Sunday, September 29, 2013

Identitas Kesukuan

Sebetulnya sudah lama sekali, saya ingin menulis mengenai hal ini. Mengenai pemahaman saya tentang identitas kesukuan diri saya pribadi. Hal yang membuat saya makin ingin membahas hal ini di blog, ketika 2 minggu yang lalu, saya mengunjungi Klenteng Poncowinatan, Kranggan, dalam rangka memperingati hari raya festival kue-bulan (Mooncake Festival). Dari Bang Wikipedia, saya menangkap hari tersebut adalah hari perayaan yang lebih bersifat kultural dibandingkan religi, mirip seperti Tahun Baru Imlek.

Saya dilahirkan di keluarga keturunan Tionghoa. Ayah dan Ibu saya adalah orang keturunan, begitu juga dengan Nenek dan Kakek saya dari keduabelah pihak. Pada intinya, jika ada orang yang memanggil saya ‘orang Cina’ saya terima dengan hangat, berhubung kalo dilihat dari asal-usul ya memang bener, kalo nenek moyang saya itu asalnya dari negri bambu. Namun, meski dilahirkan dari keluarga ‘Cina’, jujur saja, saya sendiri merasa saya itu tidak Cina-Cina banget secara ideologi dan pemikiran. Hahahaha. Telusur punya telusur, mungkin hal ini dikarenakan orangtua saya tidak menurunkan ‘ke-cina-an’ mereka ke saya. Fyi, mereka juga tidak mendapatkan ‘ke-cina-an’ dari orangtua mereka. Entah mungkin karena memang tidak diturunkan, atau ada alasan tertentu yang membuat mereka (mungkin) menolak diturunkan.

Ketika kecil dulu, nilai-nilai budaya Tionghoa, saya dapatkan dari Nenek saya dari pihak ayah. Tapi dikit banget, mungkin hanya sebatas saya makan makanan Chinese, ikut2an sembayang Imlek, dapet angpao, mengenal klenteng. Cuma gitu aja. Saya maklum juga sih, kenapa orangtua atau saya tidak dapat banyak ‘ilmu ke-Cina-an’ itu juga dikarenakan situasi kepemerintahan bawaan orde baru pada waktu itu. Dimana hal-hal yang berbau Cina kan kayak dianggap tabu ya. Apalagi, kalo kita terang-terangan bilang ‘saya Cina lho’ nyawa kita malah jadi terancam. Lingkungan lantas mengajarkan kalo kita ini adalah ‘orang Indonesia’ dibandingkan ‘saya ini keturunan Tionghoa’ atau ‘saya ini orang Indonesia keturunan Tionghoa’. Singkat kata, jadilah saya, si puji, dengan muka Cina, yang mengaku orang Indonesia aseli.


Awalnya, pemikiran saya soal ‘saya ini orang Indonesia’ tidak bermasalah. Sampai ketika saya menginjak bangku kuliah, dimana kampus saya adalah mini-Indonesia, dengan keberagaman suku yang heboh. Saya mendadak punya banyak teman orang Jawa, Batak, Sunda, Timor, Bali, Bugis, Papua, Manado, Toraja, Minang, Melayu, India, blasteran bule, dll. Sepanjang sejarah pendidikan saya, sebelumnya saya selalu sekolah di sekolah yang 90% muridnya adalah keturunan Tionghoa. Jadi, ketika saya kuliah, kayaknya saya culture shock gimana gitu. Kaget, baru tau kalo ternyata masyarakat itu sangat beragam. Teman-teman saya, tidak jarang yang mengidentifikasi dirinya dengan identitas kesukuan mereka. Walaupun pas ditanya orang mana, mereka jawabnya nama daerah tempat dimana mereka tinggal, tapi pada dasarnya mereka suka menunjukkan kalau ‘saya ini orang Jawa’. ‘saya ini orang Bali’ ‘saya ini orang Batak’ dll. Lalu, kemudian term ‘saya ini orang Indonesia’ justru jadi gak laku, karena terkesan umum banget gitu.

Lantas, saya sempet bingung juga, saya baiknya menempelkan identitas saya kemana. Dibilang orang Tionghoa, yap, memang betul saya ini keturunan Tionghoa, tapi saya tidak dapat ‘ajaran’ Cina2an dari orangtua saya, jadi aneh juga kalo saya bilang ‘saya ini orang Cina’. Mau bilang ‘saya orang Cirebon’ (berdasarkan tempat lahir dan tinggal) juga rasanya koq gak cocok, secara dikira orang malahan saya ini sukunya Sunda. Hahahaha.. Mau bilang ‘saya orang Indonesia’ umum banget, emang Indonesia cuma se-gede Singapur? Ketika saya di posisi aneh begini, saya lalu menyadari satu hal bahwa identitas kesukuan itu ternyata penting juga, terlebih untuk di Indonesia. Dan identitas kesukuan itu tidak lantas menjadi suatu hal yang menggoyahkan NKRI koq. Karena pada dasarnya Indonesia itu memang orangnya bermacam-macam, kenapa juga harus dipaksain jadi sama.

Akibat dari hal ini lah, lalu saya seperti melakukan pencarian ancestor saya. Kadang, kalo saya melihat teman-teman sesama keturunan Tionghoa yang asalnya dari Sumatera atau Kalimantan, rasanya iri gimana ya, karena mereka lebih mengenal nenek moyang mereka, kasarannya biar kata sama-sama tinggal di Indonesia dan keturunan Tionghoa mereka lebih Cina daripada saya. Mereka setidaknya masih ngeh dan paham nilai-nilai tradisi Tionghoa, masih memakai bahasa Ibu (okay, menurut saya ini keren lho), dan secara watak-pembawaan masih Cina banget deh. Sedangkan saya, muka boleh Cina, tapi saya payah banget dalam memahami beberapa istilah Tionghoa, saya juga tidak berbahasa Ibu. Secara watak dan nilai yang dianut, saya lebih kena ke nilai-nilai budaya Jawa. Saya juga suka merasa malu sama Ica, salah satu temen saya yang Jawa tapi justru dy lebih paham mengenai tradisi Cina. Hahahahaha..

Pencarian ini sedang dalam proses sampai dengan sekarang. Yang saya lakukan adalah saya membaca beberapa buku topik Tionghoa di Indonesia, saya excited ketika ada acara yang berhubungan dengan budaya nenek moyang saya, saya sekarang juga lagi suka mengenali Chinese food dan istilah-istilahnya, hehehe.. Berharap dari lidah kemudian turun ke perut dan naik ke otak (inget). Saya ingin sekali mengenal budaya Tionghoa. Saya tidak mau jadi produk pemerintah orde baru, yang tidak mengenal identitas ke-cina-annya. Menjadi Tionghoa itu in-blood, tidak bisa diubah. Kalo agama, bisa diubah dengan tanpa kelihatan dari luar. Tapi yang namanya suku/etnis/ras itu tertanam dan kelihatan physically. Kenapa harus dihilangkan atau diubah? Bukannya indah ya ketika kita bisa memahami nilai-nilai dan kebudayaan yang dimiliki oleh suku kita.

Ya, mungkin kesannya saya kolot banget gitu yah, gembar-gembor supaya melestarikan budaya leluhur. Tapi, at least, mengenal itu tuh gak bikin rugi lho. Tidak harus sampai kita bisa nari tradisional, bisa ngomong bahasa Ibu, atau tau prosesi adat dengan detail banget. Cukup mengenal dan mengakui saja, gak susah kan. Setidaknya, mantap dengan identitas diri yang jelas, bisa menghalau hal-hal lain yang mungkin ‘kurang baik’ efeknya buat diri kita. Hmmm.. Lalu saya juga melihat dari kepentingan praktisnya, sampai dengan detik ini banyak orangtua ingin anaknya mendapat jodoh yang se-etnis/se-suku, tapi mereka sendiri tidak menanamkan nilai etnis/suku ke anaknya. Banyak juga yang ingin menikah dengan prosesi adat biar afdol, tapi mereka sendiri gak ada kepikiran untuk mengenal tradisi leluhurnya. Terus, ketika meninggal, selain akan diupacarakan secara agama, tapi ada yang ingin diadakan penghormatan terakhir secara adat juga (double). Lha, kalo tidak mengenal dan mengakui suku/etnis/ras sendiri, yaaa pikir-pikir lagi aja deh untuk melakukan hal-hal tersebut.

Yup-yup, itu sih yang saya pernah pikirkan soal identitas kesukuan. Pinginnya saya, ketika saya pernah mengenal ini, ya saya pengen juga kelak keturunan-keturunan saya juga mengenal hal yang sama, jangan sampai hilang. Saya sangat mengapresiasi bagaimana orang Bali, sampai dengan sekarang adatnya masih kuat. Saya juga kagum dengan orang Batak yang ke-Batak-annya gak usah ditanya deh sepak terjangnya. Kalo luar negeri punya, saya nge-fans dengan Korea-Jepang, ketika modernitas dan tradisional bisa-bisa aja ternyata hidup berdampingan. Hehehe.. Baiklah, Puji, tidak ada lagi galau-galauan karena bingung menentukan identitas. Good luck untuk pencariannya. Btw, maaf, kalau tulisan ini agak berbau SARA hehehehe..

best regards,
puji wijaya, is an Indonesian born blogger of Chinese descent

No comments: