Monday, April 20, 2015

When Everybody is Being Traveler

Beberapa tahun belakangan sejalan dengan meningkatnya pemakaian internet di kehidupan sehari-hari, semakin sering saya menemukan dan melihat foto-foto liburan bertebaran dimana-mana. Entah di social media, entah di chat messenger, atau bergelimpangan aja gitu di jagad dunia maya (kalimat terakhir memang rada gak jelas wakakakaka). Apalagi kalau saya membuka socmed berbasis fotografi – Instagram, rasanya overwhelmed sekali sekarang melihat foto-foto orang liburan. Iri? Hmmm.. Quite a bit. Tapi keirian itu bukan permasalahan utamanya. Sah-sah saja kok orang pada mengunduh foto liburannya – saya juga begitu. Tapi yang lebih mengganggu saya adalah ketika banyak orang lalu ujug-ujug mendeklarasikan diri sebagai seorang ‘traveler’ di bio dan deskripsi akun socmed masing-masing. Padahal, semisal, baru juga jalan ke luar kota sekali dua kali. Wth. Traveler? Oke fine, sebenernya terserah dy juga sih mau mengidentifikasikan dirinya apaan. Namun, menyatakan diri sebagai ‘traveler’ padahal baru sekali dua kali ke luar kota / luar negri, rasa saya terlalu prematur. Hati-hati posting ini mengandung opini sirik hahahaha..

What is traveling? Simpelnya sih jalan-jalan dalam bahasa Indonesia. Saya suka sekali jalan-jalan, kegemaran ini saya pikir sangat manusiawi. Siapa sih yang ga suka jalan-jalan? Siapa yang tidak suka liburan? Mungkin satu-satunya orang yang bisa saya sebut gak suka liburan adalah Mama saya. Hahhahaha.. Yang lain? Well, everybody loves traveling, everybody loves looking around. Siapa coba di sini yang tidak menyukai jalan-jalan sekalipun itu adalah business trip? Semua orang punya hasrat untuk update status ketika berada di bandara suatu daerah/negara. Gatel tangan ingin memberitahu seluruh dunia bahwa kamu mengunjungi lokasi tersebut. Hasrat tersebut saya nilai wajar, mengingat pada dasarnya manusia butuh perhatian dan butuh pengakuan. So, traveling menurut saya adalah suatu kegiatan dimana seseorang berpindah fisik ke suatu tempat di luar domisilinya dan proses ini menimbulkan perasaan ‘excitement’ unik yang berujung pada keinginan untuk mengulangi/melanjutkannya kembali.

What is traveler? Orang yang melakukan traveling. Dari definisi singkatnya siapapun pelaku traveling (tidak melihat pada kualitas dan kuantitas) pantas aja disebut traveler, iya gak? Namun dalam praktiknya, di dunia jalan-jalan dan pariwisata term traveler’ ini lebih cocok diterjemahkan menjadi ‘musafir’ ketimbang ‘pejalan’. Kalo menengok Wikipedia, traveler itu padanannya adalah seseorang yang meninggalkan rumah untuk tinggal di jalanan – nomads, vagabond. Saya sendiri sadar betul kalau kegiatan jalan-jalan saya selama ini masih dalam taraf cupu, saya suka aja disebut turis, habis bagaimana, memang saya turis banget kok. Kalo menamakan diri traveler itu berasa ketinggian, seperti kata ‘cendekiawan’ di dunia pendidikan, sebutan lebih ‘down to earth’ itu akademisi. Sama juga dengan traveler, kalau masih biasa-biasa saja mending cari sebutan lain saja deh daripada keberatan istilah. Hehehehe.. Kesimpulannya, traveler itu lebih dari sekedar menjadi seorang ‘pejalan’, traveler itu pantas disematkan jika seseorang sudah bisa mengambil makna dari perjalanannya bukan cuma karena pergi ke tempat kece lalu dapet foto-foto kece bin narsis.

Are you a traveler? Coba sekarang introspeksi dulu, bener gak ya saya ni traveler? Ditimbang-timbang lagi kalau mau pake istilah traveler di bio socmed, ya kalo memang bener-bener sudah pantas, gak apa-apa pake aja. Hanya apalah arti sebuah nama, kalau belum benar diresapi dan dipahami dengan dalam. Pada akhirnya sebutan itu hanya sebagai hiasan aja kan. Ohhh.. Maaf kalau posting yang ini jadi berasa sok2an filsuf gini. Hehehehe.. Yaaa saya nulis posting gegara gatel banget pingin komentar fenomena sosial ‘traveler jadi-jadian’ yang belakangan memang lagi in dan pasaran banget. Kesannya being traveler itu semudah beli tiket pesawat Jogja-Jakarta lewat website. Padahal Mbak Trinity kudu keliling dunia dulu supaya bisa melegitimasi sebutan ‘naked traveler’nya, Ko Alex Amrazing aja harus jadi kuli tinta via twitter bertaun-taun sampe akhirnya bisa jadi ‘traveler’, Duo Ransel juga mesti jual rumah dan hidup di jalanan sebelum akhirnya mantap dengan sebutan ‘traveler’. Being traveler is not as simple as moving from one place to another, being traveler is when traveling gave deep meaning to your life and change you to be a better person as day goes by.

Write ‘tourist’ or ‘travel-enthusiast’ in your bio I think it will be better. What’s wrong with ‘tourist’? Pada kenyataannya menjadi turis itu enak juga. Hehehehe.. Ngerasa cupu karena cuma jadi turis? Hey, justru berbangga lah jadi turis karena pergi pake uang sendiri, mau foto-foto santai, mau jumpalitan kayak apa di tempat wisata juga bakal dimaklumi, namanya juga turis. Turis itu ga cupu & ga norak. Jadi turis juga tetep bisa mengilhami perjalanan-perjalanan yang telah dilakukan, mendapat refleksi sekaligus perenungan. Ohya, saya juga jadi pingin nyindir yang suka ngaku2 backpacker tapi ternyata poshpacker, bawaannya aja yang backpack tapi disuru naik angkutan umum yang berbau sejuta umat kaga mau. Waduh kayaknya di posting ini saya berasa nyinyir banget yah, mungkin lagi kurang liburan dan jalan-jalan nih ya hahhahaha.. This is all about penyebutan si sebenarnya, yang rasanya kalo pake istilah ketinggian tapi effort belum nyampe, kok ya kepedean. Oke.. Sekian dulu ya temans. Ntar kalo dilanjut malah makin kemana-mana hahahahhaa..

No comments: