Tuesday, October 11, 2016

Memahami Duka

Perpisahan bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Jujur, saya juga tidak menyukai perpisahan. Saya senang bertemu orang baru tetapi sangat berat untuk melepas orang tersebut untuk pergi. Banyak terima kasih untuk teknologi masa kini, memungkinkan kita untuk tetap berkomunikasi dengan orang-orang yang jauh. Tetapi apa jadinya apabila orang tersebut telah meninggal, nothing left. Perlahan-lahan dalam hati kemudian menyesal mengapa waktu dulu - ketika orang tersebut masih ‘hidup’ kita tidak berkomunikasi dengannya lebih sering.

Meninggal dunia adalah fase yang pasti kita lewati dalam kehidupan ini. Manusia tidak mungkin bias hidup abadi. Orang-orang yang kita lihat kini, suatu hari akan mati. Dan kita akan merasa kehilangan. Beberapa minggu belakangan, ada banyak cerita duka menyelimuti kehidupan keluarga & teman-teman saya. Bulan September kemarin, Engkong meninggalkan keluarga kami di usia yang sudah sepuh yaitu 91 tahun. Kami sedih tapi juga lega karena kasihan juga apabila Engkong hidup terlalu renta, fisiknya termakan penyakit tua. Tidak lama sepeninggalan Engkong, ada saudara jauh yang juga meninggal dunia karena sakit. Di luar family, beberapa teman saya kehilangan salah satu dari orangtua mereka. Meninggal di usia yang tidak terlalu tua, melihat anaknya menikah pun belum. Rasanya pasti, sedih mendalam, ingin minta keajaiban Tuhan untuk membangkitkannya kembali.

Mati itu wajar. Penyebab yang bisa membuatnya tidak wajar. Seperti kasus Mirna yang keputusan sidangnya masih belum final sampai sekarang, atau kasus Akseyna yang juga masih menjadi misteri. Jika penyebabnya sakit, setidaknya ada 2 opsi sebab, sakit dadakan atau sakit terminal. Pilih mana? Peristiwa lain yang menyebabkan meninggal, bisa kecelakaan, dibunuh, atau bunuh diri. Dua penyebab terakhir memang yang paling dramatis. Sampai sekarang belum ada yang bisa membuat manusia tidak mati, jadi rasanya ingin bilang ke semua orang ‘be used to it!’ tapi gak bisa begitu. Bagaimana pula kehilangan seseorang apalagi orang yang tersayang tidak akan pernah bisa ‘biasa-biasa saja’.


Semakin tua, orangtua saya - terlebih Papa sangat heboh jika ada yang meninggal dunia, padahal orang yang meninggal itu bukan orang yang dekat, keluarga juga bukan, bahkan kenal aja nggak – hanya ‘tau’. Saya juga heran kenapa harus sebegitu hebringnya, tetapi lama kelamaan saya jadi memahami. Respon yang menurut saya berlebihan itu muncul karena dia juga sudah mulai tua dan khawatir dengan ‘panggilanTuhan’. Saya jadi mikir, apa nanti saya juga begitu kali yah pas sudah seumur beliau (kalo nyampe). Lagi-lagi tidak bisa biasa menghadapi kabar duka.

Ketika SMA saya menonton film biografi Soe Hok Gie yang disutradarai oleh Riri Riza. Film berjudul GIE ini cukup membuat pandangan saya mengenai kematian bergeser, geser ke arah yang lebih positif. Dalam buku hariannya Gie menulis “seorang filsuf Yunani pernah berkata nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan, kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah berumur tua. Berbahagialah mereka yang mati muda, makhluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada, berbahagialah dalam ketiadaanmu.” Untuk seseorang yang masih muda, Gie memang berbeda, bacaannya buku-buku filsafat sehingga dapat meng-quotes kata-kata ini. Dalam hidup sehari-hari kebanyakan orang takut dengan kematian, namun Gie menilai lain – semakin cepat mati semakin bahagia. Senada dengan Gie, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok juga melihat kematian sebagai sebuah keuntungan. Mengutip pernyataan Alkitab Filipi 1 ayat 21 “Karena bagiku hidup adalah Kristus, mati adalah keuntungan”, Ahok dengan percaya dirinya mantap untuk tidak takut pada kematian. Setiap mendengar kedua kata-kata dua tokoh ini mata saya berkaca-kaca. Hmm.. Betapa beruntungnya kita dapat meninggal dunia.

Pemikiran Gie dan Ahok mengenai kematian kemudian saya amini. Saya setuju dengan mereka, saya piker beruntunglah mereka yang telah meninggal dunia karena sudah terbebas dari banyaknya tuntutan keduniawian yang makin lama makin ngelunjak. Meninggal memang menyedihkan bagi orang-orang yang ditinggalkan, tapi siapa tau ternyata hal ini adalah the best part dari kehidupan. Oleh karena itu ditaruhnya di belakang, bagai cerita film – bagian akhir adalah bagian terbaik. Who knows? Lagipula dengan memaknai kematian sebagai sesuatu yang positif bias membuat kita (yang masih hidup) seolah mendapat jaminan bahwa orang-orang yang sudah meninggalkan kita itu bahagia di sana. Memang, kita tidak bisa biasa aja untuk menghadapi kematian, tetapi kita dapat melihatnya sebagai sesuatu yang lebih ngademi.

Good Bye, Engkong! We love you.

Oey Swie Giam (1925 – 2016)


No comments: