Sunday, May 12, 2013

Belanda, Pionir Pendidikan Individu Berkebutuhan Khusus

Berbicara mengenai kepiawaian negeri Belanda dalam merintis sesuatu tidak jauh dari hal-hal yang berbau teknologi. Sebagai negara dengan julukan “low country” akibat dari permukaan tanahnya yang rata-rata 1 meter lebih tinggi dari permukaan laut, tentunya Belanda memiliki cara tersendiri untuk membuat negaranya tetap dapat ditinggali dengan aman dan nyaman, seperti pembuatan tanggul afsluitdijk yang tidak usah ditanyakan kemampuan fantastisnya. Selain itu, Belanda pun piawai dalam hal teknologi kesehatan, terbukti dengan kehadiran para pakar vaksin dari negeri Belanda yang terkenal akan keahliannya, semisal Prof. Jan Hendriks. Di bidang lain, seni dan kebudayaan, Belanda pun memiliki peran yang besar, tak heran apabila kita berkunjung ke Belanda menjadi hal yang wajib untuk berkunjung ke museum-museum Belanda dan pameran instalasi seninya, beberapa yang terkenal ialah Anne Frank House, Mauritshuis Museum, Rijks Museum.

Namun, tahukah teman-teman bahwa selain piawai dalam merintis beberapa hal yang telah disebutkan di atas, Belanda juga menjadi pelopor dalam bidang pendidikan? Lebih detailnya dalam pendidikan individu berkebutuhan khusus (IBK).

Masih teringat dalam benak saya, beberapa bulan yang lalu tepatnya di bulan Januari 2013, Pusat Studi Individu Berkebutuhan Khusus (PSIBK) milik universitas saya mengadakan sebuah pelatihan untuk guru-guru Sekolah Luar Biasa (SLB). Tujuan kegiatan tersebut adalah untuk meningkatkan kompetensi guru-guru SLB mengingat kurangnya kompetensi yang dimiliki pendidik IBK di Indonesia. Pelatihan ini tidak hanya diikuti oleh guru SLB yang berdomisili di Yogyakarta, tetapi juga guru-guru dari daerah lain seperti Semarang, Jakarta, dan Malang. Menarik bagi saya, bahwa kegiatan ini didukung oleh sebuah organisasi sosial asal Belanda yang memiliki perhatian khusus bagi para IBK, bernama Kentalis International Foundation. Dalam pelatihan ini, trainer (pelatih) nya ialah orang Belanda dari organisasi tersebut.

Lalu, yang jadi pertanyaan selanjutnya, mengapa dukungan datang dari negara Belanda?


Melihat sejarahnya, baru saya ketahui pula, ternyata Belanda memiliki peran besar dalam mempelopori pengembangan SLB di Indonesia. Diawali dengan didirikan yayasan untuk individu tuna netra tahun 1901 oleh seorang dokter berkebangsaan Belanda bernama Dr. C. H. A. Westhoff di Bandung. Lalu, tidak sampai di situ saja, setelah itu muncul pula rumah tuna grahita serta sekolah tuna rungu – wicara di kota yang sama. Singkat cerita, dari situ lah awal kepedulian bagi IBK di Indonesia muncul. Misi yang diemban yaitu membuat IBK dapat hidup mandiri dan mampu mengurangi ketergantungannya.

Namun, tidak hanya sampai di situ saja alasannya. Di negara asalnya, semangat Belanda dalam mendidik IBK terlihat pula dalam pengembangan sistem kemudahan akses bagi IBK. Salah satunya adalah kehadiran dari Netherlands Knowledge Center for Deaf-Blindness (LED), yang memiliki misi mengembangkan IBK ke arah kehidupan yang lebih baik, termasuk pada penyediaan sistem transportasi yang ramah IBK, seperti pemasangan sensor bunyi di lampu merah, lalu pembuatan jalan umum dengan lantai pengenal untuk tuna-netra, kewajiban penyediaan jasa lift untuk IBK oleh pengelola gedung di sana, sampai ke pengembangan bahasa isyarat demi kelancaran komunikasi tuna-wicara. SLB di Belanda pum menerapkan sistem sekolah inklusi yang memungkinkan murid IBK juga berinteraksi dengan murid biasa, dengan begitu diharapkan IBK memiliki kemampuan adaptasi yang baik.

Dukungan pun tidak hanya sampai di sana, pemerintah Belanda memliki komitmen dalam mengurus dan menjamin kehidupan IBK. Di Belanda, sudah kewajiban negara untuk mengayomi mereka sehingga hidup mereka sejahtera tak ubahnya orang lain yang normal. Selain itu, Belanda juga salah satu negara yang rajin mengadakan consortium dalam bidang ini.

So, kurang apa lagi Belanda dalam menggagas ide-ide yang memajukan dan menakjubkan. Belanda dapat menunjukkan bahwa ia mempelopori banyak hal di berbagai bidang. Saya berpikir, menjadi sangat pantas apabila Belanda dijuluki negara pionir.


Referensi artikel :

No comments: