Sunday, December 28, 2014

Kelelahan yang Menyenangkan

Monday, 22 December 2014
Location : Hotel Armi, Stasiun Malang

Liburan itu bikin capek. Ya memang, tapi seneng kan? Hihihi.. Bisa dibilang kelelahannya itu bikin addicted, jadi pengen liburan lagi dan lagi. Pagi ini meski badan sudah amburadul ditambah dengan sakit tenggorokan yang menjadi-jadi, kami menyesal ‘kenapa sudah hari terakhir di sini’ kalau bisa nambah sehari dua hari lagi mau banget. Tapi apa daya lah kantong ini, sudah kritis, bokek tingkat dewa hahahah.. Untung pagi ini gak kesiangan, kami sehabis bersih-bersih diri dan beberes baju kemudian cek-out dan caw ke stasiun dengan angkot. Perut lapar mayan diganjel dengan roti dari hotel. Stasiun Malang ketika pagi hari lebih cantik daripada di pagi buta ketika pertama kali kami datang ke kota ini, hmmm jadi gloomy. Tidak menunggu lama, selamat tinggal Malang kami sudahi liburan ini. Total 5 hari, tapi hari full-nya sendiri sebenarnya hanya 3 hari saja, perjalanan berangkat dan pulang tidak dihitung. Wah cepatnya hari berganti, dan memori liburan ini kini tersimpan rapih di folder digital dalam bentuk foto hehehehe..

Untuk menutup perjalanan ini ada beberapa tips yang ingin saya bagikan sehubungan dengan pengalaman perjalanan ini, semoga bisa berguna ya temans:

#1 Liburan di musim hujan persiapan harus matang
Saya tidak menyangka bahwa liburan Malang Batu Bromo ini akan mengalami beberapa kendala yang cukup signifikan, yaitu cuaca. Bulan desember adalah bulan dengan curah hujan yang tinggi. Apalagi dengan posisi daerah ini adalah dataran tinggi, lengkap kan. Sebenarnya bersyukur juga pagi-siang hari tidak hujan, tapi sore hari hujan deras sampai terjebak di lokasi wisata is actually an annoying matter. Bawalah jaket plastik, payung, topi, jaket lebih banyak (yang anti air), dan sandal jepit - ini senapan penting yang harus dibawa ketika wisata pada musim hujan. Lalu, bawalah obat-obatan karena musim hujan sumber penyakit, ketika badan kita drop ditambah cuaca yang ekstrim. Bisa-bisa liburan gagal senang karena harus tidur tepar di penginapan.

#2 Arrange liburan sendiri meski repot tapi banyak belajar
Liburan ini bukan kali pertama saya arrange jadwal sendiri. Ternyata mudah dan menyenangkan. Senangnya karena kita bisa memilih, which side are you? Di sisi backpacker, poshpacker, flashpacker, ato mana nih hahahhaha.. Saya tidak tahu, liburan ini masuk kategori mana, tapi yang jelas prinsip saya – untuk penginapan tidak apa-apa murah. Penginapan yang harganya 100 ribu-an itu not bad lho, aman juga, bersih juga meski misalnya perabotannya lebih jadul dan kurang enak dipandang. Tetapi kalo untuk ke lokasi wisata, apabila bisa effort paket yang lengkap, ambil saja, pasti gak rugi. Mengurus liburan sendiri juga senangnya, kita bisa mengukur sampai dimana kita mau susah dan sampai dimana kita mau nyaman. Lalu kalau apa yang kita pesan (misal penginapan, mobil sewaan, tiket kereta, dll) ternyata gak enak. Ini adalah pilihan kita jadi jangan mengeluh. Dari sini juga kita bisa belajar banyak hal, trial dan error, menambah pengalaman buat ke depan-depannya.

#3 Jangan liburan dengan terlalu banyak orang
Makin rame itu asik, tapi kalau terlalu rame kayaknya gak juga deh ya. Pergi berempat-berlima itu standar menurut saya. Paling maksimal ber5 deh. Kalau sudah lebih dari 5, waspadai konsekuensi ngobrol sendiri-sendiri. Ini yang bisa memecah kesenangan, untuk trip singkat kurun waktu 1-2 hari jumlah orang banyak itu masih meyenangkan. Tapi untuk trip dengan jangka waktu panjang, batasi jumlahnya daripada jadi tidak seru banyak konflik. Lalu usahakan untuk berjumlah genap, biar gampang bagi-bagi soal uang.

#4 Musyawarah untuk mufakat dijunjung tinggi
Kalau liburan dengan orang lain jangan egois. Segalanya harus didiskusikan dan ditentukan bersama, meski bakal ada satu orang yang akan bagai koordinator, tapi dia tidak berhak memutuskan sesuatu sendiri. Contoh saja ‘mau makan dimana?’ harus dibicarakan dulu, barangkali ada yang gak suka. Liburan bersama itu berarti mau memperhatikan orang lain. Kalau salah satu ada yang sakit, kita harus mengalah, masa kita harus lanjut jalan-jalan sedangkan teman kita ini sudah tidak kuat. Guyub-guyub dehhhh.. Kalau gak mau gini, pergi sendiri lebih baik.

Sekian tips singkat perjalanan ya hehehe.. Jarang-jarang juga saya kasih-kasih tips kayak gini. Semoga bisa menjadi gambaran untuk turis-turis lainnya.. Wakkakakka.. Ohya, sebetulnya ada satu anggota petualang lagi lho yang ikut perjalanan ini, yap! Creamy! Hahahaha.. Saya sengaja ajak Creamy, katanya dia pengen naik gunung merasakan sejuknya Bromo. Haesshhh.. Kapan-kapan ikut lagi ya Cream. ‘Ok, Ci!’

Alooo semua!

Saturday, December 27, 2014

Here We Come, Bromo!

Sunday, 21 December 2014
Location : Pondok Guest House, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Bakso Bakar Pak Man, Toko Oleh-Oleh di sudut Kota Malang, Hotel Armi, Soto Madura

Dok.. dok.. dok.. Terdengar bunyi ketukan pintu agak keras. Masih belum sadar juga saya, ketukan berikutnya bikin saya kaget, ehhh jam berapa ini, waduhhh kita pada ketidurannn.. Saya bangun, gak lama Nci, Uut, dan Ndut juga bangun. Uut langsung ke kamer mandi. Saya cek hp, mampus, saya salah pasang alarm, lalu saya buka pintu. Mas Jamal – temannya teman saya, orang tour travel yang mau antar kami ke Bromo senyam-senyum. Saya buru-buru minta maaf karena ketiduran, saat itu sudah sudah jam 12 malem kurang. Mas Jamal mempersilahkan kami untuk beberes, terus di sebelahnya ada Bapak Guest House yang ketawa-ketiwi. Kacau banget ya liburan ini. Lanjut pada cuci muka, dan beres-beres barang. Saya rada bersyukur juga ni kamernya di depan parkiran persis jadi bisa digedok2 sama Bapak Guest House & Mas Jamal. Maap yaaa.. aduh kita ni cewe-cewe slebor.

Setengah 1 kami baru pergi meninggalkan Batu, pamitan dengan Bapak Guest House, lalu masukin barang ke mobil. Siap yuk mari kita pergi ke Gunung Bromo dengan mata 5 watt. Di mobil masih bisa tidur lagi sekitar 2 jam lagi. Perjalanan dari Batu ke Bromo tidaklah jauh, tergantung pakai jalur yang mana. Mas Jamal pakai jalur tercepat, jadi kira-kira hanya 3 jam saja, wah cepet banget ya. Ya udah kami bobo sebentar di tengah kegelapan malam, sekali-kali Uut atau saya mengajak ngobrol Mas Jamal. Ternyata habis ini bulan depan dia dapet job lagi dari kakak angkatan Uut dan saya waktu SMA untuk ke Bromo dan ziarah. Wah syukur ya Mas kenalnya kami dengan Mas membawa rejeki. Aminnnn.. Nah, Mas Jamal ini orangnya asik lho, bisa diajak ngalor ngidul, dan memang usaha travelnya cukup sukses. Dia memilih untuk bawa sendiri tamu-tamunya untuk menjamin kualitas servis. Mobilnya juga mobil sendiri.

Jalan sudah agak meliuk-liuk artinya kita sudah berada di kaki gunung. Waaa makin deg-degan nih. Lalu cuaca udah mulai berlebihan dinginnya, kami sudah pakai jaket-jaketan. Kami melalui dusun penginapan (biasanya yang mau trekking nginep di sini, nama desanya Desa Ngadisari). Gak lama, kami sudah di tempat parkir mobil pribadi. Mas Jamal mengantar saya ke loket penyewaan Jeep. Waktu itu jam 3 pagi, dan suasana rame kayak pasar. Serius deh. Dulu tahun 2010 saya ke Bromo, ramai, tapi tidak se-ramai ini. Di jalan saja sudah desek-desekan. Banyak banget anak muda kece yang kayaknya dari kota-kota besar di Indonesia. Baju dinginnya lucu-lucu, pake yang berbulu-bulu dan kelihatan mahal. Banyak juga yang tenteng2 kamera DSLR, sudah siap banget untuk memotret sang gunung yang cantik. Terus bejejer pemuda-pemuda ganteng yang enak dilihat. Bromo di kala liburan memang lokasi untuk cuci mata hahhahaha.. Sebelum caw ke tempat jeep, kami ke toilet dulu, lalu di situ banyak tukang jualan. Cuaca sepertinya kurang dari 10 derajat, dingin banget. Adek saya beli sarung tangan dulu, murah 5000 sepasang bagus pula.

Muka bantal, Uut ekspresinya lucu parah

Ini adalah kali pertamanya untuk Nci, Uut, dan Ndut ke Bromo. Mereka saya rasa lebih excited daripada saya. Saya sih seneng bisa jalan-jalan lagi ke sini, tapi sudah tidak terlalu penasaran kayak dulu yah. Paling penasarannya dengan Bukit Teletubbies dan Pasir Berbisik yang dulu belum sempat saya kunjungi. Dulu hanya ke Pananjakan untuk liat sunrise dan ke kawah, paket yang paling murah itu. Tapi kali ini kami pilih paket yang paling mahal 700ribu/jeep. Kalo tidak salah yang paket biasa itu 550rb, tidak terlalu jauh harganya. Jadi ya sekalian saja lah daripada pulang-pulang penasaran hehehhee.. Berlanjut petualangan kami di mobil Jeep. Kira-kira 30 menit sampai 1 jam waktu perjalanan dari parking spot jeep ke Pananjakan, ini lebih singkat dibandingkan beberapa tahun yang lalu, ternyata ada jalan baru yang lebih dekat, kalau dulu jeep harus lewat kaldera. Kami naik ke Pananjakan 1 ya yang memang lokasi mainstream untuk melihat sunrise heheheh.. Kan kami turis jadi ikut yang mainstream-mainstream saja hahahhahah..

Bromo-selfie di tengah keramaian

Pengunjung Bromo membludak parah hari ini, jeep tidak bisa naik lebih atas lagi. Ya udah kami turun deh terus jalan. Menurut Mas supir (duh lupa namanya siapa ya), untung kita datengnya lebih pagi jadi biar pun kudu jalan tapi ga terlalu jauh, kami masih belum paham sih karena gelep banget gabisa ngira-ngira sebenarnya apa yang terjadi di sini. Ya udah jalan deh kita kira-kira 500 meter, ngos-ngosan. Oksigen dikit booookkk.. Udah mana muka bantal gini, haduuuuhhhh.. Sesampainya di Pananjakan 1, orang udah buanyaaakkkkk banget di situ. Kayaknya kami hanya bisa berdiri di tengah orang-orang yang padat. Saya jadi rada bete. Dulu pas tahun 2010, orangnya tidak terlalu banyak, bisa menikmati sunrise dengan lebih tenang, dan kebanyakan bule-bule yang beretika. Sekarang Pananjakan ini dipenuhi anak-anak alay bin ajaib. Huhuhu.. Terima nasib.

Sunrise di tengah ramainya orang

Ga lama, matahari lama-lama muncul, dari gelap, terang-terang-terang dan itu dia si matahari. Sunrise tidak terlalu sempurna, berhubung ini musim hujan, jadi mendung. Saya mesti melewati jeruji jeruji besi demi bisa melihat sunrise lebih dekat. Pusing deh kayak gini, rame banget.. Kira-kira di Pananjakan sekitar 1 jam, foto-foto cantik, ngobrol bentar, menikmati susunan gunung-gunung yang terkesan oh so purba banget – pemandangan ala-ala kalender dan kami turun. Turunnya aja pake desek-desekan. Nyebelin yah hahahaha.. Kayaknya kurang puas aja gitu di Pananjakan. Nah pas turun, kami baru ngeh dengan apa yang dikatakan oleh Mas Supir, boookk jeep bergelimpangan dimana-mana, rame parah, dan itu pun masih ada yang baru dateng. Ngantri gila deh. Lalu kami mencari jeep kami yang berwarna merah, dan kita caw ke spot selanjutnya. Masih ada 3 lokasi lagi nih yang kami datangi.

Jeep-jeep bergelimpangan

Naik jeep itu enak-enak enggak. Perut terasa digoncang-goncang. Isi perut kayak mau keluar. Apalagi dengan medan jalan meliuk-liuk yah. Perjalanan turun ke Bukit Teletubbies, sekitar 30 menitan sudah sampai di Bukit Teletubbies yang sedang hijau! Syukurlah pemandangannya ijo-ijo begini. Menurut Mas Supir, kalau musim kemarau, bukit jadi cokelat jelek tapi bisa lihat sunrise, kalau musim hujan bukit bagus hijau, tapi sunrise ga keliatan. Hahaha.. Memang harus memilih ya. Nah, saya seneng banget sama Bukit Teletubbies keren lho pemandangannya, pengen gelundung-gelundung, sayangnya di sini hanya diberi waktu setengah jam saja, foto-foto yang banyak karena kapan lagi kemari yah. Berasa di New Zealand saja nih. Habis itu kita ke Pasir Berbisik, konon katanya kalau anginnya besar di lokasi ini sering terdengar bunyi-bunyian, seolah-olah pasirnya yang berisik. Pasir berbisik seperti padang pasir saja sih, tapi kami berhasil membuat foto-foto ala Syahrini di sini. Thanks untuk pashminah Mama yang Ndut bawa dari rumah hahahhahaha..

Bukit Teletubbies, bikin pengen gelundung-gelundung

Macam video clip saja nih

Lokasi ketiga tentu saja adalah Kawah Bromo. Saya sebenernya agak kapok jalan ke sana, jauh dan sedikit berbahaya. Tapi kan yang lain belum pernah, ya udah ikutan deh ya. Kami sengaja juga gak naik kuda, bukannya apa-apa naik kuda mahal banget 100 ribu/sebalik. Hahhahaha.. Kempes dong dompet. Yuk semangat naik ke kawah, jalanan sama ramainya dengan yang sudah-sudah. Dimana-mana orang, malesnya banyak alay dimana-mana yang sok akrab sok deket gitu. Hihhhh.. Apaan siii ni orang.. Kami terus berjalan sambil sesekali foto, lama-lama pegel. Nyampe di depan tangga yang menuju ke kawah, ada rombongan dari pura memakai baju putih yang mau kasih seserahan ke gunung. Nah kalo ini jadi berasa di Bali. Hahahha.. Gagal fokus. Kami naik bareng sama mereka, hebat lho Bapak-Bapak Ibu-Ibu semangat gitu dan keliatan kaga cape, saya udah ngos-ngosan sesekali nyelende istirahat lalu lanjut lagi. Akhirnya tangga ini pun berhasil kami lalui. Terima kasih Ya Tuhan, dan di atas bagaikan mati gaya.

‘Udah ni gini aja’ kata Nci.
‘Ya udah gini aja terus giman hahhaha..’ saut Uut.
Kami berempat liat-liatan. Anti-klimaks. Helloooo udah jauh-jauh udah cuma liat kawah aja, mana bau belerang juga kan di sini hahahhahah..
‘Poto dulu deh poto, masa udah cape-cape ke atas ga poto..’ saya nimpalin
‘Ci, udah males nih foto-foto, capekkk pegel..’ Adek saya, si Ndut mukanya udah cape banget

Kecapean, males foto

Habis itu ya sudah kami memutuskan turun sehabis jepret-jepret bentar. Hell yeah. Jalan naek 1 jam, di atas 5 menit doank. Turunnya lebih cepat tapi harus lebih hati-hati yah karena jalannya licin banyak pasir. Untunglah kami selamat sampai bawah. Di bawah lalu saya merasa rada laper gitu, beli bakso (lagi) deh di Mamang-Mamang plus minum susu. Sungguh keduanya ini adalah perpaduan yang salah karena nyatanya bikin saya muntah di perjalanan pulang hahahhahha.. Balik ke tempat parkiran, lalu kami pulang deh ke Malang, ke Malang? Iya nih ke Malang sudah bukan ke Batu. Malam ini kami menginap di Kota Malang. Yeahhhhh..

Sampai Malang masih siang jam 2an, lalu kami memutuskan makan di Bakso Bakar Pak Man yang legendaris. Pengen juga tadinya ke Toko Oen tapi muahal banget ya udah ngebakso aja lagi. Bakso bakarnya enak, bumbunya lengket dan nempel banget. Habis itu kami diantar ke toko oleh-oleh habis belanja belinji. Saya & Adek ga beli macem-macem karena Mama sudah wanti-wanti supaya gak usah beli macem-macem. Lanjut kami cek-in ke Hotel Armi, Hotel Armi ini murah banget lho hanya 120ribu saja permalam, bisa booking via telepon tanpa harus transfer pula. Nah, letaknya ni hotel di tengah kota, jadi gampang kalau kami mau ke stasiun besok tinggal naik angkot saja. Pamitan dengan Mas Jamal, dan kami tepar di kamar masing-masing. Huwahhh kaki guehh, tenggorokan gueh. Di titik ini merasa pengen segera pulang ke rumah, badan remuk redam, aduh apa ini pengaruh umur ya jadi lebih cepat capek hahahhaha..

Malam harinya kami jalan-jalan di sekitar hotel dan menemukan Warung Soto Madura. Geez! Malam hari dihangatkan dengan soto Madura, begitulah malam terakhir kami di liburan panjang ini. Semoga lain waktu bisa mengunjungi Batu Malang dan Bromo kembali. Amin.. Tidur kami nyenyak, kelelahan.

Friday, December 26, 2014

Rainy Day in Batu

Saturday, 20 December 2014
Location : Cemara Homestay, Jungle Fast Food Restaurant, Museum Satwa, Batu Secret Zoo, Jatim Park 1, Warung Bakso depan Jatim Park 2, Pondok Guest House

Ngulet-ngulet. Wah koq dingin ya, ini di Cirebon koq jadi dingin. Eh salah ini kan di Batu. Bangun pagi di Batu ternyata gak gampang, cuacanya yang dingin, terlebih semalam habis hujan bikin, bikin suhu pagi kira-kira 16 derajat saja. Mandi pun jadi malas, hahaha.. Uut untungnya sudah baikan, udah gak pusing dan badannya sudah tidak terlalu panas. Tapi yang heran, mendadak tenggorokan kami berempat jadi serak, koq ga enak ni tenggorokan, mati lha kita kayaknya pada kecapean semua jadi radang tenggorokan. Apalagi makanan kami  ga teratur dan cenderung sembarang, kayak kemaren nih ya, makan Popmie. Sehabis sarapan lalu kami, siap-siap untuk pindah penginapan. Kemarin untungnya sudah dapat penginapan baru ga jauh dari Cemara Homestay, namanya Pondok Guest House yang murah banget hanya 150 ribu saja, toh kami ga nginep sebenarnya hari ini karena jam 12 malam nanti langsung caw ke Gunung Bromo untuk lihat sunrise besok paginya.

Beres pindahan. Lanjut kami masih penasaran dengan Jatim Park 2. Pemberhentian pertama adalah Museum Satwa. Saya sih taunya museum ini tu lokasi video clipnya The Virgin, baca-baca memang banyak yang merekomendasikan ke museum ini karena katanya ‘kayak museum luar negeri’ hesedehhh.. Jadi penasaran kan. Pagi-pagi gini aja rame yang masuk, ya udah agak ngantri, dan siap eksplor museum yang bentukan luarnya ini seperti gedung putih. Heboh banget deh. Masuk-masuk sudah disambut dengan sangkar burung raksasa, gedeeeee banget, sampe kita bisa masuk ke dalam dan foto-foto. Terus, ruangan kedua kami disambut oleh replika tulang dinosaurus, yang ga kalah gede juga. Nah di ruangan ini lalu dipajang banyak diorama-diorama dengan ukuran asli, yang sumpah emang hewan-hewan di diorama itu persis banget kayak asli. Dan memang bener kata orang-orang, museumnya kayak museum luar negeri wkakkakakka.. Tempatnya lapang, jadi untuk liat-liat dan pastinya foto-foto ga desek-desekan. Asik banget dehhhh..

sangkar burung raksasa, ada si Dino mangap, buaya (darat)

Exploring Museum Satwa membutuhkan waktu 1-2 jam saja, yang paling bikin amaze ya diorama-dioramanya itu, yang keliatan banget buatan profesional bukan buatan Abang-Abang (apalah yang dimaksud buatan Abang-Abang wkakakkaka). Eksterior dan interiornya niat banget, dan keurus – bersih mengkilat dan gak bau jadul. Wangi plus museumnya ga serem. Gimana anak kecil ya, saya aja seneng banget main ke museum ini. Buat sebuah museum edukasi gilak top banget lha Museum Satwa Batu! Terus udah capek udah agak siang juga mampir kita untuk makan di Jungle Fast Food yang berada di dalam Pohon Inn. Ga sengaja juga kami makan di sini, tadinya hanya mau liat-liat tapi koq menarik ya hahaha.. Ya udah isi bensin dulu sebelum jalan lagi.

Keren kan dioramanya

Konsep Jungle Fast Food Restaurant ini menarik sekali lho Gaes, jadi premisnya adalah makan bareng penghuni kebun binatang. Di pojokan ada kaca besar transparan yang nyambung dengan kandang sodaranya macan, ada leopard dan jaguar. Serius nih? Terus yang menariknya lagi, jadi ada bagian lantai yang bisa berputar, kalau kita makan di bagian lantai itu, otomatis akan berputar mengelilingi restoran termasuk deket si kandang. Asik kan. Jungle Fast Food Restaurant ini adalah tempat makan buat yang nginep di Pohon Inn, tetapi bisa juga buat orang luar, menunya macam-macam. Jadi udah tinggal tunjuk-tunjuk saja, semuanya sudah masak tidak perlu menunggu lagi. Makanannya cocok dengan lidah kami, tapi harganya 2 kali lipat ya. Makan di situ kisaran 15-30ribu seporsinya. Sebenarnya tidak terlalu mahal untuk ukuran restoran.

Contoh selfie bareng leopard

Makan bareng leopard dan jaguar, asik-asik aneh, karena mereka agak malas-malas gak jelas gitu. Kerjaannya kalau ga tidur cuma celingak-celinguk. Mungkin sebenarnya mereka pengen nerkam kita kali ya yang pada makan di sini. Sekalinya si macan datengin kaca di deket para pengunjung, langsung keluar jurus-jurus foto selfie hahhahahah.. Aneh bin ajaib deh. Interior dari resto ini juga lucu, jungle banget.. Animal print dimana-mana termasuk di kursi dan sofa. Weheheheh.. Gimana udah berasa makan di hutan apa belum? Kayaknya kurang nih, kudunya piring juga diganti sama alas daun. Hahahaha.. Kenyang, lanjut kami ke Batu Secret Zoo, kemaren gegara hujan hanya sempat lihat bagian primata saja yang letaknya paling depan.

Mengelilingi Batu Secret Zoo juga menjadi tantangan tersendiri, ya ampun Tuhan luas amat yak, lagi-lagi kaki ini harus full stamina deh. Kalau dibandingkan kebun binatang lain di Indonesia, Batu Secret Zoo memang juara sih. Hewan-hewannya sehat-sehat ini yang paling penting, ga pada kurus, pokoknya ‘keliatan hepi’. Koleksinya juga lengkap, sayangnya pas di sini eh batere kamera saya udah abis jadi gabisa foto banyak. Huhuhu.. Sebel.. Yang saya suka dengan zoo satu ini adalah pembagian zona-zona nya yang rapih, seperti di awal disuguhi primata, lalu lanjut ke mamalia pengerat, reptil, ikan, hewan-hewan savanna, harimau dan singa yang punya zona sendiri (suasananya agak mencekam), dll. Saya baru ngeh, oh ternyata yang zona burung-burung memang ditaruh di Eco Green Park, karena di sini gak ada. Perjalanan kemudian ditutup dengan wahana-wahana permainan air, kantin, dan toko souvenir.

Hello Grizzly dan Lion!

Waktu menunjukkan waktu pukul 3 sore, wah masih bisa nih kita ke Jatim Park 1, pake bus pengantar. Ada haltenya dekat Museum Satwa, ya udah beburu kita cegat. Menyebalkannya liburan di musim hujan, nyampe-nyampe Jatim Park 1 kami lagi-lagi terjebak, terjebak karena hujan. Ujannya juga gak kira-kira, gede banget. Lebih heboh daripada hujan yang kemarin. Ya udah kami lagi-lagi duduk-duduk di kantin, makan pop mie hahahhaha.. Capaiii dehhh.. Ngobrol sana-sini sambil ngeliatin para pekerja yang lagi ngebangun museum baru – Museum Tubuh (belum terlalu jadi). Satu setengah jam berlalu dan hujan masih tetep gede banget, padahal ni terakhir masuk sebelum gate closed itu jam 5 ya udah gak ada harapan ke Jatim Park 1, kita pulang aja dengan menunggu bus transfer. Jeng-jeng-jeng.. Busnya kaga dateng2, dan kata orang jualan di situ busnya udah abis. Kita kaget kan wah gimana dong pulangnya. Datang lah seorang Bapak-Bapak dengan seragam Jatim Park Group, tau kami ni terjebak gak bisa pulang ke Jatim Park 2, jadi Bapak ngomong2 di walkie talkie kabari orang transport bahwa ada yang belum kejemput. Eh booookkk.. Kami kira yang dateng bus, ternyata bukan bus, tapi mobil innova wkkakaka.. Kami berempat dianter mobil ke Jatim Park 2, udah berasa punya supir dan mobil pribadi. Mayan deh.

Museum Tubuh Bagong masih lagi dibangun

Memang yah hujan ini merusak rencana liburan, dua hari kami di Batu, dua hari juga keujanan, untung ada jaket plastik yang melindungi kita dari derasnya hujan halah sok sinetron. Udah sore mau malem perut udah rada keroncongan lagi, yuk makan. Di depan Jatim Park berjejer itu warung bakso, wah ya kalo ke Batu Malang gini kudu banget makan bakso. Ya udah kami mampir ke salah satu warung bakso, dan ternyata bakso nya memang enak. Dingin-dingin gini memang paling pas makan bakso! Harganya ga terlalu mahal juga 15 ribu saja. Sehabis itu kami pulang jalan kaki k tempat penginepan baru, dan leha-leha mandi-mandi, meluruskan kaki untuk perjalan ke Bromo malam ini. Mayan juga ada TV jadi bisa nonton TV dulu sambil ngegosip. Maklum nih cewe-cewe semua hahaha.. Pondok Guest House ini cukup recommended sobbb.. Selain karena harganya murah banget, bangunannya baru, kasurnya empuk, dan kamar mandi dalem yang bersih. Ya paling yang agak gimana itu hordennya aja, engselnya bisa copot sendiri wkakakakka.. Ati2 ya jangan sampe kena kepala..

Di luar penginepan, sekitar jam 7an jalanan udah mule rame. Nah posisi kamer kita ni pintu dan jendela ngadep luar persis, gak ada pager, jadi bisa ngintip. Oh iya ini kan malam minggu ya, dan ada pasar malam. Rame banget, mesti banyak makanan. Tapi pas itu kami udah terlalu pegel aja buat keluar. Teparlah kami berempat, sebelumnya sudah pasang alarm supaya setengah 12 malam bangun untuk siap-siap ke Bromo. Bagaimanakan petualangan kami selanjutnya? Hemmmm.. Hehehe..

Thursday, December 25, 2014

Kota Batu Dingin-Dingin Empuk

Friday, 19 December 2014
Location : Stasiun Malang, Cemara Homestay, Eco-Green Park, Batu Secret Zoo, Batu Night Spectacular

Selepas dari kemalangan hampir ketinggalan kereta, tidur dengan tempat apa adanya di kereta, akhirnya kami sampai deh di Kota Malang! Tepuk tangan dulu, harus tumpengan kayaknya, berhubung beberapa jam sebelumnya kami hampir saja batal liburan karena kebodohan. Parah banget yah. Nah, kami sampai di Stasiun Malang jam 4 pagi, ramai deh stasiunnya, lalu di seberang stasiun sudah menunggu Bapak-Bapak Angkot yang wes biasa nganter para wisatawan ke Kota Batu. Btw, Kota Batu ini jaraknya hanya 15 kilometer dari Kota Malang, sebenarnya udah tidak termasuk wilayah Kabupaten Malang ya, hanya saja karena jaraknya sangat dekat berasanya seperti Sleman-Kaliurang atau Bogor-Puncak.  Kota cantik ini berada di kaki Gunung Panderman, dan dikelilingin banyak gunung (bisa dicek di Wikipedia). Udara di sini 12-20 derajat saja, dingin-dingin empuk gitu deh.

Bagaimana ke Kota Batu dari Stasiun Malang? Gampang sekali, liat aja tu di seberang udah banyak angkot kan, nanti Bapak Angkot akan pedekate ke penumpang, pastikan kalau mobil itu adalah angkot ya, bukan mobil pribadi. Nah, angkot ini akan mengantar kita ke Terminal Landungsari (kode angkotnya AL/ADL). Bayarnya 3 ribu, sehabis itu, ganti angkot kita naik yang jurusan ke Batu (BL/BJL/BTL), angkotnya warna pink yang saya naikin ya jurusan BJL karena kami mau ke homestay yang letaknya di depan BNS bayarnya 5 ribu saja. Murah dan mudah lho. Posisi kami ke sana pagi-pagi banget gitu sekitar jam 5-an. Tapi Bapaknya baek-baek mau ngangkut, terus di dalem diajak ngobrol pula. Top lah Pak Angkot Batu!

Sesampainya di homestay, yang masih terlalu pagi, jam setengah 6. Ya udah kan kami duduk-duduk dulu di depan homestay, untung ada tempat duduk. Nah jadi begini temans, di rumah depan itu ada 2 pintu. Pintu utama yang kalo kita ngintip di jendela itu kayak ruang tamu bentukannya, dan pintu satu lagi gak tau pintu apaan. Karena kita berempat udah kepengen rebahan kan lalu ngiseng bunyiin lonceng yang ada di depan pintu misterius itu, apa pintu depan ini rumah penjaganya kali yah. Ehhh ternyata tau ga, yang keluar adalah Mas-Mas ngucek2 mata dan bilang kalau dia tamu homestay juga. Lanjut kami gak enak banget dan minta-minta maaf. Hari kedua, dan lagi-lagi menemui kejadian janggal nan ajaib. Hadeuhhh apalah salah kami ini ya Tuhan. Gak lama setelah insiden itu, ada Ibu2 agak tua datang, Ibu ini yang jaga homestay, kami lalu diantar ke kamar untuk berempat. Asik akhirnya bisa rebahan.

Info tentang Cemara Homestay ini saya dapatkan dari teman saya yang pernah main ke Batu juga. Dia bilang Ibu yang punya baik banget, gak pelit, lalu juga ramah dan suka mengobrol. Sayangnya pas saya ke sana, Ibunya sedang di Surabaya jadi tidak sempat bertegur sapa. Uut yang berkomunikasi via telepon juga bertestimoni yang sama ‘Joooo.. Ibunya baek banget Joooo.. Kita dikasih sarapan gratis’. Dan benar juga pada hari itu kami dapat sarapan gratis, padahal seharusnya tidak dapat (baru dapatnya besok pagi). Waaaa seneng banget dehhh.. Doyan gratisan memang hahahhaha.. Ekspetasi saya mengenai sebuah penginapan homestay sebenarnya tidak berharap terlalu banyak, tetapi pas masuk ke kamar Cemara Homestay, ohmenn.. Cozy dan homy sekali. Seriusan, saya mau punya kamar kayak gini. Tapi sayang lantainya agak lengket, jadi kami kudu ngepel-ngepel dulu. Kamar mandinya pun bersih, kloset duduk & shower. Airnya dingin parah. Hahahha.. Namanya juga Batu.

Cemara Homestay highly recommended 

Mandi segar dan kenyang sarapan, yang tadinya agak males-malesan pengennya tidur doang di kasur, mendadak jadi semangat 45 untuk segera menjajali tempat-tempat wisata di Batu. Ya udah yuk mari ke Jatim Park 2. Jatim Park 2 ini adalah pengembangan dari taman bermain saudaranya Jatim Park 1. Jatim Park 2 terdiri dari Hotel Pohon Inn yang bentukannya bener-bener kayak pohon, Museum Satwa, Batu Secret Zoo yang digadang-gadang kebun binatang terbaik se-Indonesia, dan Eco-Green Park - wahana baru nih ya. Jatim Park 2 ini luaaaaasss banget, jadi sebaiknya sih jaga stamina dan energi untuk jalan-jalan di sini, kaki yang sudah lama tidak olahraga bakalan sedikit terkejut-kejut.

Mau gak pegel? Sewa ini!

Dari penginapan kami tinggal jalan kaki aja sekitar 500 meter, gak jauh koq. Sesampainya di lokasi, pagi-pagi ternyata udah rame banget. Maklum ya namanya juga musim liburan hehehe.. Libur anak sekolahan juga kan. Lalu kami memutuskan untuk membeli tiket terusan Paket Sakti yang berlaku selama 2 hari ke semua lokasi wisata Jatim Park Group (jatim Park 1, Jatim Park 2, dan Batu Night Spectacular). Harganya lumayan mahal yaitu 175ribu, tapi ya mayan deh jadi dua hari ini udah ga keluar-keluar uang lagi buat jalan-jalannya. Dan enaknya pakai tiket ini kita jadi tidak usah terburu-buru menghabiskan satu lokasi wisata dalam sehari penuh karena besok masih bisa datang lagi. Berhubung ini juga musim hujan, jadi cuaca tidak terprediksi, dan Batu itu curah hujannya tinggi sekali. So, siap-siap saja yang liburan kemari di bulan Desember-Januari, lagi deres-deresnya.

Sightseeing Jatim Park 2

Destinasi pertama dari Paket Sakti ini adalah Eco Green Park, tadinya kami kira ini taman apaan, ekspektasi ah paling cuma sejam dua jam aja main-main di sini. Nyatanya kami menghabiskan waktu 4 jam di Eco Green Park. Jujur ya, agak sulit mendeskripsikan taman wisata yang satu ini, menurut saya sih agak absurd, tadinya dikira hanya taman yang mempertontonkan hasil karya daur ulang saja, tapi makin jauh berjalan-makin bingung juga saya, sebenarnya ini taman apaan. Jadi sehabis pameran karya seni daur ulang, kami disodorkan dengan taman burung, reptil, dan buah-buahan. Di tengah-tengah juga ada peternakan hewan ternak, kemudian taman air yang bisa mengeluarkan buny-bunyi lucu, wahana permainan yang sama absurdnya. Bingung kan sebenernya ni taman mau ngapain.. Tapi perlu diacungi jempol sih Taman Burung dan Foodcourtnya. Emang keren, rapih, dan enak banget dilihat..

Salah satu permainan absurd, tembak-tembakan di hutan mini

Udah senut-senut ni kaki padahal baru di satu tempat, sekitar jam 2an kami ke Batu Secret Zoo, ketika itu langit udah mendung-mendung, bau-bau mau hujan nih ya. Belum ada seperempat perjalanan, brassss ujan gede banget, kami terjebak di dalem kebun binatang, ya udah makan Popmie dulu jajan jajan dulu ditunggu 1 jam ga berenti juga. Lalu, Uut ketika itu badannya udah ngerasa gak enak, kami memutuskan ya udah deh pulang aja ke homestay daripada si Uut pingsan di kebon binatang kan repot juga. Nci dan saya keluar beli jas ujan, lalu kami berempat pulang jalan kaki hujan-hujan. Well, kadang turis kudu ngalah dengan cuaca. Hujan it uterus berlanjut sampai jam 6 sore baru reda, Uut badannya makin panas, udah minum obat macem-macem. Terus Nci, Ndut, dan saya cari makan di Batu Night Spectacular (BNS) yang selemparan batu doang dari homestay. Beli makan lihat-lihat sebentar, pulang dan tidur, Sampai bertemu di hari berikutnya. Benar-benar melelahkan yah..

Spot favorit, foodcourt Eco Green Park

Wednesday, December 24, 2014

Mengguncang Malang, Batu, dan Bromo

Thursday, 18 December 2014
Location : Stasiun Lempuyangan, Stasiun Tugu Yogyakarta

Heiho! Sudah lama ya tidak posting cerita soal libur-berlibur, belakangan memang sedang jarang ke luar kota apalagi ke luar negeri (ngarep banget), tahun ini miss gak pergi-pergi jauh. Ya irit duit, harus prihatin iya gak? Nah, senangnya akhir taun ini dapat kesempatan untuk mengunjungi Kota Malang, Kota Batu, dan Gunung Bromo. Tiga daerah ini akan disambangi kurang lebih 5 hari dari tanggal 18 December – 22 December 2014. So, stay tune ya lima hari berturut-turut ini hahaha.. Akan saya bagikan cerita-cerita seru selama perjalanan kacrut ini. Siapa saja kah personelnya? Yap, ada saya tentunya, lalu ada Adek saya si Ndut, Uut – teman SMA + kuliah anak Cirebon gaul yang tidak punya mata kaki (horror men) dan Nci – teman kuliah + satu kos bareng selama 5,5 tahun partner in crime dalam acara bergosip. Uut dan Nci sudah kenal juga dari jaman semester 1 kuliah. Dulu awal-awal kami di Jogja, ‘pernah’ sekali dua kali jalan-jalan bareng, tapi habis gitu kami sibuk dengan urusan masing-masing, dan voila baru pergi-pergi bareng lagi ya sekarang ini.

Uut & Nci berangkat dari Jakarta, sampai Jogja tanggal 18 pagi. Begitu juga Adek saya berangkat dari Cirebon menuju Jogja kemarin. Jadi meeting pointnya memang Jogja, malam harinya kami barulah berangkat caw ke Kota Malang. Sebenarnya Malang ini hanya kota melipir sesaat saja, karena tujuan utamanya itu Kota Batu dan Gunung Bromo sebagai puncak dari liburan ini. Nah, liburan ini adalah ide Uut. Uut yang sudah bekerja setaun dan dapet THR memutuskan untuk menggunakan uang THRnya untuk jalan-jalan, 2 bulan lalu Uut tiba-tiba menghubungi saya lalu mengajak jalan-jalan. Saya sebenarnya agak males ya, karena kalo liburan itu mengeluarkan biaya yang pasti tidak mungkin sedikit, apalagi liburan besar seperti ini per-orang pasti keluar uang sampai 1,5 juta rupiah untuk bayar ini itu. Tapi habis itu saya tanya Mama saya apa boleh, lalu Ndut kan pingin ke Bromo juga. Tidak disangka Mama mengijinkan saya untuk pergi. Ya sudah, seneng ya, dengan catatan – untuk uang kereta dll pakai uang sendiri, pas jajan di sana baru Mama kasih. Terima kasih banyak Yayasan Ayah Bunda.

Nah, 2 bulan itu juga kami mempersiapkan itinerary, mau kemana saja dan mau ngapain saja. Penginapan diurus by phone, lalu juga dealing dengan Mas Jamal – tour travel rekan dari teman saya, yang bersedia mengantar kami ke Bromo. Untung dulu saya pernah ke daerah-daerah sini juga, jadi tidak terlalu buta-buta amat dalam arranging jadwal dsbnya. Searching punya searching, ternyata sekarang Kota Batu memiliki lebih banyak tempat wisata ya, dan jangan heran dengan tiket masuknya, harganya fantastis, jadi kami harus timbang-timbang nih mau kemana aja yang sesuai waktunya, dan gak bikin bangkrut. Dengan terpaksa juga kami harus merelakan beberapa tempat dicoret karena keterbatasan waktu dan pastinya DANA.

Menginjak pukul 6 sore kami sudah siap-siap pergi ke stasiun, kereta kami berangkat jam 8 lebih 15 menit. Lalu kami telepon-telepon taksi, agak kesulitan mencari taksi gak tau kenapa yah hehehe.. Hampir jam 7 malam kami baru dapat taksi, heuhhhh sebel banget. Lalu, lanjutlah kami ke Stasiun Lempuyangan. Nyantai-nyantai kan turun, sebelumnya kita memang tidak punya firasat apa-apa hahahaha.. Terus tau gak sih kalau ternyata kita salah stasiun! Yang bener itu berangkatnya dari Stasiun Tugu. Taunya pun kocak dari Bapak Penjaga Peron pas dengan pedenya si Uut nyodorin tiket, terus kami langsung liat-liatan dan kepala mendadak pusing. Aduhhh koq bodoh sekali. Lanjut, karena waktu sudah mepet jam setengah delapan lebih sedangkan kereta mau berangkat setengah jam lagi, jadi kami naek ojek dari Stasiun Lempuyangan ke Stasiun Tugu. Pencarian ojeknya pun heboh banget, sampe bikin heboh orang satu stasiun. Sungguhan, udah kayak apaan aja deh. Udah kan dapet ojek dianter ke Tugu lewat jalan-jalan turun meliuk-liuk (lewat perkampungan Kali Code), mennn bayangin lah udah deg-degan setengah mati kita ditinggal kereta api. Nyampe stasiun eh dirampok sama Abang Ojeknya, satu orang 20 ribu gilakkk parah banget, ya udah lah qt udah gak bisa berdebat banyak. Langsung caw ke peron pake acara adegan lari-lari ala Cinta mau mengejar Rangga di bandara, sayangnya ini di stasiun dan yang dikejar pun bukan si ganteng Rangga, tapi si Kereta Api bernama Malioboro Ekspres.


Kami berempat masih sangat-sangat-sangat beruntung. Kereta belum jalan dan udah kami beburu banget cari tempat duduk. 5 menit setelah kami duduk kereta jalan. Wtf abisss.. Hari pertama liburan sudah kacau parah dan rugi bandar! Huhuhuhuhuhu.. Habis itu kami hanya bisa tertawa ngakak aja deh dengan kejadian ini, merasa bodoh, tapi juga merasa beruntung. Dan gilak deh kaki pada pegel karena lari-lari, ngos-ngosan, keringetan, sumpah dehhhh.. Malam tanggal 18 ini kami habiskan di perjalanan, untung keretanya tidak full ya, jadi Uut dan saya memutuskan pindah tempat duduk ke gerbong belakang biar bisa tidur dengan kaki lurus. Ada-ada aja ya hari ini, semoga hari esok ketika di Malang dan Batu tidak usah aneh-aneh banget insidennya. Amin.

Saturday, October 25, 2014

Bubye Tanah Sunda

Monday, 13 October 2014
Location : Pondok 88 Guest House, Kupat tahu Cicendo, Stasiun Bandung

Rasanya sih ingin menambah sehari lagi di Bandung. Tapi ada daya, Adek saya hari ini kuliah siang, jadi kami bersiap menuntaskan liburan singkat di Bandung, pagi ini. Suasana Bandung seperti biasa dingin-dingin sejuk di pagi hari, tidak sepanas Cirebon pastinya. Badan masih lumayan pegel-pegel ni ya hahahaha.. Lalu, gentian mandi pagi. Anton mengantar saya dan Ndut ke Stasiun Bandung ato yang biasa disebut Stasiun Hall (aihhh.. Keren banget lah ya namanya). Jarak dari Ciumbuleuit ke stasiun Bandung tidak begitu jauh, jadi kami bisa lah ya bersantai-santai sedikit tidak terburu-buru.

Anton lalu mengajak makan pagi dulu sebelum masing-masing pulang, karena habis antar saya & Ndut ke stasiun, Anton juga langsung cus ke Jakarta. Mampirlah kita di tempat sarapan yang katanya nge-hits di Bandung – Kupat Tahu Cicendo. Wehh.. Mantafff ya ke Bandung makannya kupat tahu dong biar terasa Sundaana tea.. Kupat Tahu Cicendo ini rame binit lho gaes, padahal ya lokasinya parah deh. Agak masuk gang sedikit, parkir nya buat mobil agak sempit, keluar-masuk lokasi warungnya pun ribet karena itu dekat pertigaan besar dua arah. Nah yang paling bikin uhwow, warungnya ini persis di sebelah tempat pembuangan sampah (TPS). Serius ini, deket TPS, wkakkakakka.. Enak karena ada tambahan vitamin tertentu kali yah hahhhaha.. Parah mennn..

Gimana enak? Kupat tahu nya memang enak! Saya sendiri Cuma nyicip punya Adek saya, saya pesennya lontong kari (lontong opor), mayan juga, tapi tidak sejuara si kupat tahu. Bumbu kacangnya beda dari kupat tahu yang laen. Satu porsi kenyang lho, dan bisa dibilang porsi besar buat ukuran sarapan. Harganya pun murah meriah, cuma 11 ribu satu porsinya. Buat yang doyan kerupuk, di situ juga jual kerupuk, minumannya standar kayak teh, air putih, dan minuman bersoda. Mantaf juga sebelum pulang bisa wisata kuliner dulu hahahaha.. Menurut plang nama, si warung kupat ini sudah berdiri sejak tahun 1967, lama banget ya. Udah banyak banget orang yang jadi langganan sarapan di sini.


Sehabis makan, 500 meter saja sudah nyampe deh Stasiun Bandung. Lalu, saya & Adek pun berpisah dengan Anton. Anton makasih banyak yaaa sudah menemani dua hari ini, hahaha.. Tidak lama, saya & Ndut juga berpisah, kereta Ndut berangkat duluan. Yap demikianlah liburan singkat ala-ala saya. Terima kasih Mama Papa Foundation yang sudah membayari perjalanan ini. Sampai bertemu di liburan selanjutnya!

Note: maap ya gak ad foto, hari terakhir suka kelupaan foto2 hahahaha..

Friday, October 24, 2014

Berasa Anak Gaul Bandung

Sunday, 12 October 2014
Location: Gereja Katedral Santo Petrus, Bandung Indah Plaza, Hummingbird Eatery, Pondok 88 Guest House, Padma Hotel,  Club Deruzzi Dago, Pascal Food Market

Terdengar suara dengan logat Sunda yang khas dimana-mana menandakan Ndut dan saya telah berada di Ibukota Provinsi Jawa Barat. Setelah berhebohria di stasiun, dan saya merasa kenapa semakin kemari Adik saya badannya semakin gede wkakakka.. Lalu kami rada celingukan gitu karena bingung mau numpak taksi yang mana, berhubung Adik saya lebih memahami Bandung, dy bilang naik taksi Gemah Ripah ato Cipaganti juga aman. Akhirnya di depan stasiun kami menaiki taksi Gemah Ripah yang tarif bawahnya adalah 20 ribu rupiah, kami menuju ke Gereja Katedral Santo Petrus. Iya, berhubung ini hari Minggu gak ada salahnya juga kami melipir sebentar ke rumah Tuhan untuk beribadah.

Sesampainya di Gereja, halaman luarnya sudah sesak dengan mobil parkir dimana-mana. Lalu, karena kami mau misa yang jam 10:15 sedangkan ini masih jam 9an pagi. Jadi kita nongkrong dulu di kantin Gereja yang nyaman. Sembari sedot-sedot milktea saya dan Ndut ngobrol ngalor-ngidul kemana-mana. Ngobrolin kabar rumah, gosip terbaru, dan kabar studi masing-masing wkakkaka.. Setelah misa jam sembilan sudah selesai, kami langsung saja pasang badan di depan pintu Gereja karena takut penuh. Di sini kami sempat bertemu dengan kerabat satu daerah, ternyata Tante ini dan keluarganya diundang juga ke nikahan Siska. Memasuki Gereja Katedral Bandung bikin excited sendiri, maklum saya rada Ibu2 gitu suka dengan wisata rohani hahahha.. Saya kagum banget sama arsitektur Gereja peninggalan kolonial di Indonesia, cantik-cantik bentuknya. Dan jujur aja sih, kalo Gereja nya bagus, ngaruh juga kekhusyukan berdoa, no offense Booo..

Yuk mari ke Gereja dulu

Saya suka sekali dengan tiga kaca patri yang ada di atas altar, gambarnya yaitu Tuhan Yesus disalibkan, perjamuan terakhir, dan Tuhan Yesus sedang pelayanan. Di Altar, terdapat tabernakel dengan bentuk yang unik, sekilas mirip Candi Borobudur berwarna putih dan emas. Tabernakel diapit malaikat putih yang memegang lilin. Rasa amaze ini bukan hanya milik saya, karena beberapa orang juga mengabadikan altar dengan kamera ponsel masing-masing. Seneng deh lihat yang cantik-cantik dari tadi pagi. Lalu, di tembok atap tertulis salah satu ayat dalam Alkitab – Matius 11 ayat 28 “Marilah Kepadaku Kamu yang Lelah dan Menanggung Beban” membaca ayat satu ini berasa jleb-jleb juga nih.

Fav Part

Misa berlangsung sekitar 1 jam 15 menit, sepulang dari Gereja, Ndut dan saya muter-muter Gereja dulu untuk cari toilet hahaha.. Habis itu kami ke Bandung Indah Plaza untuk menunggu Anton, teman saya dari TK datang menjemput kami. Anton sudah setaun ini kuliah S2 di Bandung, di UnPar ambil magister arsitektur. Teman saya yang satu ini, memang dari kecil terkenal pintar dan rajin, ceritanya Anton kuliah lagi karena mau jadi dosen di almamaternya, which is kalo dy jadi dosen cucok banget menurut saya, dy orang yang bisa mengajar, jadi ingat jaman SD, buku catatan dan PR dy pasti yang paling beres daripada yang lainnya.

Setelah ketemu dengan Anton dan heboh2 bareng, lalu Anton semacam amazing melihat Adek saya yang sekarang sudah besar hahaha.. Lalu kami merencanakan makan (dan bergosip) di tempat makan yang lagi happening di Bandung namanya Hummingbird Eatery. Keren juga tempatnya, bagian eksteriornya (outdoor) dibuat seperti sangkar burung, sedangkan lokasi non-smokingnya yang di dalam kayak kamar-kamar dan tiap sisi punya konsep yang berbeda-beda. Berhubung sebentar lagi Halloween, mereka memberi dekor tambahan berupa pernak-pernik Halloween yang menurut saya cukup ‘niat’. Para waiter & waitress nya juga pakai kostum Halloween yang lucu-lucu bikin senang hati juga lihatnya.

Mendadak gaul

Okeh, soal makanan dan harga, yang dibilang high ya memang, dilihat tempatnya juga bisa ditebak harga makanannya sekitar 60 ribu ke atas. Tapi memang mereka menjual ambience juga jadi ya boleh lha kita bayar segini. Saya waktu itu makan Mom’s Chicken curry yang lebih mirip nasi opor ayam sebenarnya, adik saya makan Oriental Fried Rice, dan Anton pesan Sandwich Smoked Beef & Double Cheese. Minumnya standar-standar aja kayak lemontea & icetea. Waktu itu rame banget posisi restorannya, dan entah kenapa koq malah jadi lama banget yah pesen makannya, terus pesenan Ndut rada ketinggalan – kayaknya sih mereka kelupaan. Hmm.. Karena hal ini saya sih jadi agak illfeel gitu hahahaha.. Habis kayaknya mereka agak semrawut gitu, Mbak-Mbak waitress nya grasak-grusuk sampe ada nampan jatoh yang cukup ngagetin orang makan yang dideketnya. Rasa makanannya standar, gak yang enak banget, enak tapi yaa not really special. Kalo boleh saya kasih skor, 5 stars for place, 3 star for foods & beverages, and 2 star for services.

Habis makan di Hummingbird yang kita manfaatkan sekali lokasinya sebagai background foto-foto cantik hahaha.. Ya udah kapan lagi sih kemari, jadi harus dipuas-puasin lha foto2nya. Kami cuz naro barang di tempat penginepan kami di daerah Ciumbuleuit (depan UnPar), tepatnya di Pondok 88 Kost & Guest House yang oh ternyata banyak sekali Kokoh-Kokoh Cakep Bandung unyu-unyu yang kos di sini. Menginap di guest house ini sangat murah meriah, 250 ribu/unit. 1 unit terdiri dari dua kamar tidur, ada ruang tamu kecil, dan kamar mandi kloset duduk yang bersih. Kamarnya pun berAC, TVnya ada 3, di tiap kamar dan di ruang tamu. Berasa banget deh murah meriahnya hahaha.. Lanjut petualangan selanjutnya, karena nikahan Siska juga masih nanti jam 6 sore, dan kami juga ga berniat buat dateng ontime-ontime banget, jadi kami melipir dulu mau liat pemandangan di Hotel Padma, yang katanya terkenal mewah di Bandung.

Makanannya artsy booo

Eitss jangan salah sangka kami di sana mau buang-buang uang makan mahal lagi hahahah.. Kami Cuma makan kue dan nongki-nongki cantik aja. Poto-poto buat dijadiin PP BBM & status Path hahahahha.. Catet yah di sana cuma beli kue doank. Kuenya aja semacam kue-kue artsy yang mahal gitu, hahahhaa.. Jadi-jadi, restoran di Padma Hotel ini kayak bersebelahan dengan bukit gitu, makanya kita bisa denger suara-suara jangkrik kalo makan di sana, pemandangan bukitnya sih biasa-biasa aja. Malah saya kadang kepikiran gitu, ini kalo udah malem banyak nyamuk apa gak yah hahahahah.. Melihat makanan-makanan yang dipesan orang-orang sih kayaknya unik-unik gitu yaaa sekelas makanan di hotel berbintang yang bentuknya mengerucut-mengerucut, pakai piring besar-besar, dan cantik gitu.

Sekitar jam setengah 7 malam kami berangkat ke Dago Atas, lebih tepatnya ke Club Deruzzi (nama tempatnya memang kinky gitu, tapi ini tempat memang kayak semacam villa yang bisa disewa untuk macam-macam acara termasuk pernikahan). Dandan yang cantik yaaa kali-kali yah kenalan sama Engkoh mapan dan cakep hahahaha.. Nikahan Siska ramai banget dan makanannya enak-enak. Habis itu seneng banget juga bisa bertemu dengan teman-teman se-almamater jaman dulu, ketemu temen TK, SD, SMP, ada juga ketemu sama temen SMA.. Seru banget deh.. Saya senang bisa melihat progress kehidupan teman-teman seangkatan yang dulu cupu-cupu sekarang udah pada cakep cantik dan pada gandeng gebetan/pacar masing-masing. Ditunggu undangannya lho sobat!

Siska juga pangling banget, cantik dengan wedding dress bling-bling, suaminya juga pangling, soalnya kalo liat di foto berasa beda gitu. Hehehehe.. Waktu salaman sama Maminya Siska agak heboh juga karena udah lama kan ga ketemu saya & adik saya, yang sekarang sudah dewasa (tapi sayang belum menjadi Cici Anggun nan keren). Di kondangan juga bertemu beberapa kerabat yang satu daerah, teman-teman dari Mama Papa saya yang rela jauh-jauh ke Bandung untuk kondangan. Well, I think it is like a little reunion, heboh-hebohnya komentar-komentarnya. Tak terasa acara sudah selesai, foto bareng pengantin, lalu pulang. Target nongkrong selanjutnya adalah Pascal Food Market yang berada di pusat Kota Bandung, di sana hanya sebentar ngobrol-ngobrol dengan Erik teman SD saya yang baru saja lulus dari perkuliahan. Tempatnya cozy dan mau makan apa aja di sana ada, kami ga sempet nyicip soalnya udah kekenyangan tadi di kondangan.

Lampu-lampu cantik

Pascal Food Market seperti arena sosial yang mempertemukan budaya nongkrong dan kuliner, waktu kami ke sana juga ada live music. Tempatnya menarik, lampu-lampunya berjejer cantik. Memang bukan tempat yang eksklusif dan berkelas, saya rasa ngobrol dan nongki di Pascal Food Market lebih ke merasakan menjadi warga Kota Bandung yang punya hobi ‘ngariung’ atau kumpul-kumpul santai bareng orang banyak. Seharian di Kota Bandung lantas ditutup dengan teparnya saya di Pondok 88 karena kurang tidur mengejar kereta subuh dan kecapean dengan padatnya jadwal hedon-hedon. Ahoy.

Wednesday, October 22, 2014

Short Bandung Trip

12 October 2014
Location : Stasiun Cirebon Kejaksan, perjalanan Kereta Ciremai Ekspres, dan Stasiun Bandung

Kapan terakhir mengunjungi Bandung? Tahun lalu, 2013 awal, waktu itu saya ke Bandung bareng Mama untuk mengantar Adek saya, Ndut, daftar universitas. Hanya menginap semalam, ga sempat jalan2 banyak juga. Waktu itu hanya ke Trans Studio Mall, muter-muter gak jelas, belanja? Hanya beli jaket aja buat Papa saya hahahah.. Itu aja udah mahal banget (maklum, belinya di Centro, yang harganya ratusan ribu). Ada kepingin makan malam pun, mikir-mikir karena Mama saya bukan tipe yang suka makan aneh-aneh. Alhasil ya sudah kita makannya di hotel aja hahahaha.. Besoknya adik saya tes tertulis di Universitas Parahyangan, habis itu muter-muter sebentar di daerah Dago untuk beli Kartika Sari, sore pulang ke rumah. Rasanya kilat banget. Tapi cukup senang, karena jarang banget saya bisa pergi bareng dengan keluarga.

Oktober 2014 ini, saya dapat kesempatan untuk mengunjungi Kota Bandung kembali, senang banget, apalagi ini ke Bandung dalam rangka kondangan. Lalu yang lebih seru lagi, Ndut ikutan juga, dy berangkat dari Jakarta (Ndut sekarang kuliah di Jakarta, gak jadi kuliah di Bandung). Siapa yang menikah? Namanya Siska, teman saya dari jaman TK. Di bulan Oktober ini banyak sekali yang menikah, jadi saya dapat 4 undangan pernikahan, tapi hanya 3 yang bisa saya hadiri karena ada yang bentrok, salah satu yang saya bisa hadiri nikahan Siska ini. Agenda terselubung dari menghadiri acara kondangan ini adalah jalan-jalan. Hahahaha. Lalu, di Bandung ini saya bakal reuni juga dengan beberapa orang teman-teman TK-SMP yang sudah terpencar-pencar jauhnya. Ada yang udah gak tau berapa taun gak pernah ketemu, ada yang memang sering ketemu.

Perjalanan ke Bandung ini disponsori oleh Yayasan Ayah Bunda hahahaha.. Saya rada malu gimana juga sih ya, di usia yang tidak lagi belia, masih belum bisa mencari uang sendiri. Rasanya uhuk, sakitnya di sini. Tapi, bersyukur karena orangtua tidak pernah keberatan (beruntung saya dari dulu jarang minta macam-macam). Tiket kereta dari Cirebon ke Bandung pun syukurnya tidak terlalu mahal, yaitu 50 ribu saja (lagi promo – jalur kereta baru). Saya naik kereta dari Stasiun Cirebon Kejaksan jam 4:45 pagi, waktu itu yaaa suasananya masih gelap banget. Berhubung rumah saya jauh, jadi saya udah berangkat dari jam 4 pagi, diantar supir, Pak Cardi. Ndut berangkat di jam yang hampir sama, beda setengah jam saja dari saya, dari Stasiun Gambir. Perjalanan ini adalah perjalanan terpagi pertama yang pernah kami tempuh. Dan ekspetasi saya dengan perjalanan pagi ini, semoga bisa memberikan kesan tersendiri.

Subuh di Stasiun Cirebon

Naik kereta subuh-subuh, sudah saya impikan sejak lama. Kayaknya berasa seru aja gitu, naik kereta di kala matahari masih guling-guling ngantuk. Kalo dari Cirebon ke Bandung, saya gak bisa lihat sunrise, tapi dari arah yang berlawanan, Ndut berhasil nangkep sunrise nya, yang katanya cantik banget karena mataharinya gahar berwarna merah. I always love the way of sun coming up in the brand new day. Berasa kalo kita ini mutan, dapat energi tambahan dari sang matahari. Hahaha. Ohya, ini juga perjalanan pertama kami naik kereta ke Bandung, karena kalo dulu-dulu ke Bandung selalu pakai mobil, maklum kan bisa serombongan keluarga gitu kalo ke kota kembang ini hahahhaha..

Banyak hal menarik yang bisa dilihat ketika naik Kereta Ciremai Ekspres ini. Keunikan pertama, jangan kaget yah kalau pas di Stasiun Cikampek penumpang disuru memutar bangku tempat duduk dan di stasiun ini kereta transit agak lama karena harus memindahkan lokomotif. Hal ini terjadi karena dari memang dari Stasiun Cikampek nanti arahnya berlawanan jadi mesti dibalik. Hal menarik kedua, ketika melewati Stasiun Purwakarta kita akan disuguhi pemandangan keren berupa tumpukan abandoned gerbong yang sudah lagi tidak terpakai. Keren deh, bisa dijadiin tempat syuting video clip atau film2 action laga gitu. Saya malah ngebayangin gimana kalo itu dibuat hotel gerbong aja, kan lucu kayak di Jepang sana. Hahahaha.. Hal ketiga yang impressive sekali, sepanjang jalur dari Stasiun Purwakarta ke Stasiun Cimahi kita akan melihat pemandangan spektakuler berupa pegunungan dan lembah. Yuk bisa diputer lagu naik-naik ke puncak gunung, ini keretanya memang naik ke gunung dan membelah lembah.

Gerbong tak terpakai di Stasiun Purwakarta

Kalo pemandangan kereta dari Stasiun Cirebon ke Stasiun Cikampek terbilang biasa-biasa aja, beda dengan pemandangan selepas Stasiun Purwakarta, rasanya kayak lihat lukisan. Kereta Cirebon Ekspres jalannya memang agak pelan-pelan karena nanjak, meliuk-liuk dan lewat jembatan yang tinggi banget. Hasrat motret memang gede banget di sini, qt bisa foto-fotoin pemandangan sepuas hati hahaha.. Saya sendiri ga habis-habis jeprat sana-sini, habisnya cantik banget. Bisa liat penambangan bukit, sawah terasering yang berlimpah – ada yang udah panen ada yang masih hijau, beraneka tanaman liar di sekitar rel kereta api bikin tambah meriah. Melewati daerah Padalarang, postcard-worthy scenery jalan tol Padalarang keren banget, hahaha.. Kayak ga percaya kalo manusia Indonesia bisa buat jalan tol membelah bukit kayak gitu waaaa keyenn..

Jalan Tol Padalarang keren

Sawah padi dengan sistem terasering

Setelah puas dengan pemandangan menakjubkan, sesampainya di Stasiun Cimahi pemandangan berupa sawah dan pemukiman penduduk. Menurut saya skor perjalanan kereta Cirebon Bandung ini hampir menyamai perjalanan Kereta Sri Tanjung jurusan Yogyakarta-Banyuwangi, pengalamannya dapet banget deh hahahah.. Menarik banget. Gak lama setelah Stasiun Cimahi, kereta masuk ke Stasiun Bandung, senang juga karena ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di sini. Stasiun Bandung juga lumayan legendaris lho. Ndut sudah terlebih dahulu sampai. Saya masuk ke ruang tunggu, jam sudah menunjukan pukul sembilan. Di kejauhan saya liat ada anak ginuk-ginuk lucu, oh here she is, saya panggil nama Adik saya. Ndut heboh. Well, we are finally reunited in Bandung. Ok, come on di petualangan selanjutnya.

Welcome to Bandung!

Sunday, August 31, 2014

The Kindle Bindle

The Kindle Bindle

Nama baru
Cerita baru
Kehidupan Baru

Welcome to Puji Wijaya's Personal Blog!

Saturday, August 30, 2014

AirAsia Flew You Into A Hope

Pesawat Air Asia di Bandara Adi Sutjipto

Pagi hari ketika masih buta..
Kos masih dalam keadaan sepi gelap gulita, tengok-tengok ke jam weker di meja belajar ternyata jam menunjukkan jam tiga pagi. Oh my God! Ngapain lagi saya ini bangun pagi-pagi banget. “Kebiasaan!” jawab saya dalam hati. Kalau orang lain punya kebiasaan tidur malam atau begadang dan susah bangun, tidak dengan saya. Saya malah entah kenapa sering sekali bangun kepagian, okay, disyukuri saja, karena banyak orang lain yang tidak bisa bangun pagi. Kalau sudah subuh-subuh bangun dan tidak jelas tujuannya, saya selalu menghabiskan waktu dengan membaca majalah travel dan buka website travel. Saya selalu semangat, ketika membaca kisah-kisah liburan orang lain. Saya penggemar dari cerita-cerita Om Agustinus Wibowo, Tante Trinity, Om Yunaidi Joepoet, Tante Margareta Astaman, Tante Windy Ariestanty, dan lain-lain. Rasanya ketika membaca tulisan mereka mengenai ‘traveling’ saya seperti ikut diajak jalan-jalan.

Karena kebiasaan bangun kepagian, saya jadi suka bahan bacaan yang menyangkut travel, kultur, dan sosbud. Namun, keinginan untuk pergi menjelajahi negara lain atau daerah-daerah eksotis selalu pupus ketika mulai berpikir tentang ‘biaya’. Yap, biaya. Rasanya kata ‘biaya’ inilah yang selalu bikin jiper orang-orang untuk pergi melakukan perjalanan atau liburan. Bayar kuliah saja sudah berat, makan sehari-hari juga sudah mahal, masih mau liburan? Namun pemikiran itu, sedikit demi sedikit tertepis ketika pada tahun tahun 2000-an akhir oleh perintis maskapai penerbangan low-cost bernama AirAsia. Jaman saya SMA dan awal kuliah, AirAsia seperti kata ajaib yang mematahkan premis ‘liburan itu mahal’. Air Asia memberikan harapan kepada banyak orang untuk get a life, let’s take a break, go on voyage now, no worry about the cost!

Pesawat Air Asia & Gunung Merapi

Seringnya saya mendengar kabar tentang AirAsia, lama-lama saya tergelitik juga untuk mengadakan sebuah escape trip kecil-kecilan. Waktu itu tahun 2011, saya dan kedua teman bikin perjalanan nekad. Negara tujuan? Tidak jauh, hanya ke Singapura. Waktu itu saya baru sekali ke luar negeri, dan jika berhasil, trip nekad ini akan menjadi kali kedua saya pergi ke luar negeri. Saya waktu itu agak ngeri juga, karena kedua teman saya ini belum pernah pergi ke luar negeri, dan bahkan belum pernah naik pesawat. Belum lagi kami ini hanya mahasiswa biasa tanpa pekerjaan sampingan, jadi ga punya penghasilan. Untuk biaya dan lain-lain minta orangtua? Well, rasanya tidak pantas lha kita menuntut orangtua terlalu banyak, apalagi untuk membiayai sesuatu yang sifatnya tersier.

Terminal 1 Changi Airport, finally!

Bertiga di Bugis Street

Kami bertiga berpikir keras, bagaimana caranya untuk bisa pergi tapi gak ngabisin banyak uang? Waktu itu saya ingat sekali dengan AirAsia “Kita naik pesawatnya AirAsia aja” browsing punya browsing memang tiket AirAsia yang paling affordable buat kami. Saya yang belum pernah booking-booking tiket pesawat via online merasa sangat terbantu ketika itu, karena website AirAsia yang user friendly. Prosesnya pun tidak berbelit-belit. Waktu itu ketika mengetahui bahwa mungkin sekali pergi ke luar negri dengan biaya yang murah, kami merancang gimana caranya untuk mencari uang agar bisa membayar kepergian kami bertiga ke negara merlion. Waktu itu, kami mendadak menjadi toko fotokopian berjalan di kampus – kalau ada teman yang butuh buku kami bisa menyediakan jadi mereka tidak pusing-pusing repot, kami seminggu lima kali jualan makanan (jajanan pasar) di kampus, lalu akhir minggu mengumpulkan barang bekas seperti kertas dan botol supaya bisa dijual kembali. Di sela-sela kuliah, kami jualan kaos dan totebag. Tidak lupa tiap minggu juga kami urunan @10.000. Hal itu kami lakukan dalam jangka waktu 1 semester. Semua keuntungan dari berjualan tersebut pada akhirnya bisa membiayai kami liburan ke Singapura.

Rasanya puas sekali bisa pergi dengan usaha sendiri, orangtua juga bisa bangga karena hal ini. Dan yang pasti entah kenapa setelah kepergian kami lalu banyak teman-teman yang juga jadi bersemangat untuk melakukan aksi perjalanan nekad ala backpacker. Mereka tidak jarang bertanya soal maskapai penerbangan apa yang dipakai, lalu saya bisa dengan mantap merekomendasikan AirAsia. Hingga kini pun, apabila saya bepergian saya tetap memakai AirAsia, kesan pertama di tahun 2011 sangat membekas. Ketika melihat tagline AirAsia ‘Now everyone can fly’, saya berefleksi bahwa ya memang benar AirAsia membuat banyak orang punya harapan untuk bisa menikmati naik pesawat terbang yang dulu kesempatan itu hanya dimiliki oleh kalangan atas, dan bahkan AirAsia juga bisa membuka seluruh lapisan masyarakat untuk liburan kemana-mana tanpa harus takut jatuh miskin seusai perjalanan berakhir.

Pesawat Air Asia ketika mau pulang ke Yogyakarta

Kwecky ikut narsis


Apakah AirAsia mengubah hidup saya? Tentu saja, bahkan bukan hanya saya saja, tapi banyak orang di dunia. AirAsia memberi harapan dan kepercayaan diri bagi para traveler baik tua, muda, wanita, pria, mapan, belum mapan. Air Asia membukakan pintu ke dunia luar dengan lebih lebar. Mengajak orang-orang untuk bisa saling berkunjung satu sama lain tanpa ada keterbatasan, this is one step ahead, semangat yang tidak dimiliki oleh maskapai lainnya. Dan saya bangga bisa menjadi salah satu pelanggan setia AirAsia. AirAsia bukan hanya mengajak Anda terbang ke tempat tujuan, tapi mereka menerbangkan Anda menuju harapan.