Friday, June 12, 2015

Hati Saya Tertinggal di Museum

Pertama kali saya menginjakkan kaki di kota Yogyakarta, saya tidak pernah mengira akan menemukan banyak sekali museum di kota pelajar ini. Kecintaan saya terhadap museum sebenarnya terjadi karena tidak sengaja. Sekitar 7 tahun yang lalu, diawali dari kunjungan saya ke Museum Monumen Jogja Kembali di tahun 2008, sebulan setelah saya berstatus mahasiswa Jogja, hal ini terjadi karena saya salah rute menaiki Bus Trans Jogja.


jadul banget ni ke Museum Monjali

Jangan membayangkan Museum Jogja Kembali waktu itu begitu ramai seperti sekarang. Pada tahun 2008, Museum Monjali sepi dan terkesan angker. Mengingat jaman itu juga tidak ada smartphone, ya kalau mau tau harus cek sendiri ke dalam ada apa. Memasuki Monjali seperti dibawa ke jaman pra-kemerdekaan. Saya kagum juga dengan tembok rana yang berisi nama-nama pahlawan dan puisi ‘Karawang-Bekasi’ ciptaan Khairil Anwar. Baru di situ saja saya merinding, wiihhh berasanya rasa nasionalis bertambah nih. Saya lanjutkan perjalanan ke bagian dalam Monjali yang gelep-gelep ser, bikin jantung deg-degan. Habis melihat pameran di lantai dasar, lalu saya ke atas lihat diorama yang besar-besar. Gak lupa juga ke lantai paling atas yang membuat saya kagum dengan relief tangan raksasa.

Pulang dari Monjali, saya jadi penasaran dengan museum-museum lain yang ada di Jogja. Perjalanan itu masih berlanjut sampai dengan sekarang. Saya sudah mengunjungi museum-museum di Jogja mulai dari yang besar dan terkenal seperti Museum Ullen Sentalu, Museum Affandi, sampai museum kecil yang lokasinya agak nyempil-nyempil masuk gang seperti Museum Anak Kolong Tangga, Museum Batik, dan Museum Bahari. Penjelajah Museum? Yaaaa bisa dibilang begitu, karena kegemaran saya mengunjungi museum di Kota Jogja, ketika saya mengunjungi kota atau negara lain saya juga sangat suka mengunjungi museum.


mampir ke rumah sang maestro

Selama sekian tahun berkali-kali mengunjungi museum di Kota Jogja, beberapa museum saya kunjungi lebih dari satu kali malah ada yang sampai 5 kali karena mengantar teman/saudara dari luar kota, saya merasakan bahwa perkembangan museum di Kota Jogja semakin baik. Saya agak terharu juga ketika kembali mengunjungi Museum Monjali di tahun 2014 dan melihat bahwa museum ini sekarang tidak lagi dicuekkin dan terbengkalai. Museum yang lain juga makin keren-keren.

Stigma ‘jadul’ pada museum kini bisa sedikit demi sedikit luruh dengan integrasi antara museum dan teknologi informasi. Sekarang semua orang memiliki akses informasi yang tidak terbatas.  Saya berharap museum bisa mengikuti perkembangan ini dengan mendekatkan diri terhadap teknologi. Selain itu, soal pengelolaan museum, saya senang banyak museum masa kini sudah visitor-oriented, makin membuat nyaman pengunjung, tidak hanya asal tempel pajang saja jadi, tapi sudah berpikir bagaimana caranya agar pengunjung dapat memahami apa yang dipamerkan oleh museum tersebut.

naik ke puncak gunung demi Ullen Sentalu 

Terakhir yang tidak kalah penting adalah soal publikasi, museum itu layaknya public place lain yang membutuhkan eksistensi, jadi saya kira publikasi museum bukan hanya pada acara-acara/hari-hari besar saja tetapi diadakan reguler terjadwal setiap waktu, misalnya dengan mengadakan kunjungan ke sekolah/kampus, tempat-tempat nongkrong, acara-acara sosial seperti seminar/bazaar. Saya pernah dengar ungkapan semakin baik museum di sebuah kota semakin tinggi pula kepedulian masyarakat kota tersebut terhadap budayanya. Bagaimana dengan Kota Jogja? Yap, kita sedang berada pada jalur menuju ke sana. Saya harap ke depannya, makin banyak orang-orang yang hatinya tertinggal di museum. Oopss..

No comments: