Thursday, April 23, 2015

Greenhouse Hi-Tech Ala Belanda

Belanda. Berbicara mengenai salah satu negara yang berada di Benua Eropa ini, tidak dapat dipisahkan dari kata inovasi. Belanda tidaklah sebesar Indonesia secara luas wilayah, struktur geografisnya pun jauh dari kata sempurna, sumber daya alamnya terbatas, dan iklimnya juga cenderung labil. Namun, mereka dapat menjadi negara yang unggul. Belanda mengubah kekurangan menjadi kelebihan. Dalam bidang teknologi Belanda memacu kreatifitasnya untuk menghasilkan inovasi yang mengagumkan[1]. Poin terakhir inilah yang sangat menarik untuk dibahas lebih lanjut.

Sebuah artikel berita mengemukakan bahwa Belanda telah mematenkan sekitar 7606 aplikasi/temuan di tahun 2013 dan disebut sebagai salah satu negara paling inovatif di Eropa[2]. Keadaan ini tidak lepas dari strategi pemerintah Belanda yang setiap tahunnya bersedia mendanai proyek inovasi yang dirasa bermanfaat untuk kepentingan masyarakat luas[3]. Salah satu yang cukup menjadi perhatian serius adalah inovasi pada sektor agrikultur (pertanian).

(pict : www.hollandtrade.com/agrifood)

(pict : www.hollandtrade.com/agrifood)

Sektor agrikultur merupakan salah satu penggerak utama ekonomi Belanda. Kontribusi sektor ini mencakup 10% dari GDP negara, dan memberikan lapangan pekerjaan kurang lebihnya pada 660.000 orang (10% dari keseluruhan jumlah pekerja)[4]. Para pegiat agrikultur di Belanda terkenal dengan proses produksi yang efisien dan ramah lingkungan. Pengawasan terhadap kualitas produk pun dijaga ketat, penelitan dan pengembangan agrikultur dilakukan secara serius di beberapa daerah yang disebut The Food Valley Region. Komoditi utama agrikultur Belanda adalah organics products yang meliputi produk hewani dan produk nabati. Dan tahukah teman-teman bahwa Belanda merupakan salah satu eksportir produk organik terbesar di dunia[5].


(pict : www.hollandtrade.com/agrifood)

Pada tahun 2014, ekspor produk organik Belanda meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya, Menteri Agrikultur Belanda, Bapak Sharon Djiksma mengungkapkan bahwa hal ini terjadi karena adanya peningkatan kualitas pada produk serta dukungan teknologi pengolahan produk yang ramah lingkungan. Apabila ditelusuri secara lebih rinci, kenaikan terbesar terdapat pada produk sayuran organik (organic greenhouse vegetables). Saya sendiri cukup takjub melihat  fakta yang satu ini, karena di Indonesia meskipun kita juga sudah mengenal sayuran organik tapi pengelolaannya belum sebesar ini sampai dapat menjadi aset ekspor yang penting.


(Pict: http://www.the-netherlands.org/you-and-the-netherlands/you-and-the-netherlands%5B2%5D/about-the-netherlands/agriculture/sustainable-greenhouse-technology.html)

Belanda mengenal sayuran organik sudah sejak tahun 1920an, ketika itu ada arus penolakan terhadap hasil tani yang memakai pestisida sintetis dan bahan kimia lainnya. Mulai saat itu, para petani mengubah cara tanam mereka sampai dengan sekarang ini. Mengingat proses organik adalah proses yang banyak manfaat, seperti menjaga unsur hara pada tanah, dan juga menjaga bakteri-baik pada tanaman itu sendiri, pemerintah Belanda membuat kebijakan politik yang mendukung pengembangan pertanian organik. Kebijakan tersebut meliputi legitimasi status usaha, harga, sertifikasi produk, sistem manajemen, dan juga pengembangan produk[6].


(Pict: http://wholesaleexportportal.blogspot.com/2014/02/the-netherlands-worlds-second-largest.html)

Sayuran organik lazim ditanam dalam rumah kaca (greenhouse). Penggunaan greenhouse sebagai lokasi penanaman bertujuan untuk mengontrol proses tumbuh-kembang hasil tani secara lebih intensif sehingga menghasilkan produk dengan kualitas yang diinginkan. Seperti yang kita ketahui, apabila sayuran organik dikembangkan secara konvensional, ada banyak faktor yang dapat mengganggu pertumbuhannya, seperti adanya predator tanaman, sistem pengairan yang tidak adaptif, iklim yang tidak pasti, dan kondisi tanah yang kurang maksimal. Keberadaan greenhouse juga memungkinkan kita menanam tanaman yang beragam dan tidak bergantung pada musim. Beberapa greenhouse terbesar dunia terdapat di Belanda, dan yang membanggakan banyak inovasi pada greenhouse yang berhasil dipatenkan Belanda. Beberapa yang terkenal adalah Closed Greenhouse (GeslotenKas), greenhouse yang tertutup sempurna sehingga kita dapat mengontrol penuh proses pertumbuhan tanaman[7] dan Floating Greenhouse, greenhouse khusus yang memanfaatkan area perairan[8].


(Pict: http://www.dutchwatersector.com/solutions/projects/83-floating-greenhouse.html)

Tahun 2015 ini terdapat beberapa inovasi unik di bidang greenhouse organic farming yang tidak kalah keren dengan inovasi-inovasi di tahun sebelumnya[9]. Inovasi ini membuat saya berdecak kagum pada ide-ide kreatif masyarakat Belanda yang tidak ada habisnya. Mereka selalu haus untuk menggali ilmu dan berkembang ke arah yang lebih baik.

