong

Akhirnya Stasiun Kertapati! Entah kenapa kereta ngaret banget, harusnya jam 5 sudah sampai, kami baru sampai jam 7 malam! Weh gile juga yah, 10 jam bro! Pegel juga ini pinggang duduk terus. Stasiun Kertapati besar dan lapang, rame banget. Keluar dari stasiun seperti biasa kami disambut oleh Bapak-Bapak yang menawarkan jasa kendaraan. Tapi kami sudah pesan gocar yang kebetulan standby di luar stasiun, wah sangat membantu sekali ini ada gocar & gojek di Palembang. Baru malam pertama dan kami sudah kagum oleh menterengnya Jembatan Ampera yang kami lewati dari Stasiun Kertapati menuju tempat penginapan. Cantik, merah-merah meriah, udah kayak di Tiongkok saja. Tapi ternyata jembatannya tidak terlalu panjang, padahal kalo di gambar berasa jauh banget. Hooooo.. Selamat datang di Ibukota Sumatra Selatan!

mau nunjukin Jembatan Ampera tapi blawur

Monday, January 16, 2017

Main Bareng Gajah Way Kambas

Ketika sekolah dasar dulu, pernah saya membaca tentang Taman Nasional Way Kambas. TN Way Kambas ini terkenal dengan atraksi gajah main bola. Itu saya baca sudah belasan tahun yang lalu, meski sekarang nama Way Kambas sudah tidak se-booming waktu dulu, tapi saya masih penasaran banget kayak apa memang bentukan Way Kambas hari ini, ketika pemerintah dan organisasi perlindungan hewan melarang segala bentuk eksploitasi terhadap hewan. Apakah gajah-gajah yang main bola dulu sekarang masih doyan sepakbola? Apakah gajah-gajah masih nge-fans dengan Beckham?

Icott, Dayu (sepupu Icott), dan Dicky (pacar Dayu), yang lahir dan besar di Lampung pernah ke Way Kambas, tapi itu juga sudah taun-taunan yang lalu jaman masih belia (masih kuecil). Jadi sudah lupita juga bagaimana bentukan Way Kambas. Tina, Ndut, dan saya belum pernah ke sana sama sekali, selama ini hanya tau dari buku IPS. Even, sebagai muda-mudi generasi instagram pun jarang nemu foto orang liburan ke Way Kambas, lagi gak populer. Jadi ya tak tau kita gimana Way Kambas itu, hanya ngeh bayangan sekilas dari googling dan blog para netizen (itupun gak banyak).

Sehari setelah Natal, kami ber-7 (Icott, Mak Julite, Dayu, Dicky, Tina, Ndut, dan saya) berkesempatan main-main ke Way Kambas, meski sebenarnya tidak tahu betul letaknya dimana. Hahahaha.. Maminya Icott ingat samar-samar rute nya, dan memang tidak terlalu sulit. Lalu ingatan Mak Julite ini diperkuat dengan hasil pencarian kami di google. Kurang lebih begini rute perjalanannya : dari rumah Icott di Bandar Lampung – Metro – Pekalongan - Sukadana – Way Kambas. Itu bener ya nama daerahnya Pekalongan, Pekalongan bukan hanya ada di Jawa Tengah, di Lampung juga ada. Wah, ya udah dapet rute gampang nih, kami pede sih banyak petunjuk di jalanan menuju Way Kambas jadi santai-santai aje. Selain menggunakan kendaraan pribadi, kita juga bisa naik bis DAMRI menuju ke Way Kambas, naiknya dari terminal Rajabasa di pagi hari, nanti pulangnya naik bis yang sama kembali ke Rajabasa pada sore hari. Bisnya mirip Bis Trans Jakarta.

pagar menuju pusat konservasi

Kami geng random nan ceria berangkat sekitar pukul 9 pagi, mobil sewaan sudah sampai rumah Icott dari tadi malam, driver perjalanan ini adalah Dicky. Kami cewe2 ber-enam duduk cantik aja di kursi penumpang. Jalan-jalan ini bagai piknik keluarga, Mak Julite bawa serantang makanan homemade yang menjadi makan siang kami semua. Lalu, ga lupa bawa tiker juga. Wah.. Asik banget yah. Di jalan kami juga ga lupa mampir convenience store buat beli jajanan dan air minum. Wihihhhh.. Seperti kembali ke sekolah! Piknik.. Piknik..

Jalanan dari Bandar Lampung sampai ke Metro memang agak ramai bersaing dengan truk dan bis. Tapi lihainya setiran si Dicky bisalah selap-selip, namun sesampainya kita di daerah Sukadana hmmm.. berbeda 180 derajat. Sukadana ini terletak di Lampung Timur, Lampung bagian Timur ini jauh lebih sepi ya. Sunyi banget jalanan, sampai kami pun horor sendiri. Malah kalo malam-malam bahaya lho gengs! Banyak begal. Ya ampun, siang aja hening begini apalagi malem yah. Untung hari itu kami ngelewati dua rumah warga yang lagi ada upacara nikahan jadi lumayan lah melihat secercah kehidupan *wesedew bahasa gueh. Sudah sepi lalu lalang kendaraan (bahkan motor aja jarang), gak ada pom bensin pula. Lalu, ternyata plang petunjuk yang kami harapkan pun gak ada dong. Sejenak kami bingung.

Masing-masing ngutak-ngatik hape yang katanya smart itu, eh kalo gak ada sinyal mah odong-odong. Operator seluler kami bertujuh kebeneran beda-beda, dan kesemuanya metong kaga ada sinyal. Paling kocak Tina yang ngaku ada sinyal tapi pas coba buka google maps hanya kelihatan garis-garis jalan doang ga ada tulisan dan keterangan lebih lanjut – peta buta. Waduh ya udah mau gak mau nanya orang, sembari rada parno disihir. Kami bertanya ke dua orang, dan dua-dua nya juga bilang lurus-lurus aja, orang terakhir malah bilang ‘sudah dekat 1 kilometer nanti ada gapura Way Kambas’. Wah kita udah senang kan, hore udah dekat. Tapi itu hanya ilusi, karena masih berkilo-kilo meter lagi. Orang sabar disayang Tuhan, mendekati gapura Way Kambas smartphone Ndut akhirnya bisa dipake buat lihat google maps, oh yeah memang jalan kita bener kaga nyasar.

Sebenernya disayangkan sekali rambu-rambu atau papan petunjuk jalan menuju Way Kambas ini sedikit banget. Dari Bandar Lampung sampai ke Way Kambas kami hanya lihat dua papan yang bertuliskan Way Kambas padahal jaraknya sampai kurang lebih 70 kilometer, wth pelit amat ini pemda. Lanjut setelah menemukan gapura Way Kambas dengan patung gajah main bola di kanan kirinya, kira-kira 5 kilometer kemudian kami sampai di gerbang loket pengunjung, excited hore udah sampai, tapi si petugas bilang “Masuk jalan ke sebelah sana, 9 kilo lagi” Dicky langsung melengos, ngarep udah nyampe ternyata kudu nyetir lagi. Sabar ya Dicky. 

Sembilan kilometer ini kami lalui di jalan menuju hutan-hutan agak belantara, kanan kiri banyak pohon, burung, dan monyet! Jalan aspal yang tadinya di kilometer awal masih mulus, langsung jadi offroad di pertengahan sampai akhir. Ati-ati di sini banyak onyet-onyet nyebrang dan berkeliaran. Manusia-manusia suka buka kaca jendela mobil dan kasih makan, padahal gak boleh lho! Ga baik buat kita dan buat monyet juga. Buka jendela mobil bisa memperbesar kemungkinan kita diserang (ingat! Mereka itu liar) dan makanan yang kita kasih itu mostly ga cocok buat pencernaan mereka – bisa bikin penyakitan dan mati si onyet. Di beberapa bagian jalan juga banyak yang tergenang air dan banyak ranting rendah yang bisa mengenai kendaraan kita, so let’s be careful!

masakan Mak Julitte yummy

Weh jauh juga yah perjalanan kami ke Way Kambas, hampir 3 jam. Berada di TN Way Kambas di hari libur seperti ini berasa di pasar kaget (seriusan saya). Rame banget astaga, bagian depan dijadikan sarana parkir, tempat piknik, banyak orang jualan, dan toilet. Baru aja kami turun dari mobil, lalu melihat banyak orang gelar tiker dan makan. Ya udah kami juga jadi ikutan pasang tiker dan makan siang, sebelumnya pada ngacir ke toilet dulu saking kebeletnya, btw toilet-nya agak jorok dan air kerannya kecil. Bayangan TN Way Kambas yang kayak hutan-hutan gitu langsung bubar dari pemikiran saya, sumprit ini kayak Kebun Binatang aja tapi khusus gajah. Lalu dimanakah gajahnya? Gajahnya berkeliaran di padang rumput yang ada di ujung utara tempat piknik, dipisahkan oleh sungai dan rawa. Gajah-gajah yang nangkring di tempat kami piknik semuanya dirantai. Kasian, tapi kalo kami yang diserang lebih kasian lagi sih.

Sudah selesai makan siang. Kebetulan ada atraksi gajah yang mau mulai, waktu itu sudah hampir jam setengah satu siang. Wah kebeneran banget, ya udah Icott, Mak Julite, Tina, Ndut, dan saya beburu ke tempat pertunjukan. Penasaran dalam hati emang atraksi gajak gimana, kan udah gak boleh main bola. Dayu & Dicky jaga kandang, mungkin butuh waktu pacaran berdua hahahah.. Tiket masuk atraksi 20 ribu rupiah per-orang, cukup mahal, kirain saya 10 ribu aja. Orang-orang berkerumun tanpa antri, di dekat loket ada speaker besar mendengungkan lagu dangdut bergantian dengan cuap-cuap sang narator acara yang lebih mirip penyiar radio daerah. Cuaca cukup panas nyenenet (matahari kejam), tapi tak apo demi lihat gajah, sudah sampai Way Kambas kan.

Tempat pertunjukan sangat apa adanya, sekilas kayak lapangan basket outdoor di sekolahan. Tempat duduk bertingkat mungkin bisa memuat sekitar 200-300 orang, penonton penuh berdesak-desakan, banyak juga yang baru datang pas acara mau mulai, terpaksa mereka berdiri di dekat arena pertunjukan. Dari tempat duduk saya yang berada di ujung baris tengah bisa melihat para pawang dan gajah bersiap-siap. Weh besar ya gajah-gajahnya. Gak menunggu terlalu lama, acara ini mulai, narrator mengenalkan gajah-gajah satu per-satu (saya udah ga inget namanya siapa aja). Ada 4 gajah keseluruhan mereka baris-berbaris memegang buntut masing-masing menggunakan belalai. Lucu juga, nurut-nurut ya.

baris yaaa yang rapih

Setelah mengucapkan salam selamat datang dengan membungkuk, eh beneran mereka bisa membungkuk ‘nuwun’ gitu, serta mengibarkan bendera - satu persatu mereka pergi dan atraksi pun dimulai. Pertunjukan berlangsung sekitar 45 menit, terbagi menjadi beberapa ajang unjuk gigi kepintaran : gajah berhitung, gajah tendang bola, gajah hulahoop, gajah berdiri dengan satu kaki, gajah angkat pawang, gajah dangdut, dan gajah saweran. Acara dipandu oleh sang narator yang super heboh dan becandaannya Om-Om banget. Ketika gajah berhitung, ada seekor gajah jantan dewasa yang dipersilakan masuk ke arena lalu ada seorang anak kecil yang memberikan soal hitungan sederhana, waktu itu si anak bertanya berapakah 2+3. Nah di lapangan sudah ada tiang dengan berbagai gantungan angka dari 1-5 (sudah diacak sebelumnya). Dengan ajaib gajah mengambil angka yang benar yaitu angka 5, setelah sebelumnya dia sempat kebingungan dan galau mau ambil angka yang mana.

pinter bisa berdiri

Gajah tendang bola, bukan gajah main bola, ada beberapa gajah yang beratraksi kali ini. Mereka satu persatu diberi kesempatan untuk menendang bola, bola yang dipakai besar sekali dan enteng kayaknya terbuat dari gabus. Lucu mereka, ada yang bisa menendang sampai goal, ada yang nendang tapi lemes, ada yang asal-asalan. Lalu atraksi selanjutnya, gajah hulahoop, dengan menggunakan belalai mereka memainkan hulahoop, jago juga. Bahkan ada satu gajah yang meski hulahoop sudah jatuh dia bisa mengambil dan memutarnya kembali, saya aja gak bisa main beginian. Yang bikin gemas (this one is my favorite) ketika gajah-gajah menampilkan kemampuan berdiri menggunakan dua kaki, hihihi.. Mereka imut-imut, seperti di kartun-kartun bisa berdiri gitu. Suasana pentas berubah agak menegangkan ketika atraksi gajah angkat pawang, di sini peran trust antara gajah dan pawangnya sangat penting. Gimana gak penting, sang pawang duduk dan diayunkan di udara dengan menggunakan belalai gajah, jadi belalainya seperti tali ayunan. Wew.. Bayangin kalo ga percaya bener, itu bisa aja gajah ngelempar si pawang kan. Serem deh..

huwaaaa berayun di belalai gajah

Penghujung acara diisi dengan persembahan spesial dari seluruh gajah-gajah, saya kira mereka mau ngapain, apa mau tumpuk-tumpukan ato nari balet. Ternyata mereka bisa joged tripping dengan pengantar lagu-lagu disko dangdut. Nah, di sini saya dan teman-teman tepok jidat, it’s okay sebenarnya mereka hanya disuruh joged tapi ujung-ujungnya saweran, yeah, saweran duit ala penyanyi dangdut pantura. Para gajah sembari goyang-goyang badan mengambil uang saweran dari penonton pakai belalai mereka lalu di-estafet ke pawangnya yang duduk di punggung gajah. Kami kecewa berat dan sejujurnya miris melihatnya, gak jadi happy. Dalam hati mikir juga, apa tiket per-orang 20.000 itu gak cukup yah untuk biaya kehidupan mereka.

Bubaran atraksi, kami diperbolehkan turun ke lapangan untuk berfoto dan ngobrol-ngobrol dengan gajah & pawang. Bubar sembari masih syok liat acara saweran, “Koq guweh kesel ya liatnya” kata Tina. “Ih apaan sih masa ada saweran gitu” kata Icott. Haduh habis nonton atraksi gajah malah terbeban guilty feelings begini. Ya memang sih pagelaran atraksi ini diadakan hanya pas musim liburan aja (Juni dan Desember), tapi tetep aja ngenes bro! Sempat kami ikut bertumpahruah dengan penonton lain di lapangan, foto-foto seperlunya. Sedih juga lihat gajah-gajahnya apalagi yang masih kecil-kecil, mata mereka berair, kata Pawang itu karena pada dasarnya gajah makhluk malam jadi mereka kalo kena sinar matahari kelamaan matanya jadi berair. Huhuhuh..

Setelah itu kami bergegas jalan kaki muter-muter bagian taman nasional yang lain. Gak jauh dari tempat piknik mungkin hanya sekitar 500 meteran bisa ditemukan tempat gajah mandi, tempat minum, kandang, dan hamparan rawa plus padang rumput. Beberapa gajah berkeliaran bebas mencari makan ditemani dengan burung-burung, wah udah berasa di Afrika dah *lebay. Ga jauh dari tempat kami liat-liat, ada pawang yang mau memandikan gajahnya, gede banget sumpeh itu badan gajah masuk ke kolam mandi, air kolam berasa berombak. Serunya mereka bakal semprot-semprotin aer juga lewat belalainya, pengunjung banyak yang kebasahan wahahhaha..

(searah jarum jam) : bekas tapak kaki gajah, pup gajah,
lagi mandi, kandang

Bagian menyenangkan di Way Kambas adalah kita bisa berinteraksi dengan gajah sedekat mungkin (dalam pengawasan pawang tentunya). Pawang-pawang juga ga sombong mau menjawab pertanyaan pengunjung yang aneh bin ajaib. Ohya menarik banget loh, masing-masing pawang punya alat mirip palu untuk memerintah si gajah. Nah ujung dari alat ini tajam, kenapa tajam? Karena kalo ga tajam, ga berasa, kulit gajah tebel banget coi. Jadi bukannya kejam gajahnya ditusuk-tusuk. Hahahaha.. Para pawang ini usia nya bervariasi ada yang masih pada muda, banyak juga yang sudah berumur dan telah mengabdi jadi pawang gajah selama belasan bahkan puluhan tahun. Nah buat pawang masih muda gajah mereka juga remaja belia, masih pendek-pendek. Pawang yang tua-tua pegang gajah yang dewasa. Bisa dibilang jika mereka nanti sampai tahun-tahun berikutnya masih jadi pawang, ya mereka tua bersama gajah yang mereka asuh. Sweet.

gajah yang lagi bebas berkeliaran

Jumlah gajah di Way Kambas ini tidak lah banyak, sekarang hanya ada sekitar 50-an ekor. Menurut para pawang, gajah-gajah yang lain sudah ditransfer ke berbagai kebun binatang dan taman satwa se-penjuru Indonesia. Berhubung di sini dulu adalah tempat pelatihan, gajah-gajah dari Way Kambas juga terbilang jinak dan sudah terbiasa bertemu dengan manusia, so mereka lah rekomendasi pertama untuk dikirimkan ke kebun binatang. Hmmm.. Kasian juga ya gengs, padahal mereka akan lebih bahagia hidup di hutan rimba. Tapi makin liarnya pembalakan hutan untuk perkebunan sawit dan karet juga mengancam kehidupan mereka, karena kenyataannya hutan Sumatra tidak se-asli jaman dahulu. Para pawang optimis masih banyak gajah-gajah liar lain di pedalaman hutan yang belum terjamah dan sekarang TN Way Kambas ini bertujuan sebagai pusat konservasi, semoga tahun-tahun berikutnya makin banyak gajah yang diselamatkan. Tapi Pak plis yah gajah-gajahnya jangan disuru dangdutan dan disawer lagi. 

nongkrong bareng si imut

Tidak terasa hari sudah hampir sore, kami bergegas pulang ke Bandar Lampung. Gak aman kalo menunggu lebih sore lagi, maklum yah daerah sepi dan banyak begal. Untuk yang berminat melihat sunrise dan sunset di TN Way Kambas, terdapat penginapan lho! Meski sederhana tapi sepertinya lumayan nyaman, kapan lagi bobo berdekatan dengan mamalia ramah ini. Kunjungan singkat ke Way Kambas ini menambah list taman nasional yang pernah saya kunjungi dan banyak hal baru yang bisa dipelajari dari sini. Terima kasih banyak Bapak-bapak dan Mas-Mas Pawang beserta gajah-gajah Sumatra yang kece-kece!

Saturday, January 7, 2017

Where & What to Eat in Bandar Lampung

Bersyukur bahwa di negara kita ini kaya kuliner, tiap daerah ada aja makanan khasnya. Oleh karena itu berburu kuliner setempat adalah acara wajib yang ga boleh absen. Sebenarnya jelajah kuliner daerah itu tidak terbatas pada makanan tradisional yang telah ada turun temurun, jelajah kuliner bisa juga ke tempat-tempat makan yang menurut warga setempat ‘paling enak’ meski bentuk dan macam makanannya bisa jadi mainstream. Oh yeah, sudah saya list daftar makanan enak super recommended di Bandar Lampung

#1 Restoran Padang Begadang Dua
Rumah makan Padang memang ada dimana-mana, jangankan harus ke Sumatra, 10 langkah dari rumah saya aja ada. Nah, di Bandar Lampung ada jaringan rumah makan Padang yang terkenal bernama Restoran Padang Begadang, dari satu sampai enam. Namun, menurut Icott beda restoran beda rasa meski resto ini berada di bawah payung nama yang sama. Paling enak Restoran Padang Begadang Dua yang terletak di Jalan Diponegoro No. 164. Tadinya saya kira restoran ini punya rasa yang kurang lebih sama dengan Restoran Sederhana yang franchise nya tersebar dimana-mana, tapi saya salah besar!

Nyatanya restoran ini punya menu yang enak banget, lebih enak daripada Restoran Sederhana yang mahal itu. Nasinya pulen, enak banget kayak dikasih ganja kalo menurut Icott wakakka.. Entah bener apa ga soal ganja itu, nasinya memang enak gilak sih, pengen nambah terus. Saya juga nyoba terong balado dan rendangnya. Untuk masak terong, kadang terong itu kan suka anyep yah pas dimasak jadi layu sampai ke dagingnya, nah untuk terong di Begadang Dua ini mantap banget. Daging terong bisa digigit dan lembut banget tapi ga layu. Terus, untuk rendang – this is the best rendang so far! Selama saya makan, ni rendang paling enak! Jatuh cinta saya dengan Begadang Dua, tadinya pingin ambil rendang satu lagi tapi berhubung takut bayar kemahalan gak jadi deh. Padahal harganya masih sangat reasonable untuk ukuran Restoran Padang yang udah terkenal dan enak.

Begadang jangan begadang aaaaaa.. Bang Rhoma

Yang unik dari restoran ini adalah pegawainya. Semua laki-laki! Sebagian besar sudah agak berumur yah, Bapak-Bapak gitu. Mereka sigap banget, lincah bawa piring-piring bertumpuk-tumpuk. Menu untuk satu meja dengan meja lain beda-beda, jadi kalo makanan fav kamu ternyata belum muncul di meja bisa minta langsung. Gak mungkin juga sih mereka kasih semua menunya dalam satu bukaan meja, banyak banget bok! Kebetulan pas Icott, Tina, Ndut, dan saya ke sana menu seafood ga keluar, dan bisa dibilang ga terlalu banyak menu (mungkin tau kita cewe-cewe, cuma berempat, tampang ngirit). Ih bener-bener deh ini Restoran Padang yang sungguhan.

#2 El’s Coffee @ Lampung Junction
Anak Bandar Lampung pasti tau banget tempat hangout satu ini, El’s Coffee berkonsep bistro dan coffee shop ini memang wajib banget dikunjungi apalagi buat pecinta kopi. Saya sendiri bukan pecinta kopi, ga ngerti sama dunia perkopian jadi ke sini sekedar buat menikmati makanannya aja. Range harganya cukup high, 40-100 ribu untuk makanan (buat steak bahkan lebih mahal). Minumannya 10-30 ribu. Kami makan di El’s Coffee di Lampung Junction, tempatnya ga begitu besar. Kapasitas tempat duduknya juga ga banyak dan agak dempet-dempetan. Berhubung kopi adalah jualan andalan mereka, sebuah open coffee bar langsung menyambut tamu di dekat pintu masuk. Hmmm.. Barista nya mana ganteng ya (tapi banyak gaya), lumayan buat cuci mata.

Curry rice and Spaghetti tuna

Makanannya kebanyakan pasta, sebelas duabelas dengan Nanny’s Pavillon. Yang bikin senang itu adalah porsinya, biarpun harganya agak mahal buat ukuran dompet masyarakat menengah kayak kami gini tapi porsinya itu banyak dan mungkin bisa untuk dua orang. Jempol-jempol untuk El’s Coffee.

#3 Kios Makanan dan Jajanan di Pasar Tengah
Pasar Tengah selayaknya pasar-pasar di daerah lain, terdapat beraneka macam toko di sini. Selain toko, ada juga kios-kios makanan yang beraneka macam. Saya ga coba banyak, hanya sempat mampir di kios makanan khas Palembang. Si Cici owner kios jual empek-empek (baik yang kecil ato besar), tekwan, es kacang merah, dan es manisan. Berhubung kami berempat mampir karena kehausan pengen minum es setelah muter-muter cari kain tapis, jadi membeli es jeruk dan empek-empek nya. Enak banget, ikannya terasa, gak abal-abal. Ohya, di Pasar Tengah ini juga banyak toko yang jual oleh-oleh khas Lampung seperti kerupuk kemplang, kripik pisang, dan manisan. 

#4 Bakso Haji Sonny
Bakso Haji Sonny tempat makan bakso paling hits se-Lampung. Kalo mau makan di sini, usahakan hindari jam-jam makan siang dan makan sore, wew pengunjungnya bisa rombongan, buanyak banget. Di sini kita bisa pilih mau makan bakso pakai mie putih atau kuning. Tapi pas kami ke sana, hanya ada mie putih aja (mihun) ya sudah pasrah. Minumannya juga kurang bervariasi, kalo mau minum teh manis ya adanya Teh Botol. Bakso Haji Sonny ini cabangnya dimana-mana se-Bandar Lampung, dan ya rata-rata semuanya rame. Selain warung bakso, mereka juga jual daging olahan. Jadi semisal ingin bikin masakan berbahan dasar daging sapi, bisa beli dagingnya di sini. Dijamin halal dan higienis.

Don't judge bakso from its picture

#5 Buah Durian
Seneng deh ke Lampung bulan Desember, karena bertepatan dengan musim durian! Durian dengan mudah ditemui dimana aja, di dekat rumah Icott kebetulan ada tukang jual durian pakai mobil bak gitu. Hmmm.. Di Lampung memang harganya tidak semahal di Jawa, 150 ribu kami dapat 3. Itungannya 50 ribuan. Bisa minta dikupasin di sana, Abang penjual jago banget buka durian gile cepet parah, lihai menggolok si durian. Nah berhubung kami niat ngupas sendiri, ya sudah minta di belah dikit aja sama si Abang. Ohya sebelum deal membeli kita bisa coba langsung durennya lho!

Dibeli.. dibeliiiii..

Memang ya belah durian itu tidak semudah yang dibayangkan. Dengan golok seadanya, kami yang notabene cewek semua setengah mati belah tu buah. Akhirnya entah dapat wangsit apaan, Tina bisa membelah durian dengan begitu heroik dan sadis. Memang yah, darah Medan itu tidak bisa dibohongi hahahaha.. Keren Tin!

#6 Masakan Mamak Julite
Kunjungan ke Lampung ini akan hampa tanpa masakan Mamak Julite – a.k.a Mamihnya Icott. Cita rasa masakan Jawa yang kental dengan rasa manis-manis gurih, plus empek-empek resep keluarga yang juga enak di mulut dan perut. Terima kasih banyak Tante dan Icott sudah menjamu kami, pulang-pulang sudah kangen lagi dengan masakan Mamak Julite.


Friday, January 6, 2017

Keliling Kota Bandar Lampung

Ada yang kurang kalo main-main ke Lampung, tapi gak jalan ke tengah ibu kota. Bersyukur banget perjalanan ini disponsori oleh Icott si Juragan Bandar Lampung yang sudah luar kepala mengenal seluk beluk kota kelahirannya hahaha.. Lumayan, kami nyoba jadi anak Bandar Lampung sehari, gahol kemane-mane. Kemana aja ini kite-kite?

#1 Museum Lampung
Menurut saya, jika berkunjung ke suatu daerah cobalah untuk mengunjungi museum yang ada di tempat tersebut. Setidaknya, pulang ke rumah jadi agak pinteran sedikit. Di Kota Bandar Lampung ada nih museum wajib dikunjungi bernama Museum Lampung. Terletak di daerah kampus-kampus, dekat UNILA, UBL (Universitas Bandar Lampung), dan macam-macam institusi pendidikan yang lainnya. Dari luar kece gitu bentukannya, penuh makna kebudayaan *ya elah ngomong apa gueh. Terlihat terawat, ada taman dan pepohonan. Di luar juga terdapat replika rumah asli Lampung, meriam, dan jangkar raksasa (ini asli, memang gede banget).

Serba-serbi Lampung ada di sini!

Kawasan Museum Lampung luas juga, mereka punya ruang serba guna yang sering dipakai untuk acara pernikahan. Lahan parkir juga lega. Koridor Museum Lampung cantik sekali, tapi sayang ni jangan lihat ke langit-langitnya karena banyak yang terkena rembesan air dan bolong. Sayang banget padahal photoable banget itu koridor. Memasuki bagian dalam museum, seperti museum pada umumnya langsung deh kecium bau ‘jadul’. Kami disambut oleh petugas museum, bapak-bapak berempat, per orang membayar 5 ribu rupiah tapi kami tidak diberi karcis masuk ketika ditanyakan ‘mana tiketnya Pak?’ mereka dengan santai bilang gak ada. Hmmm.. Kan jadi curiga kalo dikorupsi.

Museum dibagi menjadi dua bagian. Bagian bawah dan atas. Di bagian bawah kita bisa lihat hewan-hewan endemik Sumatra yang bisa ditemui di Lampung seperti harimau, gajah, dan trenggiling. Lalu, ada benda peninggalan pra-sejarah seperti tulang belulang manusia purba di Lampung, sampai ke prasasti jaman kuno yang juga ditemukan di Lampung. Ada juga informasi tentang persebaran agama-agama di Lampung, gambaran masa penjajahan, dan tradisi yang unik-unik. Contohnya, tradisi mandi dengan bak dari tembaga yang guede banget, nah di bagian ini tertempel papan info besar dengan gambar anak perempuan. Lalu si Icott mulailah berdongeng “Eh katanya, gambar anak itu kalo malem bisa idup lho!” hyahhhhh.. Saya jadi males liat..

Searah jarum jam : rumah tradisional Lampung, koridor cantik,
gentong tempat mandi, sekilas bagian atas museum

Pada bagian atas dikhususkan untuk diorama tradisi unik Lampung, mulai dari tradisi melahirkan, sunat, pernikahan, dan kematian. Lucu juga banyak banget tradisi yang serapan dari budaya-budaya lain seperti Jawa, Arab, dan Cina. Kalo perhatikan suasana ruang pengantin Lampung, pasti akan merasa beberapa aksesorisnya mirip di film Tiongkok. Museum Lampung sebetulnya menarik, namun lagi-lagi penyakit museum di negara kita, koleksi terlihat kurang terawat, meski berada di dalam bilik kaca ya tetep aja kelihatan debu-debu nya. Begitu pula benda-benda koleksi yang berada di luar museum. Sayang banget kenapa ga dirawat. Fiuhhh.. Ayo banyak berkunjung ke museum, sehingga mereka rajin berbenah diri.

#2 Simpur Center
Pusat perbelanjaan murah meriah versi Lampung. Mirip ITC ITC yang ada di Jakarta. Pas kami ke sana kebetulan weekend, rame banget! Simpur Center ini memang bukan mol middle-up, jadi ga heran banyak alay-alay berkeliaran. Malah kata Icott, ada sodaranya yang suka banget cari pacar di Simpur hahaha.. Tapi ya gitu deh, buat pacar mainan doang. Di lantai paling atas, ada pusat elektronik (Hp, Laptop) dan foodcourt yang menurut saya makanannya murah dan lumayan enak. Lantai bawah-bawahnya mostly kios baju. Sebenarnya baju yang dijual satu sama lain kios mirip-mirip semua dengan harga yang juga ga jauh beda. Kisaran harga 20 ribu – 100 ribu, gile murah banget yahhh.. Simpur Center cocok nih buat yang doyan koleksi pakaian. Lumayan dengan modal 100 ribu bisa dapet 3 baju, bisa buat 3 hari kerja - gonta-ganti. Fashionable tanpa watir kantong blong.

#3 Pasar Bambu Kuning dan Pasar Tengah
Lampung memiliki kain khas bernama tapis. Tapis ini biasa dipakai untuk acara adat dan pernikahan, kain tapis ditenun (cucuk) memakai benang emas dan benang perak. Untuk turis (kayak Tina, Ndut, dan saya) kain tapis bisa juga untuk oleh-oleh (mewah). Berburu kain tapis kami lakukan di Pasar Bambu Kuning dan Pasar Tengah. Di sini banyak toko yang menyediakan kain tapis, macam-macam jenisnya, tapi sayang harganya memang mahal semua. Mahal karena tapis dibuat dengan cara ditenun, dan ada yang ditenun dengan alat tenun tradisional. Selain itu, motifnya yang cenderung rumit juga menjadi alasan kenapa tapis itu mehong.

Warna-warni tapis

Kain tapis biasa dijual dengan hitungan baris. Satu lembar tapis bisa 2-3 baris, nah kalo kita mau beli 1 baris aja ya kainnya dipotong, nah ini dia yang membuat kami kaget. Ceritanya Tina mau membeli tapis di sebuah toko kain besar di Pasar Bambu Kuning, ketika tanya-tanya soal harga Tina naksir sebuah tapis yang cantik, harganya 75 ribu. Ketika itu sang pegawai tidak jelas menerangkan bahwa harga itu adalah harga satu baris yang berarti hanya setengah kain. Ketika deal dan sudah bayar, Tina (dan juga yang lain) kaget karena si Mbak Pegawai mengambil gunting dan memotong kain tersebut. Kagetnya pakai teriak ‘Eh Mbak koq digunting..’ pulak. Lalu baru deh dijelaskan kalo 75 ribu itu harga per baris. Hyahahaha..

Selain kain tapis, mereka juga jual aksesoris dan pernak-pernik acara adat seperti mahkota siger yang biasa dipakai oleh pengantin-pengantin Lampung. Lalu, ada kain batik khas Lampung yang punya pola-pola kotak dan bersiku. Tips! Kalo mau dapat harga yang lebih bersahabat, tengoklah toko kain lain yang lebih kecil, sepengalaman ketika kami mampir ke toko yang lebih kecil harga tapis bisa lebih murah. Bisa beda sampai 20 ribu dan juga bisa ditawar.

#4 Gereja Paroki Santo Yohanes Rasul, Kedaton
Liburan pas hari Natal, jangan lupa ke Gereja. Gereja yang kami kunjungi bernama Gereja Paroki Santo Yohanes Rasul berada di daerah Kedaton tepatnya di Jalan Tupai (imut banget nama jalannya). Gereja ini berbentuk mirip rumah Joglo Jawa, dengan interior kayu dan warna cokelat sebagai warna dominan. Ramai dan berkesan, kemarin ketika malam Natal misa dipimpin oleh Romo Mango yang doyan nyeletuk dan bercanda. Berhubung ini Hari Raya, umat yang datang rame banget, karena kami dateng rada mepet waktu, gak kedapetan duduk di dalem deh. Hihihih..

Liburan boleh, ibadah tetap jalan

#5 Perempatan Besar Masjid Agung Al-Furqon
Perempatan besar yang menghubungkan jalan-jalan utama di Kota Bandar Lampung. Terdapat bunderan di tengah perempatan, lalu di bunderan tersebut terdapat patung pasangan Lampung dengan baju adat. Jalannya besar dan lega, bisa juga buat spot foto-foto dan nongki-nongki di depan Masjid Agung. Fyi, Masjid Agung Al-Furqon ini adalah masjid terbesar di Bandar Lampung.

Perempatan yang rapih

#6 Turunan Damri
Naik kendaraan, view langsung laut! Huwahhh.. Udah kayak di film-film aja. Keren banget ini jalan, hahaha.. Tapi ati-ati yah jangan ngelamun. Menurut Icott, pas langit ga mendung bisa lebih bagus lagi karena air bener-bener biru. Kapal-kapal yang sedang melaut bikin pemandangan tambah dramatis! Berhubung jalannya agak naik-turun dengan pemandangan laut, rumah-rumah di dekat Turunan Damri ini rata-rata bertingkat. Kebayang dong, bangun pagi buka tirai langsung liat laut. Harga rumah di daerah ini juga mahal-mahal, kebanyakan bentuk rumah sangat modern dan terawat. Weh, high value district nih!

Hello the sky and the sea

#7 Pusat Oleh-Oleh Teluk Betung
Mau beli oleh-oleh di Lampung sebenarnya bisa beli dimana saja tapi kurang afdol kayaknya kalo ga beli di Teluk Betung! Di daerah Teluk ini ada satu jalan yang isinya pertokoan, banyak dari toko ini menjual oleh-oleh khas Lampung seperti keripik pisang, kerupuk kemplang, manisan, lempok durian, kopi, dll. Ada beberapa toko oleh-oleh yang memang sudah terkenal seperti Toko Yen Yen, Toko Kopi Sinar Baru, Toko Keripik Pisang Suseno, dan yang terbaru Toko Aneka Sari Rasa.

Kalo mau lengkap Toko Yen Yen itu lengkap, tapi kalo mau adem (ber-AC) sambil bisa liat-liat lebih lama bisa mampir ke Toko Aneka Sari Rasa (kata Icott si ownernya kakak-adekan sama Yen Yen). Enaknya di toko oleh-oleh di sini, ada tester! Jadi hanya dengan tester kita bisa kenyang hahaha.. Nyicip, nyicip, satu, satu, lumayan kan jajan gratisan. Dua toko ini sama-sama ruamek pol. Ada yang menarik di Toko Aneka Sari Rasa, dekat kasir ada hall of fame begitu isinya foto-foto artis yang pernah berkunjung ke toko ini, banyak banget dari artis yang super famous sampai sekuter (selebriti kurang terkenal). Kocak ketika kami liat-liat artis siapa aja yang kami kenal, entah kenapa Tina ga ngeh (mungkin kurang nonton acara infotainment apa gimana). Terus tiba-tiba dia nunjuk satu foto, Icott, Ndut, dan saya mikir itu siapa sih, "Gue tau nih siapa! Doddy Kangen Band!" Bangga banget Tina ngenalin Doddy Kangen Band, astagahhh Tin..

Nah, selain makanan, Lampung juga terkenal dengan kopinya. Untuk pecinta kopi mampirlah ke Toko Kopi Sinar Baru, yang punya engkoh-engkoh ramah, tokonya memang cuma jual kopi doang. Bisa tanya-tanya tentang kopi Lampung ke engkoh. Wah, ini dia toko kopi before it was too mainstream! Letaknya masih satu jajaran dengan toko oleh-oleh lain. Selain toko kopi, di belakang ada pabriknya, gak tau sih boleh liat apa gak kemarin kita belum sempat tengok ke pabriknya.

Buah tangan khas Lampung

#8 Vihara Thay Hin Bio
Satu jalan dengan pusat oleh-oleh Teluk Betung. Teluk Betung adalah kawasan pecinan di Bandar Lampung, makanya ada beberapa vihara di sini, yang paling besar Vihara Thay Hin Bio.  Selain terbesar, vihara ini juga tertua se-Provinsi Lampung lho! Seperti vihara-vihara lain, bau dupa langsung tercium ketika kita masuk tempat ini. Sakral dan tenang. Kami sempat ngobrol dengan Pandita dan beberapa umat di sana, termasuk dengan salah satu Kokoh-Kokoh Ganteng incaran Tina #eh. Memang kelihatan tua nya vihara ini, banyak barang yang usianya sudah puluhan bahkan ratusan tahun. Boleh foto-foto di vihara, asal ketika ada yang beribadah jangan sampai terganggu ya.

Mampir vihara, siapa tau dapat ilham

Thursday, January 5, 2017

Pahawang, Snorkeling, dan Angkot Super

Badan masih terasa pegal bekas kemarin naik bis setengah hari ke Lampung. Namun, semangat ke Pulau Pahawang juga berkobar-kobar, kalah juga itu pegal-pegal dengan excitement plesir ke pulau. Pulau Pahawang, lagi nge-trend di jagad pariwisata nih. Anak-anak Jakarta banyak yang berkunjung kemari pas weekend, mungking mereka sudah bosen kali dengan Kepulauan Seribu sekarang pindah menjajah Lampung hahahha.. Saya yang bukan anak pantai, agak ketinggalan cerita tentang Pulau Pahawang, taunya juga telat pas di instagram sudah banyak yang nge-post. Liat di foto sih memang cantik sudah kayak di Lombok gitu, tapi ada beberapa teman yang merasa over-rated, ternyata Pahawang tidak sebagus yang digembor-gemborkan. Nah, lalu gimana ni menurut saya.

“Kita bersepuluh Jo, soalnya kalo kurang dari 10 jadi mahal bayarnya. Jadi 245. Jauh banget kan bedanya” kata Icott. Kami membayar per-kepala 145 ribu (per. Desember 2016), untuk memudahkan transportasi dll nya Icott mengatur jadwal dengan operator tur @pahawanglampung92. Sengaja pake operator di tanggal sebelum Natalan, untuk menghindari getok harga gila-gilaan. Kata Icott pas high-season (liburan akhir tahun) harga bisa naik dua kali lipat, baik nego-nego sendiri dengan yang punya kapal maupun pake operator tur. Waw, gak mampu kakak kalo sampe dua ratus ribuan. Sepuluh orang itu adalah Icott, Mama Icott, Adek Icott, Sepupu Icott, Bu Yuli (kolega Icott di sekolah) beserta dua anaknya, lalu Tina, Ndut, dan saya. Adek Icott, Andre, paling ganteng sendirian. Hahahaha.. Dari rumah untuk mencapai daerah teluk, kami carter angkot. Di sini lah kehebohan itu dimulai.

Angkot Lampung, yuk mareeee..

Angkot Lampung itu sesuatu sekali, sudah kemarin malam kita naik angkot disko, hari ini angkotnya juga yahud. Nama sopirnya si Raymond (jelas ini bukan nama asli, nama beken bok!) eh ditulis Remon aja.. Raymond kebagusan. Remon ini perawakannya kurus kecil, saya agak curiga doi ini narkoba-an, abis kayak junkie gitu bentukannya. Mari kita lihat si angkot, warna dasarnya sama dengan warna angkot teluk pada umumnya, warna abu-abu dan ungu. Tapi yang uhwow adalah terdapat gambar Dragon Ball di sisi angkot dan tulisan Sarkem United di sisi yang lain. Ya oloh! Sarkem itu kan tempat prostitusi di Jogja, napa kudu jadi hiasan angkot di Lampung. Icott dealing dengan Remon, karena dia yang paling nyambung diajak ngomong dibanding Abang Angkot yang laennya, jadi percayalah Remon ga bakal tepu-tepu kita.

Remon dan angkot super, on-time menjemput kita. Lalu perjalanan dihiasi haha-hihi dan saling berkenalan satu sama lain. Dipikir-pikir random pula kelompok trip kita ini, bercampur baur usia dan latar belakang.. Pada perjalanan, angkot super Remon mulai terdengar batuk-batuk, knalpotnya bletak-bletuk, rada takut juga meledak. Tiap dia nge-gas mesti knalpotnya batuk. Sampai di tengah jalan kudu diotak-atik mesin segala. Bersyukur kami bisa sampai dengan selamat ya di dermaga pemberangkatan ke Pulau Pahawang. Dari Bandar Lampung ke dermaga ini kira-kira 1 jam-an tergantung traffic. Di sini kami bertemu Mas Randi person in charge dari operator tur pahawanglampung92, dia kasih briefing singkat demi keselamatan dan kami pun foto-foto sebelum berangkat.

Full team. Andre paling cakep!

Mas Rendi ini hanya mengantar kami sampai naik ke kapal, selanjutnya kami ditemani oleh Mas yang nyupirin kapal (yang entah namanya siapa sebut saja Mas Kapal). Kami dibekali pelampung (masih bagus, layak banget dipakai), alat snorkel lengkap dengan sepatu katak, air minum, makan siang, dan kamera underwater merk Kogan (padahal dalam hati ngarep GoPro). Kami diajari juga cara mengoperasikan kamera tersebut sebelum berangkat, maklum pada katrok ga pernah pake kamera kayak gituan. Masing-masing dari kami pun membawa perlengkapan tempur masing-masing, saya sendiri siap sedia Gie – kamera digital kesayangan. Biar bisa jeprat jepret tanpa kehilangan momen. Singkat cerita lalu kami caw menuju Pulau Pahawang.

FYI, Pulau Pahawang berlokasi di Kabupaten Pesawaran yang letaknya gak jauh dari Kota Bandar Lampung. Ketika kita melihat peta Lampung, nah ada dua teluk yang seperti huruf M itu kan bentuknya. Nah Pulau Pahawang ini terletak di teluk yang sebelah kanan. Di situ memang banyak banget pulau-pulau kecil yang tersebar. Dalam trip ini kami bukan hanya ke satu pulau, tapi ke 3 pulau, Pulau Kelagin Lunik, Pulau Pahawang Besar, dan Pulau Pahawang Kecil. Pulau pertama yang kami kunjungi adalah P. Kelagian Lunik. Waktu tempuh dari dermaga ke pulau ini sekitar 1 jam, lumayan lama juga. Kami naik kapal bermesin, muat sampai dengan 15 orang, kemarin kami bersepuluh masih lega. Kapalnya tidak kecil, beratap terpal, dan seluruhnya terbuat dari kayu dengan pasak besi. Kira-kira kecepatan kapal 40 km/jam, kami bisa menikmati pemandangan, sekali-kali terkena air laut yang asin banget karena kapal menghempas ombak.

Sesampai di P. Kelagian Lunik, hal pertama tentu saja terkagum-kagum. Wah pantai nya bersih! Waktu itu masih pagi, tidak terlalu ramai. Pasir pantai putih mengkilat dan halus di telapak kaki. Air laut bergradasi dari biru ke hijau, cantik banget dan segar di mata. Ketika itu cuaca agak mendung, untung, jadi tidak terlalu panas, tapi dalam hati ngarep supaya tidak hujan ya. Ada gazebo-gazebo di sekitar pantai dan ada kantin juga, gazebo ini ternyata bayar – 20 ribu (per. Desember 2016). Tadinya kami kira gratisan wkakaka.. Lupa sob, mana ada yang gratisan yah di tempat wisata. Kenyang foto-foto dan berenang-berenang cantik di pulau kecil ini, kami lanjut ke Pulau Pahawang.

P. Kelagian Lunik so awesome!

Spot kedua adalah, perairan di dekat Pulau Pahawang Besar yang terkenal sebagai spot snorkeling. Hmmm.. Di sini rame banget bok! Udah kayak pasar apung, banyak sekali kapal-kapal berhenti. Wisatawan yang snorkeling? Banyak bener! Desek-desekan deh wkakka.. Saya baru pertama kali snorkeling nih! Adek saya juga. Dan ternyata pengalaman pertama juga buat sepupu Icott, Mama Icott, Bu Yuli beserta kedua anaknya. Well, saya gak tau gimana cara pake itu alat snorkeling (cupu dah!) akhirnya setelah bisa dan sedikit beradaptasi bernafas melalui mulut. Saya nyemplung juga! Awalnya merasa kesulitan mengendalikan sepatu katak yang berat, lalu nafas pakai mulut juga menantang ya. Kedalaman laut sekitar 3-4 meter aja, ga terlalu dalam. Buat yang pertama kali snorkeling, atau buat yang gak bisa/gak demen berenang, snorkeling ini cukup menakutkan. Pelampung yang kita pake cukup bisa menenangkan jiwa, gueh gak bakal tenggelam. Tapi saya sendiri agak kesulitan berenang karena pakai pelampung, pingin nyopot tapi koq masih parno.

Snorkeling in Pahawang (pilih spot yang sepi)

Keindahan bawah laut Pahawang sayangnya belum bisa saya share di blog ini. Si kamera underwater yang dipinjamkan ternyata tidak terpakai karena memory card rusak! Kejadian ini bikin kami bete juga sih. Jadi gak bisa foto-foto kan. Pengen rasanya, next time nabung untuk beli GoPro. Btw, berhubung saya baru pertama kali snorkeling jadi saya merasa bagus-bagus aja itu terumbu karang. Namun, menurut Tina yang sudah sering snorkeling, terumbu karang di sini kurang sehat, banyak juga yang mati. Yahhhhhh, so sad yahhhh.. Nah, ada spot snorkeling yang disebut Taman Nemo karena banyak ikan Nemo (alias ikan badut). Ikannya saya lihat memang banyak sih. Sayang, lagi-lagi berasa bete karena tidak bisa mengabadikan foto.

Setelah cape snorkeling, alias kecipak-kecipuk berenang sambil lihat bawah laut, kami caw menuju pinggir pantai di Pulau Pahawang Kecil. Hari pun makin siang, kami makan siang di sana, habis makan berenang-berenang kembali. Ohya, di pulau-pulau Teluk Lampung ini banyak dibangun hunian milik pribadi lho ala villa di pinggir pantai gitu. Udah kayak film-film kan. Nah, villa ini dimiliki oleh orang-orang luar negeri. Termasuk di P. Pahawang Kecil terdapat villa kayu yang cantik, bener-bener menghadap laut. Rumah tersebut tidak bisa kita dekati karena ada tali yang membatasi antara pantai sang empunya rumah dengan pantai umum. Wew eksklusif banget!

Villa pribadi Pahawang

Sudah capek dan kulit belang, kami kemudian pulang ke dermaga. Angin cukup besar, kapal pun lebih heboh menerjang ombak. Saya pengen cepat sampai, serem juga bok. Hempas datang lagi, hempas datang lagi *Syahrini mode on. Tiba di dermaga buru-buru cari kamar mandi bebersih badan. Hmmmm.. Segarrrrr.. Main di Pahawang sudah selesai deh. Gak lama, angkot Remon datang kembali menjemput kami, tapi koq dia bawa temannya dua orang cowo-cewe yang nemplok satu sama lain bagai kembar dempet. Perjalanan pulang makin heboh, Remon ternyata minum ciu (arak)! Wanjirrrr.. Ngebut banget ga tau aturan sampai menerjang lampu merah segala, padahal ada polisi yang jaga. Astaga, benar-benar naik angkot Lampung, nyawa kayak dipertaruhkan begitu. Sampai di rumah Icott lega sudah hati ini.

Sampai bertemu lagi laut, ikan, terumbu karang, dan pantai! Pahawang menurut saya cukup bagus, setidaknya meski masih terlihat sampah tapi pengelolaannya rapih dan kondisi alamnya memang indah. Ohya untuk penggemar water sport bisa juga lho main banana boat di Pahawang. Lalu buat yang ingin menginap, banyak penginapan di P. Pahawang Besar, bangun tidur bisa langsung main ke pantai, bisa lihat sunset dan sunrise juga. I give Pahawang 3.5 from 5 stars!

Wednesday, January 4, 2017

Transportasi Menuju Lampung

Pukul menunjukan waktu jam 9 pagi, Ndut dan saya sudah berada di Stasiun Gambir. Sebentar lagi kami mau naik DAMRI jurusan Gambir - Tanjung Karang (Bandar Lampung). Kami menunggu Tina yang katanya sudah di Gambir tapi lagi di toilet. Gambir rame banget, maklum udah musim liburan nih. Gak lama, lalu kami bertiga berkumpul. Tina beberapa minggu yang lalu sudah beli tiket bisnya, jadi kami tenang banget, ga kesusuh. Buat yang mau naik DAMRI dari Gambir ke Lampung di musim libur gini, mending beli tiket jauh-jauh hari, jangan on the spot. Kemungkinan ga dapat tiket besar banget. Kami beli tiket kelas bisnis, harganya 155 ribu/orang (per. Desember 2016). Wah, lumayan terjangkau ya. Jarak tempuhnya kurang lebih 6 jam kalau lancar. Ada pilihan kelas lain, yaitu bis eksekutif dan royal class, dua2nya menyentuh harga 200ribuan.

Selain Bis DAMRI, ada beberapa cara lain untuk menuju Lampung. Bisa dengan naik kereta api, berangkat dari Stasiun Tanah Abang dengan tiket yang katanya murah meriah dan langsung sampai di Pelabuhan Merak (jalan bentar bisa langsung naik kapal). Kalau mau ketengan, naik kopaja dan bis kota juga bisa banget, sayang, saya gak tahu detailnya. Dua cara tersebut jauh lebih murah, meski perjuangannya juga kudu lebih ya. Naik Bis DAMRI ini termasuk yang nyaman, gak pusing, udah tinggal duduk aja. Kalau cara yang lebih mahal sih banyak, bisa dengan carter mobil atau naik pesawat aja sekalian.

Terminal bis DAMRI Gambir berada di dalam komplek stasiun, dekat pintu masuk utama stasiun. Satu jam sebelum keberangkatan, bisnya sudah ngetem di parkiran. Bapak-bapak supir, kernet, dan petugas terminal berseragam biru muda terlihat dari kejauhan. Ini pertama kalinya saya naik bis DAMRI, no expectation. Nyampe di dalam bis, eh enak banget. Padahal ini kelas paling rendah, ber-AC, ada WC juga lho. Terus yang fascinating, ada colokan listrik di masing-masing kursi! Wah keren banget! Posisi tempat duduk - dua-dua, jalan di tengah memang agak sempit, ruang kaki juga sempit. Untungnya Tina pesan kursi yang paling depan, lumayan lebih lega dari posisi kursi yang lain dan kami jadi bisa lihat pemandangan juga. Bedanya dengan bis kelas lain terletak pada penempatan kursi ini, di kelas eksekutif dan royal class – jumlah kursi lebih sedikit jadi lega banget.

Sekilas fasilitas bis DAMRI bussiness class

Bis kami berangkat ngaret, jam setengah 11 siang (harusnya jam 10 pagi). Gara-gara ada seorang penumpang yang lama ditungguin tapi tidak datang juga. Akhirnya itu kursi untuk orang lain. Ada pula seorang Bapak tua yang ikut numpang karena ada keperluan mendesak, tapi karena dia ga ada nomor kursi jadi duduk di pelataran dekat Pak Supir. Hmmm.. Awalnya saya mikir, apa ni orang sengaja diterima supaya supir & kernet dapat uang tambahan. Tapi ternyata pas Bapak ini mau kasih uang, mereka menolak lho! Murni mereka mau bantu si Bapak. Saya jadi terharu. Eh koq baper. Keadaan bis full book. Terus serunya, banyak penumpang sudah pakai logat Lampung, padahal masih di Jakarta tapi berasa udah nyampe Lampung. Oke perjalanan dari Jakarta menuju Lampung sudah dimulai!

Bis DAMRI menggunakan jalan tol untuk mencapai Pelabuhan Merak. Tol kadang macet, kadang lancar. Syukurnya tidak sampai stuck. Pak Supir oke juga ni nyetirnya, gak begajulan. Dari Jakarta sampai Cilegon ga ada pemandangan yang gimana, masih biasa-biasa saja. Sampai akhirnya kita mendekati Pelabuhan Merak, sugoi! Laut! Saya baru sadar, gile udah lama banget ya, saya ga pernah liat laut sedekat ini! Terus yang kocaknya, norak ngeliat kota pelabuhan kayak Merak gini, Tina dan saya malah ngayal “Wah, kayak Santorini! Santorini van Java”. Ya oloh, padahal jauh banget dah. Tapi not bad lho! Pelabuhan Merak rapih, ga keliatan preman-premannya. Suasana pelabuhan juga lengang, bis ga pake ngantri, udah bisa langsung masup ke kapal. Sensasi bis masuk kapal ini juga cukup bikin heboh, berasa ditelan paus.

Halo Merak!

Nah, kami naik kapal Mutiara Persada. Kapalnya besar banget, muat kendaraannya juga banyak, ada mungkin 20 kendaraan – mulai dari motor, mobil pribadi, bis, sampai truk. Kapal ferry ini lebih besar dari kapal yang dulu pernah saya naiki pas nyebrang dari Banyuwangi ke Gilimanuk. Tangga masuk dari garasi ke dek atas lumayan curam. Oh ya, ada aturan gak boleh ada penumpang menunggu di dalam kendaraan, jadi semua harus naik ke dek atas. Ada dua jenis ruangan untuk penumpang, Ruangan Angin-Cepoi & Ruangan Air-Conditioner (nama resminya ruang lesehan). Di ruang Angin-Cepoi, ada dua lantai, dua-duanya terbuka. Angin laut yang heboh itu dihalangi dengan terpal. Kalo di ruang Air-Conditioner, ada di dek bawah, tertutup, adem karena ber-AC beneran, sayangnya ruangan lesehan ruame-ruame, bayar pula 12ribu/orang (per. Desember 2016). Untuk toilet, cukup bersih loh, ga jijay bajay, mesti sedia tissue kering dan basah sendiri ya gengs.

Sekilas pemandangan di kapal

Banyak juga orang yang memilih duduk di luar kedua tempat tersebut. Mungkin ingin menikmati deburan ombak dan angin laut kali yah. Angin laut segar awalnya, tapi lama-lama bikin kulit lengket dan rambut kusut, jadi saya lebih memilih duduk di kursi penumpang aja. Banyak hal yang menarik di kapal. Di ruang penumpang cepoi-cepoi, ada seorang Bapak yang semangat sekali berjualan! Kayaknya si Bapak ini ABK, karena punya kartu identitas. Jualannya banyak bener, mulai dari bola duri magnet yang katanya berkhasiat menyembuhkan penyakit (dihargai serelanya pembeli), salep walet yang bisa menghilangkan jerawat (ngakunya) asli Cina (harga 20 ribu), buff – penutup kepala gaul ala anak gunung (harga 10 ribu), permen jahe (sebungkus isi 3, 5 ribu), tas serba guna bisa jadi topi bisa jadi gendongan bayi segala asli dari Bandung (harga 20 ribu), kaos kaki brand Elle! (harga 10 ribu sepasang), sampai buku-buku bacaan random (5 ribuan).

Bukan cuma barang dagangannya yang yahud. Cara jualannya juga unik bin ajaib. Suara Bapak ini keras banget kayak TOA, gak capek loh dy ngomong sekitar 2 jam (mulai dari kami naik kapal sampai setengah jam lagi mau turun lho!). Hebat juga marketingnya, persuasif banget dan banyak lelucon-lelucon segar yang bikin ngakak. Tina, Ndut, dan saya ketawa-ketawa mulu denger si Bapak ini ngomong, hiburan gratis di tengah cuaca yang panas. Kocaknya, mungkin karena kami bertiga ketawa mulu, kami ga pernah ditawarin barang. Padahal penumpang lain dapat sampel barang dagangannya (kalo minat bayar, kalo ga ya kudu dibalikin). Mungkin si Bapak udah mikir kami bertiga ini muka-muka ga bakal beli kali yah.. Saking kerennya itu promosi, banyak lho yang beli! Bahkan ada satu Ibu2 yang beli semua jenis barang jualan si Bapak. Salut bener deh!

Mario Sepuh lagi jualan di kapal

Lantai 1 milik Bapak Lapakers yang cara jualnya mirip host Golden Ways itu. Di lantai 2 terdapat biduan-biduan dangdut yang menghibur penumpang dengan suara merdu. Lucunya, mereka nyanyi di lantai atas, tapi minta saweran juga ke lantai bawah. Mbak-Mbak penyanyi ini cantik-cantik, alisnya cetar, baju ketat, make up kudu sering touch-up maklum keringetan kena iklim laut. Buat yang males dengerin Bapak Lapak ngoceh-ngoceh, banyak yang pindah ke lantai atas buat nonton panggung tersebut. Kebanyakan laki-laki. Wahahhahah.. Di sekitaran kapal, banyak lapak-lapak jualan, saya gak tau itu resmi apa gak. Ada penjual pecel, penjual aksesoris ala Jalan Malioboro, penjual jajanan ala kadarnya. Kantin di kapal hanya menjual yang instan-instan seperti Pop Mie gitu deh. Saya salah ni kaga beli makan aja pas di Gambir, alhasil merasa kelaparan. Adik saya mabok laut pula haduhhhh..

Tidak terasa 2,5 jam berlalu di lautan, ngarep bisa melihat Krakatau ya ternyata kaga keliatan hahahah.. Selat Sunda yang di peta terlihat kecil, ternyata setelah dilalui – wow jauh juga. Hey! Kami akhirnya sampai di Pelabuhan Bakauheni. Pelabuhan Bakauheni ini mirip-mirip dengan Merak tapi lebih kecil si memang, keluar dari gerbang pelabuhan, bis kami berbarengan dengan truk-truk. You know lah, barang-barang di Sumatra kan banyak ‘ngimpor’ dari Jawa. Selepas ini pemandangan di perjalanan hanya pohon-pohon pisang, rumah, tempat makan, dan toko sederhana. Ada yang cukup menarik yaitu Menara Siger, tinggi sekali berada di bukit. Dengar punya dengar dari menara ini kita bisa melihat pesona lautan ujung Selatan pulau Sumatra ini. Waaaaww..

Sejauh mata memandang #uyeah

Menjelang sore hari sekitar jam setengah 5, Bis DAMRI berhenti di Rumah Makan Padang Siang Malam (masih di sekitar daerah Bakauheni). Kami diberi waktu sekitar setengah jam untuk makan dan ke toilet. Lumayan juga masakan Padang ini, mahal, tapi wajar untuk sebuah rumah makan singgah. Saya makan lele goreng + nasi + teh tawar hangat 20 ribu (per. Desember 2016). Dan kami melanjutkan perjalanan sampai ke Bandar Lampung sekitar 3 jam lagi. Jalan lintas Sumatera ini kecil untuk ukuran jalan provinsi utama yang dilalui oleh buanyak sekali kendaraan. Di beberapa titik, terlihat pembangunan Tol Trans Sumatra. Mungkin 3-4 tahun lagi baru jadi, wah asik banget kalau ada tol. Road trip Sumatra akan lebih lancar dan aman.

Ngomong-ngomong soal keamanan, jalanan di Sumatra terkenal agak berbahaya ketika malam hari. Tina sendiri pernah mengalami kehebohan menghadapi ‘bajing loncat’ di daerah Lahat (Sumatera Selatan, dekat Jambi). Bajing loncat ini adalah sebutan untuk para begal bersenjata di wilayah Sumatra, mereka beroperasi ketika hari mulai gelap. Lahat sendiri memang dari dulu terkenal angker, wilayahnya sepi dan sebagian besar hutan. Nah, ketika itu Tina dan keluarga pulang kampung dari Bogor ke Sumatera Utara, sudah diperingati jangan sampai lewat Lahat pada malam hari tapi karena yang mau lewat waktu itu rombongan sampai 8 mobil jadilah mereka memberanikan diri. Gak disangka, ada satu mobil Om nya Tina yang diikuti oleh para begal tersebut, sampai dilempar linggis segala. Wew, untung selamat sampai tujuan meskipun harus perbaiki mobil dahulu setelah keluar dari daerah itu. Well, menyeramkan ya.

Saya jadi merasa beruntung, bisa tinggal di Pulau Jawa dengan jalanan yang mau dilalui kapanpun aman dan lancar-lancar saja. Menyetir kendaraan di Jalan Lintas Sumatra ini butuh keahlian khusus juga ni, maklum padat bok dengan kendaraan-kendaraan yang besar. Kudu nekad juga, kalau ga nekad gak tau kapan nyampe nya. Pemandangan menarik lain adalah Kereta Babaranjang (Batu Bara Rangkai Panjang) yang ngetem di sekitar daerah Tarahan, baru pertama kali liat langsung juga ni, panjang bener ya, seingat saya jumlah gerbong mereka sampai 60 lho! Ga kebayang, pas buru-buru eh di jalan kecegat Babaranjang bisa 10 menit nungguinnya. Banyak pemandangan cantik lain di Jalan Lintas Sumatra, kita bisa liat laut dari samping jendela bis. Adem banget! Pengen nyemplung dan nyeruput es kelapa muda.

Perjalanan Jakarta-Lampung kemudian berakhir di halte Telkom daerah Tanjung Karang Kota Bandar Lampung, sekitar jam 7 malam kami sampai. Hmmm.. Lama juga ya sekitar 8 jam. Icott menjemput kami dengan muka sumringah (setelah sebelumnya kelaparan gegara kelamaan nungguin koq ga nyampe-nyampe ini bis), waaaa.. Akhirnya bisa ketemu lagi ya Cott. Lanjut, kami naik angkot disko khas Lampung (beneran disko, dengan speaker besar dan lampu warna warni kelap kelip) menuju rumah Icott. Makasih buat Bapak Supir dan asisten Bis DAMRI yang sudah mengantar kami selamat sampai di tempat tujuan dan tengs juga buat Adek-Adek imut yang minta di telolet-in klakson bis di sepanjang jalan. Oh my God! Kenapa viral sekali fenomena telolet ini! Selamat datang Tina, Ndut, dan Puji (dan Creamy!), di Lampung!

Tuesday, January 3, 2017

Explore Sumatra

Akhir taun 2016 ini, saya berkesempatan mengunjungi Pulau Sumatra. Kepergian tersebut menjadi sangat istimewa karena seumur-umur saya belum pernah ke sana. Maklum tipe manusia yang tinggal di Pulau Jawa, suka gak ngeh dengan pulau-pulau sekitarnya. Ada dua provinsi yang saya kunjungi, pertama adalah Lampung, kedua adalah Sumatra Selatan. Dua tempat ini ternyata punya banyak banget destinasi menarik *promosibanget, ada tempat yang sudah well-developed ada juga yang kudu mendapat perhatian khusus dari pemerintah daerah dan pusat. Potensi wisata dari kedua provinsi ini juga sangat menjanjikan, saya ter-uwow-uwow dengan banyak hal yang tidak dapat ditemui di Pulau Jawa.

Ngapain saya ke Sumatra? Rencana untuk pergi ke sana sudah ada sejak bertahun-tahun yang lalu. Salah satu teman satu geng saya, Icott, warga kota Bandar Lampung, jadi dialah yang sering banget menggembor-gemborkan wisata Lampung – hahaha.. sudah cocok kali lah dy jadi Miss Pariwisata. Jadi kalo ditanya ngapain saya ke Sumatra, tujuannya untuk liburan plus mengunjungi si Icott. Simpel aja. Gak ada hidden agenda, seperti misalnya cari pacar baru. Personil yang ikut dalam trip hip-hip hura-hura ini adalah Tina (teman se-angkatan, se-fakultas, dan se-kelas di kampus) dan Adek saya, Ndut. Icott & Tina bekerja sebagai educator di sekolah, mereka punya waktu liburan mengikuti jadwal sekolahan which is lebih panjang dan anti-ribet dibanding teman-teman lain yang pekerja kantoran. Adek saya ikutan karena saya ajakin, supaya dia punya banyak pengalaman, maklum keluarga saya jarang jalan-jalan.

Sampai di Pelabuhan Bakauheni

Lampung sendiri sebetulnya sudah bukan daerah yang asing. Saya sering mendapat cerita-cerita tentang Lampung dari keluarga besar. Bahkan, dulu waktu Mama Papa baru menikah, katanya mereka pernah tinggal di Lampung untuk beberapa saat, di daerah Kota Bumi. Well, Kota Bumi itu sekarang terkenal sebagai sarang begal ya. Tante & Om saya juga banyak yang menghabiskan masa kecil dan remaja di sana, sebelum mereka hijrah ke Jakarta. Keluarga adik dan Kakak laki-laki Mama pun tinggal di Lampung, tapi Mama gak tau rumahnya dimana hahaha.. Jadi tidak bisa mengunjungi pas ke sana. Obrol punya obrol, ternyata sampai sekarang masih banyak sodara jauh Papa yang tinggal di Lampung.

Kalau Sumatra Selatan - Palembang, nah, ini benar-benar jarang diperbincangkan. Saya sendiri tau Palembang karena makanannya – pempek, tekwan, model, kerupuk kemplang. Ga ngerti gimana kotanya, oh, yang kebayang cuma Jembatan Ampera. Sodara di sana? Gak ada. Temen? Ada tapi mereka udah pada hijrah juga ke Pulau Jawa. Pengetahuan saya mengenai Palembang sedikit banget, makanya pas ke sini banyak yang bikin terheran-heran. Trip lanjutan ke Palembang ini ada karena saya merasa nanggung, sudah cape-cape nyebrang Selat Sunda masa hanya ke Lampung aja nih. Kebetulan ada kereta penumpang dari Stasiun Tanjung Karang di Bandar Lampung menuju Stasiun Kertapati di Palembang yang murah meriah, ya sudah jadilah caw kami ke ibukota SumSel ini.

Posting selanjutnya akan saya bagi menjadi dua tags, satu Episode Lampung, satu lagi Episode Palembang. Nah biar mudah membahasnya ada beberapa tulisan terkait masing-masing episode, habisnya tidak bisa hanya jadi satu tulisan aja, bakalan panjang ni cerita hahahhaha.. Saya usahakan dibuat mendetail, semoga bisa ada manfaatnya buat yang membaca. Oke, selamat menikmati!