Tuesday, October 1, 2013

The Art of Blessing


Bersyukur. Saya pertama kali mendengar kata bersyukur dari Kakek saya. Waktu itu sepertinya saya masih kecil imut-imut polos gak tau apa-apa gitu. Saya ingat, sembari mengatakan kata bersyukur Kakek saya memamerkan senyuman terbaiknya, jadi jelaslah kegantengan masa muda Kakek saya. Hehehehe.. Saya tidak paham soal rasa bersyukur sampai dengan sudah agak gedean, SMA akhir-akhir mungkin saya baru deh menyadari apa itu bersyukur. Berhubung jaman SMA, saya juga agak religius, ikut persekutuan doa di gereja setempat, aktif ikut kegiatan Gereja, memiliki jadwal berdoa yang sangat teratur, dan melakukan praktik saat teduh setiap hari jam 5 pagi. Pokoknya saya holy banget deh, sekarang, saya kadang kangen juga saat-saat punya waktu mengobrol dengan sang empunya kehidupan.

Tambah besar, tambah dewasa alias tambah tua, tambah susahnya kehidupan, saya semakin galau dengan rasa bersyukur tersebut. Naik turun deh. Kadang ya saya bersyukur banget dengan hidup saya, tapi gak jarang juga saya gak bersyukur, apalagi kasusnya ketika saya melihat orang lain itu lebih sukses, lebih hebat, atau mempunyai hal yang lebih baik dari saya. Saya iri, saya gak suka, dan rasanya saya gak mau gitu orang tersebut bahagia. Dan sekarang-sekarang ini, seperti masa kritis saya mungkin ya, masa kritis dimana saya minim bersyukur. Hmmm.. Ya, saya juga jadi mempertanyakan lagi sebenarnya bersyukur itu apa dan bagaimana sih.

Sampai sekarang saya masih bingung, apakah rasa bersyukur itu muncul dengan membandingkan diri kita dengan orang lain? Atau membandingkan satu situasi dengan situasi yang lain? Semisal, saya bersyukur saya sehat-sehat saja sampai dengan hari ini, karena di luar sana banyak orang seumur saya yang menderita karena penyakit. Contoh lain, saya bersyukur memilih makanan yang ini dibandingkan yang itu, yang ini sudah enak murah juga. Atau adakah bentuk rasa bersyukur yang lain? Bersyukur yang lebih pure gitu, menerima hidup kita apa adanya tanpa lihat ke rumput tetangga sebelah yang mungkin lebih hijau atau tidak sehijau punya kita. Gak tau ya dapat wangsit darimana, saya yakin dan percaya sih ada rasa bersyukur yang bisa kita dapatkan tanpa kita harus membandingkan diri kita dengan orang lain. Omong-omong soal ini, saya punya pengalaman baru-baru ini, yang entah apakah bisa dijadikan contoh untuk statement saya mengenai bentuk lain dari bersyukur , apa tidak.

Belakangan saya memang lagi sering-seringnya ngiri dengan orang lain. Sepertinya saya jadi begini itu karena pengaruh beban mental akibat belum menyelesaikan pendidikan strata satu saya. Hal-hal yang membuat saya sensitif juga sekitar hal-hal tersebut. Misalnya, ada teman saya yang sudah lulus lalu mendapat pekerjaan yang baik, adik-adik angkatan secara gerilya tiba-tiba sudah ujian skripsi, teman lain skripsi nya lancar jaya, dan lain-lain. Dulu, saya gak pernah rasanya ngerasa iri sama hal-hal tersebut, malah saya senang banget ketika satu per satu teman-teman lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan. Tapi koq lama-lama, saya jadi envy berlebihan ya, apakah karena saya mencemaskan diri, saya cemas tidak bisa melakukan hal yang teman saya lakukan. Saya takut sekali. Sampai pada tahap dimana saya menjadi unproductive dan serba malas.

Beberapa hari yang lalu, saya (akhirnya) memutuskan menelepon orangtua saya yang udah lama juga tidak saya lakukan. Kira-kira kami 45 menit teleponan, di akhir menit percakapan, saya sempat bercerita tentang betapa pusingnya saya dengan si tugas akhir. Lalu saya mendapat satu kata-kata yang bikin saya terharu. Mama saya bilang begini: ‘pas waktunya selesai, pasti bakal selesai’. Pada waktu itu, entah kenapa, saya bersyukur banget gitu Mama saya ngomong seperti itu. Waktu itu juga, saya gak kepikiran hal-hal lain semisal apa Mama saya akan marahin saya, jadi saya bersyukur gak dimarahin. Atau saya mikir, untung banget Mama saya gak kayak Mama si X yang marah-marahin X karena skripsinya gak selesai-selesai. Spontan aja gitu rasanya.

Dari sini, saya jadi mikir, apakah dapet kenyataan menyenangkan tanpa kita duga sebelumnya itu juga benar memicu rasa bersyukur? Koq agak nyambung juga gitu dengan definisi lain bersyukur dengan tanpa membandingkan kenyataan yang satu dengan yang lain. Entah sih bener apa tidaknya. Saya ingat-ingat juga, waktu saya masih kecil, saat-saat mungkin saya belum mengenal kata bersyukur, ketika saya mendapatkan sesuatu yang baik (menurut saya) sepertinya saya langsung happy dan merasakan thankful yang jauh lebih murni. Tanpa lihat ke kanan atau kiri lebih jelek atau lebih bagus. Bersyukur yang berdiri dengan kakinya sendiri.

Hmmm.. Yaaa.. Masih mikir sampe sekarang. Hahahahaha.. Pekerjaan rumah refleksi lebih lanjut deh. Saya bersyukur, bisa menulis hal ini di blog. Terima kasih Tuhan. :) *bestsmile*

best regards,
puji wijaya, ayo mulai holy-holy lagi

3 comments:

tomi said...

biasanya memang gitu semakin kita lihat orang lain dan kita gak bersyukur, semakin dalam kita terjebak dalam lamunan kosong mba :)

makanya ttp semangat dan bersyukur :D

ananda said...

itu tulisan cina ya?

Puji Wijaya said...

@ Abang Tomi : Iyaaaa.. semangat dan bersyukur ! Setuju Bang !
@ Ananda : Betulll.. aksara Cina