Inovasi pertama adalah Futagrow[10][11]. Futagrow merupakan suatu sistem penanaman tanpa tanah yang ramah lingkungan dengan menggunakan oxygenated water ternutrisi sebagai penggantinya. Sistem unik ini juga memberikan kemungkinan para penanam untuk mendapat hasil maksimal, tempat penadah tanamannya (gutters) dibuat bertingkat sehingga dapat membudidayakan tanaman dua kali lebih banyak daripada yang biasanya. Sistem ini berprinsip all-waste is bio-degradable dengan mengurangi bahan langsung buang seperti karet dan plastik yang jelas tidak ramah lingkungan, lalu menggantinya dengan bahan yang dapat dipakai jauh lebih lama. Futagrow memenangkan penghargaan bergengsi Innovation Award pada event GreenTech Fair di Amsterdam tahun lalu. Kini, aplikasi sistem ini telah diterapkan di banyak greenhouse karena keunggulannya dalam efisiensi waktu produksi tanpa meninggalkan asas sustainability.


(Pict: http://www.dutchfoodinnovations.com/innovation/new-system-for-sustainable-vegetable-cultivation)

Inovasi kedua yang membuat saya salut dengan Belanda bernama AquaTag[12][13]. AquaTag sekilas terlihat seperti remot TV, namun sebenarnya alat apakah ini? AquaTag adalah alat pemindai (sensor) kelembapan tanah portable, tanpa baterai, dengan harga yang terjangkau. Alat ini satu-satunya di dunia lho, belum ada yang menandingi. Dengan alat ini kita dapat mengetahui seberapa lembab media tanah tanaman kita sehingga kita dapat memperkirakan berapa banyak air (irigasi) yang diperlukan oleh tanaman tersebut. Alat ini sangat berfungsi untuk para pemilik greenhouse dalam mengatur pengairannya sehingga bisa menghemat konsumsi air. AquaTag terdiri dari remot dan sensornya yang bentuknya menyerupai plester yang disisipkan di pot tanaman. Ketika kita memencet tombol remot yang didekatkan ke sensor, data mengenai kelembapan tanah akan langsung terekam dan bisa dianalis lewat sistem komputer. Mengagumkan bukan?


(Pict: http://www.dutchfoodinnovations.com/innovation/wireless-moisture-sensor-for-agriculture-and-horticulture-uses)

Beberapa inovasi lain adalah The Ultra Clima[14] yaitu alat pengontrol iklim greenhouse yang menjaga konsistensi tekanan udara dan mencegah masuknya serangga yang membawa pengaruh buruk pada tanaman. Kemudian ada pula ActivAir[15]  yang mirip dengan The Ultra Clima, alat ini mengatur keluar masuknya udara sehingga tercipta iklim greenhouse yang stabil.


(Pict: http://www.dutchfoodinnovations.com/innovation/superior-climate-control-for-greenhouses & http://www.dutchfoodinnovations.com/innovation/activair-heating-system-integrated-in-greenhouse-wall)

Sebenarnya masih banyak sekali inovasi greenhouse dari Belanda yang menimbulkan decak kagum karena idenya out of the box. Saya sendiri sekarang jadi pingin punya greenhouse, greenhouse hi-tech ala Belanda. Produksi efisien dan jalan terus, tapi gak lupa juga untuk mencintai lingkungan. Sebagai penutup, ada kutipan favorit Soe Hok Gie, Gie mengutipnya dari seorang penyair kenamaan :

"Now I see the secret of making the best person
It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth”

Bye and see you, Netherlands!



References:
[1] http://www.iamexpat.nl/read-and-discuss/expat-page/news/Netherlands-fourth-in-Global-Innovation-Index-2013
[2] http://www.dutchnews.nl/news/archives/2014/03/dutch_firms_made_a_record_7606/
[3] http://www.government.nl/ministries/ez/news/2015/01/13/eight-innovations-from-scientific-start-ups.html
[4] http://www.hollandtrade.com/agrifood
[5] http://www.government.nl/issues/agriculture-and-livestock/news/2015/02/11/dutch-organic-exports-close-to-one-billion-euros.html
[6] Goewie, E. A. (2003). Organic Agriculture in The Netherlands; Developments and Challenges. Netherlands Journal of Agricultural Science, 50-2, 153-159
[7] http://www.greenhousecanada.com/structures-equipment/heating/geo-thermal-heating-and-cooling-in-closed-greenhouse-concept-948
[8] http://www.dutchwatersector.com/solutions/projects/83-floating-greenhouse.html
[9] http://www.dutchfoodinnovations.com/
[10] http://www.dutchfoodinnovations.com/innovation/new-system-for-sustainable-vegetable-cultivation
[11]http://www.hortidaily.com/article/9892/Netherlands-Futagrow-growing-system-offers-great-opportunities-for-sustainable-cultivation
[12] http://www.dutchfoodinnovations.com/innovation/wireless-moisture-sensor-for-agriculture-and-horticulture-uses
[13] https://www.wageningenur.nl/en/show/Saving-water-in-Turkey-with-soil-moisture-sensor-AquaTag.htm
[14] http://www.dutchfoodinnovations.com/innovation/superior-climate-control-for-greenhouses
[15] http://www.dutchfoodinnovations.com/innovation/activair-heating-system-integrated-in-greenhouse-wall

No comments: